Tampilkan postingan dengan label film indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Desember 2017

POSESIF (2017) REVIEW : Realita Lain dalam Kisah Cinta Remaja


Film remaja Indonesia di tahun ini mulai memiliki berbagai macam keberagaman mulai dari tema hingga kemasan. Posesif, salah satu film remaja tahun ini yang perlu disoroti bukan dari kontroversialnya saja bisa masuk ke nominasi FFI tahun ini. Perlu digarisbawahi pula bahwa film remaja ini datang dari sutradara yang jejak rekam filmnya memiliki pendekatan non-populer. Sehingga, kedatangan film ini bisa mencuri perhatian penontonnya.

Tentu banyak orang mungkin tak lagi mengerti berbagai macam fenomena tentang kekerasaan dalam hubungan, gangguan kejiwaan, dan lain sebagainya. Film bisa jadi medium lain untuk memberikan pencerahan tentang fenomena-fenomena tertentu agar penontonnya tahu bahwa hal-hal seperti ini itu penting untuk diketahui. Posesif adalah salah satu film yang digunakan sebagai bentuk awareness. Dengan pemikiran terbuka, Posesif akan membuat kalian sadar bahwa kekerasan dalam berhubungan itu ada dan Anda perlu untuk merangkul para korbannya.

Edwin bekerjasama dengan Gina S. Noer dalam produksi naskah film Posesif ini. Dengan begitu, film ini memiliki misi untuk mengemas sebuah pesan tentang awareness mengenai kekerasan ini menjadi kemasan yang bisa dicerna. Mendekatkan problematika berhubungan itu dengan menilik lagi akarnya. Kisah-kisah seperti ini biasanya berawal mula dari kisah-kisah cinta monyet saat remaja. Kisah cinta remaja ini diwakili oleh dua pion utama Yudhis dan Lala, yang diperankan oleh Putri Marino dan Adipati Dolken.


Sehingga, inilah kisah Lala (Putri Marino) seorang atlet lompat indah yang sedang berkarir cemerlang. Dipuja oleh seluruh warga sekolah menengah atas tempatnya menuntut ilmu. Tetapi, Lala tetaplah seorang remaja yang ingin merasakan jatuh cinta. Bertemulah Lala dengan Yudhis (Adipati Dolken) yang ternyata diam-diam mengagumi Lala. Yudhis mencintai Lala dengan sepenuh hati dan jiwanya. Seluruh hidupnya pun didedikasikan untuk Lala.

Yudhis adalah pacar pertama Lala dan dia sangat menikmati setiap waktu bersama Yudhis setiap hari. Begitu pula dengan Yudhis yang benar-benar mencintai Lala hingga tak ada sedikit saja ruang untuk Lala bersama dengan yang lain. Hubungan mereka lambat laun menjadi tak sehat karena Yudhis sangat protektif terhadap Lala berkaitan dengan apapun. Hubungan Lala dan Yudhis penuh dengan naik dan turun, tetapi Lala merasa terjebak dengan Yudhis.


Jika kisah cinta SMA biasanya memiliki penggambaran yang manis di dalam film-film manapun, Edwin mengambil sudut pandang lain yang berbeda. Inilah sebuah realita lain tentang kisah romantis muda-mudi yang mungkin hanya ada dalam porsi yang sedikit, tetapi perlu untuk diketahui oleh semua orang. Edwin berusaha untuk mengemasnya dengan penuturan yang ringan, dapat diakses oleh siapapun, tetapi tak melupakan bagaimana konflik yang ditawarkan di dalam filmnya dalah isu yang perlu untuk diangkat.

Edwin bisa berkompromi dengan rekam jejak filmnya terdahulu bahwa dirinya mampu dan berhasil keluar dari zona nyamannya yang biasa mengemas film dengan penuturan yang non-populer. Tetapi, bukan berarti Posesif menghilangkan keseluruhan jiwa dari Edwin sebagai sutradara. Masih ada beberapa permainan emosi yang lebih subtil di dalam adegannya yang mampu memberikan nyawa lebih dan berakumulasi sehingga menjadi sajian yang sangat emosional.

Meski isunya yang terkesan ambisius dan berbeda, tetapi Posesif hadir dengan caranya yang sederhana. Bermimikri menjadi sesuatu yang ringan, sesekali punya keklisean remaja masa kini untuk mempermanis suasana filmnya yang memiliki dasar sebagai sebuah film drama romantis. Tetapi, juga berani untuk memberikan sebuah sub genre yang terpadu dengan genre utamanya. Dua genre yang dipadukan ini muncul sesuai dengan porsinya.


Edwin punya pengarahan yang kuat, sehingga penonton bisa ikut merasa simpati sekaligus gemas dengan kedua karakter utamanya. Naskah dari Gina S. Noer juga berhasil memberikan daya tarik yang lebih dinamis. Menyembunyikan konflik demi konflik hingga menutup filmnya dengan cara yang jauh lebih subtil tentu membutuhkan sebuah ketelitian dalam penulisannya. Meskipun, tak dapat dipungkiri bahwa Posesif memiliki beberapa inkonsistensi yang membuat tensinya berkurang.

Perlu untuk mendapat sorotan penting adalah dua pemain utamanya yang berhasil memperkuat atmosfir manis dan pahitnya kisah cinta Yudhis dan Lala. Putri Marino, seorang aktris pendatang baru ini berhasil mencuri perhatian karena performanya yang luar biasa. Juga, Adipati Dolken yang berhasil naik kelas dengan perannya sebagai Yudhis. Keduanya memiliki ikatan emosional yang kuat sehingga penonton pun bisa ikut relevan dengan setiap konflik keduanya meskipun konflik mereka jauh dari referensi penontonnya.



Maka, Posesif sebagai sebuah film punya misi khusus tentang sebuah pengenalan bagaimana orang-orang gangguan psikologis dan kekerasan dalam berhubungan itu nyata adanya. Bahkan, hal-hal itu kadang tertutupi dengan beberapa kejadian-kejadian yang sangat lumrah terjadi di sekitar kita seperti Yudhis dan Lala yang sedang asyik menjalin cinta mereka. Edwin berusaha menjadikan Posesif untuk sebuah medium agar semua orang tahu atas isu ini. Bagaimana caranya untuk menolong korban dalam kekerasan dan menyuruhnya untuk lari jika tak ada cara untuk mengenalkannya dengan cara universal. Ya, Posesif adalah alternatif cara di era sekarang. 

Sabtu, 13 Februari 2016

AACH... AKU JATUH CINTA (2016) REVIEW : Kekacauan Indah Sebuah Puisi Visual


Februari telah datang.  Muda dan mudi akan menyelenggarakan sebuah selebrasi cinta besar-besaran di dua minggu pertama. Tentu, euforia akan selebrasi cinta megah di penjuru dunia ini akan dirasakan oleh sejuta umat. Bukan hanya pasangan yang sedang dimabuk cinta, pun juga dirasakan oleh sineas-sineas untuk ikut serta meramaikan hari kasih sayang ini. Dan dengan cara memberikan tontonan romansa cinta itulah, para sineas berkontribusi menyemarakkan hari kasih sayang ini.

Salah satunya yang ikut serta dalam gegap gempita selebrasi kasih sayang ini adalah Garin Nugroho. Ya, meskipun pada awalnya film ini tak dikhususkan untuk meramaikan hari kasih sayang dan rilis akhir tahun lalu. Dan menayangkannya ke dalam bulan yang penuh kasih sayang pun akan dianggap pemilihan yang tepat. Garin mempersembahkan sebuah kisah kasih Romi dan Yuli lintas zaman lewat film Aach... Aku Jatuh Cinta.

Garin Nugroho terkenal dengan keunikannya dalam bertutur tanpa melupakan estetika yang membuat mata juga ikut terhibur. Meskipun, tak bisa banyak orang yang ikut turut serta merasakan gegap gempita Romi dan Yuli berpesta merayakan cinta. Tak peduli dengan itu, Garin Nugroho masih berusaha keras agar Aach... Aku Jatuh Cintabisa diterima. Dan jadilah, Aach... Aku Jatuh Cinta sebagai sebuah puisi cinta paling tak terurus tetapi terindah yang pernah ada. 


Rumi (Chicco Jericho) dan Yulia (Pevita Pearce) hidup bertetangga sejak kecil. Mereka memiliki cerita pribadi masing-masing dengan keluarganya. Kehidupan Rumi sebenarnya baik-baik saja sampai usaha keluarganya harus terancam karena produk-produk impor yang masuk dan membuat ayahnya pailit. Hal ini menyebabkan sang ayah berlaku semena-mena dengan Rumi dan Ibunya. Dan dengan alasan ini pula, sang Ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan Rumi dan Ayahnya.

Rumi dan Yuli adalah sahabat sejak kecil, dan ketika beranjak dewasa hubungan tersebut terasa lebih dekat. Rumi secara intensif mendekati Yuli karena menurutnya dia telah jatuh hati para Yuli. Meskipun, Yuli telah berusaha keras untuk menjauhi Rumi agar terhindar dari masalah-masalah hidupnya. Dan ketika Rumi pindah karena rumahnya di sita oleh perusahaan ayahnya, Yuli pun merindukan canda tawa Rumi. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda ketika Rumi pergi. 


Romi dan Yuli, terkesan sangat mirip dengan Romeo dan Juliet, sebuah roman klasik karangan William Shakespeare. Jelas, ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan adanya kemiripan dengan karakter milik William Shakespeare ini.  Ya, Aach... Aku Jatuh Cinta menggunakan sebuah anagram dari nama karakter sebuah kisah cinta sepanjang zaman yang juga berkaitan dengan karakter-karakter yang dibuat oleh Garin Nugroho.

Kisah cinta Romeo dan Juliet yang legendaris yang tak pernah lekang dimakan zaman, kembali digunakan sebagai pondasi cerita Aach... Aku Jatuh Cinta. Kisah cinta konstruksi Garin Nugroho ini melewati 3 generasi dengan ikonnya masing-masing. Kultur di setiap era yang mulai berubah juga semakin lama mempengaruhi bagaimana karakter-karakter di film Aach... Aku Jatuh Cintaberkembang di setiap menitnya. Dan hasilnya, penonton disuguhkan bagaimana Romi dan Yulia tak hanya sekedar bertahan akan konflik yang menimpanya, tetapi juga perubahan karakternya yang semakin matang.

Oh, tentu saja Garin Nugroho tak henti-hentinya bermain dengan simbol-simbol yang sudah menjadi ciri khasnya dalam bertutur. Pun dengan Aach... Aku Jatuh Cinta, film ini digunakan sebagai tanda bahwa bahasa akan berubah di setiap generasinya. Bahasa memiliki sifat dinamis yang akan selalu berubah sesuai dengan apa yang disepakati pada era itu. Hal itu akan sangat terasa lewat dialog-dialog yang dilantunkan oleh Romi dan Yulia di sepanjang film. 


Sifat baku yang ditempelkan kepada bahasa yang digunakan setiap harinya semakin lama akan semakin menghilang. Dan sesuai dengan judul filmnya, Aach... Aku Jatuh Cinta, film ini adalah sebuah perpaduan bahasa-bahasa dari setiap era yang akan terasa sangat kacau. Hanya saja, kekacauan itu berubah menjadi sebuah balada asam manis cinta yang indah dan terasa sangat nyata. Bukan terasa mengada-ada, layaknya kisah cinta Romi dan Yulia yang tak menemukan akhirnya.

Ya, puisi visual milik Garin Nugroho lewat kisah Romi dan Yuli ini adalah sebagai penanda bagaimana sebuah kultur dalam negeri yang selalu bertahan. Meski perlahan, para “ahli waris” kultur ini semakin dikikis oleh pemikiran-pemikiran barat yang dijadikannya sebagai kiblat baru. Apa lagi yang bisa dilakukan oleh kultur-kultur domestik ini selain bertahan dengan sisa-sisa relawan yang setia? Dan Garin Nugroho berusaha untuk mengingatkan itu lewat Aach... Aku Jatuh Cinta.

Meskipun carut marut, tetapi Aach... Aku Jatuh Cinta bukanlah film dengan teknis yang sembarangan. Garin Nugroho tetap memperhatikan detil-detil menarik lewat sandang-sandang cantik yang digunakan oleh para pelakonnya. Sehingga, akan terasa benar bagaimana Aach... Aku Jatuh Cinta menjadi sebuah maha karya cinta sebagai selebrasi kasih sayang dan bahasa. Pun, dengan lantunan musik moderen dikemas klasik yang membuat penonton mudah jatuh hati. 


Mungkin, ini adalah salah satu karya dari sutradara Garin Nugroho untuk merayakan kekuatan cinta dan budaya yang bertahan dalam era yang semakin berubah. Aach... Aku Jatuh Cintabukanlah sekedar romansa kisah kasih Romi dan Yuli dengan plot tak mendalam. Garin Nugroho akan berusaha menempelkan pesan-pesan simbolik lewat beberapa dialognya dan perubahan-perubahan halus para karakternya yang semakin terasa matang. Maka jadilah. Aach... Aku Jatuh Cinta sebagai sebuah kekacauan puisi visual yang indah dan menyenangkan.     

Senin, 08 Februari 2016

SITI (2015) REVIEW : Sebuah Paradoks Isu Strata Sosial


Ada beberapa film yang sedang berusaha untuk memberikan pengakuan terhadap kaum wanita yang masih juga dicap sebagai kaum marjinal –kaum yang tersingkirkan. Dengan isu-isu seperti ini, film akan dikemas se-unik mungkin agar bisa menarik perhatian–secara konten dan visual –dari pemerhati film di beberapa festival. Meskipun, pendekatan yang dilakukan oleh pembuat film jenis seperti ini masih menggunakan pendekatan arthouseyang serupa.
 
Dan salah satu film yang juga membahas isu-isu seperti ini adalah film pemenang Festival Film Indonesia 2015, Siti. Film independen garapan Eddie Cahyono ini pada awalnya hanya didistribusikan lewat pemutaran-pemutaran mandiri yang dilakukan oleh komunitas-komunitas penggiat film independen. Meski begitu, Siti akhirnya diakui oleh beberapa petinggi festival dan akhirnya melebarkan sayapnya ke layar lebar.

Siti jelas berbeda dengan kebanyakan film-film –yang dibilang –komersil saat tayang di bioskop. Eddie Cahyono membuat Siti dengan kemasan bertutur yang unik dengan aspect ratio seukuran layar televisi tabung. Juga, membuat warna film miliknya menjadi film hitam putih. Ya, inilah yang membuat Siti berbeda dan berani dalam menyampaikan 85 menitnya. Tetapi, Siti mengalami krisis dalam menyampaikan sebuah idealisme-nya yang seharusnya membela kaum wanita.


Seorang wanita bernama Siti (Sekar Sari) rela benar untuk bekerja siang malam untuk menghidupi anak dan keluarganya. Kehidupan Siti tak bisa jauh-jauh dari bekerja keras agar dapat mendapatkan uang untuk melunasi hutang piutang suaminya yang semakin lama semakin tak berdaya. Dia harus mendapatkan uang 10 juta untuk melunasi hutang suaminya untuk membeli kapal. Na’asnya, sang suami mengalami musibah dengan kapal yang masih hutang tersebut.

Di pagi hari, Siti menjual keripik di pantai untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah tersebut. Tetapi, Siti pun mengalami transisi luar biasa ketika matahari sudah mulai tenggelam. Pada malam hari, Siti bekerja sebagai wanita pendamping di sebuah karaoke di sekitar daerahnya tinggal. Dan di sana lah, Siti mendapatkan uang lebih banyak ketimbang berjualan keripik. Dan dia bertemu dengan seorang pria bernama Gatot (Haydar Saliz) yang memiliki ketertarikan dengan Siti.


Siti menampilkan sebuah fenomena sosial tentang kaum wanita dengan kemasan yang berani berbeda dengan film-film komersil yang ada lainnya. Pengemasan warna film yang diputuskan menjadi hitam putih dan dengan aspect ratio 4:3 menjadikan Siti akan terasa unik untuk diikuti di sepanjang 86 menit filmnya. Plot cerita Siti pun sederhana, tanpa ada beberapa konflik yang terlalu kompleks tetapi Siti ingin menyampaikan secara jujur sebuah fenomena menarik tentang strata sosial dan gender.

Eddie Cahyono ingin menjadikan filmnya sebagai sebuah cerminan jujur akan realita yang ada di sekitar mereka. Bagaimana seorang wanita berusaha keras untuk mendapatkan pengakuan yang sederajat dengan para lelaki. Bagaimana kaum pinggiran berusaha keras untuk mencari penghasilan demi menghidupi dirinya dan keluarganya. Iya, Eddie Cahyono memang sudah benar dan berhasil merefleksikan itu ke dalam karakter dan cerita representatif lewat Siti.

Kehidupan Siti memang berbanding terbalik pada saat fajar menyingsing dengan ketika matahari telah tenggelam. Begitu pula dengan isu yang berusaha diangkat oleh Siti di dalam film ini. Eddie Cahyono memang sedang berusaha keras mengadakan sebuah kontemplasi strata dan klasifikasi gender di kehidupan sekitar. Tetapi yang terjadi adalah Siti malah jatuh menjadi sebuah sajian yang generik dan berbanding terbalik dengan tujuan Eddie Cahyono. 


Paradigma-paradigma tentang persamaan derajat dalam gender yang menjadi isu utama itu ternyata malah terlihat samar. Film Siti jatuh menjadi sebuah studi karakter bahwa patriarki itu masih ada dan menjajah wanita seperti Siti. Padahal, Eddie Cahyono sudah menempelkan atribut-atribut pemberontakan wanita –meski klise –kepada karakter Siti. Dan sayangnya, film Siti tak memaksimalkan tujuan utama pembuatannya untuk mengemas film ini menjadi lebih kuat dalam mengangkat isu tersebut.

Jika warna hitam putih dan aspect ratio 4:3 yang digunakan oleh film ini yang juga berperan sebagai alat penutur cerita, lantas tak ada signifikansi yang cukup besar. Poin-poin teknis yang digunakan oleh film ini akan terkesan sebagai estetika semu yang tak selaras dengan jalinan cerita yang ada di dalam film ini. Begitu pun dengan ukuran layar 4:3 di film ini, jika iya Eddie Cahyono menggunakannya sebagai alat bertutur, jelas dia akan memanfaatkan ruang itu. 


Sayangnya, sinematografi dalam film Siti tak benar-benar memaksimalkan kesempitan ruang bergerak karakter-karakter di dalamnya. Mungkin, Eddie akan berusaha untuk merepresentasikan bagaimana Siti sangat sulit untuk bergerak ketika harus menjalani kodratnya sebagai seorang wanita yang sudah berkeluarga. Tetapi, gambaran akan keterbatasan itu tak sepenuhnya muncul karena aspek teknis yang sudah tak dimaksimalkan lagi.

Ya, menjadi sebuah presentasi yang berbeda memang bukanlah menjadi masalah bagi Siti. Eddie Cahyono masih berhasil memberikan alternatif tontonan yang unik dan sekaligus menarik untuk diteliti lebih dalam lagi. Sayangnya, di tengah temanya yang ingin mengangkat derajat kaum wanita sebagai kaum marjinal, Siti malah menjadi sebuah pesta patriarki dengan euforia yang besar di segala konfliknya. Juga, bagaimana dukungan segi teknis dengan tujuan memberikan estetika itu malah jatuh memberikan sebuah kehampaan di dalam filmnya. Maka sayang, Siti masih kurang matang.  

Rabu, 08 April 2015

FILOSOFI KOPI (2015) REVIEW : Refleksi Dalam Secangkir Kopi


Seperti tak akan ada habisnya, adaptasi dari karya legendari milik Dewi Lestari kembali mewarnai perfilman Indonesia. Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh baru saja menyapa penontonnya di akhir tahun 2014 lalu dengan adaptasi yang masih kacau balau. Maka, kali ini giliran buku kumpulan cerita pendek milik Dewi Lestari, Filosofi Kopi, mendapatkan perhatian dari salah satu sineas Indonesia untuk dijadikan sebagai sebuah gambar bergerak.
 
Proyek ini mendapat antusias tinggi karena berada di tangan yang setidaknya sudah memiliki kredibilitas di bidangnya. Angga Sasongko, sutradara yang menangani Filosofi Kopi ini telah berhasil menelurkan karya-karya yang gemilang. Apalagi, Cahaya Dari Timur : Beta Maluku berhasil memenangkan Piala Citra dalam kategori Film Indonesia Terbaik. Maka, tak salah jika Filosofi Kopi akan dinanti-nantikan oleh para penikmat film Indonesia. 


Filosofi Kopi yang berawal dari sebuah cerita pendek Dewi Lestari ini menceritakan tentang sepasang sahabat bernama Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto). Mereka telah bersahabat sejak mereka masih berumur belia. Hingga suatu hari, mereka memutuskan untuk membuka kedai kopi yang didasari oleh bagaimana Ben menguasai segala jenis kopi. Jody pun hanya menangani bagian finansial dari kedai kopi tersebut yang dinamai Filosofi Kopi.

Tetapi, sebuah tantangan muncul dari seorang pelanggan yang ingin tahu kehebatan dari Ben. Dia memberikan tantangan agar Ben membuat sebuah kopi paling enak yang pernah ada. Tantangan itu disetujui Ben karena imbalan yang diterimanya begitu menggiurkan. Ben menghabiskan berhari-hari untuk meracik kopi terenak yang pernah ia buat. Setelah berhasil membuat kopi terenak versinya, seorang perempuan bernama El (Julie Estelle) mematahkan harapan Ben karena merasa ada yang lebih enak daripada kopi buatannya. 


Kesalahan sebuah film adaptasi adalah selalu memaksakan kehendak untuk setia terhadap sumber aslinya. Dan sekali lagi, medium untuk menyampaikan sebuah pesan lewat tulisan dan gambar jelas sesuatu yang berbeda. Akan ada sedikit perubahan yang dibutuhkan agar apa yang ditampilkan ke dalam sebuah gambar bergerak ini memiliki ruang gerak yang lebih luas tetapi padat dibandingkan sebuah buku atau cerita pendek.

Filosofi Kopi ini seperti tahu benar apa arti kata ‘adaptasi’ yang dimaksudkan untuk filmnya. Bukan hanya serta merta memindahkan setiap paragraf di dalam cerita pendek ke dalam naskah filmnya. Akan ada improvisasi dari Jenny Jusuf, selaku penulis skenario, untuk mengembangkan karakter-karakter yang memiliki cerita terbatas di dalam cerita pendeknya ke dalam naskah miliknya. Hal ini menjadi sangat bagus karena karakter Ben dan Jody menjadi sebuah karakter yang multidimensional.

Tak hanya berhasil membuat karakter-karakter yang akhirnya lebih multidimensional, pun juga memiliki dialog-dialog filosofis yang lebih dinamis. Jenny Jusuf tahu benar bagaimana mengadaptasi sebuah cerita pendek lawas milik Dewi Lestari dengan konflik-konflik yang memiliki relevansi dengan apa yang ada di sekitarnya. Jenny Jusuf dapat mengemas tren atau konflik masa kini tanpa lupa bahwa dia masih didasari dari konflik yang ada di dalam cerita pendek milik Dewi Lestari. 


Bagaimana pun juga, penentu dari segala jenis aspek di dalam film ini adalah Angga Sasongko selaku sutradara. Dan sekali lagi, Angga Sasongko menyanggupi segala ekspektasi dari penontonnya yang mengharapkan sebuah adaptasi yang bagus. Filosofi Kopi tak hanya sekedar membicarakan kedua orang sahabat dengan konflik kedai kopi mereka saja. Tetapi, ada sesuatu yang lebih dalam yang coba ditawarkan oleh Angga Sasongko dengan jalinan emosinya yang begitu kuat.

Angga Sasongko berhasil benar menjadikan Filosofi Kopi ini menjadi sebuah adaptasi yang sangat solid. Dengan konten yang ringan, Filosofi Kopi masih bisa menunjukkan performanya yang sangat prima. Meski ringan, akan ada simbol-simbol yang diselipkan untuk membahas Kopi dengan lebih dalam. Layaknya sebuah kehidupan, Kopi tak selalu terasa manis di lidah tetapi akan ada sisi pahit yang juga harus dirasakan oleh penikmatnya dan itulah hal yang ingin disampaikan Angga Sasongko di film ini. 


Tujuan Jenny Jusuf untuk membuat karakter Ben dan Jody menjadi lebih multidimensional adalah keputusan yang tepat untuk mengibaratkan setiap karakternya dengan Kopi sebagai medium refleksinya. Ben dan Jody pun tak melulu memiliki sifat manis yang gampang untuk dikagumi tetapi akan ada latar belakang yang pahit sebagai sokongannya. Sifat mereka yang saling bertolak belakang pun menjadi salah satu kekuatan film ini.

Ben yang berpegang teguh akan idealismenya, tetapi akan selalu ada Jody yang mencoba membangunkan Ben dengan sifatnya yang realistis. Dan begitulah manusia, bagaimana tetap ingin menjalankan apa yang menurutnya sesuai dengan kemauannya tetapi tetap mempertimbangkan segala aspek yang akan menjadi dampaknya. Tetapi, jika kedua sifat ini saling jalan berdampingan, tentu diri seseorang akan jauh lebih kuat. 

Kekuatan Angga Sasongko dalam mengarahkan film ini memang patut diacungi jempol. Berkatnya, Chemistry antara Chicco Jericho dan Rio Dewanto pun berhasil keluar dengan sangat baik di layar perak. Mereka pun seperti benar-benar sudah berteman sangat lama di kehidupan nyata. Akan terasa bagaimana Rio dan Chicco sangat menikmati bekerja bersama Angga Sasongko dalam satu proyek film. Pun, didukung segi teknis yang menghadirkan panorama-panorama indah juga dilengkapi soundtrack manis yang semakin meyakinkan Filosofi Kopi sebagai sebuah film dengan paket komplit.


Segala manis dan pahit akan selalu hadir di dalam hidup seseorang dan hal itu menjadi tujuan utama dari film Filosofi Kopi. Jenny Jusuf dan Angga Sasongko berhasil berkolaborasi dalam mengadaptasi sebuah karya lawas dari Dewi Lestari dengan berbagai pembaharuan yang akan terasa relevan dengan zaman sekarang. Filosofi Kopi memanfaatkan benar dalam mengartikan arti kata ‘adaptasi’ di dalam filmnya. Filosofi Kopi ini adalah karya Idealis dari Angga Sasongko tetapi dengan kemasan yang realistis, layaknya Ben dan Jody.
 

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...