Tampilkan postingan dengan label Sheryl Sheinafia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sheryl Sheinafia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Maret 2017

GALIH & RATNA (2017) REVIEW : Pengingat Masa Remaja yang Manis


Telah ada sepasang sejoli lain yang lebih ikonik dan muncul jauh sebelum Cinta dan Rangga di Ada Apa Dengan Cinta?. Sepasang sejoli ini muncul dari karakter yang dibuat oleh Eddy D. Iskandar lewat tulisannya di sebuah karya novel berjudul Gita Cinta Dari SMA. Kisahnya pun pernah divisualisasikan oleh Arizal di tahun 1979. Muda-mudi di kala itu pun begitu menggilai kisah cinta dua insan manusia ini. Galih dan Ratna, kisah cinta mereka bersemi di bangku SMA dan abadi dikenang sepanjang masa.

Kisah manisnya masih memberikan rasa yang tak pernah lekang oleh zaman. Hingga di generasi yang sudah berubah segala kebiasaannya ini, rasanya perlu dikenang lagi kisah cinta mereka. Maka, datanglah Lucky Kuswandi membawakan kisah cinta bahagia mereka dengan caranya sendiri. Lucky Kuswandi mengadaptasi bebas sumber utama kisah cinta Galih dan Ratna ini dan mempersembahkannya sebagai surat cinta kepada generasi remaja millenial untuk merasakan degupan cinta yang bahagia.

Bukan lagi ‘Gita Cinta Dari SMA’, tapi ‘Galih & Ratna’ sebagai tajuk pilihan sekaligus cara untuk membedakan karya milik Lucky Kuswandi dengan film sebelumnya. Karya milik Lucky Kuswandi ini tak serta merta mengadegankan ulang panel-to-panel yang hanya menimbulkan efek nostalgia. Galih & Ratna lebih kepada rejenuvasi atas karya lama milik Arizal berdasarkan novel milik Eddy D. Iskandar. Tetapi, inilah ‘Galih & Ratna’ yang meskipun mendapatkan pembaharuan tetap memiliki rasa manis yang sama. Mengingatkan kepada siapa saja yang menontonnya tentang masa remajanya yang bahagia. 


Klise, poin utama yang keluar sesaat mengetahui bahwa ‘Galih & Ratna’ ini adalah sebuah film kisah cinta remaja. Secara konflik dan cabang cerita, ‘Galih & Ratna’ memang tak punya kisah yang baru apalagi kisahnya tak lain juga disadur dari sumber yang sama. Lucky Kuswandi memang tak menegaskan untuk memberikan pembaharuan dalam plot ceritanya, tetapi mengembalikan sebuah rasa, kenangan, yang pernah setiap orang rasakan saat remaja.

Setiap orang pasti pernah menyatakan bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah dan atas pernyataan itulah Lucky Kuswandi bermain saat mengarahkan Galih & Ratna. Film ini digunakan sebagai sebuah pertanda akan zaman remaja yang selalu menjadi pijakan untuk diingat tentang masa lalu. Dengan film ‘Galih & Ratna’, penonton yang sudah jauh melewati masa-masa ini bisa kembali teringat betapa manisnya merasakan cinta pertama dengan segala komplikasinya. 


Maka terwakililah kenangan memadu kasih saat remaja lewat karakter Galih dan Ratna yang merasakan adanya rasa pada pandangan pertama. Ketika itu, Ratna (Sheryl Sheinafia) adalah murid baru dari Jakarta yang pindah di sebuah sekolah di Bogor. Saat dia baru saja datang dan memperkenalkan diri di depan kelas, Galih (Refal Hady) dengan mudahnya terpesona dengan paras cantik Ratna. Galih dan Ratna memiliki atraksi yang sangat besar satu sama lain dan ingin merealisasikan perasaannya agar jadi satu.

Di suatu sore, di sebuah toko kaset tua peninggalan ayah Galih, Ratna datang untuk ingin tahu siapa Galih. Setelah itu, mereka berdua semakin akrab dan tiba saatnya Galih ingin menyatakan perasaannya kepada Ratna. Melalui sebuah kompilasi kaset pita, Galih menggunakannya sebagai perwakilan suara hatinya kepada Ratna. Tetapi, problematika Galih dan Ratna tak hanya tentang kisah cintanya, tetapi juga problematika pribadi yang membuat mereka tak bisa merajut kasih dengan tenang. 


Plot cerita utama di ‘Galih & Ratna’ memang hanya sekedar bagaimana keduanya saling memadu kasih. Tetapi, bukankah memang ketika dua orang sedang merajut kasih, seakan-akan dunia milik berdua? dan poin itulah yang berusaha disampaikan oleh Lucky Kuswandi. ‘Galih & Ratna’ memang tak bisa lepas dengan pandangan sebuah plot yang generik, tetapi pengarahan Lucky Kuswandi berhasil memberikan sentuhan yang begitu manis. Sehingga, performa plotnya yang sudah menjemukan ini bisa menjadi sebuah angin segar di film-film dengan genre yang serupa.

Manis-manis jambu, begitulah ‘Galih & Ratna’ sebagai film kisah cinta remaja. Film ini dapat menimbulkan rasa manis yang muncul perlahan-lahan dan membuat penontonnya tersipu malu. ‘Galih & Ratna’ bisa digunakan sebagai sebuah memoir masa remaja yang dirindukan oleh banyak orang, apalagi bagi penonton yang sudah lewat masa remajanya. ‘Galih & Ratna’ milik Lucky Kuswandi ini bukan hanya sekedar pemicu rasa nostalgia atas film terdahulunya, tetapi lebih kepada sebagai pengingat masa-masa remaja penontonnya.

Meski disadur dari sumber yang sama, Lucky Kuswandi membuat ‘Galih & Ratna’ sebagai sebuah film adaptasi dengan interpretasi bebas. Muncullah pembaharuan yang terjadi di dalam konfliknya agar memiliki relevansi dengan masa remaja generasi millenial. Sehingga, ‘Galih & Ratna’ tak hanya sebagai mesin pengingat kenangan bagi penontonnya yang sudah tumbuh dan berkembang dengan ‘Gita Cinta di SMA’, tetapi juga sebagai tontonan alternatif remaja yang ingin merasakan pahit manisnya cinta. 


Meski kisahnya ringan dan mendayu-dayu tetapi ‘Galih & Ratna’ tak melupakan bagaimana karakternya yang remaja ini juga sedang proses untuk memiliki kedewasaan. Sehingga, film ini tak sekedar kisah cinta yang manis, tetapi juga ada rasa pahit dalam proses berceritanya. Setiap karakternya berkembang mencari jati diri dan apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka. Pesan lain dalam ‘Galih & Ratna’ adalah menceritakan tentang tujuan dan apa yang diinginkan setiap orang dalam hidupnya.

Kehadiran Galih & Ratnabisa menjadi jawaban atas film kisah cinta remaja yang dibuat dengan sangat baik. Akhirnya penonton remaja bisa memiliki film untuk mencurahkan kegalauan hati dengan representasi di film yang tepat. ‘Galih & Ratna’ memang klise, tetapi ada rasa manis yang muncul dan berhasil membuat hati penontonnya tersipu malu. Meski dengan sumber yang sama dengan film di tahun 1979, Lucky Kuswandi lebih membuat ‘Galih & Ratna’ sebagai sebuah film adaptasi bebas interpretasi. Tujuannya bukan hanya sebagai pengingat memori penonton yang sudah lewat masa remajanya, tetapi juga menunjukkan adanya relevansi kepada remaja masa kini. Dan Lucky Kuswandi berhasil mengemas ‘Galih & Ratna’ yang membuat degupan di hati.  

Rabu, 27 Juli 2016

KOALA KUMAL (2016) REVIEW : Komedi Problematika Remaja Dengan Cara Lebih Dewasa


Raditya Dika sepertinya telah menjadi sebuah brand di kalangan perfilman Indonesia. Filmnya laris manis dan selalu memasuki tangga perolehan penonton terbanyak. Seperti tahun lalu, filmnya berjudul Single menjadi film terlaris nomor dua dengan perolehan 1,2 juta penonton. Lambat laun, permintaan atas film-film karya Raditya Dika pun bertambah. Sehingga, film-film yang digarap olehnya akan dinantikan oleh banyak penonton.
 
Koala Kumal, termasuk menjadi salah satu film yang dinantikan di tahun 2016. Menetapkan tanggal jadwal pada libur lebaran 2016, film Raditya Dika jelas digadang akan menjadi salah satu film terfavorit tahun ini. Beberapa mungkin akan antipati dengan film-film Raditya Dika karena beberapa orang merasa tidak cocok dengan gaya diusung olehnya. Film-filmnya memang bertemakan komedi yang mungkin akan terasa hit and miss. Raditya Dika sepertinya mengusung sebuah film komedi canggung yang berada di dalam karakternya. Dan Koala Kumal termasuk karya dengan tema itu.

Akan terasa bahwa di setiap film-film Raditya Dika muncul formula-formula yang repetitif. Tetapi, formula film miliknya yang repetitif itu mungkin semakin lama membuat Raditya Dika belajar untuk lebih baik. Performa film miliknya mungkin menuju puncak karirnya lewat Single yang memiliki improvisasi dari penyampaian hingga penampilan. Koala Kumal pun demikian, secara penampilan mungkin film ini sama dengan film-film Raditya Dika terdahulu. Tetapi, perbedaannya adalah Koala Kumal ini memiliki kedewasaan di dalamnya tetapi masih memiliki gaya komedi canggung khas miliknya. 


Perjalanan cerita Koala Kumal lagi-lagi dimulai ketika Dika (Raditya Dika) sedang mengalami sebuah patah hati terhebat. Pengalaman asmaranya berujung tragis, ketika Andrea (Acha Septriasa) dan Dika sudah mempersiapkan segala persiapan pernikahan. Andrea memutuskan untuk putus dengan Dika dan memilih pria lain bernama James (Nino Fernandez). Hal tersebut mempengaruhi perilaku Dika sehari-hari, dan suatu ketika sang Ibu berusaha menjodohkan Dika dengan anak sahabatnya.

Ketika berusaha menghindari perjodohan yang dilakukan oleh sang Ibu, dia bertemu dengan seorang perempuan bernama Trisna (Sheryl Sheinafia). Pada awalnya, Trisna hanya meminta Dika untuk datang ke klub buku miliknya untuk sekedar berbagi cerita. Tetapi, Trisna dan Dika semakin akrab dan Trisna sedang berusaha untuk membuat Dika melupakan masalahnya yang sedang patah hati. Banyak langkah-langkah yang ditawarkan oleh Trisna untuk mencari cara agar Dika berhenti untuk merasakan patah hati dan melanjutkan hidupnya. 


Patah hati, kesendirian, dan jatuh cinta adalah formula-formula yang sering digunakan oleh Raditya Dika di dalam film-film miliknya. Konsep tersebut hanya dibongkar pasang hingga membentuk sebuah jalinan plot cerita untuk film terbarunya. Tetapi, penggunaan formula yang itu-itu saja dalam sebuah film mungkin tak masalah. Hanya saja, penonton harus ditawarkan sebuah perubahan pengemasan agar penonton tak merasa jenuh dengan sebuah film dengan formula yang sama.

Koala Kumal beruntungnya memiliki kemasan yang berbeda dengan film-film Raditya Dika sebelumnya. Dengan plot atau premis yang bongkar pasang dan itu-itu saja, Koala Kumal menawarkan suatu hal yang berbeda di sini. Ada sebuah kedewasaan yang ditawarkan oleh Raditya Dika saat dia berusaha menyampaikan tentang problematikanya yang mungkin terkesan masih remaja. Pun, Raditya Dika masih menyelipkan komedi-komedi miliknya yang mungkin terasa begitu-begitu saja.

Konsep bagaimana Raditya Dika memberikan komedi adalah mengusung tema-tema kecanggungan dirinya sendiri. Itulah yang menjadi signature atau kekhasan dari Raditya Dika di setiap filmnya, dan begitu pula yang ada di Koala Kumal. Mungkin beberapa ada yang bisa membuat orang-orang tertawa, tetapi tak banyak pula yang membuat penonton sekedar tersenyum kecil. Hit and miss dalam sebuah film komedi pun memang terkesan lumrah terjadi.  Koala Kumal memang seperti itu tetapi yang ditekankan di dalam film terbaru Raditya Dika bukan cuma perkara lucu atau tidak. 


Ada sebuah perasaan nyaman dan pembelajaran tentang patah hati yang bisa diaplikasikan penontonnya dari film Koala Kumal. Raditya Dika pun lebih belajar untuk memberikan sebuah penyampaian yang lebih kondusif daripada film-film sebelumnya lewat Koala Kumal. Presentasi sebuah film mungkin juga mempengaruhi bagaimana seorang sutradara untuk bercerita. Tetapi di dalam Koala Kumal segala presentasi teknis mungkin masih kalah dengan Single, hanya saja di sini Raditya Dika menawarkan solusi terhadap bagaimana Dika yang selalu memiliki isu dalam penyampaian cerita miliknya.

Ada sebuah kesan unik yang berusaha ditampilkan lewat Koala Kumal, bukan hanya dari segi naskah tetapi juga karakter-karakter di dalam filmnya. Sehingga, keunikan yang ada di dalam naskah film ini pun terwakili dengan karakter Trisna yang nyentrik. Di mana peran itu seperti memberikan pesan kepada penontonnya bahwa Raditya Dika memiliki gayanya sendiri di dalam film-filmnya, khususnya Koala Kumal. Tetapi, dia tetap menawarkan sebuah kejujuran lewat karakter-karakternya sehingga masih memiliki sisi humanis yang manis untuk digali.

Juga, Koala Kumal memiliki aktris-aktris cantik yang dapat dilirik secara kualitas. Secara mengagetkan, Sheryl Sheinafia hadir dengan performa yang luar biasa. Memerankan karakter unik Raditya Dika dengan senang dan tanpa beban. Sehingga, karakter Trisna terasa hidup dan berwarna untuk disimak oleh penontonnya. Juga, bagaimana performa Acha Septriasa yang ternyata bisa memberikan performanya di dalam sebuah film komedi. 


Sehingga, Koala Kumal pun dapat dinobatkan sebagai film terbaik Raditya Dika sejauh ini karena ada perbedaan yang ditawarkan oleh filmnya. Bukan secara plot cerita atau pencapaian teknis yang luar biasa, tetapi bagaimana Raditya Dika menyampaikan plot cerita tersebut yang memiliki sebuah kedewasaan di dalamnya. Formula-formula yang digunakan oleh Raditya Dika mungkin masih itu-itu saja. Pun, masih menggunakan signature miliknya dalam menyampaikan komedi di dalamnya yang masih hit and miss. Tetapi ada sebuah perasaan berbeda, ada perasaan nyaman dan menyenangkan yang ditemukan di dalam komedi patah hati terbaru milik Raditya Dika.   

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...