Selasa, 02 Juni 2015

SAN ANDREAS (2015) REVIEW : Big Disaster, Big Holes Inside [With 3D Review]


Sudah banyak memang yang mencoba untuk mengangkat film-film bertema bencana alam. Roland Emmerich contohnya, sutradara satu ini sering sekali membuat film-film bertema serupa. Dan karyanya yang paling fenomenal adalah 2012, yang diangkat berdasarkan ramalan tentang kiamat di tahun 2012. Filmnya memang tak berhasil menuai pujian dari para kritikus, tetapi film ini berhasil menarik minat penonton sehingga menimbulkan antrian panjang di mana-mana.

Di tahun ini, film tentang bencana alam kembali hadir tetapi bukan dari sutradara yang sama. Brad Peyton, sutradara dari Journey 2 : Mysterious Island dan Cats & Dogs 2 ini mencoba hal baru dalam rekam jejak filmnya. San Andreas, judul film terbaru dari Brad Peyton yang mengangkat bencana alam gempa bumi sebagai landasan ceritanya. San Andreas pun mempunyai nama-nama besar seperti Dwayne Johnson dan Alexandra Daddario di deretan pemainnya.

Memiliki nama-nama besar seperti Dwayne Johnson, Carla Gugino, bahkan Alexandra Daddario. Juga, memiliki visual efek yang megah seperti apa yang ditunjukkan lewat trailernya, tak lantas membuat film terbaru dari Brad Peyton ini memiliki sesuatu yang segar di dalamnya. San Andreas hanyalah sebuah film bertema bencana alam yang generik dan masih menawarkan sesuatu yang sama dengan film-film bertema sama sebelumnya. 


San Andreas memang tak punya plot yang spesial, segalanya hanyalah kumpulan dari segala macam unsur klise dalam film bertema sama dan bergabung menjadi satu. Ray (Dwayne Johnson) seorang penyelamat yang hidup penuh tantangan memiliki keluarga yang sudah berantakan. Ray mendapat gugatan cerai dari sang Istri, Emma (Carla Gugino) yang akan berpindah tempat tinggal di rumah sang pacar baru, Daniel (Ioan Gruffudd).

Bersama dengan Emma, Ray memiliki anak bernama Blake (Alexandra Daddario) dan seorang lagi yang sudah meninggal. Dengan adanya kejadian tersebut di dalam keluarganya, Ray berusaha untuk tetap mencintai keluarganya. Tetapi, ketika Blake akan pergi bersama dengan Daniel, gempa bumi besar datang menyerang kota California. Ray dan Emma berusaha menemukan dan menyelamatkan Blake yang terjebak karena gempa bumi yang meluluh lantakkan seluruh kota. 


Dengan cerita yang sesederhana itu, San Andreas memiliki durasi sepanjang 112 menit untuk menjalankan segala konflik ceritanya. Tak pelak, San Andreas pun terasa terlalu panjang dengan konflik yang sebenarnya tak punya sesuatu yang istimewa. Carlton Cuse selaku penulis naskah pun seperti mencoba menyelipkan berbagai macam intrik untuk mengulur durasi dari San Andreas. Sehingga, Brad Peyton bisa memamerkan kemegahan visual efek bencana alam sebagai sajian utama film San Andreas.

Memang, rasanya terlalu naif ketika mengharapkan sesuatu yang segar dalam plot cerita untuk film sejenis San Andreas. Film garapan Brad Peyton ini pun seperti sebuah omnibus yang tak dapat bersatu di setiap pengembangan karakternya. Sehingga, akan terasa adanya beberapa segmen yang berdiri sendiri dengan performa yang berbeda-beda. Tetap, San Andreas memiliki sajian yang klise dan luar biasa tak masuk akal untuk menyampaikan ceritanya.

Penonton pun akan dengan mudah terakses dengan cerita di dalam film ini. Saking mudahnya akses tersebut, penonton pun akan tahu seperti apa film ini akan berakhir dan berhasil menebak adegan seperti apa selanjutnya. Hal ini karena Carlton Cuse mengambil template yang sama dari beberapa film dengan tema serupa dan digabungkan ke dalam naskah film San Andreas. Sehingga, segala bentuk konflik atau adegan klise di film ini pun terangkum di dalamnya. 


Layaknya film-film Roland Emmerich, sepertinya San Andreas garapan Brad Peyton ini pun terpengaruh dengan bagaimana Roland Emmerich memberikan intrik yang luar biasa tidak masuk akal bagi penontonnya. Kesampingkan bagaimana proses gempa bumi di dalam film ini yang mungkin masih menjelaskan hal tersebut dengan berbagai penuturan ilmiah yang terasa meyakinkan. Tetapi, bagaimana para karakter melewati bencana alam yang sangat ilmiah tersebut terasa konyol untuk disaksikan.

Ada beberapa adegan yang akan terasa memudahkan bagaimana seseorang menghadapi sebuah bencana yang sangat besar. Sehingga, bencana alam tersebut akan terasa tidak nyata bagi penontonnya. Dengan adanya adegan-adegan seperti itu, hal ini menegaskan bahwa San Andreas hanyalah sebuah medium untuk memamerkan visual efek yang besar dan mengedepankan sekuens-sekuens aksi yang maunya ingin memberikan tensi untuk ceritanya. Sayangnya, tensi itu terasa mengapung tetapi ada beberapa poin yang masih membuat San Andreas menyenangkan untuk diikuti. 


San Andreas masih memiliki kekuatan dalam jajaran pemainnya. Terlebih adegan final di film ini yang menguatkan sisi humanis dalam porsi drama keluarganya. Dibandingkan dengan beberapa poin yang menjadi kekurangan film ini, jajaran pemain dan paruh akhir film ini masih memberikan satu tensi yang kuat sehingga film ini tidak lemah seutuhnya. Drama keluarga yang kuat dengan beberapa jokes –di luar adegan yang tidak masuk akal –di dalam filmnya masih bisa membuat penontonnya terhibur.

Maka, film garapan Brad Peyton ini memang hanyalah sebuah medium untuknya dalam memamerkan segala visual efek yang megah untuk adegan-adegan bencana alamnya. Tetapi, San Andreas memiliki keterbatasan dalam menyampaikan setiap intrik ceritanya sehingga tensi tersebut akan terasa tertarik ulur karena durasi yang terlalu panjang untuk plot yang setipis kertas. Tetapi, di paruh akhir, San Andreas tahu apa yang membuat film ini masih layak untuk disaksikan oleh penontonnya. 


Dengan visual efek yang megah, tentu Brad Peyton menginginkan filmnya disaksikan dalam format tiga dimensi. Berikut review keseluruhan tentang format tiga dimensi dalam film San Andreas

POP OUT
Tak terlalu banyak adegan Pop-Out untuk film San Andreas dalam format tiga dimensi. Hanya beberapa percikan air dan debu yang bisa menyapa penontonnya. Sayang, film ini seharusnya direkam lewat native 3D bukan converter.

DEPTH
Masih ada beberapa adegan di dalam film San Andreas yang menonjolkan kedalaman sehingga apa yang kita lihat tampak nyata. Tapi, hal itu pun tidak terlalu kuat. 


Dengan beberapa poin dalam format tiga dimensi yang terlalu lemah, San Andreas mungkin akan lebih menyenangkan disaksikan hanya dalam format dua dimensi. Tak seperti film Brad Peyton terdahulu, Journey 2 : Mysterious Island, yang tahu dalam memanfaatkan format tiga dimensi, San Andreas merupakan penurunan dalam format tiga dimensinya.

Minggu, 31 Mei 2015

PITCH PERFECT 2 (2015) REVIEW : The Barden Bellas Still On The Right Notes.


Sebuah sekuel memang memiliki tugas yang susah untuk meyakinkan penontonnya. Jelas, para penonton akan membandingkan sekuelnya dengan film sebelumnya. Maka dari itu, sebuah sekuel seharusnya bisa membuat film yang lebih bagus dari film pertamanya atau setidaknya menyamai kualitas film pertamanya. Dan kali ini, giliran dari sebuah film bertema musikal, Pitch Perfect, yang mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan sebuah sekuel.
 
Pitch Perfect sendiri pada awalnya diangkat dari sebuah buku berjudul sama. Film pertamanya pun disutradarai oleh Jason Moore dan mendapat pujian dari para kritikus. Sayangnya, di film kedua, film ini mengalami pergantian Sutradara dari Jason Moore ke Elizabeth Banks. Dan Pitch Perfect 2 adalah karya pertama dari Elizabeth Banks menjadi seorang sutradara. Jelas, hal ini menjadi sebuah kegetiran dari para fans Pitch Perfect yang telah menunggu sekuelnya.

Tetapi, Jason Moore tak melepaskan begitu saja proyek sekuel dari Pitch Perfect. Dia masih bertanggung jawab sebagai seorang produser untuk mengawasi kinerja dari Elizabeth Banks. Kay Cannon pun masih bertanggung jawab untuk menuliskan naskah bagi sekuel Pitch Perfect. Memang, Pitch Perfect 2 tak memiliki performa maksimal atau sesegar film sebelumnya. Tetapi, Pitch Perfect 2 masih tahu irama yang seperti apa untuk menyampaikan ceritanya. 


Pitch Perfect 2 memang masih meneruskan apa yang berhenti dalam film sebelumnya. Empat tahun setelahnya, The Barden Bellas memang menjadi grup acapella terkenal yang pergi tur ke beberapa tempat. Hingga suatu ketika, sebuah insiden terjadi saat The Barden Bellas sedang tampil di hadapan Presiden. Fat Amy (Rebel Wilson) melakukan kesalahan fatal yang membuat The Barden Bellas harus dikecam di beberapa tempat.

The Barden Bellas pun harus diskors oleh komite Acapella dan tidak boleh melakukan tur. Kecuali, dia bisa memenangkan Piala Dunia Acapella. Beca (Anna Kendrick) sebagai pemimpin The Barden Bellas pun harus mencari cara agar bisa membuat The Barden Bellas lepas dari hukuman. Tetapi, Beca pun harus terpecah konsentrasinya karena dia telah diterima magang di sebuah label rekaman besar dan hal ini adalah impian Beca sejak lama. 


Poin penting yang berhasil dipatahkan di sekuel Pitch Perfect 2 adalah pakem cerita yang sama. Di Pitch Perfect 2, pakem cerita yang digunakan memang tak seperti menggunakan template yang sama dengan sekuelnya. Intrik dan konflik yang digunakan pun akan terasa lebih kompleks, karena akan menyerang setiap karakter di dalam The Barden Bellas. Tetapi, kekompleksan cerita itu terasa tersampaikan secara kurang bergairah oleh Elizabeth Banks.

Elizabeth Banks memang terkesan tahu benar potensi Pitch Perfect 2 menjadi pencetak uang di dalam Box Office. Maka dari itu, dia berusaha untuk mengarahkan sekuel ini agar tetap mengundang para penonton untuk menyaksikan filmnya. Hal ini berhasil, karena Pitch Perfect mampu menjadi yang pertama di deretan Box Office. Elizabeth Banks pun tergiur dengan semua hal itu dan tak mendapat gairah untuk mengarahkan Pitch Perfect menjadi sesuatu yang lebih segar dari film pertamanya. 

Terlihat benar bagaimana setiap subplot cerita yang sebenarnya sudah tersusun dengan baik itu kurang tersampaikan dengan baik. Sehingga, di pertengahan filmnya, Pitch Perfect 2 benar-benar kehilangan poin yang bisa mengikat penontonnya agar mengikuti setiap konfliknya hingga akhir film. Pun, beberapa subplot pun ada yang datang sia-sia. Sehingga, hal itu malah terkesan hanya ada untuk menambah durasi dari film tersebut dan malah terasa menarik ulur tensi film ini sendiri.

Beruntung, Pitch Perfect 2 masih tahu ritme seperti apa yang akan mereka gunakan agar tetap menjadi sweetheart bagi setiap orang. Key Cannon masih bisa menyelipkan referensi pop sebagai selingan agar film ini masih bisa membuat penontonnya setidaknya tertawa saat menyaksikannya. Terutama tingkah lucu Fat Amy yang masih bisa menjadi kunci agar Pitch Perfect 2 tidak menjadi sebuah sajian komedi musikal yang mulai kehilangan gairah untuk sekuelnya. 

Selain jokes yang masih bisa membuat penontonnya untuk tertawa, Pitch Perfect 2 pun masih tahu keunggulan dari franchise ini. Apalagi kalau bukan daftar lagu yang di-mash up atau dinyanyikan ulang oleh para deretan ensemble cast di film ini. Ya, Pitch Perfect 2 masih memiliki daftar panjang lagu yang akan segera dicari oleh penontonnya setelah kredit titel film ini bergulir. Tak hanya lagu-lagu yang sudah ada, tetapi ada satu lagu orisinil yang sengaja dibuat di dalam film ini.

Memang, Pitch Perfect 2 tak mampu menyaingi kualitas dari film pertamanya yang sangat segar dalam genre musikal. Tetapi, Pitch Perfect 2 masih memiliki semangat yang sama untuk membangun film ini sebagai feel-good film yang setidaknya mampu tampil menghibur penontonnya. Hal itu dikerahkan penuh lewat jokes yang masih mengundang tawa dan deretan panjang lagu-lagu yang ditampilkan. And it’s still Aca-fun to sing along with The Barden Bellas

Sabtu, 30 Mei 2015

SPY (2015) REVIEW : A Complete-Packaged Spy Movies Spoof


Paul Feig memang perlu mendapat sorotan dalam rekam karirnya beberapa tahun terakhir. Setelah karya debutnya, Bridesmaids berhasil mendapatkan pujian oleh para kritikus, Paul Feig selalu mengepakkan sayapnya lebih lebar dalam genre serupa. Komedi, genre satu ini memang akan memikul beban yang lebih berat. Karena sang sutradara harus tahu bagaimana mengemas sebuah komedi yang renyah dan memecahkan tawa penontonnya.

2 tahun lalu, The Heat adalah bukti bahwa Paul Feig masih mampu membuat tawa renyah penontonnya. Maka, tak salah jika kali ini Paul Feig mendapatkan kesempatan lagi untuk membuat film dengan genre yang sama. Spy, menjadi proyek film terbaru dari Paul Feig yang memiliki nama-nama besar dalam jajaran ensemble cast. Jason Statham, Jude Law, Rose Byrne, dan Mellisa McCarthy yang selalu menjadi langganan Paul Feig di setiap film komedinya.

Memiliki tema yang sama dengan The Heat, Spy adalah sebuah film action-comedy yang jauh lebih besar kemasannya daripada film Paul Feig sebelumnya. Maka, tak salah jika para penonton mengharapkan sesuatu yang lebih besar dan lebih menyenangkan ketimbang The Heat. Apalagi, ada nama seperti Jason Statham yang sudah memiliki jam terbang tinggi di genre film aksi. Dan Paul Feig ternyata menyanggupi apa yang sudah diharapkan oleh penontonnya.


Spy adalah sebuah spoof terhadap film-film agen rahasia yang selama ini sedang beredar. Menceritakan tentang Susan Cooper (Melissa McCarthy) yang bekerja di FBI sebagai operator atau analis yang membantu agen rahasia, salah satu agen rahasia yang dia bantu adalah Bradley Fine (Jude Law). Di saat menuntaskan misinya yang paling baru, Agen Fine harus berhadapan langsung dengan musuh utamanya yaitu Rayna Boyanov (Rose Byrne).

Agen Fine pun diserang oleh Rayna Boyanov dan hilang jejak. Susan merasa dia harus menyelamatkan dan mencari agen Fine dalam keadaan apapun. Karena Susan memendam rasa yang berbeda terhadap agen Fine, dia pun menawarkan diri menjadi seorang agen yang akan menyelesaikan misi yang diberikan kepada agen Fine. Setelah melewati beberapa uji coba, Susan pun mendapatkan identitas baru yang dapat dia gunakan untuk menjalankan misinya. 


Kekuatan di setiap komedi milik Paul Feig adalah bagaimana Feig berhasil mengemas dialog-dialog yang witty di setiap filmnya. Dan hal itu pun terulang kembali di dalam film terbaru milik Paul Feig. Meski, Spy tetap mengemas dirinya sebagai film aksi, tapi bagaimana Paul Feig mengemas komedi di dalamnya pun tetap mengejutkan penontonnya. Sehingga penonton akan dengan mudah tertawa dengan komedi-komedi yang disebar oleh Paul Feig bak ranjau.

Jika anda telah menonton trailernya terlebih dahulu, maka tak perlu khawatir segala gong komedinya sudah dikeluarkan. Karena ada banyak sekali jokes yang disimpan oleh Paul Feig yang digunakan sebagai senjata ampuh pendorong penonton untuk menyumbangkan tawanya saat menyaksikan film ini. Tiada henti, Paul Feig mengganjar penontonnya dengan dialog-dialog cerdas pengundang tawa serta guyonan slapstick beberapa kali agar penontonnya merasakan kesenangan dalam level tertinggi di dalam filmnya.

Film ini jelas menyindir segala macam film agen rahasia, semacam James Bond, yang selalu memasang agen rahasia pria sebagai penuntas misinya. Belum lagi representasi wanita-wanita seksi yang lincah bermain senjata di setiap film agen rahasia yang mampu dipatahkan oleh Paul Feig di dalam film Spy lewat karakter Susan Cooper. Pematahan stereotyping yang terjadi di dalam film agen rahasia berhasil disampaikan lewat beberapa dialog dan representasi karakternya dengan baik. Juga, spoof dalam opening credit sequences yang menyerang habis-habisan film Skyfall milik James Bond. 


Tak melulu tentang komedi, Paul Feig pun berhasil memberikan intrik menarik di dalam filmnya. Memberikan sedikit bumbu twist and turn yang setidaknya membuat film Spy ini tak melulu berada dalam jalan cerita yang klise. Pun, dengan kemasan sekuens aksi yang juga tak main-main. Ledakan, tembakan, car-chase yang tetap membuat film ini benar-benar memiliki definisi sebenarnya tentang sebuah film musim panas yang menyenangkan.

Segala komedi yang diarahkan dan dituliskan oleh Paul Feig pun tak ada artinya jika tak ada aktris kesayangannya, Melissa McCarthy. Kali ini, dia bermain dalam porsi yang pas sehingga tak terlalu menganggu seperti di The Heat. Melissa McCarthy pun berhasil menyampaikan pesan komedi itu lewat aktingnya yang pintar. Dan yang perlu digaris bawahi dalam film ini adalah lakon Jason Statham yang akhirnya keluar dari zona amannya.

Jason Statham memang masih menjadi sosok agen yang garang seperti biasanya dalam film-film sebelumnya. Hanya saja, karakter yang dia mainkan di dalam film ini cukup berbeda dan berhasil menjadi sosok yang jenaka jika dibandingkan dengan citra dirinya selama ini. Jason Statham tak terlihat malu atau pun canggung memerankan karakternya yang sering dikerjai habis-habisan oleh Paul Feig dalam naskahnya. 


Jelas, Spy akan dengan mudah merebut perhatian penontonnya karena film yang diarahkan oleh Paul Feig ini adalah paket lengkap bagi penonton yang sedang butuh hiburan. Karena Paul Feig tak hanya menyenangkan penontonnya lewat sekuens aksi penuh ledakan, tetapi juga dikemas dengan dialog-dialog cerdas yang mampu mengundang tawa penontonnya. Dan film ini adalah bukti bahwa Paul Feig menjadi salah satu sutradara yang mampu diperhitungkan dalam genre ini.

Jumat, 22 Mei 2015

MAD MAX : FURY ROAD (2015) REVIEW : What A Lovely Movie To Ride


Menjadi salah satu film aksi legendaris di tahun 80an, Mad Max kembali hadir untuk mencari fans-fans baru yang akan menyukai seri film aksi satu ini. Mad Max sudah memiliki tiga seri yang menjadi sebuah pion film aksi yang berbeda. George Miller, dalang di balik seri-seri Mad Max kembali mengarahkan seri terbaru dari seri ini. Mad Max : Fury Road, diisi oleh bintang-bintang ternama dan Tom Hardy memiliki kesempatan untuk menggantikan Mel Gibson di deretan aktor utama.
 
George Miller memutuskan Mad Max : Fury Road menjadi sebuah sekuel dari seri Mad Max sebelumnya. Dengan selang waktu yang lama dari seri ketiga ke seri terbarunya, Mad Max : Fury Road akan mengemban tugas yang sangat sulit untuk mencuri perhatian penontonnya. Terutama, untuk penonton baru yang tidak pernah tahu siapa itu George Miller dan Mad Max-nya. Lantas, dengan adanya tugas yang sulit itu, George Miller menjanjikan sebuah film aksi yang tak akan pernah penonton lihat sebelumnya. 

Kesulitan penonton baru dalam mengonsumsi Mad Max sebagai sebuah film utuh adalah bagaimana karakter Max yang tak memiliki pembangunan karakter yang konkrit. Hal ini disebabkan oleh Mad Max : Fury Road yang dijadikan sebuah sekuel langsung dari seri ketiga. Penonton akan merasa kehilangan jejak atas motivasi yang dilakukan oleh Max untuk menjalankan plot ceritanya. Tetapi, George Miller tak akan memberikan plot berbelit sehingga penonton akan tetap menyukai film ini. 


Max (Tom Hardy) ditahan oleh suku-suku baru yang tak dia kenal. Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) adalah kepala suku yang membuat Max menjadi mangsanya. Darah adrenalin miliknya menjadi konsumsi salah satu War Boys (Nicholas Hoult) untuk bertahan hidup. Sayangnya, Max harus ikut dalam masalah yang ada di kota milik Immortan Joe. Ada seseorang yang dipercaya oleh Immortan Joe yang malah membelot dari Immortan Joe.

Sang pembelot itu bernama Furiosa (Charlize Theron) yang membawa kabur para istri dari Immortan Joe untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Immortan Joe pun menyuruh para War Boys untuk mencari dan menyerang Furiosa sebelum perang antar suku terjadi. Max yang menjadi infus adrenalin bagi salah satu War Boys pun secara tak langsung terjun dalam perjalanan panjang penuh tekanan dalam mencari Furiosa. Dan menurutnya, ini adalah kesempatan yang baik untuk melarikan diri. 


Dalam perjalanan panjang yang dilalui oleh Max, penonton akan diberikan sajian menarik oleh George Miller. Bukan plot, tapi ada tensi yang akan terjaga sehingga penonton tak diberi sedikit pun ruang untuk bernafas lega. Dalam 120 menitnya, Mad Max : Fury Road memiliki banyak sekali sekuens aksi yang tak pernah penonton rasakan sebelumnya. Berbagai macam mobil berbentuk aneh yang disebut War Rig hingga tata rias yang nyentrik dari para karakternya jelas memiliki poin tambah dari film arahan George Miller ini.

Berbagai macam cara mengemas sebuah sekuens aksi oleh George Miller diterapkan di film terbarunya. Mulai dari senjata, cara menyerang, dan berbagai hal yang akan membuat penontonnya pun terasa dipacu adrenalinnya. Meski sang sutradara sudah berumur 70 tahun, tetapi George Miller mampu memberikan visi baru di dalam filmnya sehingga apa yang disajikan akan dengan mudah disukai oleh penonton yang membutuhkan hal tersebut.

Plot cerita pun akan terasa sederhana tetapi ada pemahaman lain yang ingin disampaikan oleh film ini. Mungkin akan ada kebiasan karakter di film ini yang membuat penontonnya akan menanyakan beberapa hal. Max memang hanya menjadi sesuatu yang bias meskipun judul film ini menggunakan namanya. Dan, sorotan yang lebih besar itu akan jatuh kepada karakter Furiosa yang mengantarkan konflik penting dari film ini. 


Dengan adanya sorotan yang lebih kepada Furiosa, hal ini menonjolkan beberapa pemahaman yang sudah ingin dianggap sejajar. Pun, begitu dengan karakter-karakter wanita lain yang memang akan berpengaruh besar terhadap keseluruhan pergerakkan narasinya. Sehingga, George Miller ingin menggambarkan pemberontakan yang dilakukan oleh para wanita agar ingin terlihat sama dan tidak terlihat lemah di mata para kaum lelaki. Meski begitu, film ini pun tak serta merta menggambarkan hal itu secara gamblang, hanya saja dipindahkan mediumnya lewat naskah.

Percayalah dengan euforia di sosial media atau internet yang mengatakan bahwa Mad Max : Fury Road adalah film aksi terbaik tahun ini. Dengan adanya visi baru dari George Miller di usianya yang tak lagi muda, Mad Max : Fury Road akan mengantarkan penontonnya untuk merasakan sensasi yang menyenangkan dalam pengalaman sinematik mereka. Penonton baru mungkin akan terlihat kebingungan dengan penggalian karakter Max yang tak terlalu dalam, tetapi George Miller akan menumpulkan pertanyaan itu dengan segala sekuens aksi yang membuat mata tercengang.
 

Sabtu, 25 April 2015

AVENGERS : AGE OF ULTRON (2015) REVIEW : Different Takes for Avengers Sequel


Marvel Cinematic Universe fase kedua sudah mencapai konklusi dari segala bentuk spin-off superhero milik Marvel. Ditutup dengan megah oleh Guardians of The Galaxy, konklusi dari fase kedua ini pun berada di tangan Joss Whedon. Ya, dia kembali menggarap sekuel di mana segala dari superhero Marvel berkumpul dan menyerang musuh. Avengers : Age of Ultron menjadi sebuah proyek superhero yang sangat diantisipasi oleh semua orang, terutama para pecinta film-film superhero milik Marvel.

Fase kedua dari perjalanan Marvel Cinematic Universe ini memang memiliki perbedaan tone cerita yang kental. Terlihat bagaimana Iron Man 3, Thor : The Dark World, dan Captain America : The Winter Soldier yang sedang dalam posisi yang tersudutkan dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Begitu pun dengan Avengers : Age of Ultron yang akan terlihat lebih gelap dibandingkan film sebelumnya. Hal itu terlihat di berbagai trailer-nya yang menunjukkan bahwa para jagoan super ini sedang mengalami krisis yang sulit.


Identitas mereka sebagai superhero sedang dalam posisi yang tidak diharapkan. Setelah berhasil menyerang musuh di mana pun, Iron Man (Robert Downey Jr.), Captain America (Chris Evans), Thor(Chris Hemsworth), Hulk (Mark Ruffalo), Hawkeye (Jeremy Renner), dan Black Widow (Scarlett Johansson), malah menimbulkan kekacauan yang semakin banyak dan banyak yang membencinya. Hal ini mendorong Tony Stark ingin membuat suatu program yang dengan menjunjung misi perdamaian.

Ultron, proyek dicanangkan oleh Tony Stork sebagai program yang akan membuat dunia ini damai. Sayangnya, hal itu malah menyerang Tony Stark dan kawanannya sendiri. Ultron yang belum selesai dalam pembuatannya, tiba-tiba membangunkan diri dan berusaha untuk menghancurkan kawanan Avengers. Ultron melarikan diri dan mencoba untuk menguasai dunia dengan bantuan saudara kembar dengan kekuatan super yaitu Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron-Taylor Johnson).


Mencoba untuk memanusiakan para manusia super ini bukanlah hal baru yang pernah dilakukan di perfilman Hollywood. Avengers : Age of Ultron terlihat akan menggunakan formula yang sama dengan DC Comics Universe yang mencoba untuk memanusiakan dan menggelapkan nada cerita di film terbarunya. Akan ada beberapa cerita yang akan menonjolkan sisi humanis dari para Superhero di sekuel Avengersini, tetapi bukan tujuan seperti itulah yang diinginkan oleh Joss Whedon sebagai sutradara dan tentu saja Kevin Feige sebagai produser Marvel.

Avengers : Age of Ultronbukan mencoba untuk mengubah secara keseluruhan pakemnya menuju sesuatu yang gelap dan humanis layaknya apa yang dicoba oleh Nolan kepada Batman. Tetapi, Joss Whedon memberikan intrik yang lebih dalam Avengers : Age of Ultron ini agar memiliki sesuatu yang lebih dewasa atau tingkatan lebih lanjut di dalam filmnya. Di sinilah, keunggulan dari Avengers : Age of Ultron yang tak dimiliki di film Avengers yang pertama.

Akan ada perbedaan pakem dari seri pertama Avengers dengan seri keduanya. Di seri pertama, akan menitikberatkan pada bagaimana Avengersini menjadi sesuatu yang menyenangkan dengan plot yang lebih ringan. Dan juga digunakan sebagai tempat di mana para manusia super ini berkumpul untuk pertama kalinya. Sehingga apabila pakem tersebut digunakan kembali untuk film yang kedua, Avengers : Age of Ultron tak akan memberikan sesuatu yang berbeda dan terkesan formulaic.


Avengers : Age of Ultronmencoba untuk mencari sesuatu yang berbeda dari film sebelumnya. Dengan adanya kedalaman karakter di dalam filmnya, Avengers : Age of Ultron memiliki interestyang berbeda dibandingkan dengan film sebelumnya. Setiap karakter manusia super yang ada di Avengers : Age of Ultronterasa lebih hidup dan terasa lebih multidimensional dibandingkan dengan film Avengers sebelumnya. Dengan adanya pendalaman karakter ini, akan membuka akses bagi penontonnya untuk terbentuk relevansi dengan para karakter manusia super.

Dengan adanya kedalaman karakter di Avengers : Age of Ultron, setiap karakter superhero di dalam film ini pun memiliki porsi yang seimbang. Tak seperti film pertama di mana porsi besar ditujukan kepada Tony Stark dan Steve Rogers sebagai penggerak cerita. Naskah milik Joss Whedon memiliki pemaknaan yang dalam di setiap dialognya. Bukan hanya sebagai penggerak cerita dan basa-basi belaka, tetapi ada sesuatu yang terselip yang ingin disampaikan oleh Joss Whedon dengan dialog semantiknya yang dinamis dan cerdas.


Avengers tetaplah produk milik Marvelyang harus mengedepankan sesuatu yang menyenangkan sebagai penyeimbang tone cerita yang mulai kelam. Naskah dari Avengers : Age of Ultron masih diselipi jokes yang dengan mudah membuat penontonnya tertawa. Meskipun, kadar jokes itu lebih sedikit dibandingkan dengan filmnya yang pertama. Tetapi, sedikitnya kadar jokes yang ada di dalam film Avengers : Age of Ultron mungkin dibuat agar tidak merusak tensi cerita yang dibangun sangat apik oleh Joss Whedon.

Pun, dengan action sequencesyang jelas mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar dibandingkan dengan film pertamanya. Dengan bertambahnya karakter-karakter baru, film ini akan penuh sesak sehingga dalam eksekusi action sequences harus memiliki treatment yang lebih besar. Dan, Joss Whedon mampu menangkap segala keindahan dan kegilaan action sequences dengan sangat indah, juga diwarnai dengan visual efek yang megah tetapi memiliki emosi yang sangat kuat.


Dan inilah sebuah jawaban bagaimana sebuah sekuel memiliki tingkat kemenarikan yang berbeda dengan film sebelumnya. Avengers : Age of Ultron memiliki sebuah kedewasaan agar sebuah sekuel mencapai kasta yang lebih tinggi dibandingkan dengan film sebelumnya. Avengers : Age of Ultron memiliki tone cerita yang lebih gelap tetapi tak melupakan bagaimana sebuah film manusia super harus bisa mengedepankan unsur menyenangkan agar terasa lebih universal. Dan Joss Whedon tahu benar bagaimana dia menngarahkan Avengers : Age of Ultron agar menjadi paket lengkap itu.

Rabu, 08 April 2015

FILOSOFI KOPI (2015) REVIEW : Refleksi Dalam Secangkir Kopi


Seperti tak akan ada habisnya, adaptasi dari karya legendari milik Dewi Lestari kembali mewarnai perfilman Indonesia. Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh baru saja menyapa penontonnya di akhir tahun 2014 lalu dengan adaptasi yang masih kacau balau. Maka, kali ini giliran buku kumpulan cerita pendek milik Dewi Lestari, Filosofi Kopi, mendapatkan perhatian dari salah satu sineas Indonesia untuk dijadikan sebagai sebuah gambar bergerak.
 
Proyek ini mendapat antusias tinggi karena berada di tangan yang setidaknya sudah memiliki kredibilitas di bidangnya. Angga Sasongko, sutradara yang menangani Filosofi Kopi ini telah berhasil menelurkan karya-karya yang gemilang. Apalagi, Cahaya Dari Timur : Beta Maluku berhasil memenangkan Piala Citra dalam kategori Film Indonesia Terbaik. Maka, tak salah jika Filosofi Kopi akan dinanti-nantikan oleh para penikmat film Indonesia. 


Filosofi Kopi yang berawal dari sebuah cerita pendek Dewi Lestari ini menceritakan tentang sepasang sahabat bernama Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto). Mereka telah bersahabat sejak mereka masih berumur belia. Hingga suatu hari, mereka memutuskan untuk membuka kedai kopi yang didasari oleh bagaimana Ben menguasai segala jenis kopi. Jody pun hanya menangani bagian finansial dari kedai kopi tersebut yang dinamai Filosofi Kopi.

Tetapi, sebuah tantangan muncul dari seorang pelanggan yang ingin tahu kehebatan dari Ben. Dia memberikan tantangan agar Ben membuat sebuah kopi paling enak yang pernah ada. Tantangan itu disetujui Ben karena imbalan yang diterimanya begitu menggiurkan. Ben menghabiskan berhari-hari untuk meracik kopi terenak yang pernah ia buat. Setelah berhasil membuat kopi terenak versinya, seorang perempuan bernama El (Julie Estelle) mematahkan harapan Ben karena merasa ada yang lebih enak daripada kopi buatannya. 


Kesalahan sebuah film adaptasi adalah selalu memaksakan kehendak untuk setia terhadap sumber aslinya. Dan sekali lagi, medium untuk menyampaikan sebuah pesan lewat tulisan dan gambar jelas sesuatu yang berbeda. Akan ada sedikit perubahan yang dibutuhkan agar apa yang ditampilkan ke dalam sebuah gambar bergerak ini memiliki ruang gerak yang lebih luas tetapi padat dibandingkan sebuah buku atau cerita pendek.

Filosofi Kopi ini seperti tahu benar apa arti kata ‘adaptasi’ yang dimaksudkan untuk filmnya. Bukan hanya serta merta memindahkan setiap paragraf di dalam cerita pendek ke dalam naskah filmnya. Akan ada improvisasi dari Jenny Jusuf, selaku penulis skenario, untuk mengembangkan karakter-karakter yang memiliki cerita terbatas di dalam cerita pendeknya ke dalam naskah miliknya. Hal ini menjadi sangat bagus karena karakter Ben dan Jody menjadi sebuah karakter yang multidimensional.

Tak hanya berhasil membuat karakter-karakter yang akhirnya lebih multidimensional, pun juga memiliki dialog-dialog filosofis yang lebih dinamis. Jenny Jusuf tahu benar bagaimana mengadaptasi sebuah cerita pendek lawas milik Dewi Lestari dengan konflik-konflik yang memiliki relevansi dengan apa yang ada di sekitarnya. Jenny Jusuf dapat mengemas tren atau konflik masa kini tanpa lupa bahwa dia masih didasari dari konflik yang ada di dalam cerita pendek milik Dewi Lestari. 


Bagaimana pun juga, penentu dari segala jenis aspek di dalam film ini adalah Angga Sasongko selaku sutradara. Dan sekali lagi, Angga Sasongko menyanggupi segala ekspektasi dari penontonnya yang mengharapkan sebuah adaptasi yang bagus. Filosofi Kopi tak hanya sekedar membicarakan kedua orang sahabat dengan konflik kedai kopi mereka saja. Tetapi, ada sesuatu yang lebih dalam yang coba ditawarkan oleh Angga Sasongko dengan jalinan emosinya yang begitu kuat.

Angga Sasongko berhasil benar menjadikan Filosofi Kopi ini menjadi sebuah adaptasi yang sangat solid. Dengan konten yang ringan, Filosofi Kopi masih bisa menunjukkan performanya yang sangat prima. Meski ringan, akan ada simbol-simbol yang diselipkan untuk membahas Kopi dengan lebih dalam. Layaknya sebuah kehidupan, Kopi tak selalu terasa manis di lidah tetapi akan ada sisi pahit yang juga harus dirasakan oleh penikmatnya dan itulah hal yang ingin disampaikan Angga Sasongko di film ini. 


Tujuan Jenny Jusuf untuk membuat karakter Ben dan Jody menjadi lebih multidimensional adalah keputusan yang tepat untuk mengibaratkan setiap karakternya dengan Kopi sebagai medium refleksinya. Ben dan Jody pun tak melulu memiliki sifat manis yang gampang untuk dikagumi tetapi akan ada latar belakang yang pahit sebagai sokongannya. Sifat mereka yang saling bertolak belakang pun menjadi salah satu kekuatan film ini.

Ben yang berpegang teguh akan idealismenya, tetapi akan selalu ada Jody yang mencoba membangunkan Ben dengan sifatnya yang realistis. Dan begitulah manusia, bagaimana tetap ingin menjalankan apa yang menurutnya sesuai dengan kemauannya tetapi tetap mempertimbangkan segala aspek yang akan menjadi dampaknya. Tetapi, jika kedua sifat ini saling jalan berdampingan, tentu diri seseorang akan jauh lebih kuat. 

Kekuatan Angga Sasongko dalam mengarahkan film ini memang patut diacungi jempol. Berkatnya, Chemistry antara Chicco Jericho dan Rio Dewanto pun berhasil keluar dengan sangat baik di layar perak. Mereka pun seperti benar-benar sudah berteman sangat lama di kehidupan nyata. Akan terasa bagaimana Rio dan Chicco sangat menikmati bekerja bersama Angga Sasongko dalam satu proyek film. Pun, didukung segi teknis yang menghadirkan panorama-panorama indah juga dilengkapi soundtrack manis yang semakin meyakinkan Filosofi Kopi sebagai sebuah film dengan paket komplit.


Segala manis dan pahit akan selalu hadir di dalam hidup seseorang dan hal itu menjadi tujuan utama dari film Filosofi Kopi. Jenny Jusuf dan Angga Sasongko berhasil berkolaborasi dalam mengadaptasi sebuah karya lawas dari Dewi Lestari dengan berbagai pembaharuan yang akan terasa relevan dengan zaman sekarang. Filosofi Kopi memanfaatkan benar dalam mengartikan arti kata ‘adaptasi’ di dalam filmnya. Filosofi Kopi ini adalah karya Idealis dari Angga Sasongko tetapi dengan kemasan yang realistis, layaknya Ben dan Jody.
 

Minggu, 05 April 2015

FAST & FURIOUS 7 (2015) REVIEW : One Last Ride, For Paul


Sebagai salah satu franchiseterbesar di perfilman Hollywood dan sudah mencapai seri ke enam, Fast & Furious tentu memiliki banyak fans setia. Meski, pakem cerita dari Fast & Furious pertama hingga seri terakhirnya sudah memiliki banyak perbedaan. Tetapi, Fast & Furious tetap saja menjadi salah satu franchise yang dinantikan kemunculannya bagi semua orang dengan timeline cerita yang mulai menarik. Terlebih, dengan mid-credit scene di seri ke enamnya.
 
Tahun ini, Fast & Furious hadir dengan seri terbarunya untuk melanjutkan timeline cerita dari Fast & Furious 6. Justin Lin, sebagai sutradara, meninggalkan seri ini dan memindah tangankan tempat tertinggi itu ke tangan James Wan. Film ini pun sempat sedikit terhambat karena kabar duka yang menimpa salah satu pemainnya. Paul Walker, salah satu pemeran utama di film ini meninggal akibat kecelakaan mobil di saat proyek film ini sedang berjalan. 


Setelah timeline cerita yang memiliki kesinambungan yang menarik, di Fast & Furious 7 melanjutkan kisah dari seri nomor 6 dan berkesinambungan dengan seri yang ketiga. Di mana, Deckard (Jason Statham) membalaskan dendam adiknya yang sudah di serang oleh Dom (Vin Diesel), Brian (Paul Walker), Hobbs (Dwayne Johnson) serta kawanannya. Hidup mereka pun penuh dengan ancaman yang datang silih berganti yang disebabkan oleh Deckard.

Setelah kejadian na’as yang menimpa Hobbs, Dom dan Brian memutuskan untuk memburu Deckard untuk menangkapnya. Tetapi di tengah misinya untuk memburu Deckard, Dom dan Brian diberi tugas untuk mengambil barang yang sudah meretas sistem keamanan negara. God’s Eye, suatu sistem yang dapat menjadikan apapun menjadi sebuah ‘senjata’ ampuh untuk mengetahui keberadaan musuh. Dom dan Brian tahu hal tersebut berguna untuk memburu Deckard dan mau menerima misi tersebut.


Setelah Fast Five yang telah mencapai titik paling tinggi dari segala aspek filmnya, tentu mustahil ada seri lain dari film ini yang bisa melampaui seri kelima dari Fast & Furious. Benar juga, Fast & Furious 6mengalami sedikit kemunduran jika dibandingkan dengan seri kelimanya. Tangan hangat Justin Lin memang bisa membuat franchiseFast & Furious naik level. Meskipun, para fans akan merasa kecewa karena hilangnya pakem “balapan” yang ditawarkan sejak seri pertama. Tetapi, hal tersebut sudah diperbaiki lewat seri ke enam yang kembali menghadirkan pakem tersebut.

Maka, setelah kepergian Justin Lin dari bangku sutradara, Furious 7 pun berpindah tangan ke James Wan yang biasa menangani film-film horor. Hal ini pun membuat para penonton skeptis bahwa Furious 7 akan bisa tampil prima layaknya kedua seri sebelumnya. Tak di sangka, Furious 7 menjadi salah satu seri terbaik dari aksi Dom dan Brian. Memang tak tampil se-prima Fast Five dalam segi cerita, tetapi Furious 7 memberikan sesuatu yang lebih gila dan berbeda dibandingkan seri lainnya.

Jangan ragukan Fast & Furious dalam memberikan sekuens-sekuens gila menggunakan mobil balap. Akan selalu ada inovasi di setiap serinya saat mengendarai mobil balap. Begitu pun dengan seri terbaru dari franchise ini, James Wan memberikan kegilaan tanpa batas yang memang akan berada di luar logika manusia. Tetapi, inilah tujuan dari franchise ini bukan? Menyajikan kegilaan tanpa batas yang akan membuat penontonnya merasakan sensasi menyenangkan saat menontonnya. 


Akan ada banyak adegan dengan level kegilaan yang sangat besar dan megah. Bagusnya, James Wan pun bisa menghadirkan nyawa ke dalam setiap adegan sehingga rangkaian adegan itu tak hanya menjual kemegahannya tetapi juga ada tensi yang pas di dalamnya. Dan hal ini akan berdampak pada respon penonton yang tak akan berhenti berdecak kagum dan takjub dengan sekuens menyenangkan yang ditawarkan oleh James Wan ke dalam Fast & Furious 7.

Tak hanya decak kagum, tetapi ada sisi emosional yang akan terasa berbeda jika dibandingkan seri-seri sebelumnya. Untuk mengenang Paul Walker, James Wan dan Chris Morgan memberikan adegan penutup yang bisa membuat penontonnya menitihkan air mata. Pintarnya, mereka mengemas adegan perpisahan dengan Paul Walker dengan elegan. Mengemasnya lewat dialog-dialog indah penuh simbol dan makna yang dalam tentang suatu perpisahan dengan seorang sahabat. 


Furious 7 memang tak bisa serapi Fast Five dalam menjalankan setiap ceritanya. Terlalu banyak subplot cerita yang akhirnya membuat Furious 7 pun memiliki masalah dengan lubang-lubang di setiap ceritanya. Akhirnya, beberapa karakter pun memiliki kurang memiliki motivasi kenapa akhirnya dia harus ada di dalam filmnya. Pun, di sekuens paling akhir, akan terasa adanya tarik ulur emosi yang kurang tertangani dengan baik oleh James Wan. Dan hal itu disebabkan karena banyaknya Side Plot yang ditulis oleh Chris Morgan di dalam naskahnya yang tampil kurang rapi.

Naskah milik Chris Morgan pun memang sengaja tampil ringan dan biasa saja dengan penuh konflik klise yang pernah penontonnya lihat di berbagai film serupa. Ayolah, apakah kalian mengharapkan sesuatu penuh twist and turn untuk film Furious 7 agar bisa terlihat bagus? Toh, dengan segala macam plot yang ringan, James Wan masih bisa memberikan segala tensinya yang menyenangkan dan emosional sehingga Furious 7 bisa tampil prima dengan naskah dan plot yang ringan. 


Memang, Furious 7 tak bisa tampil serapi Fast Five yang sudah berada di level yang paling atas dari Franchise ini. Beberapa penuturan kisahnya mungkin akan terkesan masih berantakan sehingga terasa mengendur di adegan final-nya. Tetapi, James Wan berhasil membuat Furious 7 berada sedikit di bawah Fast Five dengan segala sekuens-sekuens gila yang didukung dengan camera work yang mendukung hal gila itu. James Wan berhasil menjadikan Furious 7 lebih terkenang di hati penontonnya and For Paul.

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...