Jumat, 26 November 2010

REVIEW: UNSTOPPABLE





































"This is Will Coalson your conductor speaking, we are gonna run this bitch down."

Unstopabble diangkat dari kisah nyata tentang sebuah kereta barang yang melaju tak terkendali tanpa masinis. Film ini disutradarai oleh Tony Scott (The Taking of Pelham 1 2 3, Deja Vu, Man on Fire, Top Gun) dan merupakan hasil kolaborasinya yang kesekian kali dengan aktor Denzel Washington. Dengan plot cerita yang bisa dikatakan cukup sederhana, Scott berhasil mengemas film ini dengan apik dan membuat para penonton enggan untuk meninggalkan bangku mereka. Tempo cerita berjalan cepat dengan ketegangan demi ketegangan yang terus melaju membuat adrenalin semakin terpacu. Pemilihan Denzel Washington pun terasa sangat tepat dan pas dengan karakter yang dimainkan. Chris Pine juga terlihat mampu mengimbangi kharisma dan performa seniornya. Pasangan yang lovable ini tentu saja memberi nilai tambah bagi keseluruhan film. Love them both!

Pada hari pertama bekerja, seorang konduktor kereta api yang masih muda, Will Coalson (Chris Pine), dipasangkan dengan masinis veteran bernama Frank Barnes (Denzel Washington). Keadaan sedikit memanas pada awalnya karena Frank bersikap sinis dengan Will dikarenakan ia merasa orang-orang baru seperti Will yang membuat dirinya dipaksa untuk pensiun. Di tempat lain, seorang masinis bernama Dewey (Ethan Suplee) meninggalkan kereta yang sedang dibawanya karena ia berniat untuk mengganti jalur. Sialnya, karena kesalahan teknis kereta itu tiba-tiba melaju cepat dan tidak sempat lagi dikejarnya. Kereta itu merupakan kereta barang yang panjangnya kurang lebih 1,5 km dan mengangkut barang-barang berbahaya seperti bahan kimia yang mudah terbakar. Kereta ini harus segera dihentikan sebelum membahayakan banyak orang, karena ia sedang melaju ke kawasan padat penduduk di daerah Pennsylvania.

Tony Scott dengan jelas menggambarkan disini bahwa karakter Will dan Frank merupakan para pria dengan kehidupan normal, lengkap dengan masalah keluarga masing-masing. Sosok heroik dalam film ini berhasil mendulang simpati, kembali lagi ke keberhasilan Scott membangun karakter mereka dari awal film. Akting yang dibawakan Denzel Washington dan Chris Pine tidak perlu diragukan lagi. Meski berbeda generasi, mereka terlihat bisa saling mengisi satu sama lain, terbukti dari chemistry yang tercipta diantara mereka sangat terasa. Rosario Dawson juga berhasil menjadi 'pemanis' dalam film action ini. Plot cerita tentu sangat simple, semua orang yang membaca sinopsisnya tentu sudah bisa menduga bagaimana film ini akan berakhir. Namun, pengemasan menuju ending-lah yang membuat saya tidak kecewa dengan film ini. Memang bukan sebuah film yang istimewa, akan tetapi Unstoppable merupakan sebuah hiburan yang seru. Lumayan untuk membuat jantung anda terpompa menyaksikan aksi heroik dua aktor Hollywood papan atas guna menghentikan kereta super cepat. Great entertainment! :)





Minggu, 21 November 2010

REVIEW: THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO (Män som hatar kvinnor)


























"Based on the worldwide bestseller."

The Girl with the Dragon Tattoo diangkat dari novel best seller karangan Stieg Larssons, seorang pengarang dan jurnalis asal Swedia. Ini merupakan novel pertama dari trilogi Millennium yang ditulisnya. Niels Arden Oplevs mengangkat film yang berjudul asli 'Män som hatar kvinnor' dalam bahasa Swedia ini dengan sangat baik. Awalnya saya kurang tertarik menyaksikan film ini karena saya sendiri belum membaca novelnya, lagipula pemainnya saya tidak kenal semua. Apalagi ditambah dengan dialog dalam bahasa Swedia yang masih asing di telinga. Akan tetapi, keisengan saya menonton berbuah sebuah kepuasan. The Girl with the Dragon Tattoo sangat seru untuk dinikmati. Plot cerita dijabarkan dengan sangat apik lengkap dengan misteri yang membuat penonton penasaran. Sangat recommended untuk yang menyukai film ala detektif dengan sentuhan thriller.

Empat puluh tahun yang lalu, Harriet Vanger menghilang dari tempat tinggalnya. Jasadnya tidak pernah diketemukan, sehingga membuat keluarganya besar Vanger yang kaya raya bertanya-tanya apakah Harriet sudah meninggal atau belum. Sang paman, Hanrik Vanger (Sven-Bertil Taube), yakin kalau Harriet telah dibunuh, selama bertahun-tahun ia sudah mengandalkan segala macam cara untuk menemukan pembunuhnya, namun tidak pernah berhasil. Lalu ia menyewa seorang jurnalis yang sedang terlibat masalah hukum, Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist). Mikael lalu dibantu oleh seorang hacker wanita berpenampilan sangar, Lisbeth Salander (Noomi Rapace). Mereka berdua lalu berusaha memecahkan teka-teki yang sudah ada berpuluh-puluh tahun ini. Usaha mereka tidak berjalan mulus karena ternyata sang pembunuh masih merupakan bagian dari keluarga besar Vanger.

Cinematografi film ini digarap dengan sangat baik. Sang aktris utama, Noomi Rapace juga menunjukkan performa yang kuat dan luar biasa. Begitu juga dengan akting Michael Nyqvist sebagai Mikael Blomkvist dan Sven-Bertil Taube sebagai Hanrik Vanger yang juga bermain baik dengan karakternya masing-masing, sehingga penonton bisa percaya dengan apa yang mereka mainkan. Plot cerita film ini sendiri menurut saya cukup menarik dan membuat penasaran, ini dari sudut pandang saya, seseorang yang belum membaca novelnya. Durasi 2,5 jam memang cukup panjang namun saya tidak merasa bosan sama sekali. Saya tidak sabar untuk menyaksikan film kedua dan ketiganya; The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked the Hornet's Nest. Hanya tayang di bioskop Blitzmegaplex. :)




Sabtu, 13 November 2010

REVIEW: YOU AGAIN






































"What doesn't kill you... is going to marry your brother."

You Again menceritakan tentang bagaimana masa SMU bisa sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang kedepannya. Marni (Kristen Bell) pada waktu SMU selalu jadi loser, apalagi didukung dengan wajahnya yang berjerawat dan kacamata ala kutubuku. Seperti yang kita tahu, dimana ada pecundang disitu pasti ada anggota cheerleader yang populer, Joanna atau JJ (Odette Yusman) berperan sebagai ketua cheerleader yang cantik dan seolah sempurna tersebut. JJ selalu memperolok Marni, sehingga membuat trauma mendalam. Namun itu menjadikan acuan Marni untuk berubah, sehingga sekarang ia bisa mendapat pekerjaan di perusahaan Public Relations terkenal. Ketika Marni akan pulang kampung guna menghadiri pernikahan sang adik, Will (James Wolk), betapa kagetnya ia ketika ternyata sang calon mempelai wanita adalah JJ, musuh bebuyutannya selama SMU dulu! Lebih parahnya lagi, ibu Marni, Gail (Jamie Lee Curtis) juga bertemu dengan musuhnya sewaktu SMU, bibi JJ yang bernama Ramona (Sigourney Weaver). Suasana menjadi tegang seketika.

Kalau dari segi cerita sih seperti biasa, klise dan mudah sekali ditebak. Namun, You Again tidak bisa dibilang proyek gagal, karena banyak scenes yang memang mengocok perut. Kristen Bell yang terakhir membuat saya kecewa sekali dengan When in Rome (2010) kali ini tampil lebih baik. Meskipun terus terang, saya merasa bosan dengan peran-peran yang diambil Bell, terkesan tidak menantang dan stuck disitu-situ saja. Odette Yusman pastinya berhasil menarik minat para pria untuk menonton film ini, tentu saja bermodalkan kecantikannya. Tapi boleh dibilang, akting Odette Yusman bagus juga. Beberapa aktris lagi yang mencuri perhatian tentu saja Jamie Lee Curtis dan Sigourney Weaver! Oh my God, scenes yang menyandingkan mereka berdua dalam satu frame selalu menggelikan dan membuat saya tertawa. Tidak ketinggalan penampilan sang nenek lincah, Betty White, yang masih sangat centil dan konyol disini. Intinya, kalau deretan cast, You Again sudah memiliki para aktris yang perfecto!

Jangan berharap banyak dari film ini. Nikmati saja dan tertawalah! Mungkin beberapa hari setelah menonton kita akan lupa dengan isi filmnya, tapi hey it's okay selama filmnya bisa menghibur. Betul khan? Ini memang bukan film penting, tapi menurut saya penting juga sekali-sekali menonton film ringan seperti You Again, karena anda tidak perlu berfikir dan terlalu serius dalam menonton, lihat saja ke layar dan tertawa! You Again masih layak ditonton koq, saya sendiri merasa sangat terhibur sepanjang film. Memang lebih direkomendasikan untuk ditonton para wanita, tetapi meskipun anda pria; tidak ada salahnya melewatkan akhir pekan dengan menonton film komedi ini. Semoga semuanya terhibur! :)





Kamis, 04 November 2010

REVIEW: THE SOCIAL NETWORK





































"A story about the founders of the social-networking website, Facebook."

Sejak mendengar nama David Fincher yang akan duduk di bangku sutradara dalam proyek film ini, saya langsung sangat excited! Fincher merupakan salah satu sutradara favorit saya, sudah banyak film-film berkualitas yang berhasil dihasilkannya, sebut saja Se7en (1995) dan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Tentu saja tidak ketinggalan, Fight Club (1999), yang selalu masuk ke jajaran film kesukaan saya. Kali ini dengan The Social Network, Fincher kembali membuat saya terkesima. Film ini menceritakan biografi Mark Zuckerberg, pembuat website Facebook yang sangat fenomenal itu. Ada juga rekan-rekan Mark dalam mendirikan Facebook dari awal. Seru rasanya melihat visualisasi bagaimana awal terbentuknya sebuah website yang memang membuat para penggunanya yang tersebar di hampir seluruh belahan dunia menjadi sangat addicted. Perhatian Fincher pada setiap detail dalam film ini patut diacungi dua jempol, sampai-sampai The Social Network disebut-sebut akan menjadi kandidat kuat dalam beberapa nominasi Oscar berikutnya.

Mark Zuckerberg (Jessie Eisenberg) adalah seorang mahasiswa Harvard yang sangat jenius dalam bidang pemograman komputer. Ia telah membuat beberapa website yang memang menjadi heboh di universitas tersebut. Suatu hari ia mendapatkan ide untuk membuat sebuah website social-networking yang awalnya ia beri nama The Facebook. Mark pun mengajak sahabatnya, Eduardo Saverin (Andrew Garfield), untuk memberikan suntikan finansial dan bersama-sama menjalankan proyek yang mereka yakini akan menjadi 'besar' ini. Tidak disangka hanya dalam waktu dua jam sejak peluncuran perdananya, Facebook telah mendapat kunjungan sebanyak 22.000 hits! Namun tentu saja jalan yang mereka tempuh tidak mulus, mulai dari gugatan yang diajukan senior mereka di Harvard karena mereka merasa Mark telah mencuri ide mereka dan juga tawaran bantuan mencurigakan dari Sean Parker (Justin Timberlake); pendiri website Napster. Tentu saja jalan yang ditempuh seorang Mark Zuckerberg untuk menjadi 'the youngest billionaire in history' tidak akan mudah.

Saya terkesan sekali dengan deretan cast yang dipilih David Fincher untuk film ini, mulai dari Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, sampai Justin Timberlake. Mereka semua bermain sangat brilian, tidak terkecuali Timberlake. Terus terang tadinya saya sangat meremehkan kehadiran Timberlake disini, saya pikir ia hanya akan menjadi 'perusak', but hey, saya salah! Justin Timberlake bermain apik disini, ini film pertamanya yang menurut saya berhasil membuat penonton yakin bahwa selain bernyanyi, ia juga bisa berakting. Kalau berbicara tentang Jesse Eisenberg, OH MY GOD, saya tidak tahu harus berkata apa! Siapa lagi yang cocok memerankan Mark Zuckerberg selain Eisenberg? Fincher tahu itu, ia tahu kalau Eisenberg adalah pilihan yang sangat tepat! Mulai dari wajah dan kesan 'geek', sampai kualitas akting yang superb. Dialog-dialog diucapkan Eisenberg dengan sangat meyakinkan dan sempurna tanpa cela. Awesome job! The Social Network bertopang pada skrip yang luar biasa dan akting para pemainnya. Masalah satu-satunya mungkin hanya ada pada ending yang menggantung, tetapi menurut saya memang sebaiknya dibuat seperti itu, jadi penonton bisa menebak-nebak sendiri bagaimana kelanjutannya. Akhirnya ada satu lagi film yang menerobos masuk kedalam list 'Best Movies 2010' versi Jagoan Movies! Woohoo!





Selasa, 02 November 2010

REVIEW: MEGAMIND 3D




































"Happy Metro Man day, Metro City!"

Setelah sukses besar dengan 'How to Train Your Dragon' pada awal tahun 2010, kali ini DreamWorks Animation kembali dengan animasi terakhirnya pada penghujung tahun ini, Megamind. Menggandeng para komedian yang terkenal untuk mengisi suara pada karakternya seperti Will Ferrell, Tina Fey, dan Jonah Hill. Tidak ketinggalan aktor kawakan, Brad Pitt yang turut menyumbangkan suara meskipun hanya muncul beberapa menit saja. Ada pula suara Ben Stiller dan Justin Theroux yang turut meramaikan animasi ini. Sang sutradara sendiri, Tom McGrath adalah sutradara yang telah berhasil membuat Madagascar (2005) dan Madagascar 2 (2008). Menurut saya Megamind lumayan berhasil untuk jadi tontonan yang menghibur, akan tetapi karena tahun ini era animasi sedang heboh-hebohnya, entah apakah Megamind mampu melekat dengan baik di hati penonton?

Megamind (Will Ferrell) adalah penjahat yang sangat ingin menaklukkan sebuah kota bernama Metro City. Namun sayang, Metro City sudah mempunyai seorang pahlawan super yang dipuja warga yaitu Metro Men (Brad Pitt). Metro Men dan Megamind sudah saling mengenal sejak kecil dan tentu saja Metro Men selalu berada jauh diatas Megamind dalam hal apapun. Sekarang pun sama, setiap kali ia mencoba merebut Metro City dari Metro Men, usahanya selalu gagal. Namun siapa sangka kalau tiba-tiba usaha Megamind untuk melenyapkan Metro Men berhasil! Tetapi setelah kepergian Metro Men, Megamind malah merasa bosan dan tidak ada tantangan lagi dalam menjalani hidup. Akhirnya Megamind memutuskan untuk membuat dan melatih seorang superhero baru yang ia beri nama, Titan (Jonah Hill). Megamind berharap kehadiran Titan bisa mengisi kekosongan dan kejenuhan dalam hatinya setelah ditinggal Metro Men.

Saya berkesempatan menyaksikan Megamind 3D lebih dulu pada pemutaran perdananya hari Sabtu kemarin. Seru sekali karena screening tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh superhero seperti Hellboy, Batman, Wonder Woman, Ultraman, dll. Sayang saya tidak membawa kamera sehingga tidak bisa mengabadikan momen tersebut. Faktor 3D yang ada disini tidak terlalu spesial, maka bagi anda yang ingin mengirit ongkos nonton yaa tidak perlu menonton versi 3D-nya. Cerita tentang superhero memang selalu menarik untuk ditonton, apalagi kalau yang bisa diterima oleh segala macam usia. Megamind termasuk salah satunya, menurut saya film ini bisa diterima mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Sayang, mulai pertengahan memang intensitas cerita sedikit mengendor dan cenderung dipaksakan sehingga saya merasa bosan dan tidak tertarik lagi untuk mengetahui kelanjutannya. Secara keseluruhan, Megamind tentu bukanlah sebuah animasi yang gagal. Namun jika dibandingkan dengan 'superhero' animasi tahun ini seperti Toy Story 3, Despicable Me, dan How to Train Your Dragon; rasanya Megamind kurang beruntung. :)





Jumat, 29 Oktober 2010

REVIEW: LIFE AS WE KNOW IT




































"A comedy about taking it one step at a time."

Katherine Heigl and Josh Duhamel at one frame? Ohh..I loveeee it! Saya tidak masalah dengan keputusan Heigl untuk terus bermain dalam film romantic-comedy karena memang ia sangat cocok di jalur ini. Lalu Duhamel juga membuktikan kalau ia bukan cuma bermodalkan 'pretty face'. Life as We Know It memang tidak istimewa dalam segi cerita, semua sudah tertebak, tapi itulan rom-com. Ketika menonton sebuah film rom-com, kita tidak perlu memusingkan alur cerita dan sebagainya, selama film tersebut bisa menghibur kita, menurut saya itu sudah cukup. Film ini menghibur saya mulai dari awal hingga akhir, terlepas dari cerita klise yang diusung, para pemain disini berhasil membangun chemistry yang enak untuk diikuti.

Beberapa tahun yang lalu Holly (Katherine Heigl) dan Messer (Josh Duhamel) diatur agar melakukan kencan buta oleh sahabat mereka masing-masing, Alison (Christina Hendricks) dan Peter (Hayes MacArthur). Namun sayang sekali, rencana tersebut gagal total, bahkan Holly dan Messer malah menjadi musuh bebuyutan yang saling cerca setiap kali bertemu. Sampai Alison dan Peter menikah dan mempunyai seorang bayi, mereka sering bertemu dalam berbagai acara keluarga. Suatu hari, Alison dan Peter mengalami kecelakaan dan meninggal. Pengacaranya membacakan wasiat yang bertuliskan bahwa hak asuh anak mereka, Sophie, jatuh ke tangan Holly dan Messer. Bagaimana bisa pasangan yang selalu bertengkar setiap kali bertemu ini harus tinggal dalam satu atap dan mengurus bayi? Namun perlahan benih cinta mulai tumbuh di hati mereka dan secara akhirnya mereka mulai terbiasa dengan keluarga kecil yang baru ini.

See? Tidak ada yang special dari segi cerita, siapapun yang menonton pasti sudah bisa menebak kemana cerita ini akan berakhir. Namun, lelucon-lelucon yang hadir dari awal film hingga akhir berhasil menghibur saya. Apalagi sang bayi, Clagett bersaudara, sangat lucu dan pintar sekali dalam berakting! Melihat tingkah pola bayi tersebut saja saya sudah sangat terhibur. Didukung juga dengan akting Heigl dan Duhamel yang tidak kaku, sepertinya chemistry diantara mereka terjalin dengan baik. Masalah ending yang sangat amat 'predictable', menurut saya tidak masalah. Menonton film rom-com memang terkadang harus mengesampingkan logika. Intinya, Life as We Know It merupakan sebuah tontonan yang seru untuk ditonton. Wajib tonton bagi anda yang memang pecinta rom-com, apalagi kalau fans berat Heigl dan Duhamel. Selamat nonton guys! :)





Kamis, 21 Oktober 2010

REVIEW: EAT PRAY LOVE




































"You don't need a man. You need a champion."

Eat Pray Love diangkat dari novel best seller berjudul sama karya Elizabeth Gilbert. Saya sendiri sudah membaca novelnya dan meskipun menurut saya novelnya tidak terlalu bagus, akan tetapi tema cerita yang merupakan 'based on a true story' pengarangnya membuat saya tertarik. Apalagi nama Bali memegang peran penting didalam cerita tersebut. Ketika mendengar kabar kalau Eat Pray Love akan difilmkan, tentu saja saya senang. Pemeran utamanya pun adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi seperti Julia Roberts, Javier Bardem, James Franco, dan Billy Crudup. Aktris kawakan asal Indonesia, Christine Hakim juga mendapatkan peran dalam film ini. Begitu juga dengan aktor baru asal Bali, Hadi Subiyanto. Entah karena harapan yang terlampau tinggi atau memang filmnya gagal, menurut saya visualisasi Eat Pray Love bahkan jauh lebih buruk ketimbang novelnya.

Liz Gilbert (Julia Roberts) sudah menikah dengan Stephen (Billy Crudup) dan memiliki kehidupan yang tampak sempurna. Suaminya tampan, tinggal di sebuah rumah yang bagus, karirnya sendiri juga sukses. Namun ada satu hal yang tiba-tiba terbesit di kepala Liz, apa dia bahagia dengan pilihan hidupnya ini? Tiba-tiba tanpa alasan yang jelas Liz memutuskan untuk bercerai dari Stephen, meninggalkan pekerjaannya, serta menjual segala harta benda yang dimilikinya untuk pergi berkeliling selama setahun penuh ke tiga negara, yaitu Italia, India, dan Bali; Indonesia. Tujuannya yaitu agar menemukan apa yang sebenarnya ia cari dalam hidup. Dalam perjalanannya di Italia, Liz sangat menikmati cita rasa makanan disana. Di India, Liz menemukan kekuatan doa dan hal-hal berbau religi. Terakhir di Bali, Liz berusaha menyeimbangkan hidupnya serta menemukan cinta sejatinya.

Tentu saja Liz bukanlah contoh yang patut ditiru, pemikirannya dan keputusan yang diambil mungkin terlihat seru dan menyenangkan, akan tetapi menurut saya terlalu naif. Apalagi karakternya terlihat seperti seorang yang plin plan dan tidak punya pendirian. Saya tidak tahu apakah kisah yang dialami sang pengarang buku betul-betul sama seperti yang tertulis di dalam buku, pastinya ada yang dikurangi dan ditambahkan. Kalau untuk review film ini, terus terang filmnya sendiri membosankan menurut saya. Scene di Italia masih lumayan menghibur, memasuki scene India, oh my God..saya bosan sekali. Rasanya ingin cepat-cepat memasuki scene Bali. Beruntung potret pemandangan Bali terlihat sangat indah, Ubud yang hijau dan rindang pasti membuat masyarakat luar negeri ingin berkunjung. Akting Julia Roberts termasuk baik, namun sepanjang film tidak ada chemistry yang dihasilkan sama sekali dengan lawan mainnya, mulai dari Crudup, Franco, sampai Bardem. Christine Hakim muncul hanya beberapa menit. Porsi lebih banyak didapatkan Hadi Subiyanto yang berperan sebagai Ketut Liyer. Hadi bermain sangat baik, meskipun ini film layar lebar pertamanya. Intinya, Eat Pray Love menurut saya gagal dalam proses eksekusi cerita novel ke layar lebar. Saya hanya menikmati pemandangan Bali dan senyum Hadi Subiyanto disini, ohh..dan tentu saja James Franco!





ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...