Tampilkan postingan dengan label 1.5 stars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1.5 stars. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Oktober 2017

ONE FINE DAY (2017) REVIEW : Nuansa Baru tanpa Perubahan Baru

 
Screenplay Films memang sedang aktif-aktifnya untuk merilis filmnya. Di awal tahun, penonton di sapa lewat Promisedan London Love Story 2. Di kuarter kedua, penonton disapa lewat film horor dengan judul Jailangkung yang mendapatkan perolehan penonton yang cukup fantastis. Dan akhir kuarter tahun ini, screnplay berusaha untuk merilis film terbarunya dengan nuansa yang cukup berbeda dengan judul One Fine Day.

Tak bisa dipungkiri, kehadiran Screenplay Films dalam ranah perfilman Indonesia ini menjadi salah satu kompetitor yang kuat bagi rumah produksi lainnya. Mulai dari Magic Hour, Screenplay Films membuktikan bahwa mereka bisa membuat film yang laris manis di pasaran. Meskipun, formula yang dihadirkan oleh rumah produksi satu ini tetap sama dari satu film ke film lainnya. Tetapi, ada usaha untuk mengubah filmnya menjadi cinematic event yang akan dinanti segmentasinya.

Maka, datanglah One Fine Dayyang berusaha mendaur ulang formula usangnya dengan cara mengkombinasikan para pemainnya. Michelle Ziuditih, aktris favorit dari Screenplay Films ini disandingkan dengan aktor pendatang baru dengan fans range yang sangat besar yaitu Jefri Nichol. Serta, nama-nama yang belum pernah digunakan oleh Screenplay Films sebelumnya seperti Maxime Bouttier turut mewarnai film terbaru dari Asep Kusdinar ini.


One Fine Day berusaha memberikan nuansa yang berbeda dibanding dengan film-film Screenplay sebelumnya. Tetapi dengan Asep Kusdinar yang tetap berada di bangku sutradara, jangan harap ada perubahan signifikan dari One Fine Day ini. Dengan segala upaya membuat nuansa yang lebih ceria dan tata produksi yang lebih sinematik, Screenplay Films lagi-lagi tak berusaha memperbaiki bagaimana One Fine Dayharus diarahkan.

Inilah One Fine Day yang menceritakan tentang Mahesa (Jefri Nichol), orang asli Indonesia yang sedang merantau ke Barcelona. Kehidupannya di Barcelona memang tak semujur yang banyak orang bayangkan. Dia mengikuti minatnya untuk membuat band bersama teman-temannya sekaligus menipu wanita-wanita Barcelona untuk bisa bertahan hidup di sana. Hingga di suatu cafe, dia bertemu dengan wanita cantik bernama Alana (Michelle Ziudith).

Mahesa berusaha untuk mendekati Alana, tetapi dengan maksud yang lain. Dia tak ingin menipu Alana, tetapi Mahesa benar-benar jatuh cinta padanya. Meskipun, sebenarnya Alana ini sudah menjadi kekasih lelaki lain bernama Danu (Maxime Bouttier). Tetapi, Mahesa tetap berusaha mengejar Alana dan mereka pergi berdua secara diam-diam. Alana bisa bersenang-senang dengan Mahesa dan hal tersebut tak pernah dirinya rasakan ketika bersama Danu. 


Formula kisah ceritanya ini generik, kisah cinta ala-ala Screenplay Films dengan kemasannya yang hiperbolik. Belum lagi, One Fine Day dipenuhi dengan rentetan dialog-dialog khasnya yang sangat dramatis agar pas untuk dikutip untuk bahan gegalauan oleh segmentasinya. Plotnya sederhana, tetapi bagaimana Asep Kusdinar berusaha untuk memberikan banyak konflik di dalam ceritanya tak diimbangi dengan metode pengarahan yang benar.

One Fine Day hanya dipenuhi dengan fans service yang disasar benar kepada target segmentasinya. Eksploitasi yang dilakukan oleh Tisa TS di dalam One Fine Day adalah impian dan ambisinya tentang makhluk bernama laki-laki. Maka, di sepanjang 30 menit pertama One Fine Day, fokus utama dari film ini bukanlah plot cerita beserta bangunan konflik-konfliknya. Tetapi, fokusnya berubah ke bagaimana Jefri Nichol disorot habis-habisan untuk memenuhi impian para fansnya.

Asep Kusdinar menuruti setiap mimpi dan obsesi Tisa TS sehingga tak bisa memaksimalkan pengarahannya yang beberapa kali membaik di dua film Screenplay sebelumnya. One Fine Daypenuh akan lekuk tubuh dan wajah dari Jefri Nichol. Bermain terlalu asyik sendiri menampilkan paras Jefri Nichol yang sedang bercengkrama mesra dengan Michelle Ziudith agar setiap fansnya bisa terpuaskan. Juga keindahan kota Barcelona yang dipadupadankan bersama lagu-lagunya yang nuansanya pun dipaskan dengan keeksotisan kotanya. 


Tetapi, dengan begitu penonton akan mulai kebingungan dengan siapa itu Mahesa, Alana, Danu dan segala bentuk karakter yang ada di dalam filmnya. Belum baik menceritakan bangunan tiap karakter dan mengenalkan plotnya, konflik yang memperumit film datang bertubi-tubi ditambahi dengan pengenalan karakter lain. Ini adalah sebuah distraksi besar dari plot ceritanya yang seharusnya sederhana dan bisa berjalan lancar-lancar saja.

Mengikuti One Fine Day akan membutuhkan usaha yang luar biasa besar agar tahu tentang segala motif konflik dan karakternya. Penonton disuruh untuk meraba bangunan karakter dan plotnya dengan informasi-informasi yang tak sepenuhnya ada di sepanjang filmnya yang berdurasi 104 menit. Seharusnya, film dengan durasi sepanjang itu sudah lebih dari cukup untuk berusaha memberikan dasar-dasar cerita agar presentasinya semakin kuat. Tetapi, karena obsesi tersebut, One Fine Day tak bisa memberikan performanya yang maksimal. 


Memang, One Fine Daymemiliki nuansa yang berbeda dari film-film Screenplay sebelumnya yang tingkat dramatisasinya terlalu berlebihan. Tetapi, pengarahan One Fine Day tak benar-benar berbeda bahkan sedikit menurun performa pengarahan dari Asep Kusdinar ini. Penonton akan merasa ada beberapa adegan hilang di dalam filmnya sehingga harus mengkoneksikan sendiri setiap informasi dari filmnya. Inilah yang membuat One Fine Day tak memiliki performa yang maksimal meskipun sudah mencari atmosfir yang lain. 

Senin, 15 Agustus 2016

SUICIDE SQUAD (2016) REVIEW : Penuh Ambisi Yang Hanya Sekedar Ilusi


DC Extended Universe sudah mulai untuk melebarkan dunianya. Banyak set up bermunculan yang sudah menetapkan tanggal-tanggal rilis hingga pada akhirnya menuju ke satu titik akhir bernama Justice League. Tetapi, keberadaan DC Extended Universe ini semakin lama semakin terancam. Kubu-kubu penikmat DC Extended Universe pun terpecah atas kualitas yang diberikan oleh Warner Bros saat memproduseri setiap film-film yang diadaptasi dari komiknya.

Ada sedikit ketakutan yang timbul di setiap film-film DC Extended Universe. Apalagi, Batman V Superman : Dawn of Justice memiliki performa yang kurang dapat diterima. Di tahun ini, DC pun mengeluarkan sebuah set up lain yang membuat DC Extended Universe semakin luas. Suicide Squad, film anti-superhero yang ditangani oleh David Ayer ini mendapatkan antusiasme tinggi dari calon penontonnya yang bahkan bukan fans komik DC. Tim marketing dari Suicide Squad pun mati-matian mendongkrak penjualan dari film ini hingga titik puncak yang ternyata membuat beberapa penonton antipati.

Antipati itu pun akan menimbulkan firasat buruk dari para calon penontonnya. Suicide Squad mungkin akan dibandingkan dengan Guardians of The Galaxy yang memiliki premis karakter yang sama. Meski dengan bentukan karakter yang mirip itu, kualitas Suicide Squad benar-benar tak memiliki kemiripan dengan Guardians of The Galaxy. Suicide Squad mungkin terlihat sengaja memiliki sebuah penampilan secara fisik film yang berantakan. Hanya saja, segala hal yang terlihat berantakan itu bukan hanya secara fisik. Pula, terlihat dari bagaimana Suicide Squad diarahkan. 


Memang rasanya salah untuk membandingkan Suicide Squad dengan Guardians of The Galaxy. Karena Marvel dan DC memiliki ciri khasnya masing-masing yang membuat filmnya memiliki karakteristik. Tetapi sayang, karakteristik DC yang dibuat terlihat kelam ternyata tak membuahkan hasil. Suicide Squadyang bangunan karakternya terlihat mirip dengan Guardians of The Galaxy pun berusaha mengemas dengan cara yang hampir sama tetapi penyampaiannya yang berbeda. Sehingga, secara otomatis penonton akan membandingkan hal tersebut.

Lagu-lagu vintage, kepribadian karakternya yang tengil, cukup menggambarkan bagaimana sebenarnya Suicide Squad ini akan terlihat sama dengan film milik Marvel tersebut. Tetapi, dengan durasi yang juga mencapai 123 menit ini, tak membuahkan hasil apapun selain sebuah film karakter manusia super generik yang tak menonjolkan keunikan dari karakter-karakternya sendiri. Padahal, seharusnya Suicide Squad memilliki potensi sebagai sebuah film manusia super terobosan baru milik DC Comics. 


Suicide Squad sendiri menceritakan para penjahat-penjahat berkekuatan super ini akan dijadikan sebagai senjata milik negara dalam memberantas kejahatan. Amanda Waller (Viola Davis) memutuskan untuk mengatur penjahat-penjahat kelas kakap ini dalam memberantas kejahatan. Penjahat-penjahat itu adalah Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Margot Robbie), El Diablo (Jay Hernandez), Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje), Captain Boomeran (Jai Courtney), Slipknot (Adam Beach). Dan Rick Flag (Joel Kinnaman) diutus untuk menjadi kepala tim dari senjata negara ini.

Sayangnya, David Ayer selaku sutradara seperti lupa untuk membuat sebuah alasan betapa pentingnya tim ini dibuat. Akhirnya, dibuatlah sebuah kondisi di mana June Moore (Cara Delevigne), yang dirasuki penyihir jahat bernama Enchantress untuk menguasai dunia. Adanya guncangan ini membuat diaktifkannya ide milik Amanda Waller. Mereka pun dipasangi sebuah pemicu di dalam badannya agar tidak bisa macam-macam dan menyelesaikan misi mereka untuk memberantas Enchantress dan sekutunya. 


Yang membuat Suicide Squad akan terlihat mudah untuk disukai oleh penonton adalah penuhnya adegan aksi yang terlihat bombastis dengan karakter yang berusaha keras terlihat asyik. Sayangnya, hal itu adalah tipu daya yang dilakukan Warner Bros untuk mengemas Suicide Squad sebagai sebuah film utuh. Suicide Squad benar-benar sebuah usaha bunuh diri yang dilakukan oleh Warner Bros atau pun David Ayer dalam mengemas sebuah filmnya. Berusaha terlihat beda, nyatanya Suicide Squad malah menjadi sebuah bumerang bagi dirinya.

Kepingan-kepingan adegan yang ada di dalam film Suicide Squad terasa sebagai sebuah teaser trailer yang disulam satu persatu menjadi sebuah film berdurasi 120 menit. Adegan awal di mana Suicide Squad mulai mengenalkan karakternya satu persatu mungkin akan terasa menyenangkan. Hanya saja, hal tersebut tak berlangsung lama. Bahkan, ketika dimulainya sebuah introducing karakter, David Ayer terasa kebingungan memberikan sebuah alasan untuk melanjutkan konflik ceritanya. Sehingga, segala konflik klise manusia super itu hanyalah sebagai sebuah formalitas dalam penceritaan tiga babak di sebuah film.  


Dengan karakter yang harusnya menarik, seharusnya David Ayer lebih bisa mengulik kegunaan karakternya dengan benar. Nyatanya, David Ayer lupa akan melakukan hal tersebut. Dia memilih untuk menonjolkan banyak sekali gaya-gaya yang berusaha asyik yang ternyata menjadi dampak besar terhadap alunan penceritaan filmnya. Dengan durasi 120 menit, Suicide Squad tak berusaha menjelaskan apa-apa. Pun tak ada bangunan karakter yang seimbang, seisi film hanya berusaha menuju pada Deadshot dan Harley Quinn. Beberapa karakter pun hadir hanya sebagai formalitas, seperti Joker yang diperankan Jared Leto yang ternyata bermain tak terlalu bagus.  

30 menit awal film pun terasa seperti film yang hampir rampung. Akhirnya, Suicide Squadberusaha memperbanyak lagi adegan-adegan agar durasi bertambah banyak. Ritme film pun seperti tak berjalan kemana-mana dan melelahkan penonton untuk mengikuti seisi filmnya. Suicide Squadmemberikan terlalu banyak easter eggs yang pada akhirnya memberikan kesan ambisius yang besar dari adanya DC Extended Universe. Belum lagi, penempatan-penempatan lagu vintage yang terkesan asal tempel di setiap scene-nya. Sehingga tak ada satu pun yang terngiang di kepala penontonnya. 


Maka, sekali lagi DC Extended Universe ternyata gagal untuk memperkuat bangunan dunianya. Suicide Squad yang digadang menjadi sebuah tontonan menarik, nyatanya gagal dalam memberikan penuturan dalam ceritanya. Tak ada penjelasan bangunan karakter yang kuat, alasan konflik utama yang juga lemah, membuat Suicide Squad masih saja menjadi tugas bagi Warner Bros dalam mengelola DC Extended Universe. Dengan durasi yang membengkak hingga 120 menit, David Ayer tak berusaha menjelaskan apapun di Suicide Squad. Film ini hanya berisikan tentang keambisiusan DC Extended Universe untuk menampilkan kedigdayaannya yang masih saja menjadi ilusi. 


Sabtu, 23 Juli 2016

ILY FROM 38.000 FT (2016) REVIEW : Film Cinta Yang Terbang Tak Terlalu Tinggi


Kisah cinta klise dua insan memang mungkin memiliki segmentasinya sendiri. Bisa jadi, film-film dengan tema seperti itu menjadi sebuah guilty pleasure yang dinikmati oleh banyak orang. Tetapi bila salah pengemasan, hal tersebut akan menjadi senjata makan tuan bagi pembuatnya. Jika salah film dengan genre ini akan kehilangan segmentasinya. Bahkan kekecewaan bukan hanya datang untuk segmentasi tersebut, tetapi juga penonton luas yang ingin menyaksikan film tersebut. 
 
Di banyak judul film-film Indonesia, genre ini menjadi salah satu yang sering muncul. Banyak sekali judul yang menggunakan formula tersebut. Formula-formula plot ceritanya pun hampir sama, hanya saja dikemas berbeda di setiap judul filmnya. Screenplay Production adalah salah satu rumah produksi yang selalu menghasilkan film-film dengan genre terkait. Bahkan, film-film produksinya mendapatkan perolehan angka penonton yang fantastis. Tahun ini pun, London Love Story, meraih 1 juta penonton.

Dengan adanya fenomena ini, Screenplay Production pun semakin gencar memproduksi film-film. Asep Kusdinar tetap didapuk sebagai sutradara andalan dari rumah produksi tersebut. Film kedua dari rumah produksi satu ini adalah I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT). Bekerja sama dengan Legacy Pictures, film ini tetap menggunakan formula yang sama dan bongkar pasang nama pemain dari film-film sebelumnya. Dan kali ini, nama Michelle Ziudith dan Rizky Nasar kembali dipasangkan di film terbarunya. 


Plot cerita I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) pun penuh dengan kisah pertemuan sepasang sejoli. Meracik formula-formula usang untuk menjadi sebuah plot cerita yang dibedakan latar dan konfliknya. Itulah yang dilakukan oleh I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) yang menceritakan tentang Aletta (Michelle Ziudith) yang sedang kabur dari rumahnya ke Bali. Di dalam pesawat perjalanannya menuju Bali, dia bertemu dengan Arga (Rizky Nasar) yang bekerja di sebuah saluran tentang alam.

Arga sedang membutuhkan seorang pembawa acara karena pembawa acara miliknya sedang sakit. Aletta pun berinisiatif untuk membantu Arga untuk menjadi pembawa acara di sana. Tetapi, hal tersebut menjadi polemik bagi rekan-rekan kerja Arga. Tetapi, Arga tetap memintanya sebagai pembawa acara bagi saluran miliknya. Di saat itulah, tumbuh rasa di hati Aletta terhadap Arga. Dia jatuh cinta dengan sosok dingin Arga yang entah akan mencintai dia kembali atau tidak. Yang jelas, Aletta benar-benar menaruh hati kepada Arga. 


Maka, bersiaplah dengan apa yang ditawarkan oleh I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT). Secara garis besar plot cerita, mungkin hal-hal itu wajar terjadi di dalam film-film serupa. Tetapi, I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) dikemas dengan dialog-dialog puitis masa kini yang mungkin akan menyenangkan segmentasinya sehingga menimbulkan fenomena #BaperBarBar. Dialog-dialog tersebut mencoba untuk terlihat memiliki makna yang dalam tentang suatu hubungan. Nyatanya, dialog-dialog tersebut ternyata tak memiliki dampak selain kesan mendayu-dayu yang coba ditekankan oleh filmnya.

Semua dialog yang dilantunkan oleh para pemainnya pun terkesan janggal dan canggung untuk didengarkan. Pun, ikatan kedua pemainnya belum muncul terlalu kuat. Sehingga, muncul kesan malas di antara kedua pemainnya, entah akan banyaknya dialog yang harus dia hafalkan atau pemain utamanya hanya sekedar bosan. Bisa jadi, kedua pemainnya mungkin tak mendapatkan peran yang memiliki signifkansi di antara kedua film sebelumnya. Hingga, mereka pun juga tak memunculkan performa yang maksimal.

Tak ada perkembangan yang dilakukan oleh Michelle Ziudith dan juga Rizky Nasar. Bahkan keduanya pun seperti tak punya kekuatan untuk mengeksplorasi karakternya. Permainan karakter yang diperankan oleh mereka pun terkesan seperti kertas yang tipis, tak bisa memberikan sebuah emosional sehingga penonton merasa simpati. Itulah, yang membuat I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) tak bisa memiliki presentasi yang mumpuni di tengah premis ceritanya yang bukan menjadi senjata andalannya. Bahkan, dalam penyampaian plotnya juga mengalami masalah. 


I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) mengalami berbagai kekurangan. Bagaimana sang sutradara menjelaskan setiap konflik yang terkesan seperti memotong beberapa bagian penting di dalam naskahnya yang seharusnya jadi alasan utamanya. Sehingga, apa yang ditampilkan di dalam cerita I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) terkesan loncat-loncat dan terlalu buru-buru. Asep Kusdinar lebih menonjolkan dialog-dialog yang terdengar ‘ajaib’ itu ketimbang alasan-alasan penting di dalamnya. Di mana, hal tersebut sangat berpengaruh bagi kelangsungan durasinya yang mencapai 100 menit.

Di bawah naungan Legacy Pictures, I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) mengalami perubahan secara signifikan secara teknis. Tata suara dan tata gambar di dalam I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) adalah poin yang mengalami perubahan dibandingkan dengan dua film Screenplay Production sebelumnya. I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) terasa lebih sinematis, sehingga tata dan nilai produksi teknis filmnya lebih layak jika dikategorikan ke dalam film yang rilis di bioskop. 


Maka, problematika yang ada dalam presentasi I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) ini adalah plot cerita dan penyampaian yang masih belum bisa dikategorikan ke dalam pengalaman sinematis. Michelle Ziudith dan Rizky Nazar pun belum bisa mengeksplorasi dan terjebak ke dalam karakter yang itu-itu saja. Sehingga, tampil interpretasi  bahwa mereka terasa malas dan apa adanya untuk bermain di dalam film I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT). Tetapi, secara teknis, I Love You From 38.000 Feet (ILY From 38.000 FT) terasa lebih pas untuk disaksikan di bioskop.  

Senin, 28 Maret 2016

BATMAN V SUPERMAN : DAWN OF JUSTICE (2016) REVIEW : The Wasted 151 Minutes


Benang merah yang porak poranda di setiap film-film adaptasi DC Comics menjadi sebuah keputusan bagi Warner Bros untuk membuat ulang setiap filmnya. Sehingga, Warner Bros akan memiliki satu franchise superheroes besar yang akan disajikan kepada penontonnya di setiap tahun. Banyak sekali film-film DC yang tak memiliki respon yang baik. Dan Warner Bros memulai line up baru dari karakter-karakter manusia super DC Comicsdari tahun 2013.
 
Man of Steel adalah line-uppertama dari DC Extended Universeyang digarap oleh Zack Snyder. Film ini mendapatkan respon positif dan negatif yang sama-sama seimbang. Meski begitu, raihan Box Office yang cukup besar membuat DC Extended Universe pun dengan segera mendapatkan lampu hijau. Maka, hadirlah sebuah film pengenalan selanjutnya yaitu Batman V Superman : Dawn of Justice. Alih-alih mengenalkan Batman secara mandiri, Zack Snyder menggarap Batman V Superman : Dawn of Justice yang sebenarnya memiliki resiko.

Setelah Man of Steel yang membuat penontonnya menjadi dua kubu, Zack Snyder pun lagi-lagi berulah lewat Batman V Superman : Dawn of Justice. Dengan adanya dua manusia super yang berada di dalam filmnya, jelas film ini membutuhkan banyak sekali penjelasan agar karakternya bisa memiliki relasi dengan penontonnya. Dan Zack Snyder penuh dengan ambisi dan keangkuhan di dalam Batman V Superman : Dawn of Justice yang sebenarnya menyerang dirinya sendiri. 


Batman V Superman : Dawn of Justice menceritakan bagaimana awal mula Bruce Wayne (Ben Affleck) mengenal sosok Kal-El (Henry Cavill) yang sedang berusaha menyelamatkan seisi kota. Tetapi, i’tikad baik dari Kal-El tak dipersepsi lain oleh Bruce Wayne yang menganggap bahwa Kal-El sedang berusaha memporakporandakan seisi kota Metropolis. Dan salah satu korbannya adalah bangunan milik Bruce Wayne yang hancur saat pertarungan itu.

18 Bulan kemudian, Kal-El yang sudah dipuja-puja oleh warga Metropolis ternyata dijebak oleh seseorang. Kal-El atau biasa dikenal oleh orang-orang sebagai Superman harus ditindak secara hukum. Hal itu karena salah seorang karyawan dari perusahaan milik Bruce Wayne yang menggugat Superman sebagai pelaku tindak kejahatan. Semua yang gugatan yang dilayangkan kepada Superman adalah ulah adu domba yang dilakukan oleh Lex Luthor (Jesse Eisenberg). 


Intrik politik yang dimiliki oleh Batman V Superman : Dawn of Justice ini tak dapat dipungkiri memang sangat menarik untuk diikuti. Dasar cerita dari Batman V Superman : Dawn of Justice ini sendiri memiliki konten yang kuat dan lebih menarik jika dibandingkan oleh Man of Steel, yang juga diarahkan oleh Zack Snyder. Batman V Superman : Dawn of Justice memiliki potensi menjadi sebuah film manusia super yang kuat dan segar bila diarahkan dengan sangat baik. Apalagi, Batman V Superman : Dawn of Justice adalah startup baru menuju DC Extended Universe.

Dengan durasi 151 Menit, Batman V Superman : Dawn of Justice harusnya memiliki banyak ruang untuk menggerakkan setiap cerita dengan baik. Sayangnya, ekspektasi agar Batman V Superman : Dawn of Justicetampil lebih prima dibandingkan dengan Man of Steel –terlebih dengan dasar cerita yang lebih kompleks –harus dikesampingkan. Naskah yang ditulis oleh Chris Terrio tak bisa tampil kuat dalam memvisualisasikan kompleksitas dasar cerita dalam komiknya. Sehingga, Plot cerita dalam Batman V Superman : Dawn of Justice tak dapat bergerak dengan dinamis.

Keperluan penonton adalah untuk mendapatkan penuturan cerita yang lebih lengkap agar dapat bersimpati dengan setiap karakternya. Sayangnya, Chris Terrio tak dapat menuliskan setiap detil cerita yang akhirnya filmnya pun terkesan memiliki babak di setiap bangunan ceritanya. Bukan hanya itu, motif setiap karakter pun semakin buram. Belum memiliki cara bertutur yang baik, naskah Batman V Superman : Dawn of Justice terlalu sibuk bermain-main dengan pesan simbolik yang diselipkan ke dalam naskahnya. 


Dengan pesan simbolik yang disampaikan, hal itu bisa jadi diharapkan dapat membantu bagaimana Batman V Superman : Dawn of Justice untuk bercerita tentang dunianya yang semakin kompleks. Nyatanya, hal tersebut tidak membantu apapun dalam penceritaan filmnya. Penonton membutuhkan penjelasan yang lebih konkrit tentang alasan Bruce Wayne dan Kal-El hingga saling bermusuhan. Sayangnya, hal tersebut tak terlihat dengan detil dan jelas.

Zack Snyder memasarkan filmnya untuk para pembaca komik dan kesalahannya adalah menganggap setiap penontonnya tahu setiap motif karakternya. Penonton yang bukan pembaca komik akan berusaha meraba sendiri alasan-alasan tersebut. Terlihat bagaimana setiap karakternya --baik protagonis maupun antagonis --tak memiliki urgensi untuk tampil dan ikut andil dalam setiap konflik di filmnya.  Hanya bermodal nama karakter manusia super yang sudah terpampang dalam posternya, bukan berarti penonton tak perlu tahu siapa mereka secara lebih jelas.

Lemahnya naskah dari Batman V Superman : Dawn of Justice pun tak berusaha ditutupi oleh Zack Snyder dalam sisi pengarahannya. Alih-alih menutupi, Zack Snyder terlihat terlalu asyik mengeluarkan easter egg yang ditujukan kepada fanboy komik DC untuk pemanasan menuju Justice League. Dengan adanya easter egg yang bermunculan tersebut, jelas terlihat bagaimana pretensiusnya Warner Bros dan DC untuk segera menampilkan seluruh pahlawannya tanpa perlu penjelasan lebih di setiap karakternya. Sehingga, 2 jam pertama milik Batman V Superman : Dawn of Justice adalah sebuah kekacauan besar milik Zack Snyder dalam bertutur. 


Dan beruntungnya, 20 menit terakhir film Batman V Superman : Dawn of Justice menyisakan pertarungan trio kawakan manusia super milik DC. Pertarungan final yang disajikan kepada penontonnya mungkin akan sedikit membangkitkan penonton non fans-nya yang butuh dihibur. Dengan visual efek yang masih digarap serius, jelas 20 menit terakhir adalah pembayaran penuh akan admisi tiket yang mereka bayar. Meskipun, sekali lagi dua manusia super yang menjadi andalan harus kalah saing dengan munculnya Wonder Woman.

Yang perlu dipertanyakan adalah ketika Zack Snyder tak memaksimalkan kamera IMAX yang ia punya untuk menyajikan 20 menit final battle dalam Batman V Superman : Dawn of Justice. Alih-alih terlihat menarik, Zack Snyder menggunakannya untuk terlihat lebih artistik dan puitis. Meski yang disajikannya hanyalah sebuah estetika artistik yang terlihat palsu dan dibuat-buat. 


Sebagai film dengan memasang nama manusia super paling mahsyur, Batman V Superman : Dawn of Justice tak memiliki presentasi yang memuaskan. Bagi para penggemar, jelas Batman V Superman : Dawn of Justice adalah sebuah movie event besar tahun ini. Tapi bagi para non-fan, Batman V Superman : Dawn of Justice adalah sebuah visualisasi yang sia-sia dan berantakan dengan dasar cerita yang sangat menarik. Hasilnya, tak ada rasa simpati yang dihasilkan oleh Snyder agar dapat terkoneksi dengan setiap karakternya apalagi dengan twist ending yang terasa sangat hambar. Batman V Superman : Dawn of Justice membuang potensinya dengan komposisi yang tak tertata. Sayang.

 

Film Batman V Superman : Dawn of Justice pun dirilis dalam format IMAX 3D, berikut hasil rekapan format IMAX 3D

DEPTH
Efek ini hanya tampil ketika filmnya direkam dengan kamera IMAX. Dan hal itu hanya tampil beberapa kali di dalam filmnya.

POP OUT
Pun dengan efek Pop Out, mungkin ada beberapa butiran salju dan asap yang muncul. Hanya saja, hal itu ada ketika adegannya sedang direkam dengan kamera IMAX.
Jika tak memiliki format IMAX di kota anda, lebih disarankan menontonnya dalam format dua dimensi saja agar tak pusing. Tetapi, jika memiliki teater IMAX perlu menyaksikannya dengan format ini untuk menambah pengalaman menonton yang maksimal. Meskipun, Batman V Superman : Dawn of Justice tetap memiliki presentasi yang lemah.

Jumat, 06 Februari 2015

WILD CARD (2015) REVIEW : Effortless Classic Taste


Sudah berapa banyak Jason Statham memiliki lakon penting di film-film action? Ya, lakonnya di beberapa film genre action ini selalu berhasil memenangkan hati penontonnya. Tentu, Jason Statham sangat ikonik dengan sosoknya yang maskulin dengan adegan penuh adrenaline. Segala jenis filmnya akan dengan mudah mendapatkan tanggal rilis waktu di Indonesia. Penonton akan percaya film apapun jika ada sosok Jason Statham di posternya.

Meskipun tak semua filmnya berhasil mendapat hati di penontonnya, tetapi penonton akan selalu mengulangi kesalahan yang sama untuk film-film milik Jason Statham. Mendengar Jason Statham kembali hadir di awal tahun 2015 ini tentu akan disambut baik oleh penonton. Jason Statham kembali lewat film Wild Card yang dibuat berdasarkan novel Heat milik William Goldman. Novel Heat pun pernah diangkat menjadi sebuah film di tahun 1986 dengan Burt Reynold sebagai lead actor-nya.

William Goldman masih ikut ambil bagian di film versi terbarunya ini dengan Simon West di bangku Sutradara. Mungkin, Wild Card adalah usaha untuk mengenalkan kembali film atau novel Heat di tahun 1980-an kepada penonton millenium ini. Sayangnya, meski William Goldman masih mengerjakan naskahnya, Simon West masih belum berhasil menjadikan film Wild Card sebagai karya dengan cita rasa klasik walaupun dia sudah sangat berusaha. 


Wild Card dimulai dengan mengenalkan sosok Nick Wild (Jason Statham), seorang pembunuh bayaran terkenal yang dapat membunuh tanpa menggunakan senjata api. Nick memiliki kelemahan saat berjudi, karena dia dapat menghabiskan banyak uang dan waktu di tempat kasino langganannya. Hingga suatu saat, teman perempuannya mendapat kesulitan dan membutuhkan bantuannya untuk membalaskan dendam atas perlakuan kepadanya.

Dia diperkosa dan aniaya oleh seseorang bernama Danny DeMarco (Milo Ventimiglia), seorang mafia terkenal di kota Las Vegas. Pada awalnya Nick tidak ingin menangkap Danny De Marco karena tidak mau mendapat masalah karena berusaha untuk menangkapnya. Tetapi, Nick Wild pun berusaha untuk menangkap atas permintaan temannya yang ingin melakukan aksi balas dendam.

Dengan beberapa susunan cerita, Wild Card berjalan tak memiliki koneksi antar cerita pertama dengan cerita lain. Film ini pun akan memiliki beberapa babak yang akan membingungkan penontonnya. Sehingga, penonton akan menanyakan poin apa yang berusaha disampaikan oleh Simon West di dalam film terbarunya kali ini. Karena terlihat benar bahwa Wild Card berusaha menciptakan suasana klasik tanpa tahu benar bagaimana mengolah hal tersebut.


Wild Card memiliki banyak subplot untuk diceritakan. Terasa hasil tangan William Goldman yang mencoba untuk menjadikan subplot itu untuk saling berhubungan antara misi balas dendam dengan latar belakang karakter Nick Wild sendiri. Subplot itu pun akan terasa episodik di setiap paruh filmnya. Tanpa adanya satu benang merah yang harusnya akan membuat film ini menjadi sebuah studi karakter yang menyenangkan untuk sosok Nick Wild.

Apa yang dihadirkan di dalam posternya yang menampikan gambar seorang diri Jason Statham bersama namanya pun mewakili film ini. Wild Card akan menjadi one man show milik Jason Statham meski dengan beberapa porsi kecil dari karakter lain tetapi tidak berhasil menyokong cerita di dalamnya. Alhasil, karakter yang diperankan oleh Michael Angarano, Milo Ventimiglia, Sofia Vergara, bahkan Stanley Tucci pun tak memiliki tujuan yang jelas. Hanya sekedar formalitas setor wajah ke layar perak bahwa film ini tak hanya diperankan sendiri oleh Jason Statham. 

Sosok Michael Angarano yang berperan menjadi ‘asisten’ Nick Wild pun hanya seperti bayangannya. Tak tahu harus melakukan apa dan apa yang dia butuhkan terhadap Nick Wild hingga pada akhir film, karakternya menjadi sebuah turning point yang akan dengan mudah dilupakan. Begitu pun dengan sosok Nick Wild yang tak bisa mendapatkan simpati dari penontonnya. Sehingga, karakter yang diperankan oleh Jason Statham ini pun akan terasa tak memiliki nyawa dan kosong. 


Apa yang diharapkan penonton saat menyaksikan film dengan Jason Statham sebagai bintangnya adalah adegan pemacu adrenaline yang akan memuaskan mereka. Jika hal itu yang kalian harapkan, tentu saja Wild Card akan dengan mudah mengecewakan penontonnya. Ya, Wild Card adalah film Jason Statham dengan adegan aksi yang sangat minimalis. Masih ada adegan adu tembak dan baku hantam, tetapi dengan porsi yang sedikit dan digarap ala kadarnya. Hingga, bukan tak mungkin akan menimbulkan kesan menggelikan untuk sebagian orang.

Wild Card akan menciptakan nuansa klasik lewat beberapa adegan yang dikemas lewat soundtrack yang menarik dan naskah yang harusnya baik dari William Goldman. Sayangnya, arahan Simon West ini belum bisa menjadikan Wild Card mendapatkan tujuan-tujuan yang diinginkan di dalam naskah milik William Goldman. Sehingga, Wild Card akan menjadi sebuah tontonan yang kurang menghibur, minim adegan aksi, dan pointless di dalam 90 menit durasinya.

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...