Senin, 16 Februari 2015

KINGSMAN : THE SECRET SERVICE (2015) REVIEW : Suit Up and Ready for The Mission


Agen rahasia, pistol, dan misi adalah segelintir formula yang digunakan oleh beberap film genre spionase. James Bond 007 adalah sosok ikonik dan masih terus dinantikan setiap filmnya. Juga, franchise dari film Mission Impossible yang menggunakan formula yang sama dan tetap melanjutkan serinya meski tak sebanyak film Bond. Beberapa film spionase pun dibuat setidaknya untuk mengekor kesuksesan kedua film tersebut. Maka, hal ini juga menyerang Matthew Vaughn yang mencoba untuk menggarap sebuah film spionase.

Meskipun, Matthew Vaughn masih tak jauh-jauh dari zona amannya yaitu mengadaptasi komik ternama ke dalam layar lebar. Kick-Ass dan X-Men First Class adalah bukti bahwa Matthew Vaughn memiliki sepak terjang yang bagus dalam mengadaptasi sebuah komik. Tetap mengadaptasi komik milik Mark Miller, Kingsman : The Secret Service adalah adaptasi dari komik berjudul The Secret Service dan menjadi buku kedua dari Mark Miller yang diadaptasi oleh Matthew Vaughn. 


Kingsman : The Secret Service pada awalnya diperkirakan akan rilis pada bulan Oktober 2014. Kemunduran tanggal rilis ini mungkin menjadi sebuah bencana bagi film-film hollywood. Setelah banyak sekali film-film dua bulan ini yang juga mengalami pergantian slot tanggal rilis seperti Seventh Son dan Jupiter Ascending yang ternyata memiliki potensi flop dan konten yang buruk. Tetapi, Kingsman : The Secret Service berbeda, film arahan Matthew Vaughn ini memiliki konten yang sangat menyenangkan dan kuat.

Seorang pemuda badung bernama Eggsy (Taron Egerton) tiba-tiba diajak oleh Harry Hart untuk menjadi sebuah agen mata-mata. Kingsman adalah tempat para mata-mata di kota London berkumpul dan mendapatkan misi mereka. Tetapi, Eggsy harus melewati berbagai macam tes agar bisa menjadi salah satu agen mata-mata di Kingsman. Serta, menggantikan seseorang yang sudah terbunuh saat melakukan tugas.

Agen yang terbunuh itu sedang melakukan tugas untuk menyelamatkan seseorang yang berhubungan dengan Valentine (Samuel L. Jackson), seorang pengusaha kaya yang sedang ingin menguasai dunia. Rencana jahat Valentine adalah membenamkan chip pengontrol pikiran di dalam sebuah sim card yang dibagikan gratis kepada seluruh orang di dunia. Harry Hart dan segala orang yang ada di dalam Kingsman berusaha untuk menghentikan rencana jahat Valentine. 


Menjalankan tugas menjadi seorang mata-mata bukanlah hal yang mudah. Begitupun dengan mengarahkan film-film bertema seperti ini. Jelas, film bertema spionase memiliki formula yang hampir sama dari satu film ke film lain. Hanya saja, bagaimana formula itu bisa dikembangkan lebih luas dan diolah dengan baik oleh sang sutradara. Matthew Vaughn adalah salah satu yang berhasil mengolah formula-formula usang ini lewat film adaptasinya.

Misi Matthew Vaughn adalah bagaimana menjadikan film spionase-nya menjadi film yang menyenangkan, tak terlalu serius tetapi juga tak kacangan. Dengan cita rasa yang dimilikinya, Kingsman : The Secret Service ini dijadikan menjadi sebuah spoof di dalam film spionase yang tetap padat dalam bertutur dan menyenangkan. Dengan pakaian bersetelan lengkap, tentu Kingsman : The Secret Service ini sangat siap menyelesaikan misinya dalam menghibur penontonnya.

Matthew Vaughn menjadikan Kingsman adalah perpaduan antara X-Men First Class dan Kick-Ass yang sama-sama digarap olehnya. Eksekusi Kingsman : The Secret Service ini berhasil sehingga bisa memberikan pengalaman menonton yang sangat lengkap. Mulai dari cerita yang mampu berjalan lancar, porsi aksi yang juga masih mendominasi, serta komedi-komedi renyah yang dapat membuat penontonnya tertawa. 


Matthew Vaughn memberikan dark comedy yang renyah dan tepat sasaran. Belum lagi diselipi adegan-adegan tribut ke beberapa film-film spionase seperti James Bond dan yang lainnya. Juga, adanya beberapa referensi pop culture yang diolah menjadi jokes yang menarik meskipun bagi penonton yang kurang memahami masih bisa menerima guyonan itu. Tetapi, akan lebih terasa menyenangkan jika penonton lebih mengetahui beberapa referensi budaya pop itu karena akan menambah tingkat keasyikannya.

Jika membicarakan film mata-mata, jangan lupakan alat-alat canggih yang digunakan saat melaksanakan tugas. Kingsman : The Secret Service pun tak lupa menyelipkan alat-alat canggih yang menyenangkan. Sesuai dengan tone cerita Kingsman : The Secret Service yang classy, alat-alat canggih itu diselipkan ke barang-barang yang tak terduga. Dengan berbabagai macam alat-alat canggih yang tak terduga itu, setelah selesai menonton, para penonton pasti akan mengidam-idamkan alat canggih di dalam film Kingsman : The Secret Service.

Baku hantam dan adu tembak di dalam film Kingsman : The Secret Service pun menjalankan tugasnya. Tak hanya sekedar tembak sana-sini dan berisik, lebih dari sekedar itu karena akan banyak sekali adegan-adegan kekerasan yang jatuhnya menyenangkan dan terkenang setelah keluar dari bioskop. Meskipun, ada 12 menit adegan di gereja yang harus dipotong oleh LSF dan katanya itu adalah bagian terbaik dari Kingsman : The Secret Service. Tetapi tak perlu bersedih karena masih ada banyak adegan aksi yang menyenangkan.


Kingsman : The Secret Service mungkin masih sedikit terbatas dalam bertutur. Karena subplot yang mungkin terlalu banyak. Alhasil, ada beberapa latar belakang karakter yang tidak sebegitu tuntas dalam bercerita dan hal itu terjadi pada karakter Harry Hart. Yah, mungkin ada sekedar cerita atau adegan formalitas untuk menjelaskan kenapa Harry melakukan itu. Tetapi, adegan tersebut hanya terjadi begitu singkat dan tak terlalu memberikan dampak signifikan terhadap apa yang dilakukan oleh Harry di dalam filmnya. 

Tetapi, Kingsman : The Secret Service tak perlu banyak bercerita yang terlalu rumit karena akan membuatnya menjadi terlalu serius. Matthew Vaughn berhasil memberikan sebuah paket lengkap di dalam film adaptasi komiknya ini. Saat menyaksikan film spionase ini, penonton mendapatkan segala apa yang mereka inginkan mulai dari cerita, adegan aksi, serta komedi renyah dengan balutan adegan gore yang menyenangkan dan memorable. Ya, Kingsman : The Secret Service akan dengan mudah menjadi favorit para penonton. 

Selasa, 10 Februari 2015

NADA UNTUK ASA (2015) REVIEW : Tak Perlu Takut dalam Keterbatasan


HIV/Aids menjadi salah satu topik bahasan penyakit yang sering dibahas di dalam sebuah film. Beberapa film pernah mengangkat penyakit ini menjadi sebuah drama haru biru. Sayang, tak semua film bertemakan hal yang serupa mampu memberikan sebuah pengertian jelas tentang penyakit ganas ini. Semua masih terasa abu-abu dan menjadi sebuah film penyuluhan dengan metode yang sama antar satu film dengan film lainnya.

Seakan tak merasa jera, HIV/Aids kembali diangkat lagi ke dalam medium sebuah film. Kali ini giliran Charles Gozali yang berusaha mengangkat penyakit ganas ini menjadi sebuah drama kehidupan yang mencoba menginspirasi. Nada Untuk Asa yang digarap oleh sutradara Finding Srimulat ini memiliki potensi untuk menjadi film bertemakan sama tetapi dengan kemasan yang berbeda. Dibintangi oleh pemain-pemain handal seperti Acha Septriasa, Marsha Timothy, Wulan Guritno, dan Darius Sinathrya, maka film ini memiliki nilai lebih yang patut diperhitungkan. 


Lantas, apa yang berbeda dari Nada Untuk Asa? Tak ada yang berbeda dari cerita milik Nada Untuk Asa ini. Hanyalah kisah tentang dua orang wanita berbeda generasi yang sedang berjuang untuk hidup dengan penyakitnya. Nada (Marsha Timothy) mendapatkan penyakit ini dari Bobby (Irgi Fahreza), suaminya yang sudah berpulang. Bobby pada awalnya didiagnosa mengidap kanker paru-paru di saat-saat terakhir hidupnya. Tetapi, Gita (Nadila Ernesta) mencoba mencari tahu penyebab lebih kongkritnya. Nada merasa kaget atas penyakit yang ditularkan oleh suaminya ini. Dia merasa pesimis terhadap hidupnya.

Berbeda dengan Asa (Acha Septriasa), dari kecil sudah mengidap penyakit HIV dan harus terpaksa di-PHK oleh bosnya karena sang bos tahu dia mengidap HIV. Asa tetap menerima segala keputusan orang-orang dengan lapang dada. Asa tetap ceria menghadapi hari-harinya hingga akhirnya dia bertemu dengan Wisnu (Darius Sinathrya) di sebuah kafe. Wisnu mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan kepribadian Asa dan mereka selalu bersama-sama.

Kisah perjalanan Asa dan Nada dalam menghadapi penyakitnya inilah yang ditakutkan penontonnya untuk jatuh menjadi sajian penuh derai air mata yang berlebihan. Tak bisa disalahkan, karena penonton sudah terlalu sering ditawarkan film bertema sejenis yang digarap terlalu berlebihan. Tetapi, berbeda dengan Nada Untuk Asa milik Charles Gozali. Karena Nada Untuk Asa tak perlu didramatisir tapi mampu mengundang simpati penontonnya. 


Penonton akan dengan mudah masuk dan memiliki koneksi dengan karakter Nada dan Asa. Karena karakter-karakter yang terinspirasi dari sosok nyata yang diperankan oleh Aktris-aktrisnya ini berhasil memiliki nyawa yang sangat kuat. Tentu itu berkat performa gemilang dari Marsha Timothy dan Acha Septriasa. Meskipun setiap adegan akan tetap dihiasi oleh perang air mata antar karakternya, tetapi tak ada kesan berlebihan. Semua tampil apa adanya dan mampu mengoyak emosi penontonnya.

Marsha Timothy yang memerankan sosok Nada berhasil mengajak penontonnya merasakan kegetiran hidupnya karena musibah yang bertubi-tubi. Peran Nada ini adalah pencapaian luar biasa dari Marsha Timothy. Karena dengan karakternya yang begitu sederhana, Marsha Timothy menunjukkan kualitas akting yang maksimal. Begitu pun dengan Acha Septriasa yang menunjukkan pribadi karakter Asa yang kuat dan ceria. Dan jangan lupakan performa apik dari Wulan Guritno, meski terbatas running time, tapi berhasil mencuri perhatian penontonnya.

Kesederhanaan adalah kekuatan dari Nada Untuk Asa. Di atas sebuah kertas, mungkin Nada Untuk Asa tak memiliki sesuatu yang spesial. Dialog-dialog yang stereotip, penggambaran adegan yang masih sama antar satu film dengan yang lainnya. Tetapi, di tangan Charles Gozali, Nada Untuk Asa berhasil mendapatkan nyawa yang sangat kuat dan nyata. Tanpa adanya eksploitasi air mata dan kesedihan, Nada Untuk Asa tetap ampuh menjadi sebuah tearjerker film yang disajikan ke penontonnya. 


Meskipun, kesederhanaan pula yang menyebabkan Nada Untuk Asa bukan menjadi sesuatu yang sempurna. Masih ada minor di beberapa bagian yang membuat Nada Untuk Asa bergerak terbatas dalam menceritakan setiap narasinya. Juga, beberapa editing yang masih belum halus sehingga beberapa adegan akan terasa meloncat. Tetapi, dikuatkan lewat bagaimana Charles Gozali bertutur untuk menggerakkan pion karakternya yang menyenangkan.

Tertawa di atas derita, ungkapan yang pas untuk Nada Untuk Asa. Tetapi, ungkapan tersebut dikemas menjadi sesuatu yang menyenangkan dan berbeda. Film ini jelas menyampaikan sebuah pesan tentang keberanian untuk menjalani hidup. Meski terbatas oleh penyakit yang ganas, tetapi karakter Nada dan Asa akan merepresentasikan para wanita yang akan terus berjuang melewati hidupnya. Karena hidup tak selamanya tentang bangkit, tetapi akan ada satu poin di mana kita akan jatuh dan harus kembali bangkit lagi. 


Tak ada yang sempurna, Nada dan Asa adalah karakter wanita kuat yang harus jatuh karena penyakit yang dideritanya, begitu pula dengan film arahan Charles Gozali ini. Nada Untuk Asa jelas bukan presentasi sempurna. Tetapi lewat keterbatasan dan kesederhanaan itulah, Nada Untuk Asa berhasil mengeluarkan sinarnya dan dengan mudah mengundang simpati penontonnya. Karena sebuah keterbatasan bukanlah penghambat jika kita masih berani untuk menjalaninya. Nada Untuk Asa punya itu sebagai kelebihannya.

Senin, 09 Februari 2015

PROJECT ALMANAC (2015) REVIEW : Time Travel With Teenager’s Rules


Film bertema found footage atau mockumentary biasa digunakan untuk presentasi sebuah film horor. Tetapi, juga ada banyak genre-genre lain yang menggunakan format ini untuk mengantarkan cerita film mereka. Untuk film bertema Science Fiction bisa dikenal lewat film Cloverfield dan yang paling baru adalah Chronicle arahan Josh Trank. Tema mockumentary semakin digemari dan menjanjikan di Industri perfilman Hollywood.

Keputusan ini pun digunakan oleh Dean Israelite untuk sebuah proyek film terbarunya. Project Almanac, yang pada awalnya berjudul Welcome To Yesterday ini menggunakan format mockumentary digabungkan dengan genre science fiction dan time travel. Film yang diproduseri oleh Michael Bay ini memiliki sebuah premis yang menarik untuk menarik minat penontonnya, meskipun jadwal tayangnya harus mundur sebulan dari yang dijadwalkan. 


Project Almanac ini menceritakan bagaimana seorang siswa Sekolah Menengah Atas bernama David Raskin (Jonny Weston) yang sedang mencari cara untuk mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliah. Dia mengajukan beasiswa lewat karya-karya ilmiah buatannya yang mengagumkan. Sayangnya, biaya beasiswa itu tak sesuai harapannya. Ketika dia sedang termenung di atap rumahnya, dia menemukan video ulang tahunnya yang ketujuh dan menemukan kejanggalan. David yang sudah berusia 17 tahun menampakkan diri di video ulang tahun ketujuhnya.

David yang penasaran menunjukkan kepada adiknya, Christina Raskin (Virginia Gardner) dan ketiga temannya Jessie (Sofia Black-D’ella), Quinn (Sam Lerner), dan Adam (Allen Evangelista). Suatu ketika, David menemukan sebuah mesin milik ayahnya di gudang bawah tanah rumahnya. Mesin itu bertuliskan Project Almanac dan merupakan sebuah mesin waktu yang belum dirakit. David dan teman-temannya pun berusaha merakitnya dan melakukan perjalanan melewati ruang waktu. 


Perjalanan ruang waktu milik David dan teman-temannya ini adalah premis menarik yang digunakan oleh Dean Israelite dengan format mockumentary sebagai presentasinya. Alhasil, Project Almanac memang terasa berbeda dan sedikit lebih segar daripada tema-tema mockumentary yang lebih didominasi oleh genre horor. Di awal, Project Almanac masih terlihat berkiblat pada Chronicle milik Josh Trank untuk menjalankan latar belakang para karakternya.

Hanya saja, Project Almanac memiliki kesan lebih segar dan tidak segelap film milik Josh Trank. Unsur time travel itu menjadi sangat menarik dengan tambahan konflik kaum remaja sehingga Project Almanac seperti sebuah gabungan dari Project X dan Chronicle. Sebuah gabungan antara film dengan arahan yang baik dan arahan yang buruk, maka Project Almanac pun tak luput dari kekurangannya yang menghambat performa maksimalnya sebagai film time travel.

Ceroboh adalah sifat alamiah dari seorang remaja yang sedang mengalami transisi dalam perjalanan hidupnya. Dan hal tersebut mewakili film Project Almanac yang menggabungkan konflik-konfilk remaja di dalam filmnya. Maka, ceroboh adalah kata kunci dari film ini. Kecerobohan lah yang dapat menghambat performa maksimal dari Project Almanac. Penggunaan Time Travel di setiap film tentu harus hati-hati dan teliti. 


Kehati-hatian dan ketelitian itu perlu digunakan sebagai patokan agar film itu tidak memiliki sebuah lubang besar yang menganga lebar dan siap membuat penonton jatuh untuk menanyakan sesuatu setelah akhir film. Project Almanac memiliki kecerobohan untuk memasukkan ide-ide yang besar untuk semakin membuat film ini menarik. Sayangnya, Dean Israelite malah terlihat kewalahan untuk menangani ide-ide besar tersebut.

Perjalanan melewati ruang waktu sebagai konflik utama itu di paruh awal masih terlihat rapi. Tetapi, semakin bertambahnya durasi, film ini mulai tidak menunjukkan konsistensinya dalam menerangkan perjalanan lintas waktunya. Film arahan Dean Israelite ini pun akhirnya mengalami kemunduran di setiap menitnya. Bagaimana perjalanan lintas waktu dengan sebab-akibatnya itu menjadi bumerang tersendiri untuk Dean Israelite. Perjalanan itu pun serasa tak nyata dan tak masuk akal karena kurangnya penjelasan yang kongkrit di dalam naskahnya.

Tetapi beruntung, Project Almanac masih menyisakan kisah-kisah menarik yang dapat dipresentasikan meskipun unsur Time travel-nya terlalu berlebihan. Masih ada kisah-kisah menarik dari setiap karakternya yang dapat menyokong ide-ide gila nan besar milik Dean Israelite yang ditumpahkan lewat film terbarunya. Menggunakan aktor dan aktris tak terlalu memiliki nama pun tak masalah karena film-film seperti tak terlalu mempersalahkan hal itu. 


Menariknya lagi adalah bagaimana Project Almanac menggunakan format Mockumentary dengan rasa kekinian ala remaja. Editing yang lebih halus dari mockumentary kebanyakan dan penggunaan kamera go pro yang semakin menambah cita rasa berbeda dari Mockumentary milik Project Almanac ini. Pun, dengan iringan soundtrack yang juga menarik untuk disimak. Sehingga, Project Almanac tak memiliki rasa Mockumentary yang begitu statis.

Sebagai film dengan format Mockumentary, Project Almanac memberikan nafas segar di dalam genre-nya. Meski tak perlu dielakkan lagi bahwa ide-ide cerita perjalanan lintas waktu itu masih terlalu berlebihan dan ceroboh dalam pengarahannya. Tetapi, Project Almanac memiliki sisa-sisa kesenangan ala remaja yang patut untuk disimak. Ini seperti sebuah gabungan Project X dan Chronicle, seperti asam bertemu manis atau hitam bertemu putih.  Begitulah Project Almanac yang masih separuh bagus dan separuh buruk.

 

Jumat, 06 Februari 2015

WILD CARD (2015) REVIEW : Effortless Classic Taste


Sudah berapa banyak Jason Statham memiliki lakon penting di film-film action? Ya, lakonnya di beberapa film genre action ini selalu berhasil memenangkan hati penontonnya. Tentu, Jason Statham sangat ikonik dengan sosoknya yang maskulin dengan adegan penuh adrenaline. Segala jenis filmnya akan dengan mudah mendapatkan tanggal rilis waktu di Indonesia. Penonton akan percaya film apapun jika ada sosok Jason Statham di posternya.

Meskipun tak semua filmnya berhasil mendapat hati di penontonnya, tetapi penonton akan selalu mengulangi kesalahan yang sama untuk film-film milik Jason Statham. Mendengar Jason Statham kembali hadir di awal tahun 2015 ini tentu akan disambut baik oleh penonton. Jason Statham kembali lewat film Wild Card yang dibuat berdasarkan novel Heat milik William Goldman. Novel Heat pun pernah diangkat menjadi sebuah film di tahun 1986 dengan Burt Reynold sebagai lead actor-nya.

William Goldman masih ikut ambil bagian di film versi terbarunya ini dengan Simon West di bangku Sutradara. Mungkin, Wild Card adalah usaha untuk mengenalkan kembali film atau novel Heat di tahun 1980-an kepada penonton millenium ini. Sayangnya, meski William Goldman masih mengerjakan naskahnya, Simon West masih belum berhasil menjadikan film Wild Card sebagai karya dengan cita rasa klasik walaupun dia sudah sangat berusaha. 


Wild Card dimulai dengan mengenalkan sosok Nick Wild (Jason Statham), seorang pembunuh bayaran terkenal yang dapat membunuh tanpa menggunakan senjata api. Nick memiliki kelemahan saat berjudi, karena dia dapat menghabiskan banyak uang dan waktu di tempat kasino langganannya. Hingga suatu saat, teman perempuannya mendapat kesulitan dan membutuhkan bantuannya untuk membalaskan dendam atas perlakuan kepadanya.

Dia diperkosa dan aniaya oleh seseorang bernama Danny DeMarco (Milo Ventimiglia), seorang mafia terkenal di kota Las Vegas. Pada awalnya Nick tidak ingin menangkap Danny De Marco karena tidak mau mendapat masalah karena berusaha untuk menangkapnya. Tetapi, Nick Wild pun berusaha untuk menangkap atas permintaan temannya yang ingin melakukan aksi balas dendam.

Dengan beberapa susunan cerita, Wild Card berjalan tak memiliki koneksi antar cerita pertama dengan cerita lain. Film ini pun akan memiliki beberapa babak yang akan membingungkan penontonnya. Sehingga, penonton akan menanyakan poin apa yang berusaha disampaikan oleh Simon West di dalam film terbarunya kali ini. Karena terlihat benar bahwa Wild Card berusaha menciptakan suasana klasik tanpa tahu benar bagaimana mengolah hal tersebut.


Wild Card memiliki banyak subplot untuk diceritakan. Terasa hasil tangan William Goldman yang mencoba untuk menjadikan subplot itu untuk saling berhubungan antara misi balas dendam dengan latar belakang karakter Nick Wild sendiri. Subplot itu pun akan terasa episodik di setiap paruh filmnya. Tanpa adanya satu benang merah yang harusnya akan membuat film ini menjadi sebuah studi karakter yang menyenangkan untuk sosok Nick Wild.

Apa yang dihadirkan di dalam posternya yang menampikan gambar seorang diri Jason Statham bersama namanya pun mewakili film ini. Wild Card akan menjadi one man show milik Jason Statham meski dengan beberapa porsi kecil dari karakter lain tetapi tidak berhasil menyokong cerita di dalamnya. Alhasil, karakter yang diperankan oleh Michael Angarano, Milo Ventimiglia, Sofia Vergara, bahkan Stanley Tucci pun tak memiliki tujuan yang jelas. Hanya sekedar formalitas setor wajah ke layar perak bahwa film ini tak hanya diperankan sendiri oleh Jason Statham. 

Sosok Michael Angarano yang berperan menjadi ‘asisten’ Nick Wild pun hanya seperti bayangannya. Tak tahu harus melakukan apa dan apa yang dia butuhkan terhadap Nick Wild hingga pada akhir film, karakternya menjadi sebuah turning point yang akan dengan mudah dilupakan. Begitu pun dengan sosok Nick Wild yang tak bisa mendapatkan simpati dari penontonnya. Sehingga, karakter yang diperankan oleh Jason Statham ini pun akan terasa tak memiliki nyawa dan kosong. 


Apa yang diharapkan penonton saat menyaksikan film dengan Jason Statham sebagai bintangnya adalah adegan pemacu adrenaline yang akan memuaskan mereka. Jika hal itu yang kalian harapkan, tentu saja Wild Card akan dengan mudah mengecewakan penontonnya. Ya, Wild Card adalah film Jason Statham dengan adegan aksi yang sangat minimalis. Masih ada adegan adu tembak dan baku hantam, tetapi dengan porsi yang sedikit dan digarap ala kadarnya. Hingga, bukan tak mungkin akan menimbulkan kesan menggelikan untuk sebagian orang.

Wild Card akan menciptakan nuansa klasik lewat beberapa adegan yang dikemas lewat soundtrack yang menarik dan naskah yang harusnya baik dari William Goldman. Sayangnya, arahan Simon West ini belum bisa menjadikan Wild Card mendapatkan tujuan-tujuan yang diinginkan di dalam naskah milik William Goldman. Sehingga, Wild Card akan menjadi sebuah tontonan yang kurang menghibur, minim adegan aksi, dan pointless di dalam 90 menit durasinya.

Kamis, 29 Januari 2015

SEVENTH SON (2015) REVIEW : The New (Failed) Universe


Menjadi salah satu proyek mega besar, Seventh Son adalah film yang diangkat novel yang tak seberapa populer, The Spook’s Apprentice. Film ini memiliki mega budget dengan garis bawah, bahwa film ini sering mengalami banyak sekali hambatan dalam proses produksi. Legendary Pictures yang membawahi ini pun sempat putus asa untuk melanjutkan film ini yang akan membuat biaya semakin bengkak. Alhasil, film ini pun mengalami pergeseran tanggal tayang di tahun 2014. Tetapi, akhirnya mengalami kemunduran lagi dan rilis di awal 2015.


Seventh Son ditangani oleh sutradara rusia, Sergei Bodrov. Filmnya pernah mendapat nominasi Oscars dalam Best Foreign Language Film lewat film Mongol. Tetapi meski pernah mendapat nominasi, Jika sebuah film m emiliki proses yang terhambat dalam pembuatannya, tentu bukan sesuatu yang dapat dibanggakan. Ingatlah kita di film yang dinaungi oleh Universal Pictures, 47 Ronin. Film ini pun mengalami nasib yang serupa dalam proses filmnya. 


Seventh Son terlalu memiliki ambisi yang sangat besar untuk mengenalkan penontonnya bahwa Seventh Son memiliki universe-nya sendiri yang lebih besar. Bagaimana perjalanan kisah dari Thomas Ward (Ben Barnes) yang mengetahui dirinya adalah anak ketujuh yang dapat menyelamatkan dunia dari serangan penyihir jahat, Mother Malkin (Julianne Moore). Penyihir jahat itu pernah ditangkap oleh Gregory (Jeff Bridges) tetapi berhasil kabur dan melakukan balas dendam.

Gregory yang pernah memiliki murid dan tewas di tangan Malkin, akhirnya mencari Thomas Ward untuk menghentikan aksi balas dendam Malkin. Mereka berdua melakukan perjalanan menuju kastil milik Mother Malkin dan menghentikan rencananya sebelum bulan darah terlihat di langit malam. Di dalam perjalanannya, Gregory dan Thomas memiliki kesulitan. Terlebih, Thomas Ward yang belum benar-benar siap untuk mengemban tugas mulianya.

Di dalam perjalanan itulah, Seventh Son mulai mempergerakkan seluruh cerita intinya. Tetapi, Sergei Bodrov seperti terlalu ambisius untuk mengenalkan kepada penontonnya tentang bagaimana dunia dari The Spook’s Apprentice. Alhasil, Sergei Bodrov pun terlalu sibuk untuk memperbesar cakupan dunia fiktif karangan Joseph Delaney tanpa memerdulikan bagaimana cerita itu dapat mempersuasi penontonnya untuk sekedar bertahan menatap layar. 


Film pun terlalu riuh oleh tambahan karakter yang tak terlalu tahu lakonnya sendiri. Semua karakter terlalu muncul ke permukaan, tanpa adanya isi yang pas untuk memperdalam ceritanya yang dapat mempererat ceritanya. Hanya dalam sajian 100 menit, Seventh Son terasa terlalu longgar dan dipenuhi dengan CGI-vaganza yang sama sekali kehilangan jiwanya. Visual Effect megah itu tak menonjolkan sesuatu atau mengagumkan penontonnya dan terlihat masih mentah.

Segala kementahan itu pun tak hanya terlihat dari visual effect, juga adanya naskah yang juga masih mentah dalam mengadaptasi setiap halaman di dalam buku The Spook’s Apprentice. Seventh Son berjalan sangat tertatih untuk menuturkan setiap kisah Thomas Ward saat mengemban misi dibalut dengan humor-humor yang kurang segar. Jatuhnya, Seventh Son malah menjadi tontonan yang terlalu berusaha keras menjadi film fantasi yang sangat baik tetapi malah gagal dan jatuh terlalu dalam.

Sergei Bodrov pun terlihat sangat lelah dalam mengarahkan proyek film ini yang tak kunjung selesai. Terlihat di dalam penceritaannya yang sangat berantakan, juga tidak ada satu turning point yang bisa meleburkan emosi penontonnya. Penonton akan kesusahan mencari apa yang ditonjolkan di dalam film Seventh Son ini, pengalaman sinematik seperti apa yang didapatkan saat 100 menit Seventh Son terputar di layar perak besar. 


Bahkan, dukungan dari aktor dan aktris papan atas Hollywood pun tak bisa menyelamatkan bagaimana tipisnya 100 menit milik Seventh Son. Jeff Bridges tampil sangat minimalis memerankan sosok Gregory dan Julianne Moore tak dapat menunjukkan performa aktingnya yang luar biasa. Mereka pun sudah terlihat lelah dalam menuntaskan misi mereka di dalam proyek film ini. Dan, Seventh Son akan menjadi sebuah borok yang besar dalam perjalanan karir dari Julianne Moore ataupun Jeff Bridges.

DI dalam 100 menit ini, terlihat benar Seventh Son adalah proyek film yang melelahkan. Segala emosi itu terapung di segala bentuk bidang di film ini, baik teknis, cerita, ataupun penyutradaraannya sendiri dari Sergei Bodrov. Perjalanan Thomas Ward dan Gregory dalam 100 menit Seventh Son akan menjadi sebuah perjalanan yang sangat panjang, penuh rintangan, dan berliku. Pun, akan melelahkan bagi sebagian orang sehingga layar telepon genggam akan lebih menarik daripada film itu sendiri. 

Sabtu, 17 Januari 2015

DI BALIK 98 (2015) REVIEW : Keterbatasan Dunia Fiktif dalam Setting Nyata


Para pelakon di bidang akting merambah keahlian mereka di dunia balik layar perfilman memang sedang menjadi tren. Mereka mencoba untuk mengarahkan film mereka sendiri, meskipun beberapa masih ada yang mencoba keahlian mereka lewat film pendek. Reza Rahadian, Acha Septriasa, Ladya Cheryl, dan Lukman Sardi awalnya juga memulai debut mereka lewat film pendek. Lukman Sardi memberanikan diri untuk mengasah lagi kemampuannya dalam mengarahkan sebuah film panjang yang di rilis di bioskop.
 
Lewat production house, MNC Pictures, yang diproduseri oleh Affandi Abdul Rachman, Lukman Sardi mengarahkan film dengan tema tragedi 98. Isu yang memiliki interpretasi luas dan menjadi salah satu tragedi yang menjadi sejarah transisi negara Indonesia. Lukman Sardi menggambarkan kejadian bersejarah itu lewat filmnya berjudul Di Balik 98. Film ini memiliki nama-nama terkenal seperti Chelsea Islan, Boy William, dan masih banyak nama-nama lainnya. 


Di Balik 98 adalah universe fiktif milik Lukman Sardi yang menggunakan latar belakang kejadian 98. Di mana memiliki banyak karakter untuk menjalankan beberapa cerita tematis untuk setiap karakternya. Di mana Diana (Chelsea Islan), seorang aktivis di Universitas Trisakti yang sangat melawan keotoritasan Soeharto pada saat itu. Diana adalah adik dari seorang Tentara bernama Bagus (Donny Alamsyah) dan pegawai dapur Istana bernama Salma (Ririn Ekawati). 

Di dalam rumah, pendapat mereka pun saling berlawanan. Diana pun mempunyai teman laki-laki bernama Daniel (Boy William). Daniel adalah lelaki keturunan tiongkok yang hidup bersama ayah dan adiknya. Etnis tiongkok yang sangat terancam di tragedi 98 ini tentu memengaruhi kehidupan Daniel dan keluarganya. Juga ada Ayah dan Anak gelandangan yang hidup kesusahan saat tragedi itu berlangsung. 


Menggabungkan tema cinta, keluarga, dan politik dengan setting tahun 1998 bukanlah perkara mudah. Tema tragedi 98 ini pun adalah sebuah tema yang sangat besar, perlu ketrampilan yang sangat baik untuk menyampaikan pesannya dengan baik kepada penontonnya. Tentu, Lukman Sardi mengemban tugas berat apalagi ini adalah debut pertamanya di layar lebar. Pintarnya, Lukman Sardi menggunakan sebuah cerita fiktif agar tak salah langkah di dalam pengarahannya.

Lukman Sardi ingin menyampaikan sebuah film dengan berbagai sudut pandang ras atau etnis dan kelas sosial saat tragedi 98 ini berlangsung. Sebuah pemikiran yang hebat dan besar meski jika salah sedikit, ini akan menjadi bumerang hebat bagi filmnya. Di Balik 98 adalah film dengan pemikiran hebat dan besar yang dijadikan dasar dalam menjalankan ceritanya. Tetapi, treatment yang masih belum sempurna ini membuat pemikiran hebat ini terhambat.

Untuk deliver sebuah cerita, apalagi dengan karakter yang sangat banyak butuh detil arahan yang baik. Sebagai debutan, Lukman Sardi masih perlu mengasah lagi kemampuannya dalam menyampaikan cerita dengan baik. Di Balik 98 memang memiliki cerita yang sederhana, tapi dengan catatan untuk setiap karakternya. Terbuai oleh kesederhanaan cerita, film ini tak sadar bahwa akan memiliki kompleksitas apalagi ada beberapa karakter yang saling berhubungan. 


Di sinilah salah satu sisi negatif dari Di Balik 98, bagaimana semua cerita sederhana di film ini pun tidak bisa membuat penontonnya untuk bertahan. Cara bertuturnya pun tersendat-sendat di dalam durasinya yang hanya 95 menit. Akhirnya, Di Balik 98 pun memiliki tempo cerita yang melambat saat durasinya semakin bertambah. Di sini terlihat bagaimana Lukman Sardi sangat berhati-hati saat mengarahkan filmnya. 

Tetapi, kehati-hatian sang sutradara harus mengorbankan suasana hati penonton yang tak pernah diajak naik. Penonton yang tak pernah menjamani era 98 tersebut pun tak pernah tahu bagaimana tegang, riuh, dan takutnya zaman itu. Meskipun hal-hal tersebut ditampilkan dengan nyata lewat adegan-adegannya, tetapi adegan tersebut pun kosong, tak memiliki nyawa atau suasana sebesar penggambaran adegan mereka. 


Film ini mempunyai banyak sekali karakter saat menggerakkan cerita. Tetapi, ruang untuk bergerak itu sangat sempit. Banyak sekali karakter yang akhirnya tidak memiliki tujuan yang jelas atau hanya tampil sebagai formalitas. Semua karakter pun tidak dapat bergerak bebas, banyak sekali cerita yang terasa belum selesai atau malah belum tersampaikan. Maka, tujuan Lukman Sardi untuk akhirnya menggabungkan beberapa tema cinta, politik, dan keluarga pun akhirnya gagal di dalam film perdananya ini.

Beruntung, Lukman Sardi masih sadar dalam memberikan detil-detil kecil dalam production value-nya di film ini. Beberapa cameo dari tokoh-tokoh besar, tempat-tempat yang digarap sama dengan zamannya, sehingga Di Balik 98 masih dapat digolongkan sebagai sebuah film yang masih digarap serius oleh sineasnya. Meskipun minim tragedi bersejarah karena Lukman Sardi memang memfokuskan ke dunia fiktif buatan dirinya sendiri. 


Sebagai debutan, Lukman Sardi sudah memiliki bakat untuk mengarahkan sebuah film. Karena beberapa hal teknis membuat Di Balik 98 masih dikategorikan sebuah film yang digarap secara serius. Namun, Lukman Sardi perlu untuk mengasah kemampuannya lagi dalam bidang penyutradaraannya. Lukman masih terlihat kesusahan untuk menyampaikan pesannya kepada penonton lewat karakter-karakter fiktifnya dengan setting tahun 98 yang notabene masih susah untuk diolah. 

Jumat, 16 Januari 2015

HIJAB (2015) REVIEW : Instagram Phenomenon on Big Screen


Instagram memunculkan banyak sekali fenomena di dalam barisan linimasanya. Mulai dari foto fashion, food, dan landscape dijadikan sebuah tren di masing-masing akun sebagai basis foto mereka. Juga,  para pebisnis online shop yang mulai menggunakan media sosial berbasis foto ini untuk menunjukkan barang dagangannya. Belum lagi fenomena OOTD atau Outfit Of The Day, saling berbagi apa yang sedang dipakai juga menjadi sesuatu yang sedang booming dilakukan oleh para pengguna instagram.

Munculnya fenomena-fenomena di bidang fashion di sebuah sosial media yang semakin berkembang ini, memunculkan sebuah ide bagi Hanung Bramantyo untuk menelurkan karya terbaru. Hijab, karya terbaru milik Hanung Bramantyo ini pun dibantu oleh sang istri, Zaskia Adya Mecca dalam pembuatan filmnya. Hijab menjadi salah satu fashion yang sedang digandrungi di mayoritas penduduk Indonesia. Munculnya kelompok-kelompok pecinta dan pengguna Hijab atau Hijabers ditargetkan untuk menjadi pangsa film ini. 


Dengan banyaknya fenomena mulai fashion, hijab, OOTD, hingga bisnis online, Hijab menggunakan hal-hal itu untuk basis cerita di filmnya. Menceritakan empat orang sahabat, Sari (Zaskia Adya Mecca), Bia (Carissa Puteri), Tata (Tika Bravani) dan Anin (Natasha Rizki). Sari adalah seorang istri dari Gamal (Mike Lucock), arab kolot yang menjalani hidupnya berdasarkan syariat islam yang benar. Tata, Seorang istri dari fotografer jurnalis, Ujul (Ananda Omesh). Bia, istri seorang artis sinetron terkenal bernama Mat Nur (Nino Fernandez).

Anin, masih sendiri dan belum siap berkomitmen jauh tetapi sudah menjalin hubungan dengan sutradara kontroversial bernama Chaky (Dion Wiyoko). Sari, Bia, dan Tata ingin tidak selalu bergantung dengan suaminya, mereka ingin memiliki penghasilan sendiri. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk membuat usaha yang tidak membuat mereka repot dan Anin membantu mereka. Usaha kecil-kecilan lewat online shop ini pun menghasilkan sesuatu. Meski, mereka bertiga harus berbohong dengan suami mereka sendiri. 


Dengan judul Hijab, mungkin memiliki kesan terlalu religius dan menawarkan sesuatu yang dramatisir, nyatanya tidak. Hanung Bramantyo sendiri menegaskan bahwa Hijab akan dibuat menjadi sebuah film komedi yang segar. Hanung Bramantyo dan film komedi? Oh, jangan salah. Film komedi adalah awal mula Hanung Bramantyo menitih karir. Jomblo, Catatan Akhir Sekolah, dan yang paling laris adalah Get Married. Semuanya ber-genre komedi dan di genre tersebut, Hanung Bramantyo bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Lewat trailer yang dirilis, Hijab memiliki premis cerita yang menarik. Ada sesuatu yang berbeda yang dijanjikan oleh Hanung Bramantyo di dalam film terbarunya ini. Hijab pun mengingatkan penontonnya dengan film-film Hanung Bramantyo sebelumnya dan para penonton sudah rindu akan ‘Hanung yang dulu’. Benar saja, eksekusi di 90 menit film Hijab ini sama seperti apa yang ditawarkan oleh trailernya. Hijab adalah sebuah film yang sangat segar dan menyenangkan untuk diikuti.

Tidak ada yang berlebihan di dalam film Hijab ini semua diatur dengan porsi yang sangat pas. Tidak ada air mata palsu yang diekspos terlalu sering dengan iringan scoring yang serba grande dan over used. Meski konflik di dalam film ini bisa dibilang cukup kompleks, tetapi film ini memiliki cara untuk mengemas filmnya agar semuanya terlihat sederhana. Hijab pun menjadi sajian yang segar dan guyonan yang tak luput mengundang tawa penontonnya. 


Sindiran-sindirian tajam dengan balutan komedi juga menjadi senjata andalan dari film Hijab. Sekali lagi isu wanita dan agama masih menjadi poin penting di film ini.. Bagaimana seorang wanita yang berakhir hanya menjadi seorang Ibu Rumah Tangga biasa yang sebelumnya memiliki karir yang bersinar sesaat setelah menikah. Semua digambarkan kepada karakter Sari, Bia, dan Tata sebagai representasinya. Belum lagi, bagaimana syariat Islam mampu beradaptasi dengan zaman yang sudah mulai modern ini.

Ada isu agama, terutama agama Islam yang memang sudah mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Di film ini pun ditunjukkan bagaimana pada akhirnya syariat Islam yang mutlak itu pun bisa beradaptasi di era globalisasi ini. Bagaimana kewajiban seorang wanita untuk berjilbab atau berhijab di dalam ajaran Islam akhirnya bisa menggunakan jilbab atau hijab tersebut menjadi sebuah fashion, menjadi sebuah tren yang akhirnya mengundang orang untuk ramai-ramai mulai menggunakannya.

Juga masih ada beberapa sindiran di industri perfilman dan curhatan dari seorang sutradara itu sendiri. Hanung yang sering disebut sutradara kontroversial direpresentasikan lewat karya-karya milik karakter Chaky. Juga, adanya kritik dengan film-film non-komersil yang dianggap memiliki kualitas yang lebih baik daripada film komersil. Tetapi, semua sindiran dengan isu yang berbeda itu dikemas lewat komedi yang sangat menyenangkan. 


Meskipun porsi komedi yang terlalu dominan di awal film ini, terkadang terjebak dengan komedi slapstick lengkap dengan musik yang komikal ini membuat beberapa bagian film ini terkesan tersendat-sendat. Akhirnya setelah beberapa menit filmnya, Hijab tahu bagaimana ritme dan tempo dari filmnya. Tak hanya melulu komedi, ada drama persahabatan yang memiliki turning point untuk filmnya. Meski masih terselip satu scoring khas yang grande saat film ini memiliki turning point.

Film Hijab pun didukung dengan teknis yang sangat baik di bagian Director of Photography-nya. Hijab yang mengusung tren dari sosial media, Instagram pun memiliki gambar yang sangat indah layaknya foto-foto miliki seleb instagram. Faozan Rizal berhasil mengadaptasi gambar-gambar ala Seleb Instagram ke sebuah gambar bergerak dengan komposisi yang sangat bagus. Sehingga, gambar-gambar di film ini bisa memanjakan mata penontonnya. 


Jangan lupakan para ensemble cast di film ini yang seperti bermain dengan sangat baik untuk menghidupkan film ini yang memiliki dialog yang dinamis. Zaskia Adya, Carissa Puteri, Tika Bravani, dan Natasha Rizky berhasil memiliki chemistry untuk meyakinkan penontonnya bahwa mereka bersahabat. Juga dengan barisan para suami seperti Mike Lucock, Nino Fernandez, Ananda Omesh, dan Dion Wiyoko yang berhasil membaur dengan suasana di film ini. Semua tampil tanpa beban dan lupa mereka sedang di depan kamera. Belum lagi special appearance mulai Sophia Latjuba, Jajang C. Noer, hingga seleb instagram fenomenal Dijahyellow ikut hadir untuk meramaikan film ini. 


Untuk melepas rindu dengan Hanung Bramantyo yang dulu, Hijab adalah karya miliknya yang sangat menyenangkan. Mengangkat fenomena fashion, outfit of the day, dan online shop lewat media sosial berbasis foto, Instagram, dengan kemasan yang menyenangkan. Film komedi dengan sindiran-sindiran tajam dengan isu-isu yang berat dan didukung dengan sinematografi indah milik Faozan Rizal ini berhasil menjadi salah satu karya terbaik milik Hanung Bramantyo.  

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...