Senin, 15 Juni 2015

JURASSIC WORLD (2015) REVIEW : Welcome Back to Isla Nublar [With 3D Review]


Kedatangan makhluk hidup purbakala ini memang sudah sangat lama tidak diusik. Setelah Steven Spielberg mampu menyajikan sebuah taman bermain untuk mereka di tahun 1993, para dinosaurus ini tak memiliki kesempatan yang layak untuk tampil di sebuah gambar bergerak. Meski telah ada beberapa sekuel dari film legendaris milik Steven Spielberg, Jurassic Park,  pada selang tahun yang cukup lama. Tetapi, tak ada satu pun yang berhasil menangkap kemagisan selaras dengan Jurassic Park.
 
Untuk menghadirkan kembali suasana magis serta nostalgia itu, Universal Pictures akhirnya merilis ulang Jurassic Park dalam format tiga dimensi. Di mana film re-release tersebut menjadi sebuah euphoria baru untuk menyambut film terbarunya di tahun 2015. Jurassic World, judul dari sekuel Jurassic Park yang ditangani oleh Colin Treverrow. Mempunyai misi untuk menghadirkan kembali kemagisan taman bermain dinosaurus milik Steven Spielberg.

Colin Treverrow pun seperti memiliki misi agar Jurassic World miliknya bisa menjadi taman bermain yang menyenangkan bagi penontonnya. Pun, Jurassic World bisa menjadi medium bagi penonton yang ingin merasakan kembali pengalaman menonton yang luar biasa dan penuh kemagisan layaknya Steven Spielberg berikan di dalam Jurassic Park. Tanpa perlu sebuah cerita original dan pendalaman karakter yang berlebihan, Jurassic World mampu menangkap segala kemagisan itu di dalam filmnya.


Begitulah film-film dengan tema ini, Jurassic World tak memiliki satu karakter tetap sebagai pegangan dalam menjalankan ceritanya. Jurassic World pun di mulai dari satu keluarga yang sedang memiliki sebuah masalah. Dua anak dari keluarga tersebut mendapatkan tiket liburan dari adik ibunya, Claire (Bryce Dallas Howard) untuk jalan-jalan ke Isla Nublar, tempat Jurassic World di dirikan. Gray (Ty Simpkins) dan Zach (Nick Robinson) pun pergi ke Isla Nublar menikmati apa yang mereka dapatkan.

Sayangnya, ketika di tengah tur mereka mengelilingi Jurassic World, seekor dinosaurus rekayasa lepas dari kandangnya. Indominus Rex kabur dan berhasil membuat Jurassic World porak poranda dalam sekejap. Zach dan Gray yang berada dalam tengah-tengah tur mereka harus dihadang oleh Indominus Rex yang sedang kabur tersebut. Claire meminta bantuan dari pawang Raptor, Owen (Chris Pratt) untuk mencari ponakannya, Zach dan Gray. 


Ingatkah dengan Godzilla yang mampu memberikan karakterisasi yang hebat tetapi kurang mampu menciptakan porsi yang tepat untuk makhluk gigantisnya? Hal tersebut tentu menjadi ketakutan terbesar dalam membuat film bertema ini. Bagaimana karakter manusia di dalam film ini mampu memikat penontonnya untuk menjalankan setiap cabang cerita tanpa perlu harus merasa terpisah-pisah dengan plot utamanya Karena di dalam film dengan tema ini, makhluk hidup lainnya menjadi daya pikat utama yang lebih besar.

Perlu adanya point of interest lebih agar para karakter manusia di dalam film ini setidaknya mampu mengantarkan cerita tentang makhluk hidup lain di dalamnya. Hal itu dicoba Colin Treverrow terapkan di dalam Jurassic World. Treverrow memasang beberapa karakter manusia seperti Claire, Owen, Gray, dan Zach agar penonton dapat memiliki koneksi dengan Jurassic World. Treverrow memang tak terlalu mengulik satu persatu karakter di dalam filmnya karena Trevorrow lebih mementingkan bagaimana plot utama agar tingkat kesenangan di dalamnya mampu menjadi perhatian penontonnya. 


Treverrow seperti tetap menggunakan pakem yang sama dengan Jurassic Park agar Jurassic World bisa menyamai kemagisan dari film Steven Spielberg tersebut. Jurassic World mengusung plot cerita yang sederhana tanpa ada cerita original yang segar untuk disajikan kepada penontonnya. Bahkan, Jurassic World cenderung menggunakan template cerita yang sama dengan Jurassic Park. Tetapi, template cerita yang cenderung sama itu tak menjadi senjata makan tuan bagi Jurassic World.

Beruntung, Jurassic World berada di tangan sutradara yang tepat dan mampu mendaur ulang segala cerita yang sudah usang itu. Colin Treverrow berhasil mengarahkan Jurassic World menjadi sebuah pengalaman sinematik yang luar biasa bagi penontonnya. Arahan milik Treverrow berhasil menangkap segala bentuk keindahan dan berbagai macam alasan kenapa Jurassic Park menjadi salah satu film legendaris yang harus ditonton sebelum kita menutup usia.

Colin Treverrow berhasil membangun atmosfir dan tensi ketegangan luar biasa dalam 120 menit film ini. Terlihat tak mau terburu-buru membangun itu semua di dalam film terbarunya, dia menggunakan strategi dengan membangun pelan-pelan tensi film yang sangat terasa di paruh awal film ini. Membangun atmosfir yang seram dan menegangkan yang bahkan film horor yang baru rilis minggu lalu pun tak mempunyai itu. Hingga pada waktu yang tepat, Jurassic World menunjukkan taringnya untuk mengeluarkan segala bentuk tensi dan atmosfir yang kuat untuk dirasakan oleh penontonnya. 


Pun, akan terasa banyak sekali tribute dan homage yang Colin Treverrow lakukan di dalam film Jurassic World. Sepertinya Colin Treverrow tak ingin benar-benar melepaskan identitas Jurassic Park ke dalam proyek sekuelnya ini. Akan ada banyak sekali adegan-adegan yang memang disengaja untuk tetap sama agar bisa menimbulkan nuansa nostalgia bagi penonton yang telah tumbuh dan berkembang dengan Isla Nublar dan para penghuninya.

Tak bisa dipungkiri, visualisasi Jurassic World memang akan terasa jauh lebih besar ketimbang Jurassic Park. Terlebih, Jurassic World telah dibuat di era yang sudah semakin canggih. Isla Nublar benar-benar sudah bertransformasi menjadi sebuah taman bermain millenium. Pun, Colin Treverrow mampu memvisualisasikan Jurassic World menjadi sebuah taman bermain yang megah. Juga, Colin Treverrow masih menyelipkan music scoring original dari Jurassic Park ke dalam film terbarunya.


Jelas, Jurassic World akan menjadi sebuah film musim panas lainnya yang memiliki performa luar biasa dari segala jenis aspek. Dalam 120 menit, Jurassic World berhasil menangkap dan menghadirkan berbagai alasan kenapa Jurassic Park menjadi salah satu film legendaris. Colin Treverrow yang masih setia dengan sumbernya dengan memberikan beberapa tribute dan homage terhadap Jurassic Park sehingga Jurassic World terasa sangat kental akan nuansa nostalgia. Dengan formula yang usang, Treverrow berhasil mengubahnya menjadi sajian yang sangat luar biasa menyenangkan. And this theme park already Re-opened.
 
Meski di-shoot dengan kamera IMAX 70 mm, film ini tetap dikonversi ke dalam format tiga dimensi. Berikut adalah rangkuman format tiga dimensi dari Jurassic World.

DEPTH
Ya, meski dalam versi konversi, Jurassic World mampu memberikan kedalaman yang sangat luar biasa. Sehingga, kita seperti berada langsung di dalam Isla Nublar.

POP OUT
Meski tak terlalu banyak, tetapi beberapa bagian akan terasa menusuk mata penontonnya. Terlebih, ketika Jurassic World sudah mulai porak poranda. Beberapa cakar dan gigi Dinosaurus akan hadir di depan mata.
 
Ya, Jurassic World benar-benar disarankan ditonton dalam format tiga dimensi. Kapan lagi kita menonton Isla Nublar seperti berada di dekat kita. Jika dikota anda ada layar IMAX, sangat disarankan ditonton dalam format tersebut. 

Minggu, 07 Juni 2015

INSIDIOUS CHAPTER 3 (2015) REVIEW : The Laziest Chapter Begins


Setelah berhasil mengeruk keuntungan dan mencari penggemar setia dari sebuah film, jelas seorang sutradara atau produser tak mau kehilangan mata pencaharian mereka. Salah satunya adalah franchise film horor, Insidious. Kedua filmnya sukses mendapatkan keuntungan berkali lipat dari budget yang sudah dipakai. Sayangnya, jilid kedua dari Insidious tak bisa menuai kritik positif dari para pecinta film atau kritikus film. Tak berhenti karena kritik negatif, Insidious tetap melanjutkan serinya.
 
James Wan yang dalam dua filmnya bertindak sebagai sutradara akhirnya harus menyerahkan bangku sutradaranya kepada sang penulis naskah dari kedua film Insidious. Leigh Whannel, menjadi komandan tertinggi yang mendapatkan amanah dari James Wan untuk mengarahkan seri terbaru dari franchise film horor satu ini. Insidious Chapter 3 adalah debut penyutradaraan dari Leigh Whannel yang tentu mendapatkan beban berat karena Insidious adalah sebuah proyek yang besar dan ditunggu oleh para penggemar film horor.

Karena dengan hasil yang kurang memuaskan dari Insidious Chapter 2, maka beberapa orang jelas akan menurunkan ekspektasinya dengan Insidious Chapter 3. Meski masih ada orang yang sudah berkecimpung lama dalam proyek Insidious ini, tetapi Insidious Chapter 3 tetap mendapatkan tatapan sinis bagi pecinta film, khususnya film pecinta film horor. Lantas benar, Leigh Whannel tak mampu menyamai kengerian dua predesesornya dalam jilid ketiganya. 


Menyisakan cerita yang masih tertinggal di Chapter 2, Jilid ketiga ini memulai cerita lewat karakter utama yang berbeda dari dua film sebelumnya. Tidak ada lagi Dalton dan keluarganya, kali ini giliran sang cenayang yang mendapat bagian. Elise (Lin Shaye) ingin menyudahi profesinya sebagai seorang cenayang. Hingga seseorang bernama Quinn Brenner (Stefanie Scott) datang kepadanya untuk meminta bantuan agar bertemu dengan ibunya yang telah meninggal.

Ketika dia sedang berusaha untuk memanggil kembali arwah dari Ibu dari Quinn, Elise malah bertemu dengan sosok arwah yang berusaha untuk membunuhnya yaitu Black Bride. Bukan hanya Elise yang harus bertahan hidup dari serangan arwah-arwah gentayangan, tetapi Quinn pun harus bisa menahan dirinya agar tetap hidup dari serangan sosok jahat yang menghantuinya. Di dalam apartemen tempat Quinn dan keluarganya tinggal, Quinn dikejar oleh sosok jahat yang menginginkan dirinya untuk mati. 


Insidious Chapter 3 memang keluar dari pakem kedua jilid dari Insidious sebelumnya. Sayangnya, dengan berhasil keluar dari pakem yang sama sebelumnya, jilid ketiga yang digarap oleh Leigh Whannel ini malah tak berhasil menyampaikan bagaimana film horor itu seharusnya. Jika para penggemar film horor atau penggemar seri ini mengharapkan sesuatu yang menyeramkan layaknya kedua jilid sebelumnya, maka mereka berhak untuk kecewa.

Segala hal yang ada di dalam Insidious Chapter 3 ini benar-benar keluar dari film horor yang seharusnya. Jilid ketiga ini hanyalah drama keluarga dengan tema supernatural dengan sedikit selipan jump scares. Pun, selipan Jump Scares itu absen dalam membuat penontonnya merasakan sensasi yang biasanya hadir saat menyaksikan seri Insidious. Maka, hindari saja kedua traileryang dirilis oleh pihak Sony Pictures, karena segala bentuk Jump Scares andalan sudah mereka hadirkan lewat trailer yang mereka rilis.

Pun, tak ada i’tikad baik dari Leigh Whannel untuk membangun kehadiran cerita yang mampu memikat penontonnya. Insidious Chapter 3 sangat terbata-bata dalam menyampaikan setiap detil plot cerita yang seharusnya menjadi poin penting dalam kelangsungan sebuah film. Leigh Whannel ini tak memiliki usaha keras untuk menyampaikan sebuah cerita prekuel yang seharusnya bisa tersampaikan menjadi sesuatu yang lebih dari apa yang sudah dipresentasikan olehnya. 


Dalam 97 menit, Insidious Chapter 3 benar-benar terbelah menjadi dua poin cerita utama yang keduanya pun tak memiliki presentasi yang dominan. Leigh Whannel pun terasa bingung untuk memilih siapa yang mendapat treatment lebih untuk menjadi plot utama dari jilid ketiga seri Insidious ini. Ketika masalah utama ada pada karakter Quinn, Leigh Whannel seperti sayang untuk menghapuskan masalah dari karakter Elise. Alhasil, Leigh Whannel harus mengorbankan keseluruhan presentasi cerita yang setidaknya bisa memikat penontonnya.

Tidak ada atmosfir horor yang bisa dibangun oleh Leigh Whannel untuk menutupi kekurangan dari jilid ketiga seri Insidious yang dia tangani. Insidious Chapter 3 pun mendapatkan jatah dominan dalam cerita human drama yang sebenarnya salah tempat ketika dihadirkan dalam film horor. Juga, dengan jokes yang juga akan terasa dominan di dalam filmnya. Insidious Chapter 3 pun tertatih, tak ada sama sekali satu poin yang membuat Insidious Chapter 3 memiliki alasan agar ditonton selain dua seri sebelumnya yang menjanjikan. 


Maka, 97 menit di dalam Insidious Chapter 3 akan terasa sia-sia dalam membangun narasinya. Satu jam pertama, penonton akan merasakan absennya kekuatan cerita dalam filmnya. Dan 30 menit akhir dari Insidious Chapter 3 ini benar-benar tak berhasil menyampaikan suasana horornya yang seharusnya menjadi senjata utama dari film ini. Segalanya terasa tak memiliki tensi ketika jilid ketiga ini akan memulai untuk meyakinkan penontonnya.

Seri ketiga yang seharusnya menjadi poin penting dari sebuah franchise, malah tak memiliki arti apapun untuk seri ini.  Untuk tetap memperluas franchise Insidious ini, Jilid ketiganya tetap memberikan cliffhanger ending yang menjadi alasan dari sutradara maupun rumah produksinya untuk tetap menghadirkan Jilid keempat dari seri ini. Tetapi, kehadiran Insidious Chapter 3 malah menjadi alasan bahwa franchise ini harus berhenti memberikan sebuah sekuel. Dan Insidious Chapter 3 tak memberikan alasan bagi penontonnya untuk tetap setia menantikan jilid selanjutnya. 


Maka, dengan absennya James Wan dalam menangani Insidious Chapter 3, seri ini pun absen dalam memberikan kekuatan dan daya tarik untuk penontonnya. Leigh Whannel pun tak berhasil untuk setidaknya menyamai kualitas jilid ketiga dari Insidious ini dengan dua seri sebelumnya. Segala hal terasa tak berada pada tempatnya ketika sebenarnya Insidious Chapter 3 tak terasa menyalin template dari dua seri sebelumnya. Tapi sayangnya, Leigh Whannel benar-benar gagal dalam mengarahkan Insidious Chapter 3 lebih baik secara naratif maupun atmosfir horornya.

Selasa, 02 Juni 2015

SAN ANDREAS (2015) REVIEW : Big Disaster, Big Holes Inside [With 3D Review]


Sudah banyak memang yang mencoba untuk mengangkat film-film bertema bencana alam. Roland Emmerich contohnya, sutradara satu ini sering sekali membuat film-film bertema serupa. Dan karyanya yang paling fenomenal adalah 2012, yang diangkat berdasarkan ramalan tentang kiamat di tahun 2012. Filmnya memang tak berhasil menuai pujian dari para kritikus, tetapi film ini berhasil menarik minat penonton sehingga menimbulkan antrian panjang di mana-mana.

Di tahun ini, film tentang bencana alam kembali hadir tetapi bukan dari sutradara yang sama. Brad Peyton, sutradara dari Journey 2 : Mysterious Island dan Cats & Dogs 2 ini mencoba hal baru dalam rekam jejak filmnya. San Andreas, judul film terbaru dari Brad Peyton yang mengangkat bencana alam gempa bumi sebagai landasan ceritanya. San Andreas pun mempunyai nama-nama besar seperti Dwayne Johnson dan Alexandra Daddario di deretan pemainnya.

Memiliki nama-nama besar seperti Dwayne Johnson, Carla Gugino, bahkan Alexandra Daddario. Juga, memiliki visual efek yang megah seperti apa yang ditunjukkan lewat trailernya, tak lantas membuat film terbaru dari Brad Peyton ini memiliki sesuatu yang segar di dalamnya. San Andreas hanyalah sebuah film bertema bencana alam yang generik dan masih menawarkan sesuatu yang sama dengan film-film bertema sama sebelumnya. 


San Andreas memang tak punya plot yang spesial, segalanya hanyalah kumpulan dari segala macam unsur klise dalam film bertema sama dan bergabung menjadi satu. Ray (Dwayne Johnson) seorang penyelamat yang hidup penuh tantangan memiliki keluarga yang sudah berantakan. Ray mendapat gugatan cerai dari sang Istri, Emma (Carla Gugino) yang akan berpindah tempat tinggal di rumah sang pacar baru, Daniel (Ioan Gruffudd).

Bersama dengan Emma, Ray memiliki anak bernama Blake (Alexandra Daddario) dan seorang lagi yang sudah meninggal. Dengan adanya kejadian tersebut di dalam keluarganya, Ray berusaha untuk tetap mencintai keluarganya. Tetapi, ketika Blake akan pergi bersama dengan Daniel, gempa bumi besar datang menyerang kota California. Ray dan Emma berusaha menemukan dan menyelamatkan Blake yang terjebak karena gempa bumi yang meluluh lantakkan seluruh kota. 


Dengan cerita yang sesederhana itu, San Andreas memiliki durasi sepanjang 112 menit untuk menjalankan segala konflik ceritanya. Tak pelak, San Andreas pun terasa terlalu panjang dengan konflik yang sebenarnya tak punya sesuatu yang istimewa. Carlton Cuse selaku penulis naskah pun seperti mencoba menyelipkan berbagai macam intrik untuk mengulur durasi dari San Andreas. Sehingga, Brad Peyton bisa memamerkan kemegahan visual efek bencana alam sebagai sajian utama film San Andreas.

Memang, rasanya terlalu naif ketika mengharapkan sesuatu yang segar dalam plot cerita untuk film sejenis San Andreas. Film garapan Brad Peyton ini pun seperti sebuah omnibus yang tak dapat bersatu di setiap pengembangan karakternya. Sehingga, akan terasa adanya beberapa segmen yang berdiri sendiri dengan performa yang berbeda-beda. Tetap, San Andreas memiliki sajian yang klise dan luar biasa tak masuk akal untuk menyampaikan ceritanya.

Penonton pun akan dengan mudah terakses dengan cerita di dalam film ini. Saking mudahnya akses tersebut, penonton pun akan tahu seperti apa film ini akan berakhir dan berhasil menebak adegan seperti apa selanjutnya. Hal ini karena Carlton Cuse mengambil template yang sama dari beberapa film dengan tema serupa dan digabungkan ke dalam naskah film San Andreas. Sehingga, segala bentuk konflik atau adegan klise di film ini pun terangkum di dalamnya. 


Layaknya film-film Roland Emmerich, sepertinya San Andreas garapan Brad Peyton ini pun terpengaruh dengan bagaimana Roland Emmerich memberikan intrik yang luar biasa tidak masuk akal bagi penontonnya. Kesampingkan bagaimana proses gempa bumi di dalam film ini yang mungkin masih menjelaskan hal tersebut dengan berbagai penuturan ilmiah yang terasa meyakinkan. Tetapi, bagaimana para karakter melewati bencana alam yang sangat ilmiah tersebut terasa konyol untuk disaksikan.

Ada beberapa adegan yang akan terasa memudahkan bagaimana seseorang menghadapi sebuah bencana yang sangat besar. Sehingga, bencana alam tersebut akan terasa tidak nyata bagi penontonnya. Dengan adanya adegan-adegan seperti itu, hal ini menegaskan bahwa San Andreas hanyalah sebuah medium untuk memamerkan visual efek yang besar dan mengedepankan sekuens-sekuens aksi yang maunya ingin memberikan tensi untuk ceritanya. Sayangnya, tensi itu terasa mengapung tetapi ada beberapa poin yang masih membuat San Andreas menyenangkan untuk diikuti. 


San Andreas masih memiliki kekuatan dalam jajaran pemainnya. Terlebih adegan final di film ini yang menguatkan sisi humanis dalam porsi drama keluarganya. Dibandingkan dengan beberapa poin yang menjadi kekurangan film ini, jajaran pemain dan paruh akhir film ini masih memberikan satu tensi yang kuat sehingga film ini tidak lemah seutuhnya. Drama keluarga yang kuat dengan beberapa jokes –di luar adegan yang tidak masuk akal –di dalam filmnya masih bisa membuat penontonnya terhibur.

Maka, film garapan Brad Peyton ini memang hanyalah sebuah medium untuknya dalam memamerkan segala visual efek yang megah untuk adegan-adegan bencana alamnya. Tetapi, San Andreas memiliki keterbatasan dalam menyampaikan setiap intrik ceritanya sehingga tensi tersebut akan terasa tertarik ulur karena durasi yang terlalu panjang untuk plot yang setipis kertas. Tetapi, di paruh akhir, San Andreas tahu apa yang membuat film ini masih layak untuk disaksikan oleh penontonnya. 


Dengan visual efek yang megah, tentu Brad Peyton menginginkan filmnya disaksikan dalam format tiga dimensi. Berikut review keseluruhan tentang format tiga dimensi dalam film San Andreas

POP OUT
Tak terlalu banyak adegan Pop-Out untuk film San Andreas dalam format tiga dimensi. Hanya beberapa percikan air dan debu yang bisa menyapa penontonnya. Sayang, film ini seharusnya direkam lewat native 3D bukan converter.

DEPTH
Masih ada beberapa adegan di dalam film San Andreas yang menonjolkan kedalaman sehingga apa yang kita lihat tampak nyata. Tapi, hal itu pun tidak terlalu kuat. 


Dengan beberapa poin dalam format tiga dimensi yang terlalu lemah, San Andreas mungkin akan lebih menyenangkan disaksikan hanya dalam format dua dimensi. Tak seperti film Brad Peyton terdahulu, Journey 2 : Mysterious Island, yang tahu dalam memanfaatkan format tiga dimensi, San Andreas merupakan penurunan dalam format tiga dimensinya.

Minggu, 31 Mei 2015

PITCH PERFECT 2 (2015) REVIEW : The Barden Bellas Still On The Right Notes.


Sebuah sekuel memang memiliki tugas yang susah untuk meyakinkan penontonnya. Jelas, para penonton akan membandingkan sekuelnya dengan film sebelumnya. Maka dari itu, sebuah sekuel seharusnya bisa membuat film yang lebih bagus dari film pertamanya atau setidaknya menyamai kualitas film pertamanya. Dan kali ini, giliran dari sebuah film bertema musikal, Pitch Perfect, yang mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan sebuah sekuel.
 
Pitch Perfect sendiri pada awalnya diangkat dari sebuah buku berjudul sama. Film pertamanya pun disutradarai oleh Jason Moore dan mendapat pujian dari para kritikus. Sayangnya, di film kedua, film ini mengalami pergantian Sutradara dari Jason Moore ke Elizabeth Banks. Dan Pitch Perfect 2 adalah karya pertama dari Elizabeth Banks menjadi seorang sutradara. Jelas, hal ini menjadi sebuah kegetiran dari para fans Pitch Perfect yang telah menunggu sekuelnya.

Tetapi, Jason Moore tak melepaskan begitu saja proyek sekuel dari Pitch Perfect. Dia masih bertanggung jawab sebagai seorang produser untuk mengawasi kinerja dari Elizabeth Banks. Kay Cannon pun masih bertanggung jawab untuk menuliskan naskah bagi sekuel Pitch Perfect. Memang, Pitch Perfect 2 tak memiliki performa maksimal atau sesegar film sebelumnya. Tetapi, Pitch Perfect 2 masih tahu irama yang seperti apa untuk menyampaikan ceritanya. 


Pitch Perfect 2 memang masih meneruskan apa yang berhenti dalam film sebelumnya. Empat tahun setelahnya, The Barden Bellas memang menjadi grup acapella terkenal yang pergi tur ke beberapa tempat. Hingga suatu ketika, sebuah insiden terjadi saat The Barden Bellas sedang tampil di hadapan Presiden. Fat Amy (Rebel Wilson) melakukan kesalahan fatal yang membuat The Barden Bellas harus dikecam di beberapa tempat.

The Barden Bellas pun harus diskors oleh komite Acapella dan tidak boleh melakukan tur. Kecuali, dia bisa memenangkan Piala Dunia Acapella. Beca (Anna Kendrick) sebagai pemimpin The Barden Bellas pun harus mencari cara agar bisa membuat The Barden Bellas lepas dari hukuman. Tetapi, Beca pun harus terpecah konsentrasinya karena dia telah diterima magang di sebuah label rekaman besar dan hal ini adalah impian Beca sejak lama. 


Poin penting yang berhasil dipatahkan di sekuel Pitch Perfect 2 adalah pakem cerita yang sama. Di Pitch Perfect 2, pakem cerita yang digunakan memang tak seperti menggunakan template yang sama dengan sekuelnya. Intrik dan konflik yang digunakan pun akan terasa lebih kompleks, karena akan menyerang setiap karakter di dalam The Barden Bellas. Tetapi, kekompleksan cerita itu terasa tersampaikan secara kurang bergairah oleh Elizabeth Banks.

Elizabeth Banks memang terkesan tahu benar potensi Pitch Perfect 2 menjadi pencetak uang di dalam Box Office. Maka dari itu, dia berusaha untuk mengarahkan sekuel ini agar tetap mengundang para penonton untuk menyaksikan filmnya. Hal ini berhasil, karena Pitch Perfect mampu menjadi yang pertama di deretan Box Office. Elizabeth Banks pun tergiur dengan semua hal itu dan tak mendapat gairah untuk mengarahkan Pitch Perfect menjadi sesuatu yang lebih segar dari film pertamanya. 

Terlihat benar bagaimana setiap subplot cerita yang sebenarnya sudah tersusun dengan baik itu kurang tersampaikan dengan baik. Sehingga, di pertengahan filmnya, Pitch Perfect 2 benar-benar kehilangan poin yang bisa mengikat penontonnya agar mengikuti setiap konfliknya hingga akhir film. Pun, beberapa subplot pun ada yang datang sia-sia. Sehingga, hal itu malah terkesan hanya ada untuk menambah durasi dari film tersebut dan malah terasa menarik ulur tensi film ini sendiri.

Beruntung, Pitch Perfect 2 masih tahu ritme seperti apa yang akan mereka gunakan agar tetap menjadi sweetheart bagi setiap orang. Key Cannon masih bisa menyelipkan referensi pop sebagai selingan agar film ini masih bisa membuat penontonnya setidaknya tertawa saat menyaksikannya. Terutama tingkah lucu Fat Amy yang masih bisa menjadi kunci agar Pitch Perfect 2 tidak menjadi sebuah sajian komedi musikal yang mulai kehilangan gairah untuk sekuelnya. 

Selain jokes yang masih bisa membuat penontonnya untuk tertawa, Pitch Perfect 2 pun masih tahu keunggulan dari franchise ini. Apalagi kalau bukan daftar lagu yang di-mash up atau dinyanyikan ulang oleh para deretan ensemble cast di film ini. Ya, Pitch Perfect 2 masih memiliki daftar panjang lagu yang akan segera dicari oleh penontonnya setelah kredit titel film ini bergulir. Tak hanya lagu-lagu yang sudah ada, tetapi ada satu lagu orisinil yang sengaja dibuat di dalam film ini.

Memang, Pitch Perfect 2 tak mampu menyaingi kualitas dari film pertamanya yang sangat segar dalam genre musikal. Tetapi, Pitch Perfect 2 masih memiliki semangat yang sama untuk membangun film ini sebagai feel-good film yang setidaknya mampu tampil menghibur penontonnya. Hal itu dikerahkan penuh lewat jokes yang masih mengundang tawa dan deretan panjang lagu-lagu yang ditampilkan. And it’s still Aca-fun to sing along with The Barden Bellas

Sabtu, 30 Mei 2015

SPY (2015) REVIEW : A Complete-Packaged Spy Movies Spoof


Paul Feig memang perlu mendapat sorotan dalam rekam karirnya beberapa tahun terakhir. Setelah karya debutnya, Bridesmaids berhasil mendapatkan pujian oleh para kritikus, Paul Feig selalu mengepakkan sayapnya lebih lebar dalam genre serupa. Komedi, genre satu ini memang akan memikul beban yang lebih berat. Karena sang sutradara harus tahu bagaimana mengemas sebuah komedi yang renyah dan memecahkan tawa penontonnya.

2 tahun lalu, The Heat adalah bukti bahwa Paul Feig masih mampu membuat tawa renyah penontonnya. Maka, tak salah jika kali ini Paul Feig mendapatkan kesempatan lagi untuk membuat film dengan genre yang sama. Spy, menjadi proyek film terbaru dari Paul Feig yang memiliki nama-nama besar dalam jajaran ensemble cast. Jason Statham, Jude Law, Rose Byrne, dan Mellisa McCarthy yang selalu menjadi langganan Paul Feig di setiap film komedinya.

Memiliki tema yang sama dengan The Heat, Spy adalah sebuah film action-comedy yang jauh lebih besar kemasannya daripada film Paul Feig sebelumnya. Maka, tak salah jika para penonton mengharapkan sesuatu yang lebih besar dan lebih menyenangkan ketimbang The Heat. Apalagi, ada nama seperti Jason Statham yang sudah memiliki jam terbang tinggi di genre film aksi. Dan Paul Feig ternyata menyanggupi apa yang sudah diharapkan oleh penontonnya.


Spy adalah sebuah spoof terhadap film-film agen rahasia yang selama ini sedang beredar. Menceritakan tentang Susan Cooper (Melissa McCarthy) yang bekerja di FBI sebagai operator atau analis yang membantu agen rahasia, salah satu agen rahasia yang dia bantu adalah Bradley Fine (Jude Law). Di saat menuntaskan misinya yang paling baru, Agen Fine harus berhadapan langsung dengan musuh utamanya yaitu Rayna Boyanov (Rose Byrne).

Agen Fine pun diserang oleh Rayna Boyanov dan hilang jejak. Susan merasa dia harus menyelamatkan dan mencari agen Fine dalam keadaan apapun. Karena Susan memendam rasa yang berbeda terhadap agen Fine, dia pun menawarkan diri menjadi seorang agen yang akan menyelesaikan misi yang diberikan kepada agen Fine. Setelah melewati beberapa uji coba, Susan pun mendapatkan identitas baru yang dapat dia gunakan untuk menjalankan misinya. 


Kekuatan di setiap komedi milik Paul Feig adalah bagaimana Feig berhasil mengemas dialog-dialog yang witty di setiap filmnya. Dan hal itu pun terulang kembali di dalam film terbaru milik Paul Feig. Meski, Spy tetap mengemas dirinya sebagai film aksi, tapi bagaimana Paul Feig mengemas komedi di dalamnya pun tetap mengejutkan penontonnya. Sehingga penonton akan dengan mudah tertawa dengan komedi-komedi yang disebar oleh Paul Feig bak ranjau.

Jika anda telah menonton trailernya terlebih dahulu, maka tak perlu khawatir segala gong komedinya sudah dikeluarkan. Karena ada banyak sekali jokes yang disimpan oleh Paul Feig yang digunakan sebagai senjata ampuh pendorong penonton untuk menyumbangkan tawanya saat menyaksikan film ini. Tiada henti, Paul Feig mengganjar penontonnya dengan dialog-dialog cerdas pengundang tawa serta guyonan slapstick beberapa kali agar penontonnya merasakan kesenangan dalam level tertinggi di dalam filmnya.

Film ini jelas menyindir segala macam film agen rahasia, semacam James Bond, yang selalu memasang agen rahasia pria sebagai penuntas misinya. Belum lagi representasi wanita-wanita seksi yang lincah bermain senjata di setiap film agen rahasia yang mampu dipatahkan oleh Paul Feig di dalam film Spy lewat karakter Susan Cooper. Pematahan stereotyping yang terjadi di dalam film agen rahasia berhasil disampaikan lewat beberapa dialog dan representasi karakternya dengan baik. Juga, spoof dalam opening credit sequences yang menyerang habis-habisan film Skyfall milik James Bond. 


Tak melulu tentang komedi, Paul Feig pun berhasil memberikan intrik menarik di dalam filmnya. Memberikan sedikit bumbu twist and turn yang setidaknya membuat film Spy ini tak melulu berada dalam jalan cerita yang klise. Pun, dengan kemasan sekuens aksi yang juga tak main-main. Ledakan, tembakan, car-chase yang tetap membuat film ini benar-benar memiliki definisi sebenarnya tentang sebuah film musim panas yang menyenangkan.

Segala komedi yang diarahkan dan dituliskan oleh Paul Feig pun tak ada artinya jika tak ada aktris kesayangannya, Melissa McCarthy. Kali ini, dia bermain dalam porsi yang pas sehingga tak terlalu menganggu seperti di The Heat. Melissa McCarthy pun berhasil menyampaikan pesan komedi itu lewat aktingnya yang pintar. Dan yang perlu digaris bawahi dalam film ini adalah lakon Jason Statham yang akhirnya keluar dari zona amannya.

Jason Statham memang masih menjadi sosok agen yang garang seperti biasanya dalam film-film sebelumnya. Hanya saja, karakter yang dia mainkan di dalam film ini cukup berbeda dan berhasil menjadi sosok yang jenaka jika dibandingkan dengan citra dirinya selama ini. Jason Statham tak terlihat malu atau pun canggung memerankan karakternya yang sering dikerjai habis-habisan oleh Paul Feig dalam naskahnya. 


Jelas, Spy akan dengan mudah merebut perhatian penontonnya karena film yang diarahkan oleh Paul Feig ini adalah paket lengkap bagi penonton yang sedang butuh hiburan. Karena Paul Feig tak hanya menyenangkan penontonnya lewat sekuens aksi penuh ledakan, tetapi juga dikemas dengan dialog-dialog cerdas yang mampu mengundang tawa penontonnya. Dan film ini adalah bukti bahwa Paul Feig menjadi salah satu sutradara yang mampu diperhitungkan dalam genre ini.

Jumat, 22 Mei 2015

MAD MAX : FURY ROAD (2015) REVIEW : What A Lovely Movie To Ride


Menjadi salah satu film aksi legendaris di tahun 80an, Mad Max kembali hadir untuk mencari fans-fans baru yang akan menyukai seri film aksi satu ini. Mad Max sudah memiliki tiga seri yang menjadi sebuah pion film aksi yang berbeda. George Miller, dalang di balik seri-seri Mad Max kembali mengarahkan seri terbaru dari seri ini. Mad Max : Fury Road, diisi oleh bintang-bintang ternama dan Tom Hardy memiliki kesempatan untuk menggantikan Mel Gibson di deretan aktor utama.
 
George Miller memutuskan Mad Max : Fury Road menjadi sebuah sekuel dari seri Mad Max sebelumnya. Dengan selang waktu yang lama dari seri ketiga ke seri terbarunya, Mad Max : Fury Road akan mengemban tugas yang sangat sulit untuk mencuri perhatian penontonnya. Terutama, untuk penonton baru yang tidak pernah tahu siapa itu George Miller dan Mad Max-nya. Lantas, dengan adanya tugas yang sulit itu, George Miller menjanjikan sebuah film aksi yang tak akan pernah penonton lihat sebelumnya. 

Kesulitan penonton baru dalam mengonsumsi Mad Max sebagai sebuah film utuh adalah bagaimana karakter Max yang tak memiliki pembangunan karakter yang konkrit. Hal ini disebabkan oleh Mad Max : Fury Road yang dijadikan sebuah sekuel langsung dari seri ketiga. Penonton akan merasa kehilangan jejak atas motivasi yang dilakukan oleh Max untuk menjalankan plot ceritanya. Tetapi, George Miller tak akan memberikan plot berbelit sehingga penonton akan tetap menyukai film ini. 


Max (Tom Hardy) ditahan oleh suku-suku baru yang tak dia kenal. Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) adalah kepala suku yang membuat Max menjadi mangsanya. Darah adrenalin miliknya menjadi konsumsi salah satu War Boys (Nicholas Hoult) untuk bertahan hidup. Sayangnya, Max harus ikut dalam masalah yang ada di kota milik Immortan Joe. Ada seseorang yang dipercaya oleh Immortan Joe yang malah membelot dari Immortan Joe.

Sang pembelot itu bernama Furiosa (Charlize Theron) yang membawa kabur para istri dari Immortan Joe untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Immortan Joe pun menyuruh para War Boys untuk mencari dan menyerang Furiosa sebelum perang antar suku terjadi. Max yang menjadi infus adrenalin bagi salah satu War Boys pun secara tak langsung terjun dalam perjalanan panjang penuh tekanan dalam mencari Furiosa. Dan menurutnya, ini adalah kesempatan yang baik untuk melarikan diri. 


Dalam perjalanan panjang yang dilalui oleh Max, penonton akan diberikan sajian menarik oleh George Miller. Bukan plot, tapi ada tensi yang akan terjaga sehingga penonton tak diberi sedikit pun ruang untuk bernafas lega. Dalam 120 menitnya, Mad Max : Fury Road memiliki banyak sekali sekuens aksi yang tak pernah penonton rasakan sebelumnya. Berbagai macam mobil berbentuk aneh yang disebut War Rig hingga tata rias yang nyentrik dari para karakternya jelas memiliki poin tambah dari film arahan George Miller ini.

Berbagai macam cara mengemas sebuah sekuens aksi oleh George Miller diterapkan di film terbarunya. Mulai dari senjata, cara menyerang, dan berbagai hal yang akan membuat penontonnya pun terasa dipacu adrenalinnya. Meski sang sutradara sudah berumur 70 tahun, tetapi George Miller mampu memberikan visi baru di dalam filmnya sehingga apa yang disajikan akan dengan mudah disukai oleh penonton yang membutuhkan hal tersebut.

Plot cerita pun akan terasa sederhana tetapi ada pemahaman lain yang ingin disampaikan oleh film ini. Mungkin akan ada kebiasan karakter di film ini yang membuat penontonnya akan menanyakan beberapa hal. Max memang hanya menjadi sesuatu yang bias meskipun judul film ini menggunakan namanya. Dan, sorotan yang lebih besar itu akan jatuh kepada karakter Furiosa yang mengantarkan konflik penting dari film ini. 


Dengan adanya sorotan yang lebih kepada Furiosa, hal ini menonjolkan beberapa pemahaman yang sudah ingin dianggap sejajar. Pun, begitu dengan karakter-karakter wanita lain yang memang akan berpengaruh besar terhadap keseluruhan pergerakkan narasinya. Sehingga, George Miller ingin menggambarkan pemberontakan yang dilakukan oleh para wanita agar ingin terlihat sama dan tidak terlihat lemah di mata para kaum lelaki. Meski begitu, film ini pun tak serta merta menggambarkan hal itu secara gamblang, hanya saja dipindahkan mediumnya lewat naskah.

Percayalah dengan euforia di sosial media atau internet yang mengatakan bahwa Mad Max : Fury Road adalah film aksi terbaik tahun ini. Dengan adanya visi baru dari George Miller di usianya yang tak lagi muda, Mad Max : Fury Road akan mengantarkan penontonnya untuk merasakan sensasi yang menyenangkan dalam pengalaman sinematik mereka. Penonton baru mungkin akan terlihat kebingungan dengan penggalian karakter Max yang tak terlalu dalam, tetapi George Miller akan menumpulkan pertanyaan itu dengan segala sekuens aksi yang membuat mata tercengang.
 

Sabtu, 25 April 2015

AVENGERS : AGE OF ULTRON (2015) REVIEW : Different Takes for Avengers Sequel


Marvel Cinematic Universe fase kedua sudah mencapai konklusi dari segala bentuk spin-off superhero milik Marvel. Ditutup dengan megah oleh Guardians of The Galaxy, konklusi dari fase kedua ini pun berada di tangan Joss Whedon. Ya, dia kembali menggarap sekuel di mana segala dari superhero Marvel berkumpul dan menyerang musuh. Avengers : Age of Ultron menjadi sebuah proyek superhero yang sangat diantisipasi oleh semua orang, terutama para pecinta film-film superhero milik Marvel.

Fase kedua dari perjalanan Marvel Cinematic Universe ini memang memiliki perbedaan tone cerita yang kental. Terlihat bagaimana Iron Man 3, Thor : The Dark World, dan Captain America : The Winter Soldier yang sedang dalam posisi yang tersudutkan dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Begitu pun dengan Avengers : Age of Ultron yang akan terlihat lebih gelap dibandingkan film sebelumnya. Hal itu terlihat di berbagai trailer-nya yang menunjukkan bahwa para jagoan super ini sedang mengalami krisis yang sulit.


Identitas mereka sebagai superhero sedang dalam posisi yang tidak diharapkan. Setelah berhasil menyerang musuh di mana pun, Iron Man (Robert Downey Jr.), Captain America (Chris Evans), Thor(Chris Hemsworth), Hulk (Mark Ruffalo), Hawkeye (Jeremy Renner), dan Black Widow (Scarlett Johansson), malah menimbulkan kekacauan yang semakin banyak dan banyak yang membencinya. Hal ini mendorong Tony Stark ingin membuat suatu program yang dengan menjunjung misi perdamaian.

Ultron, proyek dicanangkan oleh Tony Stork sebagai program yang akan membuat dunia ini damai. Sayangnya, hal itu malah menyerang Tony Stark dan kawanannya sendiri. Ultron yang belum selesai dalam pembuatannya, tiba-tiba membangunkan diri dan berusaha untuk menghancurkan kawanan Avengers. Ultron melarikan diri dan mencoba untuk menguasai dunia dengan bantuan saudara kembar dengan kekuatan super yaitu Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron-Taylor Johnson).


Mencoba untuk memanusiakan para manusia super ini bukanlah hal baru yang pernah dilakukan di perfilman Hollywood. Avengers : Age of Ultron terlihat akan menggunakan formula yang sama dengan DC Comics Universe yang mencoba untuk memanusiakan dan menggelapkan nada cerita di film terbarunya. Akan ada beberapa cerita yang akan menonjolkan sisi humanis dari para Superhero di sekuel Avengersini, tetapi bukan tujuan seperti itulah yang diinginkan oleh Joss Whedon sebagai sutradara dan tentu saja Kevin Feige sebagai produser Marvel.

Avengers : Age of Ultronbukan mencoba untuk mengubah secara keseluruhan pakemnya menuju sesuatu yang gelap dan humanis layaknya apa yang dicoba oleh Nolan kepada Batman. Tetapi, Joss Whedon memberikan intrik yang lebih dalam Avengers : Age of Ultron ini agar memiliki sesuatu yang lebih dewasa atau tingkatan lebih lanjut di dalam filmnya. Di sinilah, keunggulan dari Avengers : Age of Ultron yang tak dimiliki di film Avengers yang pertama.

Akan ada perbedaan pakem dari seri pertama Avengers dengan seri keduanya. Di seri pertama, akan menitikberatkan pada bagaimana Avengersini menjadi sesuatu yang menyenangkan dengan plot yang lebih ringan. Dan juga digunakan sebagai tempat di mana para manusia super ini berkumpul untuk pertama kalinya. Sehingga apabila pakem tersebut digunakan kembali untuk film yang kedua, Avengers : Age of Ultron tak akan memberikan sesuatu yang berbeda dan terkesan formulaic.


Avengers : Age of Ultronmencoba untuk mencari sesuatu yang berbeda dari film sebelumnya. Dengan adanya kedalaman karakter di dalam filmnya, Avengers : Age of Ultron memiliki interestyang berbeda dibandingkan dengan film sebelumnya. Setiap karakter manusia super yang ada di Avengers : Age of Ultronterasa lebih hidup dan terasa lebih multidimensional dibandingkan dengan film Avengers sebelumnya. Dengan adanya pendalaman karakter ini, akan membuka akses bagi penontonnya untuk terbentuk relevansi dengan para karakter manusia super.

Dengan adanya kedalaman karakter di Avengers : Age of Ultron, setiap karakter superhero di dalam film ini pun memiliki porsi yang seimbang. Tak seperti film pertama di mana porsi besar ditujukan kepada Tony Stark dan Steve Rogers sebagai penggerak cerita. Naskah milik Joss Whedon memiliki pemaknaan yang dalam di setiap dialognya. Bukan hanya sebagai penggerak cerita dan basa-basi belaka, tetapi ada sesuatu yang terselip yang ingin disampaikan oleh Joss Whedon dengan dialog semantiknya yang dinamis dan cerdas.


Avengers tetaplah produk milik Marvelyang harus mengedepankan sesuatu yang menyenangkan sebagai penyeimbang tone cerita yang mulai kelam. Naskah dari Avengers : Age of Ultron masih diselipi jokes yang dengan mudah membuat penontonnya tertawa. Meskipun, kadar jokes itu lebih sedikit dibandingkan dengan filmnya yang pertama. Tetapi, sedikitnya kadar jokes yang ada di dalam film Avengers : Age of Ultron mungkin dibuat agar tidak merusak tensi cerita yang dibangun sangat apik oleh Joss Whedon.

Pun, dengan action sequencesyang jelas mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar dibandingkan dengan film pertamanya. Dengan bertambahnya karakter-karakter baru, film ini akan penuh sesak sehingga dalam eksekusi action sequences harus memiliki treatment yang lebih besar. Dan, Joss Whedon mampu menangkap segala keindahan dan kegilaan action sequences dengan sangat indah, juga diwarnai dengan visual efek yang megah tetapi memiliki emosi yang sangat kuat.


Dan inilah sebuah jawaban bagaimana sebuah sekuel memiliki tingkat kemenarikan yang berbeda dengan film sebelumnya. Avengers : Age of Ultron memiliki sebuah kedewasaan agar sebuah sekuel mencapai kasta yang lebih tinggi dibandingkan dengan film sebelumnya. Avengers : Age of Ultron memiliki tone cerita yang lebih gelap tetapi tak melupakan bagaimana sebuah film manusia super harus bisa mengedepankan unsur menyenangkan agar terasa lebih universal. Dan Joss Whedon tahu benar bagaimana dia menngarahkan Avengers : Age of Ultron agar menjadi paket lengkap itu.

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...