Tampilkan postingan dengan label Reza Rahadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reza Rahadian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Mei 2017

CRITICAL ELEVEN (2017) REVIEW : Mempercayai Sebuah Cinta Dengan Segala Turbulensinya


Dari sekian banyak film-film dengan genre drama romantis di perfilman Indonesia, hanya ada beberapa film yang diproduksi dengan baik. Tak hanya dari segi teknis, tetapi juga dari sisi pengarahan film yang tak terlalu digarap serius. Menciptakan nuansa penuh akan cinta di sebuah film tak akan semudah yang dibayangkan orang. Apabila hal tersebut tak bisa diarahkan dengan baik, penonton tak akan bisa merasakan koneksi atas atmosfir penuh kasih sayang di dalam film drama bertemakan cinta.

Maka, inilah yang berusaha dilakukan oleh Starvision dan Legacy Pictures untuk membuat sebuah drama romantis dengan ideal. Mereka memutuskan untuk bersama-sama mengadaptasi sebuah buku dari penulis ternama Ika Natassa. Critical Eleven, salah satu buku laris miliknya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk ‘lahir’ pertama kali sebagai sebuah film layar lebar. Critical Elevenmemiliki kru dan jajaran aktris yang tak sembarangan. Mulai dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai pemeran utama, Jenny Jusuf sebagai penulis skenario, serta Monty Tiwa yang kali ini berkolaborasi untuk mengarahkan sebuah film dengan Robert Ronny.

Misi mulia dari Ika Natassa dan segala orang yang terlibat di dalam film Critical Eleven adalah tentang memberikan harapan dalam cinta. Nyatanya, dengan performa milik Reza Rahadian dan Adinia Wirasti yang menghidupkan setiap karakter fiksinya ini berhasil meyakinkan penonton atas misi mulia milik Ika Natassa. Inilah kisah cinta milik Ale dan Anya yang penuh akan asam manis di setiap perjalanannya, tetapi bisa membuat setiap orang akan percaya dengan kekuatan cinta. 


Membicarakan tentang cinta akan terdengar sangat melankolis dan picisan. Tetapi, memiliki kehidupan tanpa cinta di sekitar kita tak serta merta membuat hidup kita lebih bahagia. Hal itu lah yang berusaha disampaikan di dalam film Critical Eleven ini. Tema Cinta yang dibahas di dalam Critical Eleven ini memang tak sekedar antar pasangan, tetapi juga lebih di setiap aspek. Mulai dari keluarga, sahabat, dan juga setiap menit kehidupan yang tuhan berikan kepada kita.

Semua misi tentang cinta ini disajikan ke dalam sebuah film dengan durasi yang mencapai 135 menit. Critical Eleven adalah analogi tentang keadaan dalam pesawat yang paling kritis yaitu 3 menit sesaat setelah terbang dan 8 menit sesaat sebelum mendarat yang mewakili kehidupan setiap orang. Ini pula yang dirasakan sesaat ketika film berjalan di durasinya yang panjang. Film Critical Eleven sebagai sebuah pesawat mengalami masa kritis itu tak selamanya dengan mulus. Sesekali ada Turbulensi yang terjadi saat film baru saja menerbangkan sayapnya dan sesaat sebelum film akhirnya tiba di tujuan.  


Misi tentang memberikan harapan kepada cinta kali ini ditugaskan kepada Anya (Adinia Wirasti), seorang perempuan mandiri yang bekerja dengan giat. Anya begitu mencintai bandara hingga suatu ketika dia juga bertemu dengan seorang pria bernama Ale (Reza Rahadian). Pertemuan yang tak disengaja itu ternyata mendekatkan mereka. Hingga pada akhirnya, Ale dan Anya memutuskan untuk menikah dan Ale yang bekerja di Oil Rig di daerah meksiko memutuskan agar mereka tinggal di New York.

Kehidupan di New Yorkmemberikan mereka kebahagiaan, apalagi Anya telah mengandung Ale Junior yang telah diidam-idamkan. Kehidupan Anya paska hamil memang tak semudah yang dibayangkan. Ale menjadi sangat overprotektif kepada Anya karena takut kehilangan buah hatinya. Dengan adanya perubahan sifat ini, muncullah keegoisan masing-masing yang sesekali menimbulkan perdebatan di tengah keharmonisan hubungan mereka. Juga, beberapa peristiwa dalam keluarga kecil mereka yang semakin memunculkan sisi egois masing-masing pihak.


Critical Eleven memang bukan sekedar kisah tentang cinta yang dibuat hanya untuk merasakan indahnya jatuh cinta. Critical Eleven adalah kisah tentang cinta yang menunjukkan penontonnya tentang jatuhnya hidup bergantung kepada cinta. Translasi yang sangat baik dilakukan oleh Jenny Jusuf sebagai penulis skenario yang berhasil mengadaptasi sumber aslinya dengan berbagai cara hingga setiap karakter memiliki kontinuitas yang menarik. Ada detil-detil kecil sebagai sebuah tanda yang dihasilkan oleh Jenny Jusuf di dalam filmnya yang memperkuat karakternya. Tanda itu seperti mainan-mainan yang dimiliki oleh karakter Ale dan Anya.

Bukan hanya sekedar detil kecilnya, tetapi juga memindahkan emosi ke dalam penulisan naskahnya. Selain itu pula, ada kolaborasi baik antara naskah dengan pengarahan yang dilakukan oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny dalam Critical Eleven. Penonton bisa merasakan setiap konfliknya yang terjadi di dalam Critical Eleven. Secara tak langsung, penonton menemukan referensi lain yang melekat di karakter dan konfliknya sehingga timbul simpati dan merasakan adanya kedekatan.

Hanya saja, Critical Elevenmemiliki sedikit isu dalam pengarahan yang membuat 135 menit yang ada di dalam filmnya tak memiliki performa yang stabil. Paruh pertama film ini memiliki sedikit turbulensi terhadap penyampaian konflik dan karakternya. Ada penyampaian emosi yang menggebu-gebu sehingga beberapa pesan yang tak tersampaikan dengan sepenuhnya baik. Pemilihan dialog yang sering kali menggunakan bahasa asing membuat adanya jarak antara pesan yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Rasa manis di awal film pun beberapa kali terkadang terasa redup. 


Begitu pula dengan turbulensi yang datang lagi di ‘pesawat’ milik Critical Eleven saat ingin mendarat. Critical Eleven memang sudah memiliki landasan mendarat yang mumpuni, tetapi kemulusan terhadap cara memberikan konklusi di film ini tak bisa memberikan rasa manis yang kuat setelah menonton. Di tengah karakter Ale dan Anya yang sudah dikembangkan dengan sangat baik di setiap menitnya, ada cara mendarat yang memberikan sedikit membuat penontonnya tak nyaman. Bagaimana paruh ketiga film ini intensitas cerita sudah tak terjaga dan membuat simpati penontonnya sedikit berkurang.

Kemagisan asam manis cinta yang semakin bertambah durasi semakin terasa ini hampir saja hilang dengan pengarahan yang kurang mulus. Sehingga, ada sambungan adegan yang sedikit saja dihilangkan di dalam naskah yang mungkin dapat menimbulkan keefektifan cerita yang lebih memberikan efek yang kuat kepada penontonnya. Tetapi, beruntung sekali Critical Eleven memiliki Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Mereka memberikan performa terbaiknya di dalam film ini sehingga penonton bisa merasakan setiap manis dan getir hubungan mereka. Mereka bisa menerjemahkan karakter Ale dan Anya yang tak hanya hidup, tetapi juga berkembang dan berubah. 


Sebagai sebuah film drama dengan tema cinta, Critical Eleven memang masih bisa menaikkan standar yang ada. Ini jelas sebuah film Indonesia yang dibuat dengan sepenuh hati dan teliti, apalagi dalam segi teknis film. Gambar, musik, dan nilai-nilai produksi di dalam film Critical Eleven memperkuat alasan bahwa film ini memang tak main-main. Meski memiliki sedikit turbulensi dalam penceritaannya, tetapi Critical Elevenmasih bisa menimbulkan rasa asam dan manis cinta lewat performa luar biasa dari Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Pun, didukung dengan kedetilan dalam bertutur lewat naskah milik Jenny Jusuf. Critical Eleven cukup berhasil mencapai tujuannya untuk membuat penonton percaya dengan cinta dan menggantungkan harapan kepadanya. 
 

Rabu, 20 Juli 2016

RUDY HABIBIE (2016) REVIEW : Perjalanan Panjang Nan Terjal Sosok Ternama


Pembuat film Indonesia memang tak henti-hentinya membuatkan film biopik dari sosok orang terkenal. Ini layaknya sebuah tren bagi mereka untuk menghipnotis calon penontonnya agar berbondong-bondong pergi ke bioskop. Salah satunya adalah membuatkan sebuah film biopik dari presiden-presiden Republik Indonesia. Pak B.J. Habibie sempat mendulang sukses dengan film kisah cinta sejatinya dengan Ibu mendiang Ainun pada tahun 2012.
 
Seperti berusaha untuk menggaet lebih besar lagi, kisah tentang sosok presiden ketiga Indonesia ini pun dibuatkan sebuah prekuel. MD Entertainment seperti ingin mencoba lagi kesuksesan dari Habibie & Ainun yang mencapai 4,5 juta penonton pada tahun tersebut. Hanung Bramantyo pun didapuk sebagai pengarah dari prekuel cerita kehidupan sang mantan presiden Republik Indonesia kali ini. Rudy Habibie diangkat dari sebuah novel yang ditulis oleh Gina S. Noer.

Beragam komentar muncul sejak film Habibie & Ainun dirilis. Ada yang suka, pun ada pula yang menganggap kesuksesan film tersebut hanya karena jajaran pemainnya yang berlakon sangat apik. Maka, tak heran jika hype yang muncul untuk film Rudy Habibie pun memiliki komentar yang beragam. Maka, Hanung Bramantyo pun perlu pembuktian dalam presentasinya agar Rudy Habibie tak sekedar mendapat tatapan sinis dari calon penikmatnya. 


Lantas, Rudy Habibie pun memberikan sebuah presentasi yang belum bisa memuaskan hati penontonnya. Banyak celah-celah yang perlu diperbaiki dan diperhatikan lebih lagi agar Rudy Habibie menjadi sebuah presentasi yang menyenangkan untuk diikuti. Apalagi, Rudy Habibie memiliki durasi sekitar 140 menit. Jelas, sang sutradara perlu menjaga setiap aspek cerita agar Rudy Habibie tak menjadi sebuah film yang enak diikuti. Sayangnya, Rudy Habibie tak memiliki itu.

Rudy Habibie terpecah menjadi dua babak cerita yang memiliki nada cerita yang berbeda. Cerita pertama tentang bagaimana Rudy Habibie (Reza Rahadian) sedang menjalani kehidupannya sebagai seorang mahasiswa di negara Jerman. Di sana, dia menjadi salah satu mahasiswa yang berprestasi baik bidang akademis maupun non akademis. Namun, kehidupannya tak berjalan mulus ketika Rudy menjadi ketua atas organisasi pemuda Indonesia di sana.

Rudy berusaha untuk mengadakan konferensi tentang industri penerbangan yang dapat membangun Indonesia bersama teman-temannya. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan wanita cantik bernama Ilona (Chelsea Islan) sebagai pemanis cerita cinta Rudy. Di setiap usahanya untuk menemukan solusi atas problematikanya, film ini menggunakan dasar cerita Rudy kecil yang sangat dekat dengan bapaknya (Donny Damara) yang sudah meninggal. Tetapi, terjadi inkonsistensi dalam penyampaian ceritanya sehingga dua plot cerita tersebut menjadi tak senada. 


Proyek ini memang sudah sangat ambisius semenjak film ini belum dirilis oleh MD Entertainment. Dan rasa ambisius film ini semakin menguat terlihat dengan bagaimana presentasi ceritanya secara keseluruhan. Hanung Bramantyo dan Gina S. Noer selaku penulis naskah terlalu ingin menyampaikan semua problematika hidup Habibie muda. Sehingga, konflik film ini pun melebar karena subplot cerita di dalam film ini terlalu banyak. Itulah yang menjadikan presentasi dari sosok Rudy Habibie tak karuan.

Dengan durasi sepanjang 140 menit, ternyata tak menjadikan Rudy Habibie memiliki ruang gerak untuk memunculkan sebuah ekplorasi di satu plot utama dan penyelesaiannya. Alih-alih terfokus atas satu problematikanya, Rudy Habibie pun merumitkan dirinya sendiri. Sang sutradara pun seperti bingung harus menyampaikan apa di dalam filmnya tersebut. Sehingga, penonton tak dapat menangkap tujuan akhir yang ingin dicapai oleh film Rudy Habibie. 


Hal tersebut juga berkat penyampaian sebuah resolusi masalah yang terkesan dipermudah. Seperti apa yang dipegang teguh oleh sang karakter utama bahwasanya menjadi seseorang harus seperti air yang mengalir, maka itu pula yang dipegang untuk dijadikan pedoman dalam menyelesaikan babak akhir filmnya. Ya, buat saja sang karakter utama seputih mungkin hingga sang antagonis akan berperilaku baik sendiri dengan sang karakter utama. Itulah yang membuat film Rudy Habibie yang kaya akan subplot tetapi minim atas eksplorasi dalam penyelesaiannya.

Habibie & Ainun mungkin berhasil memberikan sebuah representasi atas sosok presiden ketiga Republik Indonesia sehingga membuat penontonnya dapat bersimpati. Tetapi, ada rasa yang berbeda ketika menyaksikan film Rudy Habibie yang juga menceritakan orang yang sama. Rudy Habibie yang terlalu ambisius tak bisa menangkap simpati penontonnya. Adanya sebuah hiper realitas yang terjadi di dalam filmnya, di mana sang pembuat filmnya sendiri tak bisa membedakan fakta dan unsur fiktifnya. Sehingga, Rudy Habibie pun terkesan menjadi sebuah film fiktif atas sosok nyata di masyarakat.

Maka, Rudy Habibie pun terlihat sebagai sebuah adaptasi bebas, tak bisa digunakan sebagai acuan untuk penikmatnya sebagai sebuah perjalanan histori kehidupan pak Habibie. Penonton mungkin akan bertanya-tanya akan validitas atas kebenaran yang tersaji di dalam film Rudy Habibie. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan ‘apakah benar sosok Rudy Habibie dulu seperti itu?’. Hal tersebut muncul bagaimana penggambaran yang mungkin terlihat kurang tepat di dalam filmnya. 


Pun, secara teknis, Rudy Habibietak terlihat ada sesuatu yang spesial. Berbeda dengan Habibie & Ainun yang berhasil menangkap gambar-gambar cantik di dalamnya, Rudy Habibie mungkin minim akan itu. Pula dengan tatanan teknis lainnya seperti tata suara dan editing yang terlihat bagaimana Rudy Habibie sepertinya kurang memperhatikan hal tersebut. Sehingga, Rudy Habibie minim akan sesuatu yang spesial yang mempercantik presentasinya.

Rudy Habibie jelas akan menjadi sebuah franchise bagi MD Entertainment yang akan  meraup jutaan penonton, asal formulanya tak membuat penonton jengah. Setelah berhasil menaikkan citra mantan presiden ketiga Republik Indonesia lewat Habibie & Ainun, ternyata Rudy Habibie adalah sebuah penurunan citra atas sebuah representasi yang melupakan sebuah fakta. Maka, jalinan Rudy Habibie yang berdasarkan sosok nyata masyarakat malah menimbulkan sebuah tanya. Pun, dengan presentasi cerita penuh inkonsistensi yang terjalin panjang selama 140 menit. Maka, penonton pun akan penuh perjuangan untuk menyelesaikan cerita hidup pak Habibie muda.

Sabtu, 11 Juni 2016

MY STUPID BOSS (2016) REVIEW : Sketsa Komedi Adaptasi


Film komedi menjadi salah satu genre film yang riskan untuk dibuat. Hal itu dikarenakan sebuah film tak bisa memberikan generalisasi selera humor penonton yang disampaikan di dalam filmnya. Sehingga, perlu taktik untuk –setidaknya –menarik minat penonton untuk menyaksikan film tersebut. Dan My Stupid Boss yang dinaungi oleh Falcon Pictures memiliki cara untuk memberikan teaser menarik dan berhasil memberikan daya tarik bagi penontonnya.
 
Di tengah film-film besar, film-film Indonesia di tahun ini berhasil memperoleh pendapatan jumlah penonton yang fantastis. Sehingga, My Stupid Boss memiliki motivasi untuk mendapatkan penonton sebanyak-banyaknya. Upi sebagai sutradara memasang nama-nama besar untuk bermain di dalam My Stupid Boss. Meski lagi-lagi, Reza Rahadian tampil lagi di sebuah film, tetapi penampilannya kali ini –lagi-lagi –membuahkan inovasi.

My Stupid Boss berhasil menciptakan gegap gempita tawa yang  luar biasa lewat trailer filmnya. Hanya saja, jelas akan menjadi ketakutan besar bagi penontonnya untuk berekspektasi tinggi untuk melihat hasil keseluruhannya. My Stupid Boss memang tak berusaha untuk membangun nuansa jenaka yang berlebihan di keseluruhan 100 menitnya. Tetapi, bagaimana My Stupid Boss ternyata membangun cerita dan karakter yang menyenangkan di dalam filmnya menjadi sebuah medium efektif untuk bersenang-senang bagi penontonnya. 


Kehidupan rantau yang di negara tetangga memang susah, hal itu dirasakan oleh Diana (Bunga Citra Lestari) ketika harus mendampingi suaminya bekerja di tanah rantau. Kehidupannya sebagai Ibu rumah tangga biasa menjadi sesuatu yang menganggu. Maka dari itu, Diana mencoba untuk mencari kesibukan lain dengan mencari pekerjaan juga di sana. Berbekal dengan kenalan dari teman suaminya, Diana mendapatkan pekerjaan di perusahaan milik teman suaminya.

Tetapi, dengan adanya pekerjaan tersebut tak lantas membuat kehidupan Diana bertambah senang. Lantaran, Diana harus berhadapan dengan atasannya yang luar biasa aneh dan menyebalkan. Bossman (Reza Rahadian), atasan Diana yang menurutnya selalu memiliki berbagai cara untuk membuatnya kesal. Permintaannya selalu tak pernah masuk akal menurut Diana. Hingga pada akhirnya, Diana kesal dan berusaha untuk melakukan perhitungan dengan Bossman. 


Perilaku mengesalkan yang dilakukan oleh Reza Rahadian sebagai Bossman inilah yang akan dinantikan penonton di setiap menit dari My Stupid Boss. Penonton akan menunggu lagi dan lagi apa yang akan diperbuat oleh Reza Rahadian untuk membuat Bunga Citra Lestari kesal. Sehingga, My Stupid Boss memang tak berusaha untuk memberikan bahan candaan yang slapstick, semuanya akan cenderung alami sehingga penonton tak dipaksa untuk tertawa sepanjang menit.

Upi sebagai sutradara tahu bagaimana menemukan daya pikat dari suatu karakter, dan berbekal poin itulah My Stupid Boss bisa dikategorikan menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dinikmati. Setiap karakter di dalam film ini memiliki cara atau pun upaya untuk pada akhirnya dapat bersimpati dengan para penontonnya. Bukan hanya Bossman dan Diana sebagai karakter utama, tetapi ada karakter-karakter pendukung lain yang dapat memeriahkan segala gegap gempita sketsa komedi di dalam film My Stupid Boss.

Tetapi, sayangnya pula, My Stupid Boss terlalu sibuk untuk menggerakkan karakter-karakternya untuk berkembang. Sehingga, plot utama di dalam film My Stupid Boss pun tak menemukan titik akhir sebagai suatu konklusi utama. Jika di dalam sebuah film drama, memiliki tiga babak di satu kesatuan filmnya. Maka, My Stupid Boss memiliki tiga poin itu yang repetitif ditemukan di sepanjang filmnya. Alih-alih menjadi satu kesatuan film yang utuh, My Stupid Boss malah terkesan menjadi sebuah film dengan sekuens-sekuens komedi yang terlalu banyak. 


Plot utama dari My Stupid Boss memang pada dasarnya adalah menceritakan bagaimana tingkah laku Bossman dan perjuangan Diana dalam menghadapinya. Tetapi, yang terjadi malah My Stupid Boss ingin berusaha menunjukkan bagian-bagian terlucu dari novelnya dan memvisualisasikan itu. Alhasil, dengan banyaknya konflik-konflik itu, plot utama dari My Stupid Boss pun tak bisa menjadi satu. Dampaknya, beberapa pergerakan plotnya akan terkesan berjalan lambat, dan tak tahu untuk mengakhiri filmnya.

Maka, yang terjadi adalah, My Stupid Boss memiliki satu subplot turning over yang dibuat untuk mengakhiri filmnya. Tetapi, segala cara yang dilakukan untuk memberikan suatu turning over itu malah terkesan dipaksakan karena My Stupid Boss kebingungan untuk pamit dengan penontonnya. Sisi-sisi humanis berusaha ditonjolkan, dengan tujuan untuk membangun setup baru agar memberikan celah film ini mendapatkan sebuah sekuel. Apalagi, buku dari My Stupid Boss tak semuanya mendapatkan porsi di dalam filmnya.

Tak diperlukan lagi bagaimana tata produksi dari My Stupid Boss. Gradien warna dominan merah, hijau, dan kuning digunakan untuk memberikan nuansa di dalam filmnya. Sayangnya, bagaimana My Stupid Boss yang berupa sketsa komedi ini ingin membangun nuansa komikal seperti yang dilakukan oleh film Amelie. Sehingga, apa yang dilakukan di dalam film My Stupid Boss terkesan seperti menyalin beberapa template produksi dalam film itu. Bukan hanya nilai produksi, tetapi juga musik-musiknya yang juga bisa dibilang memiliki nuansa yang sama. 


Tetapi pada akhirnya, My Stupid Boss berhasil mencapai tujuannya untuk menghibur para penontonnya tanpa berusaha keras menjadikannya sebagai sebuah film komedi yang lebih mengutamakan simpati pada setiap karakternya. Sehingga, itulah yang menjadi kekuatan utama dari My Stupid Boss itu sendiri. Meski begitu, pergerakan plot dari My Stupid Boss kurang terasa dinamis dan membuatnya memaksa untuk mengakhiri filmnya. Pun, nilai produksi filmnya yang terasa familiar dengan beberapa film luar negeri yang diadaptasi mentah. Tetapi, hal tersebut tak dapat mengurangi bagaimana My Stupid Boss adalah film yang menyenangkan untuk diikuti. 

Rabu, 02 Maret 2016

TALAK 3 (2015) REVIEW : Medium Syiar Agama Yang Universal


Sebuah pernikahan adalah salah satu dari bagian upacara adat dan agama yang dianggap sangat sakral. Janji sehidup semati dengan satu orang dan hidup dalam satu atap jelas akan ditetapkan aturan-aturan saklek entah dari agama maupun pemerintah. Apalagi, ketika keputusan seorang pasangan untuk tak lagi bersama jelas akan diberikan sebuah konsekuensi rumit yang harus dia jalani. Dan dari fenomena itulah, Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth membangun sebuah cerita untuk film terbaru garapan mereka.
 
Talak 3 memberikan petuah atau nasihat tentang sebuah perceraian atas ajaran sebuah agama yang berdiri tegak dan tak bisa diubah. Itu pun dikemas tak terlalu serius tetapi bukan berarti menggampangkan ajaran-ajaran agama yang saklek tentang sebuah pernikahan. Dibintangi oleh Laudya Cynthia Bella, Vino. G. Bastian, dan Reza Rahadian, film ini tak hanya siap untuk berusaha menghibur penontonnya tetapi juga meraih kuantitas dalam jumlah penontonnya.

Di bawah naungan MD Entertainment, sedikit menghawatirkan kemasan Talak 3 akan menjadi salah satu sekian banyak drama religi melankolis yang terlalu diekspos berlebih. Nyatanya, Talak 3 menjadi salah satu yang berbeda dari film-film produk MD Entertainment. Menjadikan Talak 3 sebuah film komedi romantis dengan nafas keagamaan adalah keputusan tepat agar tak terbawa terlalu serius untuk medium syiar agama. 


Menjalani hidup bersama dengan pasangan memang gampang-gampang susah. Apalagi, ketika sudah janji sehidup semati dengan pernikahan sebagai upacara yang sakral. Hal itu juga dialami oleh Bagas (Vino G. Bastian) dan Risa (Laudya Cynthia Bella) ketika menjalani kehidupan mereka sebagai suami istri. Banyak sekali rintangan yang harus mereka hadapi dan mereka memutuskan untuk berpisah karena Bagus terpergok sedang merajut kasih dengan penyanyi pop melayu. Kehidupan mereka setelah bercerai pun tetap dirundung masalah, karena hutang piutang mereka menumpuk.

Tetapi rejeki memang selalu datang ketika keadaan sedang sulit, sebuah pengorganisir acara menyetujui proposal mereka tentang acara pernikahan dengan Bagas dan Risa sebagai ikonnya. Tetapi, sang penyetuju acara mereka tak mau menyetujui acara mereka karena Bagas dan Risa tak lagi bersama. Mereka berdua mencari cara agar bisa menikah kembali tetapi persyaratan untuk menikah kembali menurut agama mereka tak semudah kedengarannya. Dan Bimo (Reza Rahadian), teman kecil Risa yang juga berkolega bisnis dengan mereka berusaha mencarikan solusi. 


Kerumitan-kerumitan dalam cerita Talak 3 yang  digarap oleh Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth berpotensi untuk menjadi sebuah medium syiar agama yang terlalu serius dan menceramahi. Maka dari itu, mereka ingin menjadikan Talak 3 sebuah sajian komedi romantis. Tragedi-tragedi serius ini adalah komposisi menarik agar dijadikan sebuah komedi yang bagus. Tujuannya jelas untuk memberikan pengertian atas konsekuensi dan resiko yang harus dihadapi oleh dua sejoli ketika sudah mengucap janji sehidup semati.

Kekakuan sebuah ajaran agama yang berusaha disampaikan di dalam Talak 3 bukan serta merta untuk menyebarkan pandangan bahwa agama tertentu adalah superior. Hanya saja di dalam Talak 3 ini kedua sutradara ingin menyampaikan pesan bahwa pernikahan bukanlah segampang yang dikira banyak orang. Pun, hal ini akan sangat berlaku di ajaran kepercayaan mana pun. Kerumitan plot film ini adalah perwakilan dari bagaimana proses yang rumit ketika mantan sepasang suami istri ini berusaha mencurangi peraturan yang ditetapkan untuk mengatur pernikahan.

Bagas dan Risa berusaha keras agar mereka bisa hidup kembali setelah melalui prosek talak tiga sebagai syarat dari perceraian. Mereka berusaha mencurangi peraturan-peraturan saklek dari sebuah kepercayaan yang ternyata tak dapat mereka abaikan begitu saja. Bagusnya, Hanung dan Ismail berusaha keras agar Talak 3 tak melenceng dari landasan kepercayaan yang mereka pegang tetapi dapat menyampaikan syiar mereka dengan cara yang lugas dan juga menyenangkan. Pun, diperkuat lewat ikatan emosi yang sangat nyata oleh para pelakonnya. 


Pun, Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth berusaha keras untuk menyindir isu-isu sosial ketika sebuah agama dijadikan sebagai komoditas penghasil uang yang menjanjikan bagi petinggi negeri. Ajaran-ajaran agama saklek yang berusaha dicurangi serta merta dihalalkan begitu saja agar bisa mendapatkan keuntungan dalam bentuk materi. Talak 3 berusaha menyindir hal-hal itu dan disampaikan kepada penontonnya tetapi dengan komedi riuh. Sehingga, pesan berat itu diolah agar menjadi sebuah kemudahan yang dapat dicerna.

Film adalah sebuah hal yang representatif dari yang terjadi di lingkungan sekitar. Maka, Hanung dan Ismail Basbeth me-reka ulang kejadian yang ada di sekitar mereka tentang mayoritas orang yang berusaha mencurangi ajaran dari tuhan. Penerapan sebuah ajaran tuhan yang sudah menjadi budaya yang disampaikan di dalam film ini bukan sebagai medium untuk mengkritisi. Terlepas dari sebuah ajaran agama, film ini ingin menyampaikan sebuah pesan universal yang dapat diterima oleh semua kalangan tentang keabsahan sebuah pernikahan. 


Dengan banyaknya pesan-pesan dan kerumitan plot yang ada di dalam film Talak 3, hal itu tak membuat filmnya menjadi sebuah film yang menceramahi. Talak 3 ingin menunjukkan kedewasaan dalam menyelesaikan masalahnya ketika mereka telah berusaha keras mencurangi ajaran saklek dari tuhan tentang pernikahan. Tetapi di luar pesan-pesan syiar agama yang mereka sampaikan, terdapat sebuah pesan universal yang ingin disampaikan tentang sebuah pernikahan. Konten berat yang dihadirkan lewat Talak 3 diolah menjadi sebuah komedi ringan yang tetap lugas dalam memberikan syiarnya. Jelas, Talak 3 adalah sebuah komedi romantis bernafas keagamaan yang sangat menyenangkan!

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...