Kamis, 15 Oktober 2015

3 : ALIF LAM MIM (2015) REVIEW : Tatkala Problematika Sosial Berdampak Pada Kehancuran


Menjadi salah satu sutradara yang layak diperhitungkan di kancah perfillman Indonesia, Anggy Umbara tak pernah absen untuk menghasilkan karya di setiap tahunnya. Dengan kesuksesan luar biasa dari Comic 8, semakin menegaskan lagi bahwa Anggy Umbara adalah rival bagi para sineas lain yang ingin bersaing. Memiliki proyek franchise besar yaitu Comic 8, Anggy Umbara kembali menyusun setup baru untuk dikembangkan agar menjadi franchisebesar lainnya.
 
Menawarkan sesuatu yang berbeda, 3 : Alif Lam Mim, judul karya terbaru dari Anggy Umbara ini berpotensi untuk menarik minat penonton yang sudah terlanjur skeptis dengan genre film Indonesia yang monoton. Premis yang diusung oleh 3 : Alif Lam Mim ini memiliki isu yang sangat sensitif dan tidak dapat dipungkiri akan menimbulkan kontroversi. Tetapi, film ini juga bisa menjadi salah satu media untuk membuat surat terbuka terhadap isu yang selalu ada di negara yang selalu tanpa sengaja mematok kebenaran yang sudah pasti. 

Anggy Umbara berani mempertanyakan satu poin penting di dalam filmnya. Bagaimana jika apa yang selalu mereka percaya dan mereka anggap benar adalah ujian terbesar dan rintangan bagi segala manusia untuk bisa saling berbuat baik terhadap sesama? Bagaimana jika rasa kepemilikan terhadap apa yang mereka anggap benar yang terlalu signifikan malah membuat seseorang takabur dan melupakan toleransi yang seharusnya diajarkan dan menjadi dasar kita membangun relasi dengan sesama?  


Hal tersebut tergambar lewat cerita di dalam 3 : Alif Lam Mim, menceritakan tentang keadaan negara Indonesia paska kehancuran. Di tahun 2036, Indonesia masa depan adalah sebuah negara dengan pemahaman liberal dan menganggap bahwa memihak di satu agama adalah masalah utamanya. Plot cerita dijalankan lewat tiga karakter berbeda dengan latar belakang pembangun karakter yang sama. Alif (Cornelius Sunny), Lam (Abimana Aryasatya), dan Mim (Agus Kuncoro)

Mereka menjadi sosok individu yang berbeda untuk menjalani hidup mereka. Alif, menjadi seorang polisi dengan paham liberal sesuai dengan negara Indonesia saat itu. Lam, seorang jurnalistik yang harus berperang dengan pekerjaannya sendiri untuk tetap bisa hidup beriringan dengan kepercayaan yang dipegangnya. Dan Mim, memutuskan untuk tetap membela kepercayaan yang mereka pegang meski akan terus dianggap ancaman. 


3 : Alif Lam Mim menawarkan premis dan potensi yang menarik dari sekian banyak film-film Indonesia yang ada. Anggy Umbara berusaha untuk mencari celah dan memberikan pandangan selangkah lebih maju untuk mengembangkan perfilman Indonesia yang sudah minim akan terobosan. 3 : Alif Lam Mim berani untuk menggambarkan Indonesia paska kehancuran yang disebabkan oleh problematika sehari-hari negara ini sendiri. Sang sutradara membangun pemahaman baru yang menyangkut pautkan problematika ini ke dalam filmnya.

Arogansi dalam membela apa yang mereka percaya itu benar menjadi problematika yang tak akan pernah tahu jawabannya dan tak akan pernah habis untuk dibahas. Hal tersebut menguap menjadi suatu isu yang sensitif untuk disinggung oleh beberapa pihak. Merasa geregetan dengan isu tersebut, Anggy Umbara memasukkan konten tersebut  ke dalam naskah film terbarunya. Dan ditulis ramai-ramai dengan 2 saudaranya, Fajar dan Bounty Umbara.

Presentasi 3 : Alif Lam Mim memang belum bisa dikatakan sempurna meskipun memiliki konten yang dahsyat. Memasukkan banyak sekali isu sosial yang berusaha untuk disindir sehingga konten-konten itu belum bisa menyatukan kepingan-kepingan cerita yang dibangun. Apalagi, kekhasan pengarahan dari sutradara Comic 8 ini adalah memecah setiap keping cerita karakternya satu persatu. Berusaha menguliti sang karakter agar memiliki pendalaman karakter yang seimbang.


Di luar presentasinya yang belum sempurna, setidaknya Anggy Umbara tahu dan berusaha untuk membuat filmnya menjadi salah satu yang berbeda di lini film Indonesia lainnya. Juga, naskah penuh pertanyaan kontemplatif tentang kehidupan. Dilempar kembali oleh sang sutradara untuk menampar sisi arogansi dan acuh manusia tentang kepercayaan yang mereka pegang ternyata adalah sebuah bumerang bagi kehidupan mereka bersosial.

Meskipun, naskah milik Umbara bersaudara ini masih terkesan pretensius dan salah kaprah untuk membangun idealisme baru bagi filmnya. Berusaha untuk tidak terkesan stereotip memberikan pandangan terhadap suatu kepercayaan, malah film 3 : Alif Lam Mim tetap menegaskan bahwa satu kepercayaan tersebut adalah suatu kebenaran yang absolut. Tanpa sengaja, mereka menempel atribut dari diri pembuatnya ke dalam naskah yang mereka tulis. Sehingga, bisa jadi film ini tak bisa menjadi sajian yang universal dan mengusik keberadaan instansi dan orang-orang terkait lainnya yang juga diakui.

Tetap, 3 : Alif Lam Mim memberikan i’tikad baik setidaknya untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari konten dan presentasi. Dengan konten yang berat, Anggy Umbara tetap mengemas filmnya menjadi sesuatu yang megah dan mahal. Semua konten cerita yang berat itu ditampilkan secara eksplisit dan tak perlu basa-basi sehingga penonton bisa menyerap apa yang coba disampaikan oleh Anggy Umbara. Tanpa melupakan bahwa film ini juga bisa menjadi media refleksi penonton tentang kebenaran kepercayaan mereka. Sudah benarkah cara mereka untuk membela apa yang mereka anggap benar? 


Maka di luar presentasinya yang belum dalam taraf sempurna, 3 : Alif Lam Mim berusaha untuk tampil berbeda dan memberikan sumbangsih besar di deretan film Indonesia lainnya. Anggy Umbara berani untuk mengangkat isu sensitif tentang suatu kepercayaan di dalam film terbarunya. Meskipun, ada satu poin yang terlewat ketika tanpa sengaja menempelkan atribut dirinya ke dalam naskah filmnya. Setidaknya, 3 : Alif Lam Mim bisa dijadikan sebuah pencerminan dan kontemplasi akan kehidupan sosietas negara yang terbelah dalam beberapa kubu yang merasa paling benar.

Rabu, 07 Oktober 2015

HOTEL TRANSYLVANIA 2 (2015) REVIEW : The Hotel Has Nothing New to Offer

 

Setelah sukses luar biasa dari segi pendapatan, Hotel Transylvania jelas menjadi salah satu film animasi yang menjanjikan bagi Sony Pictures Animation. Film arahan dari Genndy Tartakovsky ini akan dijadikan sebagai senjata pengeruk uang bagi rumah produksi satu ini. Benar, selang 3 tahun kemunculan film pertamanya, Hotel Transylvania kembali dibukan untuk para penonton yang ingin merasakan kehidupan para monster di dalamnya.
 
Hotel Transylvania 2 tetap di bawah komando Genndy Tartakovsky. Meski film pertamanya memiliki presentasi yang tak terlalu baik, tetapi Hotel Transylvania 2 tetap mendapatkan lampu hijau untuk mendapatkan jadwal rilis. Hotel Transylvania 2 pun dibidik menjadi salah satu film keluarga yang dapat menghibur mereka, terutama untuk anak kecil. Adam Sandler dan Selena Gomez pun tetap kembali memberikan sumbangsih mereka sebagai pengisi suara karakter-karakter di dalamnya.

Kekhawatiran penonton terhadap sekuel Hotel Transylvania untuk bisa lebih baik dari yang pertama jelas ada. Presentasi Hotel Transylvania yang terkesan medioker bukan menjadi berita bagus bagi sekuelnya yang akan dibuat. Benar saja, Hotel Transylvania 2 pun tak bisa setidaknya berdiri sejajar dari film pertamanya yang setidaknya masih enak untuk diikuti. Sekuelnya kali ini memiliki banyak sekali konflik yang dijejalkan agar bisa memenuhi durasi selama 89 menit. 


Setelah sekian lama berpacaran, Mavis (Selena Gomez) dan Jonathan (Andy Samberg) pun akhirnya menikah. Keberadaan Jonathan menjadi salah satu anggota keluarga dari Drac (Adam Sandler) memberikan perubahan besar bagi kelangsungan Hotel Transylvania miliknya. Hotel ini pun dibuka untuk kalangan yang lebih luas, contohnya adalah manusia. Kehidupan di Hotel Transylvania pun semakin berwarna karena Mavis dikaruniai seorang anak hasil dari pernikahannya.

Dennis (Asher Blinkoff) anak dari Mavis dan Jonathan pun diperebutkan oleh Drac dan juga keluarga dari pihak Jonathan. Drac sangat ingin tahu apakah Dennis ini adalah keturunan vampir sepertinya dirinya atau manusia seperti Jonathan. Keingintahuan itu pun membuat Mavis kesal karena Drac seperti memaksa Dennis menjadi seorang Drakula sepertinya. Drac pun mencari cara agar bisa membawa pergi Dennis dan membuktikan bahwa Dennis adalah vampir seperti dirinya. 


Hotel Transylvania mungkin bukan salah satu kontender film animasi yang kuat dan belum bisa menjadi ancaman bagi film-film animasi lainnya. Presentasi Hotel Transylvania pertama yang hanya sebatas menghibur belum bisa  menggoyahkan film-film animasi lainnya. Hanya saja, dewi fortuna datang menghampiri Hotel Transylvania. Mendapatkan word of mouth yang besar dan juga penghasilan yang besar sehingga sebuah sekuel layak untuk ia dapatkan.

Lewat presentasi medioker yang ditawarkan oleh Hotel Transylvania yang pertama, mungkin penonton mencoba lebih menerima apa yang ditawarkan oleh sekuelnya. Trailer yang dikemas menyenangkan juga bisa jadi menjadi pedoman utama penonton untuk memberikan kesempatan bagi Hotel Transylvania 2 memiliki presentasi yang sama menghiburnya dengan yang pertama. Memang, Hotel Transylvania 2 masih memiliki karakter yang menggemaskan hanya saja sekuelnya ini tak memiliki kekuatan yang sama besar dibanding film pertamanya.

Hotel Transylvania 2 pun terasa dipanjang-panjangkan di dalam durasinya yang hanya 89 menit. Konflik-konflik yang ditawarkan di dalam Hotel Transylvania 2 pun terlalu banyak, sehingga penonton pun akan merasa terlalu lelah untuk mengikuti 89 menit filmnya. Ganndy Tartakovsky pun seperti kehilangan semangat untuk mengarahkan film animasinya. Hal-hal menarik di dalam filmnya memang tak terlalu terlihat di trailer-nya, karena apa yang menarik itu hanya ada segelintir dari apa yang dipresentasikan olehnya. 


Semangat untuk menjadikan sekuel Hotel Transylvania mendapatkan lagi perhatian dan hati penontonnya, kali ini sepertinya sudah runtuh. Ganndy Tartakovsky terlihat bingung untuk menyelesaikan satu persatu konflik-konflik kecil yang dimunculkan olehnya di sepanjang film. Hasilnya, filmnya pun memiliki tempo yang sangat lambat meski dengan durasi yang singkat. Di paruh kedua, Hotel Transylvania 2 pun seperti kebingungan untuk menambahkan konflik apa lagi agar durasi filmnya memenuhi kriteria sebagai film layar lebar.

Segmentasi Hotel Transylvania memang ditujukan sebagai anak-anak, sehingga jokes yang ditawarkan di film-filmnya memang terkadang tak bisa menyenangkan penonton dewasa yang menemani mereka. Dan Hotel Transylvania 2 tak memiliki perkembangan signifikan untuk membuat tertawa penontonnya. Gurauan yang dihadirkan di Hotel Transylvania 2 pun gampang ditebak dan malah membuat penontonnya tak menghadirkan respon yang diharapkan sutradaranya.

Penonton di studio pun hening, tak menimbulkan suara tawa riuh ketika menonton Hotel Transylvania 2. Sedikit senyum simpul atau tawa lembut hadir di dalam bioskop ketika humor tersebut di sampaikan oleh Ganndy Tartakovsky di dalam Hotel Transyvania 2 dan itu pun bisa dihitung jari. Hotel Transylvania 2 pun sedikit gagal menghadirkan kekuatan yang sama yang dihadirkan oleh film pertamanya untuk menghibur penontonnya.


Tujuan Ganndy Tartakovsky pun berubah, dari sebuah film yang menjadikan sarana hiburan keluarga menjadi sebuah sarana pemenuh hasrat kebutuhan para penggemarnya. Beberapa ikon menarik seperti ‘I Zing You’ pun hadir hanya sebatas lewat, tak memiliki momen magis seperti film pertamanya. Dan juga, Hotel Transylvania 2 hanyalah sebatas penjawab bagaimana kehidupan Mavis dan Jonathan selanjutnya di mana hal tersebut sudah terjawab di paruh awal filmnya.

Dari presentasi yang kelewat sederhana di film pertamanya, Hotel Transylvania 2bukanlah sebuah kabar baik. Ganndy Tartakovsky meruntuhkan ekspektasi penonton yang sudah berharap besar untuk terhibur dengan sekuel dari kehidupan Drac, Mavis, dan Jonathan. Selain dari visual yang menarik dan karakter yang menggemaskan, Hotel Transylvania 2tak menawarkan apa-apa untuk dikembangkan di dalam sebuah sekuel. Malah, Hotel Transylvania 2 mengalami penurunan yang meski tak signifikan tetapi sangat berpengaruh bagi kelangsungan 89 menit filmnya yang terasa panjang.

Rabu, 30 September 2015

SOUTHPAW (2015) REVIEW : Stellar Performance Inside The Mediocrity


Film bertema olahraga dengan nilai-nilai kemanusiaan, mungkin menjadi salah satu film yang berpotensi ikut dalam ajang penghargaan bergengsi. Apalagi di akhir-akhir tahun seperti ini, adalah waktu yang tepat untuk merilis film-film dengan tema seperti ini. Southpaw adalah salah satu proyek yang mungkin memiliki materi itu untuk bisa mendapatkan perhatian di ajang-ajang penghargaan bergengsi. Apalagi, film ini disutradarai oleh Antoine Fuqua yang pernah berhasil mendapatkan perhatian para juri ajang penghargaan lewat Training Day.

Southpawdibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Rachel McAdams, dan banyak bintang lainnya yang juga memiliki reputasi yang sangat baik di dalam filmnya. Jelas, Antoine Fuqua berharap banyak dengan apa yang dia arahkan di proyek film terbarunya. Pun juga, dengan materi film Southpawmemiliki banyak sekali potensi untuk menjadikannya sebuah film yang mumpuni untuk disaingkan dengan film-film lainnya yang disiapkan sebagai film-film awards nods.

Memang, film arahan Antoine Fuqua ini tak bisa dipungkiri memiliki materi awards yang bisa diandalkan sebagai poin utama dari film ini. Southpaw memang berhasil menyajikan jajaran pemain dengan performa yang kuat. Sayangnya, unsur klise dan beberapa arahan Antoine Fuqua yang terkesan minimalis membuat Southpaw tak bisa memaksimalkan potensi dan materi yang ada di dalamnya. Bisa jadi, Southpawtak bisa mencapai tujuan utama untuk mendapatkan perhatian di ajang penghargaan bergengsi tahun depan.


Billy Hope (Jake Gyllenhaal) seorang petinju ternama yang mendapatkan gelar juara di mana-mana. Ketangguhannya di atas ring, memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Betapa tangguhnya dia, tetap tak bisa dipungkiri bahwa dia adalah seorang ayah dari satu orang anak hasil pernikahannya dengan Maureen (Rachel McAdams). Sang istri setia menemani Billy menyelesaikan pertandingannya. Dan suatu ketika nyawa istrinya direnggut oleh musuhnya di atas Ring ketika mendatangi jamuan makan malam.

Kehidupan Billy Hope pun menjadi kacau balau. Dia sangat emosional dan hubungannya dengan sang anak, Leila (Oona Laurence) pun renggang. Hingga suatu ketika, Leila dan Billy harus hidup terpisah karena Billy dianggap tidak bisa mendidik anak dengan baik. Hal ini semakin menghancurkan kehidupan Billy. Dia pun berusaha bangkit lewat dengan bakat yang dia punya yaitu dunia tinjunya. Dia ingin membuktikan bahwa dia sedang baik-baik saja kepada dunia dan juga anaknya. 


Ketika foto teaser dari Jake Gyllenhaal dirilis di media sosial atau pun portal berita film, banyak sekali respon dari orang yang mengatakan bahwa film ini bisa mendapatkan perhatian di ajang bergengsi. Terlebih, performa Jake Gyllenhaal di setiap film memang tak main-main. Pun benar, Jake Gyllenhaal bermain kelewat apik di dalam film terbaru arahan dari Antoine Fuqua ini. Dia terlihat totalitas menjadi seorang yang badung tetapi memiliki bagian sentimentil tersendiri di dalam dirinya.

Performa Gyllenhaal di dalam film Southpaw memang memiliki performa yang luar biasa. Hanya saja, apa yang diperankan oleh Gyllenhaal ini bukan berarti akan mudah mendapatkan perhatian dari para juri di ajang penghargaan. Bukan berarti itu buruk, pun performa miliknya bisa mengangkat presentasi keseluruhan dari Southpaw yang malah cenderung monoton. Performanya dan juga chemistryGyllenhaal dengan pemainnya adalah penyelamat dari presentasi keseluruhan dari Southpaw arahan Antoine Fuqua.

Southpawmemang akan cenderung memiliki formula-formula yang sudah pernah ada sebelumnya. Cerita seseorang from zero to hero sebagai momok utama di dalam filmnya. Dengan formula yang sudah pernah dipakai sebelumnya, jelas tak bisa dipungkiri bahwa Southpaw memiliki cerita-cerita perjuangan yang klise di beberapa adegan. Hanya saja dibumbui dengan human drama menarik antar ayah-anak yang bisa memberikan konflik di tengah perjuangan Billy Hope. 


Arahan milik Antoine Fuqua pun makin menguatkan kesan mediocre yang ditambatkan ke dalam filmnya. Southpaw pun terkesan episodik di setiap babak penceritaannya. Pun dengan pengarahan yang tak konsisten dari Antoine Fuqua. Plot sampingan di dalam film Southpawpun terlalu banyak. Hasilnya, di paruh kedua filmnya, film ini mengalami penurunan tensi dan tone cerita terkesan berubah. Dan adegan-adegan klise sedikit demi sedikit mulai bermunculan.

Paruh kedua film ini pun mulai tersendat-sendat. Kebangkitan karakter Billy Hope sebenarnya menjadi poin penting dari filmnya. Hanya saja, poin tersebut terkesan hanya sebagai tempelan untuk menambah kerumitan plot utuh dari film Southpaw. Penurunan performa di bagian tengah film ini pun ditambahi dengan pemilihan Forest Whitaker sebagai karakter pendukung yang malah terkesan tak bersemangat. Karakternya sebagai penyulut api semangat dan mendominasi karakter Billy Hope, malah menjauh dari kesan yang harusnya hendak disampaikan oleh Antoine Fuqua.

Presentasi secara keseluruhan di dalam film Southpaw memang tak memiliki sesuatu yang mewah selain dari jajaran nama aktor-aktris dan performa dari mereka. Sehingga, Southpaw tak punya cukup tenaga untuk mendapatkan perhatian untuk bisa bersaing di ajang penghargaan. Tetapi, Southpaw cukup berhasil memberikan performa yang membekas di hati penontonnya, terlebih yang ingin menonton sajian alternatif di tengah film-film yang penuh dengan visual efek. 


Ingin filmnya menjadi salah satu film yang akan mendapatkan perhatian di ajang-ajang bergengsi ternyata malah menyerang balik Antoine Fuqua selaku sutradara. Southpaw tak memiliki presentasi yang sempurna dan cenderung biasa namun dibekali dengan performa luar biasa dari jajaran aktor dan aktrisnya. Apalagi performa Gyllenhaal lah yang menyelamatkan dan menghidupkan film arahan dari Antoine Fuqua ini. Meski tak dapat perhatian dari para juri ajang penghargaan, setidaknya Southpaw bisa mendapatkan hati penontonnya. Dan juga bisa digunakan sebagai alternatif tontonan bagi penonton yang sudah bosan dijejali film penuh visual efek yang bombastis.

Senin, 21 September 2015

EVEREST (2015) REVIEW : Not Really Hike to Top of the Mountain


Film-film dengan berbujet besar dan penuh ledakan yang diedarkan selama musim panas pun akhirnya berakhir. Di kuartal akhir tahun, slot-slot besar itu diperuntukkan bagi film-film yang sudah siap bersaing di ajang-ajang bergengsi seperti Golden Globe Awards atau pun Academy Awards. Akan banyak sutradara yang bersaing untuk mendapatkan lini terdepan sebagai jagoan untuk memenangkan beragam penghargaan di dalam ajang bergengsi tersebut.

Salah satu film yang memiliki konten tersebut adalah Everest, arahan dari Baltazar Kormakur. Film ini pun terlihat memiliki konten yang setidaknya bisa diperhitungkan di dalam ajang-ajang bergengsi. Diadaptasi dari sebuah buku berjudul Into Thin Air, Baltazar Kormakur mengarahkan sebuah film yang didasari oleh kejadian nyata tentang para pendaki yang kesulitan untuk mencapai puncak gunung tertinggi dunia. Beberapa nama besar pun ikut andil di dalam film ini seperti Jason Clarke, Josh Brolin, Keira Knightley, dan Jake Gyllenhaal.

Terlalu memiliki ambisi untuk menjadikan film arahannya agar mendapatkan sebuah pengakuan di ajang bergengsi pun malah menyerang balik dirinya. Everest adalah sebuah film drama berdasarkan kisah nyata yang memang memiliki konten yang berpotensi untuk dapat bersaing di sebuah ajang penghargaan. Hanya saja, Baltazar Kormakur memiliki pengarahan yang sangat hati-hati dan malah cenderung bermain aman. Hasilnya, Everest pun tak dapat memberikan performa yang sesuai dengan ekspektasi penontonnya. 


Rob Hall (Jason Clarke), seorang pendaki yang ingin mencapai puncak tertinggi di dunia yaitu gunung Everest. Dia pun mengajak teman-temannya seperti Beck (Josh Brolin), Doug (John Hawkes), dan masih banyak lagi untuk melakukan ekspedisi terakhir tersebut. Setibanya di sana, dia bertemu dengan Jon (Michael Kelly) dan Helen (Emily Watson) untuk melakukan rencana perjalanan agar ekspedisi yang mereka lakukan berhasil. 

Ketika semua sudah dipersiapkan, mulai dari kesehatan, jalanan di sana, dan banyak hal lainnya, mereka memulai perjalanan ekspedisi mereka. Tetapi, mereka harus tiba di sana tepat waktu agar tak terkena badai salju besar yang bisa menewaskan mereka. Sayangnya, perjalanan mereka di sana tak terlalu lancar. Mereka harus dihadapkan oleh beberapa masalah kecil yang tak membuat mereka terhambat. Mereka berhasil menuju puncak, tetapi ketika mereka melakukan perjalanan kembali ke dataran rendah, badai salju besar tersebut menerpa mereka.


Badai salju tak hanya datang menerpa para karakter yang ada di dalam film Everest, tetapi badai itu pun menyerang keseluruhan presentasi yang diarahkan oleh Kormakur. Baltazar Kormakur tak berusaha untuk menjadikan Everest memiliki performa yang sama tingginya dengan latar tempat utama mereka. Banyak sekali beberapa poin yang hilang ketika menyaksikan Everest secara utuh dengan durasi mencapai 121 menit.

Baltazar Kormakur ingin menjadikan Everest sebagai film yang memiliki kekuatan emosional. Dengan banyaknya nama terkenal di dalam lini pemainnya, Everest pun tak bisa memaksimalkan salah satu poin penting di dalam sebuah film. Everest ingin membuat filmnya menjadi sebuah film slow-burn drama dengan pengaruh yang besar bagi penontonnya. Sayangnya, Baltazar Kormakur belum mempunyai kompetensi untuk mengangkat semua cerita yang ada di dalamnya. 


Jalan terjal film Everest pun terlalu banyak. Tak seperti karakternya yang berhasil menuju puncak gunung tertinggi tersebut, Everest tak berhasil mencapai puncak emosi yang seharusnya menjadi senjata utama bagi Everest. Permainan emosi yang dihadirkan oleh Baltazar Kormakur tetap hadir, hanya saja di beberapa bagian tertentu. Sehingga, tujuan utama Everest untuk menghadirkan pengaruh yang besar bagi penontonnya pun tak bisa tercapai maksimal.  

Memiliki banyak karakter yang ikut andil ke dalam filmnya pun membuat Baltazar Kormakur kebingungan untuk memberikan spotlight kepada siapa di filmnya. Ketika seharusnya spotlight besar ditujukan kepada Jason Clarke, jatuhnya semua karakter memiliki porsi yang sama dan ini bukanlah sesuatu yang baik. Hal tersebut lah yang memengaruhi bagaimana performa Everest yang menyebar segala tensinya ke setiap karakternya dengan merata. Sehingga, tak ada adegan yang membuat siginifikansi emosi bagi penontonnya.

Dengan durasi mencapai 120 menit, beberapa bagian di film arahan Baltazar Kormakur ini pun terasa hambar. Penonton akan kebingungan dan terus mencari mana yang menjadi sebuah titik puncak dari Everest yang seharusnya memiliki dasar konten yang kuat. Di dalam presentasi secara keseluruhan, Baltazar Kormakur lupa dengan tujuan dan konten yang bisa menjadikan film Everest bisa tampil jauh lebih baik dari apa yang sudah dikemas sekarang.


Beruntung adalah bagaimana Everest mampu menampikan visual-visual menarik. Hal tersebut setidaknya membuat penonton bisa merasakan perjalanan ekspedisi menuju salah satu gunung tertinggi di dunia. Dengan berbagai cara pengambilan gambar yang menarik, setidaknya Everest memiliki sisi positif di bagian teknisnya. Pun, cara pengambilan gambar yang menarik itu berhasil mendukung format tiga dimensi sebagai salah satu alternatif cara untuk menonton film ini. 

Memiliki konten yang bisa masuk menjadi salah satu daftar film yang dapat bersaing di ajang bergengsi, nyatanya Everest tak bisa memaksimalkan hal tersebut. Everest seharusnya mampu untuk tampil lebih maksimal dari pada yang hasil akhir yang diarahkan oleh Baltazar Kormakur. Arahan darinya tak bisa menangkap emosi yang secara konstan hadir di dalam 120 menit durasinya. Pun, dengan jajaran aktor-aktris dengan nama yang besar, Everest pun tak bisa memaksimalkan hal tersebut. Beberapa bagian film ini pun terasa hambar dan tak semenarik dari seharusnya.
Film Everest pun tak lupa untuk dirilis dalam format tiga dimensi dan salah satunya dirilis dalam format IMAX 3D. Berikut rekapan format tiga dimensi IMAX.

DEPTH
 

Kemegahan luar biasa ditampilkan oleh film Everest lewat teknik pengambilan gambar. Dan dengan format tiga dimensi, kedalaman gambar pun tampak nyata

POP OUT 
Meski tak berapa banyak, efek ini di dalam format tiga dimensinya menyokong suasana dingin filmnya lewat butiran-butiran salju yang berhasil keluar dari layar.
Format tiga dimensi dari Everest sangat layak untuk disaksikan. Terlebih, ketika kalian menyaksikannya dalam format IMAX yang berhasil menangkap kemegahan Everest.

Sabtu, 19 September 2015

MAZE RUNNER : THE SCORCH TRIALS (2015) REVIEW : Another Victim of Sequel Disease


Buku-buku Young Adult dengan tema paska kehancuran banyak sekali diproduksi dan diminati oleh beberapa penulis. Pun, hal tersebut digunakan oleh beberapa rumah produksi untuk mengeruk keuntungan dengan membeli lisensi dari buku tersebut. Ada The Hunger Games dan Divergent yang sudah mendapatkan hati di penontonnya dan rumah produksi. 20th Century Fox pun tak mau ketinggalan dengan rumah produksi yang lain untuk membeli lisensi dari buku Young-Adult terlaris.

Dan 20th Century Fox memutuskan untuk mendapatkan lisensi dari buku karangan James Dashner, The Maze Runner. Buku miliknya adalah sebuah trilogi yang ketiganya mendapatkan plakat terlaris di beberapa majalah. Film pertama dari seri ini telah dibuat filmnya di tahun 2014 dan memiliki performa yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Dengan respon yang baik dari penonton, kritikus, dan pendapatan, lampu hijau untuk memproduksi sekuel dari The Maze Runner pun diberikan oleh 20th Century Fox kepada Wes Ball, sang sutradara.

The Maze Runner berhasil menyajikan konflik-konflik penuh misteri yang membuat penontonnya akan terus menanyakan apa yang ada selanjutnya. Dengan performan yang tak disangka cukup baik, sekuel The Maze Runner pun mendapat antisipasi yang cukup tinggi dari penontonnya. Maze Runner :  The Scorch Trials –judul dari sekuelnya –memiliki penurunan performa dan tak dapat membuat penontonnya bertahan menyaksikan apa yang coba dipresentasikan oleh sang sutradara. Meskipun, petualangan dari Scorch Trials lebih banyak daripada The Maze Runner. 


Setelah berhasil lolos dari Maze, para penghuni Glade diusung ke sebuah tempat pertahanan orang-orang yang juga berhasil lolos dari Maze yang dibuat oleh WCKD. Dengan berhasilnya lolos dari Maze tersebut, Thomas (Dylan O’ Brien) merasa bahwa dirinya dan teman-temannya sedang dalam kondisi yang aman. Ternyata, suasana yang tenang di tempat mereka bukanlah sesuatu yang baik artinya. Thomas dan teman-temannya ternyata sedang terperangkap oleh rencana jahat dari WCKD.

Mereka yang sudah berhasil ternyata sedang dijadikan sebuah kelinci percobaan untuk menemukan obat penawar dari wabah Flare yang telah menghancurkan kota mereka. Thomas yang merasa dirinya sedang terancam bahaya mengajak Minho (Ki Hong Lee), Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan teman-teman Glade lainnya untuk keluar dari tempat tersebut dan mencari Right Arm untuk menemukan penawar wabah tersebut. Dibantu oleh Aris (Jacob Lofland), mereka melakukan pelarian untuk menemukan Right Arm. 


Ada poin yang berbeda dari The Maze Runner dan The Scorch Trials. Di dalam The Maze Runner, penonton akan diajak untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi di dalam ceritanya. Sehingga, semua petunjuk akan disimpan erat-erat oleh sang sutradara agar dapat memberikan respon yang lain di akhir filmnya. Dan Scorch Trials, memiliki jalan cerita yang melulu straight-forward dan bisa membuat jengah penontonnya meskipun seharusnya memiliki kompleksitas cerita yang lebih.

Wes Ball pun lupa untuk menjadikan The Scorch Trials sebagai sajian yang bisa menahan penontonnya untuk tetap memandang layar. The Scorch Trials sepertinya memiliki misi untuk bisa mengolah lebih konflik yang diadaptasi dari buku James Dashner ini dengan lebih baik. Hal tersebut pun berpengaruh kepada durasi yang dimiliki oleh Maze Runner : The Scorch Trials ini. Dengan durasi 131 menit, seharusnya bisa digunakan dengan maksimal oleh Wes Ball untuk menjadikannya padat dan memiliki kompleksitas yang ia harapkan.

Tetapi, hal tersebut disia-siakan oleh Wes Ball untuk mengolah The Scorch Trials menjadi sajian yang setidaknya memiliki unsur misteri yang kental seperti film sebelumnya. 131 Menit milik The Scorch Trials pun penuh dengan cara bertutur Wes Ball yang bertele-tele untuk menyampaikan konflik utama dari filmnya sendiri. Banyak sekali adegan-adegan yang dipanjang-panjangkan dan tak diperhatikan. Hasilnya, Wes Ball pun terlihat kuwalahan untuk menyampaikan konflik cerita The Scorch Trials. 


Pengarahan yang kurang kuat dari Wes Ball ini pun berpengaruh dengan bagaimana performa filmnya. Di paruh keduanya, ritme The Scorch Trials pun terlihat melambat dan berjalan di tempat. Banyak hal yang perlu diceritakan di dalam naskah yang ditulis oleh T.S. Nowlin tetapi malah Wes Ball seperti pusing sendiri untuk mencari jalan bagi The Scorch Trials. Dan di paruh akhir, Wes Ball terlihat sangat berusaha untuk mengembalikan ritme The Scorch Trials. Hanya saja, usaha tersebut memiliki sisa kekuatan yang tak banyak.

Beruntungnya, The Scorch Trials memiliki semangat petualangan yang cukup baik. Wes Ball tetap bisa memberikan beberapa adegan yang membuat penontonnya merasakan ketegangan di setiap petualangan Thomas dan kawan-kawan Glade-nya. Beberapa jump scares dan thrill di beberapa adegan masih memiliki performa yang cukup baik. Dan hal-hal itu menjadi senjata utama dari The Scorch Trials yang memiliki kelemahan dalam hal pengarahan filmnya. 


Dengan perubahan pola dari The Maze Runner ke The Scorch Trials, hal tersebut bukanlah jimat yang baik untuk performa dari film sekuelnya. Terlihat kebingungan untuk mengarahkan konflik yang lebih berkembang, Wes Ball pun menjadikan Maze Runner : The Scorch Trials menjadi sajian yang cukup melelahkan untuk diterima oleh beberapa penonton. Meskipun, suasana yang thrilling dan tensi yang kuat di beberapa bagian cukup membuat Maze Runner : The Scorch Trials bisa dinikmati, tetapi keseluruhan presentasinya jelas masih di bawah film predesesornya.

Jumat, 18 September 2015

TED 2 (2015) REVIEW : Ted Is Back, The Jokes Is Not


Setelah secara tak terduga menjadi sebuah film ikonik dengan pendapatan dan respon yang baik dari kritikus, Seth MacFarlane memberikan persepsi lain kepada sebuah boneka Teddy Bear. Secara Ajaib, Ted menjadi sebuah film yang menghibur meskipun dengan guyonan yang penuh dengan sensualitas yang kadang membuat orang jengah. Tetapi, hal itu tetap menjadi senjata andalan untuk Ted menggerakkan cerita dan juga leluconnya yang jenaka.

Dengan respon yang baik dan pendapatan di Box Office yang juga sangat tidak mengecewakan, ini jelas digunakan oleh Seth MacFarlane untuk membuat sekuel dari boneka beruang tak bermoral ini. Ted 2 pun siap diarahkan dan dimainkan kembali oleh Seth MacFarlane melanjutkan sisa-sisa cerita yang ada di film sebelumnya. Tetap menggunakan Mark Wahlberg sebagai pemeran utama dengan absennya Mila Kunis, pemeran wanita diisi oleh Amanda Seyfried.

Ted 2 pun tak cenderung formulaic dan menggunakan template dari film prekuelnya. Hanya saja, ekspektasi penonton ketika menonton Ted 2 jelas masih terbayang-bayang betapa senonohnya guyonan di dalam filmnya akan tetapi mudah mengundang tawa penonton. Dan hal berbalik di Ted 2, guyonan yang diusung oleh Seth MacFarlane di dalam naskah Ted 2 berubah menjadi segmented jokes yang hanya dipahami oleh para pecinta kultur pop.


Konflik Ted 2 kali ini berfokus pada Ted (Seth MacFarlane) yang menikahi kekasihnya Tami-Lynn (Jessica Barth). Kehidupan pernikahan mereka setelah satu tahun cukup susah. Mereka pun tak saling sapa meskipun berada di satu tempat kerja. Hal tersebut membuat Ted mencari cara agar hubungan pernikahan mereka baik-baik saja. Dan, cara yang mereka tempuh adalah dengan mempunyai anak. Ted pun mencoba untuk mencari anak lewat berbagai macam hal. Dibantu oleh John (Mark Wahlberg), temannya, Ted berusaha untuk mencari donatur sperma dan sayangnya tak berhasil.

Tami-Lynn terdiagnosa memiliki kandungan yang tak sehat. Dia dan Tami-Lynn pun berinisiatif untuk mengadopsi anak dari sebuah panti asuhan. Tetapi, permintaan Ted untuk mengadopsi anak tak dipenuhi oleh pihak panti asuhan. Karena, negara menganggap Ted sebagai sebuah properti bukan sebagai warga sipil. Mulai kejadian itu, Ted semakin terpuruk karena statusnya. Dan dengan bantuan Samantha (Amanda Seyfried), sang pengacara, Ted menuntut keadilan sebagai warga sipil.


Cerita sekuel dari film yang berubah fokus dari karakter John ke karakter Ted mungkin memiliki perspektif baru untuk menggerakkan plotnya. Terlebih, di sekuelnya kali ini, keberadaan Ted sebagai manusia seutuhnya akan diulik lebih dalam. Inilah yang membuat sekuel dari film boneka beruang ini bisa memiliki konflik yang berbeda untuk menggerakkan plotnya. Sayangnya, konflik yang diusung oleh Seth MacFarlane di Ted 2 ini malah menjadi bumerang bagi keseluruhan presentasi sekuelnya.

Karena terlalu fokus pada konflik cerita yang semakin rumit, Seth MacFarlane lupa dengan misinya membuat sekuel dari Ted yang mengocok perut penontonnya. Ted 2 pun kehilangan semangat untuk ditertawakan oleh penontonnya. Seth MacFarlane terlalu sibuk untuk mengatur cerita dan memasukkan subplot untuk menambah konflik di dalamnya. Sehingga, Seth MacFarlane lupa untuk menyebar jokes segar dengan signature sensualitas yang khas di dalam naskahnya.

Meski tak sepenuhnya lupa akan misi itu, Seth MacFarlane tetap memenuhi adegan di dalam Ted 2 yang bisa ditertawakan. Hanya saja, kuantitas yang ada di dalam film sekuelnya itu tak terlalu banyak seperti di dalam film predesesornya. Masalah pun tak berhenti sampai bagaimana Seth MacFarlane terlalu loyo untuk memberikan jokes ke dalam filmnya. Pun juga, ketika Seth MacFarlane ternyata memiliki kesalahan segmentasi terhadap jokes yang diselipkan.


Kesalahan berikutnya di dalam film Ted 2 adalah bagaimana Seth MacFarlane menyelipkan guyonan dengan referensi pop konteks tinggi. Hal ini lah yang malah membuat presentasi secara keseluruhan di dalam Ted 2 tak bisa maksimal. Ted 2 pun hanya cocok diperuntukkan kepada para penggemar pop kultur dengan banyak referensi. Hal tersebut berdampak pada bagaimana penonton awam yang tak tahu menahu tentang referensi yang dimasukkan oleh Seth MacFarlane ke dalam filmnya tak bisa menangkap hal yang harusnya bisa jadi bahan tertawaan.

Seth MacFarlane memasukkan referensi-referensi pop-culture tentang Jurassic Park, Star Wars, Star Trek, Lord of The Rings dan beberapa referensi lainnya. Referensi itu jelas bukan sesuatu yang dapat semua orang terima sebagai penonton Ted 2 secara umum. Seth MacFarlane pun terlihat terlalu asyik untuk merangkum semua referensi itu ke dalam 115 menit filmnya. Hal itu seharusnya menjadi suatu keunggulan di dalam produk yang dihasilkan oleh Seth MacFarlane. Hanya saja, hal tersebut malah menyerang balik Ted 2 secara keseluruhan presentasinya.


Berusaha mencoba menjadi presentasi yang berbeda jelas menjadi suatu keharusan bagi sebuah sekuel agar tak terkesan meniru ulang template film pertamanya. Ted 2 pun memiliki hal tersebut dan menjanjikan memberikan plot yang berbeda dan lebih kompleks ketimbang film pertamanya. Hanya saja, Seth MacFarlane terlalu serius untuk menggerakkan plot di dalam Ted 2 sehingga lupa semangat untuk membuat bahan tertawaan yang mengocok perut penontonnya. Referensi kultur pop yang berlebihan di dalam Ted 2 pun menjadi kendala yang berarti bagi presentasinya.

Senin, 14 September 2015

SINISTER 2 (2015) REVIEW : Another Inferior Horror’s Sequel


Ketika sebuah film dianggap berhasil, tentu rumah produksi itu tak akan mensia-siakan potensi yang ada di dalam film tersebut. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah sekuel terhadap film tersebut. Entah, film itu penting untuk dibuatkan sebuah sekuel atau tidak, yang jelas film ini akan menghasilkan banyak sekali uang terhadap sebuah rumah produksi karena mereka tak perlu susah-susah membangun hype dari awal. Meskipun, tak semua sekuel akan bisa benasib sama dengan film orisinilnya entah dari respon penonton atau pun pendapatan.

Tahun ini cukup banyak film-film sekuel yang bertebaran. Salah satunya adalah film horor arahan Scott Derrickson, Sinister. Di tahun ini, Sinister kembali hadir menyapa penontonnya –khususnya untuk para pecinta film horor –agar mereka merasa ditakut-takuti. Sayangnya, Scott Derrickson tak lagi kembali menangani film horor yang sebelumnya adalah miliknya. Ciaran Foy lah yang mengarahkan seri terbaru dari Sinister 2 kali ini.

Sinister 2 memang masih menggunakan benang merah yang menjadi film horor satu ini menjadi ikonik. Beberapa elemen supranatural dan sekte pemuja setan yang semakin lama semakin banyak digunakan di berbagai film horor mana pun masih juga dipakai oleh Sinister 2. Tetapi, Sinister 2 memiliki penurunan performa yang sangat drastis jika dibandingkan dengan prekuelnya. Ciaran Foy tak mampu mengarahkan Sinister 2 menjadi sajian yang mengerikan seperti apa yang ditawarkan oleh Scott Derrickson di film pertamanya. 


Seperti layaknya film-film horor lainnya, Sinister 2 pun memulai ceritanya lewat sebuah keluarga yang memiliki anak. Courtney (Shannyn Sossamon) pindah ke sebuah rumah bekas gereja karena baru saja bercerai dan menghindari suaminya yang tempramental. Dia pindah dengan kedua anak mereka Dylan (Robert Daniel Sloan) dan Zach (Dartanian Sloan). Mereka berdua merasakan ada yang aneh di dalam rumah yang mereka huni saat ini.

Dylan terbangun di tengah malam karena ulah sosok arwah anak kecil yang gentayangan di sekitar rumah mereka. Dylan pun bisa berinteraksi dengan arwah tersebut dan arwah itu menyuruh Dylan untuk menonton sebuah video pembalasan dendam untuk dia terapkan ke keluarga mereka. Semakin lama, Dylan merasa gusar dan merasa video yang dia tonton bukanlah sesuatu yang pantas untuk diserap oleh otaknya. Tetapi, arwah-arwah itu semakin menghantui dia dan bahkan keluarganya. 


Performa Sinister 2 yang turun drastis itu disebabkan oleh bagaimana premis cerita sekuel ini dibuat. Mungkin, film ini terlalu gamblang untuk menyampaikan apa yang hendak dimaksud oleh sang pembuat cerita kepada penontonnya. Pun dengan apa yang dirasa gamblang oleh penontonnya, Sang sutradara tak memiliki rasa untuk menutupi plot ceritanya. Tak ada rasa penasaran atas apa yang terjadi di rumah itu, yang membuat penonton merasa apa yang dia lihat tak lagi sesegar apa yang dia lihat di film pertamanya.

Jelas, hal ini akan mengurangi bagaimana Sinister 2 mencoba untuk bermain dengan ceritanya. Sang sutradara pun mengolah apa yang ada di naskah yang ditulis oleh Scott Derrickson dan C. Robert Cargill secara mentah-mentah. Pengarahan milik Ciaran Foy jelas apa adanya asal apa yang dia kerjakan selesai dan siap untuk disebarluaskan ke pasar. Banyak sekali elemen-elemen horor yang absen di dalam film Sinister 2.

Sinister yang lebih kental akan atmosfir horornya yang menyeramkan, tak lagi ada di dalam film keduanya. Sinister 2 berisikan banyak sekali jump scares murahan yang bahkan penonton akan dengan mudah menebak setiap adegannya. Hal itu semakin menambah minus di dalam presentasi di dalam film sekuel ini. Sinister 2 pun kekurangan ide-ide segar untuk membuat filmnya menjadi sebuah film yang menyamai presentasi di dalam filmnya. 


Sebenarnya, Sinister 2 pun tak menggunakan cara instan untuk menyalin template cerita yang ada di film sebelumnya. Dan hal itu seharusnya bisa menjadi potensi agar Sinister 2 bisa menampilkan sajian segar di dalam genre ini. Tetapi, tak serta merta membuat Sinister 2 kehilangan signature dari film orisinilnya. Di film ini pun masih memberikan beberapa template dari film sebelumnya dengan tetap ada video-video pembunuhan yang menjadi kekuatan di dalam film sebelumnya.

Pun, juga masih ada benang merah yang coba disambungkan oleh Ciaran Foy dari film pertamanya sebagai penjalan konflik di proyek sekuelnya. Meskipun, hal itu tak menjadi poin yang sangat signifikan untuk diceritakan di dalam sekuelnya. Dan video-video yang ditampilkan di dalam Sinister 2 tak bisa menghadirkan atmosfir mengerikan yang juga menjadi signature dari film Sinister yang pertama. Signature yang setia Ciaran Foy selipkan di dalam film sekuelnya, ternyata tak bisa menyelamatkan betapa minimalisnya sekuel dari film horor yang sangat menyeramkan di seri sebelumnya. 


Sama dengan penyakit-penyakit film horor yang dibuat sekuelnya, Sinister 2 tak menjanjikan presentasi akhir yang sama kuatnya dengan film sebelumnya. Pergantian arahan dari Derrickson ke Foy membuat Sinister 2 memiliki performa yang turun sangat drastis dan membuat Sinister 2 hanyalah sebuah film horor sekuel dengan tampilan murahan. Meski memiliki beberapa signature yang diselipkan ke dalam filmnya, tak lantas membuat Sinister 2 bisa memberikan atmosfir horor yang kuat. Malah, Sinister 2 jatuh menjadi sebuah film penuh Jump Scares yang gampang ditebak dan tidak menyeramkan. 

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...