Tampilkan postingan dengan label 3.5 stars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3.5 stars. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Mei 2018

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

 
Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di bawah naungan MD Pictures. Begitu pula dengan Risa Sarasvati yang juga berusaha mengeksplorasi genre adaptasi bukunya dari cerita horor ke cerita drama romantis. Kesuksesan Risa Sarasvati dengan MD Pictures lewat Danur, tentu dengan mudah MD Pictures percaya dengan karya-karya yang dihasilkan lewat bukunya.

Ananta, sebuah karya romantis milik Risa Sarasvati yang diadaptasi oleh MD Pictures yang dipercayakan proyeknya kepada Rizki Balki. Sebagai sutradara, Rizki Balki sudah pernah menangani film drama remaja milik MD Pictures juga berjudul Beauty And The Best. Ananta tentu sangat bertumpu dengan kehadiran wajah Michelle Ziudith yang sudah berpengalaman dengan film-film serupa dan didampingi dengan Fero Walandouw dan juga Nino Fernandez.

Alim Sudio berperan untuk mengadaptasi tulisan buku milik Risa Sarasvati ke dalam sebuah naskah. Dirinya juga sudah berpengalaman dalam mengadaptasi buku-buku remaja serupa lewat film A : Aku, Benci, Cinta. Lewat film Ananta, naskah adaptasi yang dilakukan oleh Alim Sudio berhasil menjadi poin utama di dalam filmnya yang berdurasi 90 menit. Dengan adanya hal tersebut, Ananta berhasil menjadi sebuah sajian film drama romantis Indonesia yang manis untuk disaksikan.


Menceritakan tentang Tania (Michelle Ziudith), seorang remaja perempuan yang sering dianggap aneh oleh teman-temannya karena dirinya yang sangat anti sosial. Meski begitu, Tania mempunyai bakat menggambar yang sangat luar biasa. Dengan menggambar itulah, Anantabisa bertahan karena dirinya terserap oleh dunia yang dibuatnya sendiri. Hingga suatu ketika, dia bertemu dengan sosok yang bisa membuatnya mau untuk mengenal dunia sekitarnya.

Sosok itu adalah seorang laki-laki bernama Ananta Prahadi (Fero Walandouw). Dia adalah anak baru di sekolah Tania dan tak sengaja bertemu di ruang guru kala itu. Ananta berusaha mendekati Tania yang sangat tak mau untuk berinteraksi dengan orang lain. Ananta menemukan kelemahan Tania yang tak tahan dengan menu nasi kerak dan obrolan tentang lukisannya. Semenjak itulah, Ananta dan Tania menjadi dekat satu sama lain.


Sebagai sebuah film drama romantis Indonesia, Ananta memang masih terjebak dengan segala tanda yang bisa dikategorikan sama dengan film-film serupa. Membahas tentang kehilangan yang dikemas dengan cara yang sama dan tak bisa menjadi sesuatu yang segar di dalam genrenya. Tetapi secara mengejutkan, dibalik caranya yang sama dalam mengemas dan menceritakan hal tersebut, Anantaberhasil menunjukkan performanya yang pas sehingga film ini masih sangat bisa dinikmati dibanding dengan film-film serupa.

Naskah adaptasinya adalah bintang utama dari film Ananta ini sendiri. Naskah milik Alim Sudio berhasil menangkap ceritanya yang awalnya mendayu-dayu tetapi berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tetapi, tak lupa untuk tetap tahu menempatkan momen-momen romantis yang bisa membawa perasaan penontonnya selama 90 menit. Sayangnya, Rizki Balki tak berusaha untuk memberikan sesuatu yang lebih agar Ananta bisa menggali perasaan penontonnya lebih dalam lagi.

Ananta memiliki beberapa karakter yang bisa memberikan rasa keterikatan yang bisa lebih kuat lagi kepada penontonnya. Sayangnya, Rizki Balki nampak masih malu untuk mengenalkan karakter-karakter lainnya dengan lebih baik. Sehingga, Ananta mungkin memiliki linimasa yang cukup melompat dari satu adegan ke adegan lainnya. Rizki Balki nampaknya tahu kapabilitasnya sehingga dengan menuturkan cerita utama dari film ini akan jauh lebih bijaksana dibanding berusaha keras untuk mengatasi hal lainnya.


Kesederhanaan tujuan dari Rizki Balki inilah yang ternyata membuat film Ananta punya porsinya yang sangat pas untuk bisa dinikmati oleh segmentasi penontonnya. Rizki Balki mampu menghadirkan suasana mendayu yang mendukung keromantisan yang ada di film Ananta. Tetapi, unsur komedi yang diselipkan di dalam naskahnya agar film Anantatetap bisa menghibur juga masih mampu ditranslasikan dengan baik olehnya.

Bintang lain yang perlu disoroti di dalam film ini adalah penampilan dari Michelle Ziudith yang meskipun masih berkutat di genre serupa tetapi bisa memaksimalkan potensinya. Michelle Ziudith berhasil memerankan sosok Tania yang memang anti sosial lewat gerakan tubuh dan matanya yang sesuai dengan karakterisasi Tania sesungguhnya. Pun, mampu dengan sangat kuat membangun ikatan hubungan dengan lawan mainnya, Fero Walandouw.

Film Ananta bukanlah film pertama dari Fero Walandouw. Tetapi, performanya di dalam film Ananta ini membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi wajah baru yang sangat potensial di perfilman Indonesia. Ikatan yang terjalin begitu kuat antara Fero Walandouw dan Michelle Ziudith ini akan berdampak kepada penontonnya. Dengan begitu, suasana romantis, gemas, sekaligus sedih bisa dengan mudah tergambar dan dengan mudah membawa penonton hanyut ke dalamnya.


Meskipun, paruh ketiga di dalam film Ananta ini masih memiliki konklusi yang bisa membuat geleng kepala. Tetapi, film Ananta ditutup dengan performa Michelle Ziudith yang sangat emosional serta epilog yang manis sehingga kekurangan tersebut mampu tertutupi dengan hal-hal terbaik di dalam filmnya. Pun, sepanjang film Anantaini penonton juga sudah disuguhi dengan warna sinematografi yang pas dengan penuturan kisah Tania dan Ananta yang manis namun tak biasa itu.

Senin, 26 Maret 2018

PETER RABBIT (2018) REVIEW : Adaptasi Buku Klasik dengan Kemasan Masa Kini


Mengadaptasi sebuah buku klasik ke dalam sebuah film tentu tak bisa dilakukan dengan cara yang sembarangan. Tentu, beberapa orang akan meragukan performa film adaptasi dari sebuah buku klasik tersebut. Hal ini terjadi kepada Sony Pictures Animation yang berusaha mengadaptasi buku klasik untuk anak-anak Peter Rabbit. Banyak orang yang meragukan dan mempertanyakan cara Sony Pictures mengadaptasi buku milik Beatrix Potter ketika trailernya muncul. 

Pada akhirnya, Sony Pictures Animation memaknai film adaptasi dari buku klasik ini sebagai sebuah adaptasi bebas yang terikat dengan cerita yang ada di dalam bukunya. Adaptasi yang dilakukan oleh Sony Pictures terhadap Peter Rabbit ini disutradarai oleh Will Gluck yang pernah menangani film-film komedi milik Sony Pictures pula. Pun, film ini dibintangi oleh nama-nama besar seperti Domnhall Gleeson, Rose Bryne, Daisy Ridley, Margot Robbie, dan jangan lupakan James Cordon sebagai Peter Rabbit ini.

Dengan apa yang berusaha ditampilkan oleh Sony Pictures di dalam trailer Peter Rabbit, tentu penonton tak akan berharap apa-apa.  Bahkan ada beberapa orang yang meragukan Peter Rabbit akan bisa tampil memiliki cita rasa klasik yang dimiliki oleh bukunya. Hanya saja, sebagai sebuah film adaptasi bebas dari bukunya, Peter Rabbit tampil di luar dugaan. Meski masih memiliki beberapa kekurangan, Peter Rabbit tampil sangat menghibur penontonnya.


Bukan hanya penonton anak-anak yang menjadi target segmentasi film ini, tetapi juga bagi penonton dewasa yang menemani mereka menyaksikan Peter Rabbit di layar besar. Will Gluck berusaha untuk menyajikan Peter Rabbit tetap pada hakikatnya yang sesuai dengan segmentasi yang tercipta lewat bukunya. Sehingga, Peter Rabbit adalah film keluarga yang tepat untuk disaksikan bersama-sama di saat sedang penat dan membutuhkan hiburan di sela-sela waktu yang sibuk.

Peter Rabbit memang tak mengadaptasi salah satu plot cerita di dalam seri bukunya. Tentu sebagai sebuah film adaptasi bebas, Will Gluck membuat plotnya sendiri untuk Peter Rabbit. Secara cerita, Peter Rabbit memang akan masih memiliki formula yang sama dengan beberapa film yang temanya serupa. Tetapi, Peter Rabbit masih memiliki banyak amunisinya untuk membuat filmnya sebagai sajian film keluarga yang seru untuk disaksikan.


Peter Rabbit ini lebih menceritakan tentang seorang kelinci bernama Peter (James Cordon) yang hidup di sebuah lubang di bawah pohon yang rindang. Musuh terbesar dari Peter adalah Old McGregor yang memiliki perkebunan indah di luar sana. Peter sering sekali berusaha untuk masuk ke dalam kebun tersebut untuk mengambil makanan hasil kebun. Meskipun, dia sering pula untuk selalu kejar-kejaran dengan sang pemilik kebun tersebut.

Hingga suatu ketika, Old McGregor wafat dan Peter beserta ketiga adiknya tentu girang bukan main karena kebun tersebut bisa diambil alih olehnya. Hanya saja, kebahagiaan dari Peter tentu tak bertahan lama. Thomas McGregor mewarisi semua harta milik Old McGregor yang telah wafat. Ternyata, Thomas semakin melindungi kebun yang dia warisi dengan cara yang lebih ganas agar tak lagi dihancurkan oleh binatang-binatang yang ada di sana. Di sinilah, Peter berusaha untuk melawannya.


Secara plot besar, tentu Peter Rabbit arahan dari Will Gluck ini tak memiliki intensi sama sekali untuk mengambil salah satu plot dalam buku cerita yang ada dari Beatrix Potter untuk diadaptasi ke dalam sebuah film. Meski ini akan sangat beresiko bagi kelangsungan filmnya, nyatanya Will Gluck bisa memberikan tindakan preventif agar film Peter Rabbit miliknya tak berjalan terlalu jauh. Plotnya yang sudah pernah ditemui di dalam genre serupa beruntung diarahkan dengan sangat aman dan bahkan sedikit di atas ekspektasi penontonnya.

Peter Rabbit tentu menjadi sebuah sajian yang sangat menyenangkan untuk diikuti sepanjang filmnya. Tanpa adanya usaha untuk memberikan plot yang revolusioner, Peter Rabbit masih bisa memberikan amunisi tawa yang sangat besar baik kepada penonton muda ataupun dewasa. Will Gluck masih berhasil memunculkan citarasa film keluarga ke dalam filmnya. Meskipun, Will Gluck harus mengorbankan cita rasa klasik dari Peter Rabbit ini hilang seketika.

Mungkin, ini akan menjadi problematika bagi para penggemar karakter Peter Rabbit yang diciptakan oleh Beatrix Potter. Tetapi, Will Gluck tetap berusaha untuk tak terlalu mengabaikan sumber asli di dalam filmnya. Ada beberapa detil yang ada di dalam buku milik Beatrix Potter yang berusaha ditampilkan ke dalam filmnya. Memberikan sebuah penghormatan kepada karakter-karakter yang ada di dalam buku klasiknya dengan kemasan yang lebih mengikuti zaman.


Memberikan unsur friend-enemy bak Home AloneTom & Jerry, dan film-film serupa, Peter Rabbit dipresentasikan sebagai sebuah film yang lebih penuh akan petualangan. Pun, film ini memiliki amunisi lain dari desain karakter di dalam filmnya yang akan membuat penonton bisa merasa gemas dengan Peter Rabbit dan ketiga saudarinya. Meski di tengah film, Peter Rabbit memang tak berjalan mulus karena ada beberapa subplot yang terlalu menumpuk sehingga penyelesaiannya pun tak bisa halus.

Tetapi, Will Gluck berusaha untuk tetap menyuntikkan amunisi hati yang sangat besar di dalam Peter Rabbit. Sehingga, meski filmnya ditutup dengan tak sempurna, masih ada rasa emosional yang bisa dirasakan oleh penontonnya sehingga membuat hati hangat. Dengan begitu, Will Gluck bisa menetapkan film adaptasinya ini sebagai sebuah film keluarga yang menyenangkan tetapi memiliki hati besar untuk menyampaikan pesannya tentang keluarga. Meskipun harus tetap mengorbankan citarasa klasik tersebut, setidaknya 95 menit milik Peter Rabbit masih sangat bisa dinikmati.

Minggu, 18 Maret 2018

YOWIS BEN (2018) REVIEW : Bahasa Jawa Timuran, Bahasan Tetap Universal.


Budaya jawa timuran dalam sebuah film memang bukan lagi hal baru. Ada beberapa film yang setting jawa timurnya pun kental. Yowis Ben, film arahan dari Fajar Nugros yang berkolaborasi dengan Bayu Skak ini terlihat mengasyikkan. Bukan sekedar karena filmnya yang menggunakan bahasa jowoan, tetapi lebih karena trailernya yang terlihat menarik. Pun, lebih menarik lagi ketika ada nama Bayu Skak yang ikut membantu Fajar Nugros sebagai sutradara.

Selain itu, naskah dari Yowis Ben pun ditulis sendiri oleh Bayu Skak. Trailernya menarik tetapi tak disangka bahwa Yowis Ben bisa menjadi sebuah film yang mendatangkan jumlah penonton yang cukup banyak. Dengan kedekatan budaya, tentu saja Yowis Bensangat menarik penonton di daerah jawa timur mulai dari Surabaya, apalagi Malang yang setting filmnya pun berada di sana. Tentu ini adalah sebuah fenomena menarik dalam perfilman Indonesia.

Tetapi, akan masih banyak penonton yang meragukan bagaimana performa Yowis Ben secara utuh. Nama Bayu Skak tentu menjadi taruhan serta alasan lain bagi mereka yang tak dekat dengan budayanya untuk hadir menonton film Yowis Ben ini. Ketenaran Bayu Skak di media sosial tentu menjadi keunggulan sendiri bagi Yowis Ben untuk melakukan promosi dan mendatangkan jumlah penonton. Tetapi, kedekatan secara budaya ini adalah kata kunci bagaimana Yowis Ben bisa sangat sukses.


Kesuksesan yang didapatkan oleh Yowis Ben ini untungnya masih selaras dengan bagaimana 100 menit dari film ini dikemas oleh Fajar Nugros dan Bayu Skak. Yowis Ben memiliki kekuatan utama dalam bahasa jawa timurannya sebagai gong utama semua celotehan komedinya. Tak bisa dipungkiri bahwa bahasa lokal inilah yang menjadi keistimewaan dari Yowis Ben. Terlebih, sebenarnya Yowis Ben tak memiliki sesuatu yang baru di dalam genre-nya untuk ditawarkan kepada penontonnya.

Yowis Ben sangat menggantungkan dirinya dengan kedekatan budaya lokal yang sangat kental. Hal ini mungkin tak bisa sepenuhnya bisa membuat penonton yang tak kenal budaya tersebut akan mendapatkan efek yang sama dengan yang sudah kenal dengan budaya tersebut. Tetapi, Fajar Nugros dan Bayu Skak setidaknya sudah memberikan caranya sendiri untuk mengemas film Yowis Ben agar tetap bisa dinikmati setiap orang.


Yowis Ben menceritakan tentang seorang remaja sekolah menengah atas bernama Bayu (Bayu Skak) yang masih saja terjebak problematika zaman now yaitu popularitas. Bayu yang hidup bersama Ibunya yang berprofesi sebagai penjual nasi pecel membuat Bayu dikenal sebagai Pecel Boy. Ini karena Bayu sering membantu ibunya berjualan nasi pecel kepada teman-temannya di sekolah. Hal inilah yang membuat Bayu berpikir untuk memperbaiki reputasinya di sekolah.

Bersama dengan teman dekatnya,  Doni (Joshua Suherman), Bayu memutuskan untuk membuat band yang bisa mengangkat popularitasnya di sekolah. Ini juga menjadi alasan agar Bayu bisa mendekati cewek yang dia taksir di sekolah bernama Susan (Cut Meyriska). Akhirnya bertemulah Bayu dan Doni dengan Yayan (Tutus Thomson) dan Nando (Brandon Salim). Mereka menamai band mereka menjadi Yowis Bendan beberapa videonya berhasil menjadi viral.


Plot ceritanya tak ada yang spesial, Yowis Ben menggunakan pakem dan tema yang sama dengan beberapa film remaja yang ada. Sehingga, memang bagi yang sudah pernah menonton film dengan genre serupa, Yowis Ben tak akan menawarkan sesuatu yang baru. Tetapi, hal tersebut tak semata-mata membuat Yowis Ben tak bisa menjadi sajian yang menarik. Pintarnya Fajar Nugros dan Bayu Skak mengemas sesuatu yang usang itu sehingga memiliki daya tariknya yang baru.

Memasukkan bahasa lokal sebagai injeksi daya tarik sekaligus sorotan utama dalam film ini tentu bukanlah perkara mudah. Celotehan-celotehan bahasa jawa timuran ini adalah kekuatan utama dalam porsi komedinya dan ini harus punya ketelitian agar tak timbul adegan yang jatuhnya menganggu. Bayu Skak dalam naskahnya memiliki ketelitian itu di dalam Yowis Ben. Pun, bahasa lokal ini tak hanya sebagai dialognya saja, tetapi juga bahasa dalam lagu yang dimainkan oleh para karakternya ini berhasil menjadi cocok di kuping penontonnya.

Yowis Ben berhasil memberikan gambaran tentang dinamika remaja zaman sekarang yang sangat mempedulikan popularitas apalagi di dunia maya. Konflik inilah yang perlu digarisbawahi bahwa semua remaja di belahan provinsi manapun ternyata memiliki konflik yang sama. Pengikut di akun media sosial menjadi momok yang penting bagi perjalanan hidup remaja zaman sekarang. Tetapi, mereka tak benar-benar tahu apa yang didapatkan setelah sangat mempedulikan persona yang mereka tampilkan di dunia maya. Inilah yang membuat Yowis Ben bisa dinikmati oleh semua budaya.


Tetapi, tak bisa dipungkiri pula bahwa pentingnya penggambaran dinamika remaja zaman sekarang ini tak bisa tersampaikan dengan sempurna. Yowis Ben mengorbankan konflik ini kepada subplot lain tentang kekeluargaan dan cinta-cintaan yang pada akhirnya membuat Yowis Ben tak memiliki penceritaan yang baik. Beberapa adegan memiliki tempo yang melambat dan plot mereka menjadi saling tumpang tindih dan diselesaikan dengan secepat mungkin.

Performa Yowis Ben pada akhirnya memang tak bisa sempurna karena beberapa minor yang ada di dalam filmnya. Tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa Yowis Ben masih memiliki beberapa hal yang bisa dinikmati oleh penontonnya. Film ini memang sangat bertumpu kepada bahasa lokalnya sebagai kekuatan utama untuk meluncurkan punchline komedi yang mengundang tawa. Meski akan ada beberapa yang meleset bagi mereka yang tak dekat dengan budayanya, setidaknya Yowis Ben sudah berusaha menjadi sajian yang universal lewat konfliknya.

Minggu, 20 Agustus 2017

WAR FOR THE PLANET OF THE APES (2017) REVIEW : Penutup Kisah Caesar yang Tak Sempurna

Cerita tentang kera bernama Caesar ini telah mencapai ke seri ketiganya yang digadang menjadi penutup. Kehadiran trilogi remake dari Planet of The Apes ini memiliki performa yang cukup mengagetkan karena berhasil dibuat dengan kualitas yang di atas rata-rata. Penonton yang sudah cukup meremehkan pembuatan ulang dari film Planet of The Apes ini dibuat kagum dengan bagaimana performa Rise of The Planet of the Apes.

Kesuksesan secara kualitas ini pun berhasil dijaga dan dibuat dengan performa yang jauh lebih bagus lagi di dalam Dawn of the Planet of the Apes. Performa Dawn of the Planet of the Apes yang meningkat berkat pergantian sutradara dari Rupert Wyatt ke Matt Reeves ini membuat 20th Century Fox memutuskan untuk menggunakan Matt Reeves untuk mengarahkan bagian penutupnya. Maka dari itu, Matt Reeves kembali mengarahkan trilogi Planet of The Apes ini ke dalam sebuah penutup yang diharapkan dapat memiliki performa yang bagus.

War For the Planet of The Apesini adalah sebuah seri kunci sekaligus penutup untuk kisah komplotan kera yang dipimpin oleh Caesar ini. Tak hanya Matt Reeves saja yang kembali sebagai pengarah filmnya, tetapi juga Matt Bomback yang juga membantu Matt Reeves untuk menyelesaikan naskah dari film penutupnya ini. Dimeriahkan pula oleh Woody Harrelson di jajaran nama departemen aktingnya bersama dengan Andy Serkis yang tentu saja tetap menjadi Caesar. 


Trilogi baru dari Planet of the Apes ini menjadi sebuah sesuatu yang perlu diapresiasi di perfilman Hollywood karena performanya yang stabil dan cenderung meningkat. War For the Planet of The Apes ini memang masih menjadi sebuah film yang diarahkan dan dibuat dengan baik. Tetapi, sebagai sebuah penutup, War For The Planet of The Apes ini adalah sebuah penutup yang tak sempurna. Memiliki berbagai macam kelemahan yang mendistraksi kemegahan pembuatan film ini.

Kisah utama di dalam seri-seri Planet of the Apes ini tentu saja adalah para kera, terutama tentang Caesar sebagai pemimpinnya. Tetapi, problematika penonton di film-film sebelumnya adalah minimnya relevansi yang dapat dilekatkan dengan para karakter manusianya. Sehingga, War For the Planet of the Apes ini berusaha untuk menumbuhkan relevansi itu. Hal ini pada akhirnya menganggu Matt Reeves untuk bercerita kepentingan-kepentingan karakter yang berusaha dimasukkan ke dalam film ini. 


War For the Planet of the Apesmenceritakan tentang bagaimana Caesar (Andy Serkis) dan para komplotan keranya yang sudah mencari tempatnya yang damai dan aman dari gangguan. Tetapi, kehidupan mereka pada akhirnya diusik oleh para manusia yang berusaha memusnahkan komplotan kera yang dipimpin oleh Caesar. Para manusia dibantu oleh para kera lain yang membelot dari kepemimpinan Caesar ini menemukan tempat persembunyian Caesar dan komplotannya.

Caesar yang merasa dirinya dan komplotannya aman pun tak menyadari bahwa dirinya akan diserang oleh manusia. Perang pun terjadi antara para komplotan Caesar dan manusia. Hal ini pun menyebabkan banyak korban dari komplotan kera milik Caesar berjatuhan terutama kera-kera yang dekat dengan Caesar. Dengan keadaan yang seperti ini, Caesar berusaha untuk membalaskan dendamnya dan menyerang markas besar manusia yang dipimpin oleh The Colonel (Woody Harrelson). 


Berusaha memperbaiki apa yang diminta oleh para penikmat filmnya tentu menjadi sangat penting bagi sineas. Selain untuk tetap menjaga kepercayaan dari penontonnya, hal ini juga menunjukkan bahwa sineas tersebut mau belajar. Tetapi, hal tersebut tentunya perlu diimbangi dengan bagaimana kemampuan seorang sutradara dalam mewujudkan keinginan penontonnya. War For the Planet of the Apes sebenarnya akan lebih terasa penuh makna apabila tetap fokus dengan plot cerita utamanya yaitu tentang balas dendam.

Tetapi, yang dilakukan oleh Matt Reeves dan Matt Bomback adalah dengan memberikan subplot tentang manusia dan kehidupannya yang semakin melemah karena virus yang disebabkan. Informasi tentang hal tersebut memang seharusnya penting untuk semakin memperkuat dan memperbesar bangunan dunia rekaan di dalam film ini. Hanya saja, Matt Reeves seperti tak bisa menanganinya dengan seimbang. Sehingga, informasi-informasi ini yang dimasukkan sebagai cabang cerita pada akhirnya menjadi bumerang terhadap hasil keseluruhannya.

Memasukkanplot tentang kisah manusia dan memasukkan karakter manusia terlebih kepada karakter Nova menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan. Informasi yang diterima oleh penonton pada akhirnya tak bisa sepenuhnya diterima. Penonton meraba sendiri ada apa dengan karakter Nova sehingga menumbuhkan urgensi untuk masuk ke dalam plot cerita dengan screen time yang cukup banyak. Terutama ketika Nova menjadi poin kunci di akhir film dan penonton pun masih mencari motivasi karakter tersebut untuk pada akhirnya harus menjadi sosok yang penting. 


Di luar kebingungan Matt Reeves untuk berusaha memberikan relevansi antara penonton dengan karakter manusia, Matt Reeves masih bisa membuat War For the Planet of the Apes sebagai sebuah film yang masih kuat. Ada beberapa adegan yang diarahkan dengan baik sehingga muncul berbagai macam tensi dan emosi. Terlebih dalam mengarahkan Andy Serkis di balik teknologi motion capture-nya sebagai karakter Caesar. Tanpa directing dan ketelitian berakting dari Andy Serkis, War For the Planet of the Apes akan jatuh menjadi film penutup yang sia-sia.

Sebagai sebuah seri penutup, War For the Planet of the Apes masih tampil dengan cukup kuat berkat beberapa adegan penuh tensi dan keseruan yang berhasil diarahkan oleh Matt Reeves. Tetapi, sayangnya War For the Planet of the Apes bukanlah sebuah penutup yang sempurna dikarenakan usaha Matt Reeves itu sendiri dengan usahanya menjawab kemauan penonton. Hal itu menjadi bumerang bagi performa film ini serta beberapa kali diganggu oleh musik milik Michael Giacchino yang muncul terlalu sering. Sehingga, segala rasa emosional itu sering kali terasa manipulatif sekaligus memunculkan kesan dramatisasi yang berlebih. Meski begitu, trilogi Planet of the Apes ini adalah sebuah trilogi yang perlu untuk diapresiasi.

Jumat, 12 Mei 2017

CRITICAL ELEVEN (2017) REVIEW : Mempercayai Sebuah Cinta Dengan Segala Turbulensinya


Dari sekian banyak film-film dengan genre drama romantis di perfilman Indonesia, hanya ada beberapa film yang diproduksi dengan baik. Tak hanya dari segi teknis, tetapi juga dari sisi pengarahan film yang tak terlalu digarap serius. Menciptakan nuansa penuh akan cinta di sebuah film tak akan semudah yang dibayangkan orang. Apabila hal tersebut tak bisa diarahkan dengan baik, penonton tak akan bisa merasakan koneksi atas atmosfir penuh kasih sayang di dalam film drama bertemakan cinta.

Maka, inilah yang berusaha dilakukan oleh Starvision dan Legacy Pictures untuk membuat sebuah drama romantis dengan ideal. Mereka memutuskan untuk bersama-sama mengadaptasi sebuah buku dari penulis ternama Ika Natassa. Critical Eleven, salah satu buku laris miliknya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk ‘lahir’ pertama kali sebagai sebuah film layar lebar. Critical Elevenmemiliki kru dan jajaran aktris yang tak sembarangan. Mulai dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai pemeran utama, Jenny Jusuf sebagai penulis skenario, serta Monty Tiwa yang kali ini berkolaborasi untuk mengarahkan sebuah film dengan Robert Ronny.

Misi mulia dari Ika Natassa dan segala orang yang terlibat di dalam film Critical Eleven adalah tentang memberikan harapan dalam cinta. Nyatanya, dengan performa milik Reza Rahadian dan Adinia Wirasti yang menghidupkan setiap karakter fiksinya ini berhasil meyakinkan penonton atas misi mulia milik Ika Natassa. Inilah kisah cinta milik Ale dan Anya yang penuh akan asam manis di setiap perjalanannya, tetapi bisa membuat setiap orang akan percaya dengan kekuatan cinta. 


Membicarakan tentang cinta akan terdengar sangat melankolis dan picisan. Tetapi, memiliki kehidupan tanpa cinta di sekitar kita tak serta merta membuat hidup kita lebih bahagia. Hal itu lah yang berusaha disampaikan di dalam film Critical Eleven ini. Tema Cinta yang dibahas di dalam Critical Eleven ini memang tak sekedar antar pasangan, tetapi juga lebih di setiap aspek. Mulai dari keluarga, sahabat, dan juga setiap menit kehidupan yang tuhan berikan kepada kita.

Semua misi tentang cinta ini disajikan ke dalam sebuah film dengan durasi yang mencapai 135 menit. Critical Eleven adalah analogi tentang keadaan dalam pesawat yang paling kritis yaitu 3 menit sesaat setelah terbang dan 8 menit sesaat sebelum mendarat yang mewakili kehidupan setiap orang. Ini pula yang dirasakan sesaat ketika film berjalan di durasinya yang panjang. Film Critical Eleven sebagai sebuah pesawat mengalami masa kritis itu tak selamanya dengan mulus. Sesekali ada Turbulensi yang terjadi saat film baru saja menerbangkan sayapnya dan sesaat sebelum film akhirnya tiba di tujuan.  


Misi tentang memberikan harapan kepada cinta kali ini ditugaskan kepada Anya (Adinia Wirasti), seorang perempuan mandiri yang bekerja dengan giat. Anya begitu mencintai bandara hingga suatu ketika dia juga bertemu dengan seorang pria bernama Ale (Reza Rahadian). Pertemuan yang tak disengaja itu ternyata mendekatkan mereka. Hingga pada akhirnya, Ale dan Anya memutuskan untuk menikah dan Ale yang bekerja di Oil Rig di daerah meksiko memutuskan agar mereka tinggal di New York.

Kehidupan di New Yorkmemberikan mereka kebahagiaan, apalagi Anya telah mengandung Ale Junior yang telah diidam-idamkan. Kehidupan Anya paska hamil memang tak semudah yang dibayangkan. Ale menjadi sangat overprotektif kepada Anya karena takut kehilangan buah hatinya. Dengan adanya perubahan sifat ini, muncullah keegoisan masing-masing yang sesekali menimbulkan perdebatan di tengah keharmonisan hubungan mereka. Juga, beberapa peristiwa dalam keluarga kecil mereka yang semakin memunculkan sisi egois masing-masing pihak.


Critical Eleven memang bukan sekedar kisah tentang cinta yang dibuat hanya untuk merasakan indahnya jatuh cinta. Critical Eleven adalah kisah tentang cinta yang menunjukkan penontonnya tentang jatuhnya hidup bergantung kepada cinta. Translasi yang sangat baik dilakukan oleh Jenny Jusuf sebagai penulis skenario yang berhasil mengadaptasi sumber aslinya dengan berbagai cara hingga setiap karakter memiliki kontinuitas yang menarik. Ada detil-detil kecil sebagai sebuah tanda yang dihasilkan oleh Jenny Jusuf di dalam filmnya yang memperkuat karakternya. Tanda itu seperti mainan-mainan yang dimiliki oleh karakter Ale dan Anya.

Bukan hanya sekedar detil kecilnya, tetapi juga memindahkan emosi ke dalam penulisan naskahnya. Selain itu pula, ada kolaborasi baik antara naskah dengan pengarahan yang dilakukan oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny dalam Critical Eleven. Penonton bisa merasakan setiap konfliknya yang terjadi di dalam Critical Eleven. Secara tak langsung, penonton menemukan referensi lain yang melekat di karakter dan konfliknya sehingga timbul simpati dan merasakan adanya kedekatan.

Hanya saja, Critical Elevenmemiliki sedikit isu dalam pengarahan yang membuat 135 menit yang ada di dalam filmnya tak memiliki performa yang stabil. Paruh pertama film ini memiliki sedikit turbulensi terhadap penyampaian konflik dan karakternya. Ada penyampaian emosi yang menggebu-gebu sehingga beberapa pesan yang tak tersampaikan dengan sepenuhnya baik. Pemilihan dialog yang sering kali menggunakan bahasa asing membuat adanya jarak antara pesan yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Rasa manis di awal film pun beberapa kali terkadang terasa redup. 


Begitu pula dengan turbulensi yang datang lagi di ‘pesawat’ milik Critical Eleven saat ingin mendarat. Critical Eleven memang sudah memiliki landasan mendarat yang mumpuni, tetapi kemulusan terhadap cara memberikan konklusi di film ini tak bisa memberikan rasa manis yang kuat setelah menonton. Di tengah karakter Ale dan Anya yang sudah dikembangkan dengan sangat baik di setiap menitnya, ada cara mendarat yang memberikan sedikit membuat penontonnya tak nyaman. Bagaimana paruh ketiga film ini intensitas cerita sudah tak terjaga dan membuat simpati penontonnya sedikit berkurang.

Kemagisan asam manis cinta yang semakin bertambah durasi semakin terasa ini hampir saja hilang dengan pengarahan yang kurang mulus. Sehingga, ada sambungan adegan yang sedikit saja dihilangkan di dalam naskah yang mungkin dapat menimbulkan keefektifan cerita yang lebih memberikan efek yang kuat kepada penontonnya. Tetapi, beruntung sekali Critical Eleven memiliki Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Mereka memberikan performa terbaiknya di dalam film ini sehingga penonton bisa merasakan setiap manis dan getir hubungan mereka. Mereka bisa menerjemahkan karakter Ale dan Anya yang tak hanya hidup, tetapi juga berkembang dan berubah. 


Sebagai sebuah film drama dengan tema cinta, Critical Eleven memang masih bisa menaikkan standar yang ada. Ini jelas sebuah film Indonesia yang dibuat dengan sepenuh hati dan teliti, apalagi dalam segi teknis film. Gambar, musik, dan nilai-nilai produksi di dalam film Critical Eleven memperkuat alasan bahwa film ini memang tak main-main. Meski memiliki sedikit turbulensi dalam penceritaannya, tetapi Critical Elevenmasih bisa menimbulkan rasa asam dan manis cinta lewat performa luar biasa dari Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Pun, didukung dengan kedetilan dalam bertutur lewat naskah milik Jenny Jusuf. Critical Eleven cukup berhasil mencapai tujuannya untuk membuat penonton percaya dengan cinta dan menggantungkan harapan kepadanya. 
 

Kamis, 28 Juli 2016

BANGKIT! (2016) REVIEW : Pionir Genre Baru di Perfilman Indonesia


Genre perfilman Indonesia akhir-akhir ini pun semakin berwarna. Mulai dari drama, komedi, hingga film aksi mulai sering dibuat oleh film-film Indonesia. Hingga pada akhirnya, Oreima Films dan juga Kaninga Pictures berusaha untuk memberikan sebuah genre baru di perfilman Indonesia untuk mewarnai keragaman di dalamnya. Muncullah sebuah ide untuk membuat sebuah disaster movie yang mungkin sudah bukan hal baru di industri perfilman Hollywood.

Proyek ini sudah terdengar proses pembuatannya sejak tahun 2015, dengan banyak memunculkan teaser-teaser poster yang cukup menggugah minat calon penontonnya. Jakarta Bangkit pada awalnya menjadi judul atas proyek film ini hingga pada akhirnya memutuskan untuk memilih judul Bangkit! sebagai judul akhir. Dengan tagline ‘karena menyerah bukan pilihan’, Rako Prijanto berusaha keras untuk mengarahkan film bencana pertama yang ada di Indonesia yang dibintangi oleh Vino G. Bastian, Acha Septriasa, Deva Mahenra, dan juga Putri Ayudya.

Sebagai yang pertama di perfilman Indonesia, Bangkit! mungkin akan dipenuhi dengan banyak pertaruhan. Entah secara kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan oleh film Bangkit! ini sendiri. Apalagi, film ini dipenuhi dengan gegap gempita visual efek yang mulai dari awal film hingga akhir. Yang mana, di dalam bidang tersebut film-film Indonesia mungkin bisa dikatakan belum mahir bahkan masih sangat lemah. Sehingga, tak salah jika penonton masih merasa was-was dengan film ini. Tetapi, Bangkit!adalah sebuah film Indonesia yang penting untuk diapresiasi di tahun 2016 ini. 


Bangkit! terinspirasi dengan sebuah realita tentang kota Jakarta yang sering terkena banjir. Maka, Rako Prijanto dan tim berusaha untuk membentuk sebuah bahasa visual yang dapat menjelaskan realita itu dengan karakter-karakternya. Di mana, Addri (Vino G. Bastian) adalah kepala dari sebuah keluarga bahagia bersama Indri (Putri Ayudya). Addri pun sangat berjasa dengan jasanya sebagai ketua Basarnas yang selalu sigap atas keluh kesah warga kota Jakarta. Ketika sebuah bencana datang, Arifin (Deva Mahenra) adalah seseorang yang ditolong olehnya.

Bencana tersebut membuat Arifin datang ke upacara pernikahannya dengan sang kekasih, (Acha Septriasa) karena tenggelam di sebuah bangunan karena banjir. Tetapi, kegentingan masalah pribadi tersebut ternyata hanya menjadi sedikit kecil dari problematika yang ada. Karena masalah terbesar adalah Jakarta sudah dalam fase banjir yang menghawatirkan. Badai terus menyerang kota Jakarta hingga volume air sudah tak dapat menampung. Addri dan Arifin mencoba untuk mencari solusi atas bencana yang tak kunjung berhenti ini. 


Bangkit! mungkin memiliki cerita-cerita khas Hollywood dalam membangun sebuah film dengan tema bencana di dalam filmnya. Bangkit! terlihat memiliki banyak referensi dengan tema-tema film serupa, sehingga Bangkit! mungkin memiliki sebuah kematangan dalam mengemas filmnya. Karakter di dalam film Bangkit! memang terlampau banyak dengan problematikanya masing-masing. Akan terasa sekali di awal film, Rako Prijanto kebingungan untuk mengenalkan satu persatu karakter di dalam film Bangkit!

Belum selesai dalam mengenalkan para karakternya, Rako Prijanto langsung menghajar penonton dengan konflik utama di dalam film Bangkit!. Sehingga, penonton mungkin terasa sedikit kesusahan untuk memberikan sebuah simpatinya dengan para karakter di dalam film ini. Namun, perlahan Rako Prijanto tahu untuk mengarahkan subplot ceritanya yang belum cukup tertata di 20 menit awal film. Semakin lama, Bangkit! semakin mencengkram penontonnya dengan konflik-konflik yang ada.

Bangkit! akhirnya menyatukan semua problematika karakter sehingga dapat memberikan fokus besar terhadap konflik utama di dalam film ini. Sebagai sebuah pionir atas film dengan genre bencana ini, Bangkit! mungkin akan terjebak dalam sebuah film yang dijadikan sebagai ajang pamer atas pencapaian visual efek. Ternyata Bangkit! berada di luar dugaan. Tahu bahwa film ini masih lemah dalam menampilkan gegap gempita visual efek, Bangkit! berusaha untuk berusaha mencengkram penontonnya dengan konflik-konflik yang menumbuhkan sebuah simpati. 


Rako Prijanto berhasil memunculkan sebuah emosi dari setiap karakternya meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu pun dipengaruhi oleh plot-plot sampingan dari film Bangkit!yang terlalu banyak. Sehingga, mungkin durasi film terasa membengkak hingga 122 menit karena membutukan penyelesaian di setiap konfliknya. Tetapi, Bangkit! bisa memberikan sesuatu yang menarik yang membuat penonton betah mengikuti konfliknya hingga akhir.

Bicara tentang visual efek, Bangkit!mungkin masih memiliki kelemahan dalam presentasinya. Tetapi kerja kerasnya dalam memberikan sebuah detil-detil di dalam editing visual efeknya, hal tersebut patut untuk diacungi jempol. Beberapa mungkin terlihat kasar, tetapi beberapa efeknya masih mampu memberikan sebuah tensi di dalam filmnya. Secara visual efek, Bangkit! jelas tak bisa dibandingkan dengan film-film luar negeri yang sudah terbiasa dengan grafis komputer. Sehingga, dalam menilai film ini tentu perlu parameter yang berbeda. 

 
Maka, sebagai sebuah pionir sebuah film dengan genre seperti ini, Bangkit! bisa dikatakan memiliki presentasi yang berhasil. Meskipun, Bangkit!masih memiliki problematika dalam memberikan sebuah keterikatan dengan penontonnya, tetapi pada akhirnya Bangkit!berhasil menumbuhkan simpati penonton setelah 20 menit pertama. Pun, hal itu semakin mengikat penonton hingga akhir film dan bagusnya Bangkit! mengetahui kelemahannya dalam memamerkan visual efek yang luar biasa. Sehingga, Rako Prijanto menjadikan hal tersebut sebagai sebuah bonus yang berbeda di perfilman Indonesia. Jadilah, Bangkit! sebagai salah satu sebuah film Indonesia yang penting di tahun ini dan berbeda. 

Selasa, 26 Juli 2016

SABTU BERSAMA BAPAK (2016) REVIEW : Problematika Sebuah film Adaptasi


Sabtu Bersama Bapak adalah sebuah novel fiksi yang ditulis oleh Adhitya Mulya. Bukunya telah sukses menjadi bacaan favorit dan terjual di mana-mana. Lantas, tak salah pula jika pada akhirnya rumah produksi dan sutradara tertarik untuk mejadikannya sebuah film berdurasi panjang yang tayang di layar perak. Sutradara yang tertarik untuk mengangkat buku ini menjadi sebuah film adalah Monty Tiwa yang sudah terbiasa terjun dengan tema-tema keluarga seperti ini.

Sehingga, Monty Tiwa sudah sangat dipercaya untuk mengadaptasi buku yang telah menjadi fenomena pembaca domestik. Di bawah naungannya, proyek ini pun mendapatkan jajaran aktor aktris yang sudah tak diragukan. Memasang nama-nama seperti Deva Mahenra, Acha Septriasa, Arifin Putra, Abimana Aryasatya, pun dipermanis dengan wajah baru seperti Sheila Dara. Dan juga, turut hadir aktris kawakan seperti Ira Wibowo yang menambah kepercayaan penonton dengan hasil akhirnya.


Dan sekali lagi, perlu diperhatikan adalah ketika sebuah buku dan film adalah sebuah medium penyampaian pesan yang jauh berbeda. Ketika berbicara soal dua medium ini, penonton seakan tak mau tahu. Sabtu Bersama Bapak mungkin mengalami perubahan secara struktur cerita dari buku ke dalam film. Namanya juga film ini adalah sebuah adaptasi, bukan duplikasi. Sehingga, adanya perbedaan yang terjadi di dalam buku dan film adalah sesuatu yang lumrah. Karena sebuah film memiliki yang namanya durasi yang mana perlu diperhatikan agar penyampaiannya pun efektif.

Banyak sekali respon yang mengatakan bahwa Sabtu Bersama Bapak tak bisa menyenangkan pembacanya ketika menjadi sebuah film utuh. Ada yang merasa bahwa, Sabtu Bersama Bapak tak bisa memiliki koneksi dari karakter kepada penontonnya. Maka, yang perlu diperhatikan adalah ketika sebuah film muncul dari adaptasi sebuah novel, jelas karakter yang ada di dalamnya mungkin mendapatkan ruang gerak yang begitu sempit. Hal itu dikorbankan, karena penonton awam akan peduli dengan jalan cerita yang telah tuntas. Tetapi, hal itu tidak masalah jika cerita tersebut dapat berjalan dengan lancar bahkan berkoneksi dengan penontonnya. 


Sabtu Bersama Bapak memang hadir dengan memberikan sebuah terapi kejut akan konfliknya yang belum apa-apa sudah memiliki problematika. Mengisahkan bagaimana sang Bapak (Abimana Aryasatya) yang sudah tak memiliki umur yang panjang lantaran terkena kanker. Sang Bapak pun berinisiatif untuk memberikan petuah-petuah kepada anak-anaknya, Cakra dan Satya,  lewat sebuah rekaman yang akan diputar oleh Ibu Itje (Ira Wibowo). Rekaman tersebut akan diputar setiap sabtu pagi sepulang sekolah.

Setelah beberapa puluh tahun kemudian, Cakra (Deva Mahenra) dan Satya (Arifin Putra) menemukan problematika hidupnya masing-masing. Satya yang sudah beristri dengan Rissa (Acha Septriasa) memiliki problematika rumah tangga yang selalu ada. Berbeda dengan Cakra, yang ternyata memiliki masalah dalam mencari pasangan hidup. Dengan problematika yang berbeda, tetapi mereka tetap menggunakan petuah dari sang Bapak yang mereka saksikan lewat rekaman sebagai prinsip hidup mereka.

Bukan berarti dengan memberikan konflik yang seketika sudah beruntun itu, penonton tak mendapatkan intimasi di dalam filmnya. Hanya saja, intimasi di setiap film mungkin akan berbeda. Di Sabtu Bersama Bapak, karakternya yang sangat banyak mungkin akan terbatas dengan adanya durasi yang perlu diperhatikan. Intimasi yang ditawarkan Monty Tiwa di dalam Sabtu Bersama Bapak adalah intimasi cerita yang mungkin lebih menawarkan tentang keberadaan suatu keluarga.


Meski akan terasa, sekuens setiap karakter memiliki cara yang berbeda untuk memberikan sebuah suasana di dalam cerita. Hal tersebut juga disesuaikan dengan bagaimana sifat atau watak setiap karakternya. Seharusnya, Sabtu Bersama Bapak menjadi sebuah paket komplit sebuah film yang memiliki segala jenis pendekatan genre. Kita bisa dibuat tertawa, serius, dan merasakan sebuah melankoli atas kehidupan yang terjadi di setiap karakter. Tetapi, beberapa bagian teknis di dalam film ini mungkin perlu diperhatikan.

Hingga muncul sebuah persepsi bahwa film Sabtu Bersama Bapak ini digarap dengan terburu-buru. Sehingga, hal-hal teknis tak terlalu diindahkan, padahal itu pun bisa menjadi kekuatan atas uniknya pendekatan di dalam film Sabtu Bersama Bapak yang beragam. Editing warna di dalam film ini pun terlalu kuning, mungkin untuk membangun suasana yang hangat dan ternyata berujung berlebihan. Sehingga, warna film pun terkesan pecah-pecah. Pun, penonton terasa terganggu dengan editing lens flare buatan yang diselipkan terlalu banyak. 

Penonton pun merasakan sebuah distraksi dari segi teknis, bukan dalam bagaimana Monty Tiwa mengenalkan karakter-karakternya. Karena, selama plot cerita dapat membuat penonton ingin mengetahui apa yang akan terjadi, hal tersebut masih dikatakan berhasil. Sabtu Bersama Bapak beruntungnya masih memiliki semangat itu. Meskipun, distraksi skala besar muncul dari segi teknis ketika penonton berusaha untuk berkoneksi dengan emosi cerita di dalam filmnya.


Kredit terbesar di dalam film ini adalah pengarahan permainan karakter yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Deva Mahenra. Acha Septriasa berhasil menjadi karakter pendukung yang memberikan kontrol terhadap lawan mainnya, sehingga jalinan emosi di dalam film ini tak terkesan berlebihan. Begitu pun dengan Deva Mahenra yang sedang berusaha keras untuk bermain dengan pas. Dan karakter Cakra dibawakan dengan menarik oleh Deva Mahenra.

Sehingga, jadilah Sabtu Bersama Bapak yang mungkin berusaha untuk memberikan pendekatan di setiap konflik ceritanya. Tetapi, perlu digarisbawahi adalah ketika film ini adalah sebuah adaptasi sehingga mungkin pengembangan karakternya memiliki keterbatasan karena durasi. Hanya saja, sebuah distraksi datang dari segi teknis yang mengurangi konsentrasi penontonnya. Tata editing film Sabtu Bersama Bapak memberikan sesuatu yang berlebihan. Pun, dengan tata gambar yang tak memberikan sesuatu yang mewah dengan setting yang berbeda. Sehingga, Sabtu Bersama Bapak yang seharusnya menjadi sebuah sajian paket komplit dalam genre-nya, pun terasa kurang spesial.
 

Kamis, 21 Juli 2016

JILBAB TRAVELER : LOVE SPARKS IN KOREA (2016) REVIEW : Kisah Cinta Segitiga Yang Syar’i


Membuat sebuah film dengan tema religi dengan tempelan atribut-atribut keagamaan tentu secara tidak langsung telah menentukan segmentasinya sendiri. Di Indonesia, dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, film dengan menempelkan atribut islami menjadi salah satu film yang akan mendatangkan animo masyarakat yang besar. Hal itu sudah terbukti lewat beberapa film dengan genre  seperti ini yang sudah menang banyak dalam merebut jumlah penontonnya.
 
Maka, tak henti-hentinya para pembuat film untuk mengemas tema-tema seperti ini menjadi sebuah sajian tontonan bagi masyarakat. Guntur Soeharjanto, salah satu sutradara yang sering mendapatkan kesempatan untuk mengarahkan film-film dengan tema tersebut. Film-film arahannya pun selalu ditengok oleh penontonnya sehingga mendapatkan angka penonton yang fantastis. Mulai dari seri 99 Cahaya di Langit Eropa hingga Assalamualaikum Beijing, film-film tersebut pun mendapatkan sorotan masyarakat.

Hingga pada tahun ini pun, Guntur Soeharjanto seolah-olah tak mau ketinggalan untuk mengarahkan lagi film-film dengan tema serupa. Maka, Guntur Soeharjanto memilih untuk mengadaptasi novel dari penulis ternama Asma Nadia. Buku yang diangkat olehnya adalah Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea yang juga menjadi judul filmnya yang dirilis pada tahun ini. Film-film ini pun dibintangi oleh nama-nama terkenal seperti Bunga Citra Lestari dan Morgan Oey. 


Film-film dengan tema religi seperti buku-buku milik Asma Nadia mungkin akan terperangkap dengan plot cerita klise atau generik. Yaitu kisah dua insan yang sedang jatuh cinta dan rela berkorban demi pasangan tetapi dikemas secara syar’i. Pun, begitu dengan Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea, di mana diceritakan adalah Rania Samudra (Bunga C. Lestari) yang gemar akan berpetualang karena tergoda cerita ayahnya. Perjalanannya kali ini adalah ke Taman Baluran dan di sana dia bertemu dengan pemuda korea bernama Hyun Geun (Morgan Oey).

Mereka sempat bercengkrama sebentar dan Hyun Geun menaruh hati padanya. Tetapi, seketika Rania dikabari tentang kematian ayahnya. Ketika sang ayah telah tiada, Rania memutuskan untuk tidak lagi berkelana. Tetapi, Rania diundang oleh kedutaan Indonesia di Korea untuk dijamu di sana. Rania memutuskan pergi ke sana atas saran dari sang Ibu (Dewi Yull). Rania pun terbang dan pergi ditemani oleh Ilhan (Giring Nidji), sosok lelaki yang berharap Rania akan melabuhkan hatinya kepadanya. Tetapi, Rania pun diterjang dilema atas kisah cinta sendiri karena Hyun Geun masih terlintas di pikirannya. 


Tema kisah cintanya mungkin sangat penuh akan mimpi di siang bolong. Dan cerita tersebut disematkan kepada karakter dengan karakter utamanya yang memiliki atribut keagamaan yang kental. Sehingga, akan muncul sebuah penggambaran tentang perempuan islam yang mandiri tetapi tetap saja terpaku pada ketergantungan akan seorang lelaki. Bahkan, mengidamkan pengorbanan yang terlampau tak wajar dari sosok lelaki.

Maka, cara terbaik untuk menikmati film Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea adalah dengan melupakan segala penggambaran perempuan islam yang masih terjebak akan stereotype. Hingga, fokus kepada bagaimana Guntur Soeharjanto mengemas Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea menjadi sebuah tontonan penuh akan atribut Islam yang masih terasa universal. Karena bagaimana Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea ini akan berfokus dengan kisah cinta ketiga karakter utama yaitu Rania, Hyun Geun, dan Ilhan.

Beruntungnya, Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea memiliki pengarahan yang terarah. Sehingga, pada akhirnya film ini memiliki dinamikanya yang baik. Permainan setiap karakternya, plot-plot ceritanya dikemas menarik meski mungkin sebagian orang akan merasa bahwa apa yang disampaikan film ini akan terkesan klise. Tetapi, Guntur Soeharjanto selaku sutradara berhasil menyampaikan unsur klise tersebut sehingga masih memiliki kesenangan di setiap menitnya. 


Dengan durasi selama 115 menit, Jilbab Traveler : Love Sparks In Koreamungkin akan terasa panjang. Tetapi, sang sutradara bisa memanfaatkan hal tersebut untuk mengembangkan setiap karakternya. Dan dia tak melupakan untuk mengemas plot utamanya sehingga tak terlupakan. Meski dengan subplot yang bertambah, tetapi Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea tak kehilangan fokus untuk menyelesaikan plot utamanya.

Guntur Soeharjanto mungkin tak terlalu menitikberatkan Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea sebagai medium dakwah yang melulu berisikan tentang keagamaan. Itu bisa jadi adalah salah satu faktor performa Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea yang memiliki dinamika yang bagus. Meski dengan judul yang sudah secara tak langsung menetapkan segmentasi, tetapi bukan berarti film ini tak bisa dinikmati oleh kalangan yang berasal dari kepercayaan lain.

Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea memiliki nilai lain yang ingin disampaikan yaitu tentang keinginan diri sendiri. Meskipun, penyelesaian yang ditampilkan pun terkesan mengada-ada untuk menyenangkan hasrat orang tertentu yang mendampakan kehidupan bahagia selamanya. Atau bahkan terkesan sangat menggampangkan urusan orang dewasa demi mengakhiri ceritanya tersebut. Tetapi, asal sang sutradara memiliki pengarahan yang dapat menarik simpati penontonnya, hal itu masih sah-sah saja sehingga kekurangan itu mungkin tak langsung dirasakan oleh mereka. 


Jangan lupakan segala teknis film yang berhasil memperindah rangkaian cerita kisah cinta segitiga Rania, Hyun Geun, dan Ilhan yang syar’i ini. Film ini menunjukkan keindahan dalam rangkaian teknis mulai dari tata gambar dan musik. Tata musik menjadi kekuatan utama di dalam film Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea ini. Film ini mempunyai tata musik yang indah dan penempatannya yang efektif dan pas. Bahkan lagu pengisi film yang ditempatkan secara pas, sehingga terasa emosional di dalam filmnya.

Sehingga, Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea adalah sebuah sajian kisah cinta segitiga yang penuh nafas islami. Meskipun sang sutradara tak terlalu menitikberatkan hal tersebut untuk disajikan kepada penontonnya. Pun, bagaimana penggambaran perempuan-perempuan Islam yang masih saja terkesan generik sehingga cara untuk menikmati film ini adalah melupakan hal tersebut. Karena Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea menawarkan emosional cerita yang mampu menutupi minus-minus yang ada di dalam filmnya. Pun, memiliki segi teknis yang cantik yang akan memperindah segala presentasi akhir filmnya.

Sabtu, 11 Juni 2016

MY STUPID BOSS (2016) REVIEW : Sketsa Komedi Adaptasi


Film komedi menjadi salah satu genre film yang riskan untuk dibuat. Hal itu dikarenakan sebuah film tak bisa memberikan generalisasi selera humor penonton yang disampaikan di dalam filmnya. Sehingga, perlu taktik untuk –setidaknya –menarik minat penonton untuk menyaksikan film tersebut. Dan My Stupid Boss yang dinaungi oleh Falcon Pictures memiliki cara untuk memberikan teaser menarik dan berhasil memberikan daya tarik bagi penontonnya.
 
Di tengah film-film besar, film-film Indonesia di tahun ini berhasil memperoleh pendapatan jumlah penonton yang fantastis. Sehingga, My Stupid Boss memiliki motivasi untuk mendapatkan penonton sebanyak-banyaknya. Upi sebagai sutradara memasang nama-nama besar untuk bermain di dalam My Stupid Boss. Meski lagi-lagi, Reza Rahadian tampil lagi di sebuah film, tetapi penampilannya kali ini –lagi-lagi –membuahkan inovasi.

My Stupid Boss berhasil menciptakan gegap gempita tawa yang  luar biasa lewat trailer filmnya. Hanya saja, jelas akan menjadi ketakutan besar bagi penontonnya untuk berekspektasi tinggi untuk melihat hasil keseluruhannya. My Stupid Boss memang tak berusaha untuk membangun nuansa jenaka yang berlebihan di keseluruhan 100 menitnya. Tetapi, bagaimana My Stupid Boss ternyata membangun cerita dan karakter yang menyenangkan di dalam filmnya menjadi sebuah medium efektif untuk bersenang-senang bagi penontonnya. 


Kehidupan rantau yang di negara tetangga memang susah, hal itu dirasakan oleh Diana (Bunga Citra Lestari) ketika harus mendampingi suaminya bekerja di tanah rantau. Kehidupannya sebagai Ibu rumah tangga biasa menjadi sesuatu yang menganggu. Maka dari itu, Diana mencoba untuk mencari kesibukan lain dengan mencari pekerjaan juga di sana. Berbekal dengan kenalan dari teman suaminya, Diana mendapatkan pekerjaan di perusahaan milik teman suaminya.

Tetapi, dengan adanya pekerjaan tersebut tak lantas membuat kehidupan Diana bertambah senang. Lantaran, Diana harus berhadapan dengan atasannya yang luar biasa aneh dan menyebalkan. Bossman (Reza Rahadian), atasan Diana yang menurutnya selalu memiliki berbagai cara untuk membuatnya kesal. Permintaannya selalu tak pernah masuk akal menurut Diana. Hingga pada akhirnya, Diana kesal dan berusaha untuk melakukan perhitungan dengan Bossman. 


Perilaku mengesalkan yang dilakukan oleh Reza Rahadian sebagai Bossman inilah yang akan dinantikan penonton di setiap menit dari My Stupid Boss. Penonton akan menunggu lagi dan lagi apa yang akan diperbuat oleh Reza Rahadian untuk membuat Bunga Citra Lestari kesal. Sehingga, My Stupid Boss memang tak berusaha untuk memberikan bahan candaan yang slapstick, semuanya akan cenderung alami sehingga penonton tak dipaksa untuk tertawa sepanjang menit.

Upi sebagai sutradara tahu bagaimana menemukan daya pikat dari suatu karakter, dan berbekal poin itulah My Stupid Boss bisa dikategorikan menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dinikmati. Setiap karakter di dalam film ini memiliki cara atau pun upaya untuk pada akhirnya dapat bersimpati dengan para penontonnya. Bukan hanya Bossman dan Diana sebagai karakter utama, tetapi ada karakter-karakter pendukung lain yang dapat memeriahkan segala gegap gempita sketsa komedi di dalam film My Stupid Boss.

Tetapi, sayangnya pula, My Stupid Boss terlalu sibuk untuk menggerakkan karakter-karakternya untuk berkembang. Sehingga, plot utama di dalam film My Stupid Boss pun tak menemukan titik akhir sebagai suatu konklusi utama. Jika di dalam sebuah film drama, memiliki tiga babak di satu kesatuan filmnya. Maka, My Stupid Boss memiliki tiga poin itu yang repetitif ditemukan di sepanjang filmnya. Alih-alih menjadi satu kesatuan film yang utuh, My Stupid Boss malah terkesan menjadi sebuah film dengan sekuens-sekuens komedi yang terlalu banyak. 


Plot utama dari My Stupid Boss memang pada dasarnya adalah menceritakan bagaimana tingkah laku Bossman dan perjuangan Diana dalam menghadapinya. Tetapi, yang terjadi malah My Stupid Boss ingin berusaha menunjukkan bagian-bagian terlucu dari novelnya dan memvisualisasikan itu. Alhasil, dengan banyaknya konflik-konflik itu, plot utama dari My Stupid Boss pun tak bisa menjadi satu. Dampaknya, beberapa pergerakan plotnya akan terkesan berjalan lambat, dan tak tahu untuk mengakhiri filmnya.

Maka, yang terjadi adalah, My Stupid Boss memiliki satu subplot turning over yang dibuat untuk mengakhiri filmnya. Tetapi, segala cara yang dilakukan untuk memberikan suatu turning over itu malah terkesan dipaksakan karena My Stupid Boss kebingungan untuk pamit dengan penontonnya. Sisi-sisi humanis berusaha ditonjolkan, dengan tujuan untuk membangun setup baru agar memberikan celah film ini mendapatkan sebuah sekuel. Apalagi, buku dari My Stupid Boss tak semuanya mendapatkan porsi di dalam filmnya.

Tak diperlukan lagi bagaimana tata produksi dari My Stupid Boss. Gradien warna dominan merah, hijau, dan kuning digunakan untuk memberikan nuansa di dalam filmnya. Sayangnya, bagaimana My Stupid Boss yang berupa sketsa komedi ini ingin membangun nuansa komikal seperti yang dilakukan oleh film Amelie. Sehingga, apa yang dilakukan di dalam film My Stupid Boss terkesan seperti menyalin beberapa template produksi dalam film itu. Bukan hanya nilai produksi, tetapi juga musik-musiknya yang juga bisa dibilang memiliki nuansa yang sama. 


Tetapi pada akhirnya, My Stupid Boss berhasil mencapai tujuannya untuk menghibur para penontonnya tanpa berusaha keras menjadikannya sebagai sebuah film komedi yang lebih mengutamakan simpati pada setiap karakternya. Sehingga, itulah yang menjadi kekuatan utama dari My Stupid Boss itu sendiri. Meski begitu, pergerakan plot dari My Stupid Boss kurang terasa dinamis dan membuatnya memaksa untuk mengakhiri filmnya. Pun, nilai produksi filmnya yang terasa familiar dengan beberapa film luar negeri yang diadaptasi mentah. Tetapi, hal tersebut tak dapat mengurangi bagaimana My Stupid Boss adalah film yang menyenangkan untuk diikuti. 

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...