Sabtu, 19 Desember 2015

THE GOOD DINOSAUR (2015) REVIEW : The Good Package of Mediocrity



Setelah absen di tahun lalu, Pixar balas dendam untuk merilis dua film animasi miliknya secara bersamaan di tahun ini. ‘Inside Out’ dan ‘The Good Dinosaur’ adalah dua film rilisan Pixar yang akan hadir secara bergantian di tahun ini. Setelah Inside Outmematok harga tinggi untuk rilisan film Pixar, jelas akan ada ekspektasi yang berbeda dengan The Good Dinosaur yang berani merilis bebarengan dengan salah satu karya masterpiece milik Pixar.

Peter Sohn adalah yang menangani proyek The Good Dinosaur milik Pixar. Ini adalah debut pertamanya menangani proyek layar lebar durasi panjang setelah sebelumnya pernah menangani film pendek yang juga di bawah naungan Pixar. Proyek ini sering beberapa kali terbengkalai dan mengalami pasang surut dalam prosesnya. Sehingga, The Good Dinosaur menjadi satu proyek lampu kuning dari penontonnya apalagi ketika tahu perilisannya pun diundur di tahun 2015.

Memang, plot The Good Dinosaurpun terlihat repetitif dengan beberapa film yang bertema sama. Segala plot yang sudah generik diolah lagi menjadi sesuatu yang baru. Meski memiliki beberapa poin yang membuat The Good Dinosaurkewalahan, beruntungnya The Good Dinosaurmasih memiliki visualisasi cantik atas panorama indah yang dihasilkan lewat animasi CGI-nya. Sehingga, The Good Dinosaur masih memiliki beberapa keunggulan yang selalu membuat Pixar berada di atas rumah produksi animasi lainnya.



Menceritakan tentang sosok dinosaurus yang kecil bernama Arlo (Raymond Ochoa) yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Dia adalah seekor dinosaurus yang tak memiliki kekuatan yang sama dengan sejenisnya. Sang ayah selalu mengajarkan Arlo untuk tetap menjadi sosok dinosaurus yang kuat. Sang Ayah, Poppa (Jeffrey Wright) selalu memberikan tempat untuk menempelkan cap telapak kaki setiap anggota keluarganya di saat mereka telah melakukan hal yang berguna di dalam hidupnya. Dan Arlo sama sekali tak pernah melakukan hal tersebut sehingga membuat dirinya sangat terobsesi.

Pada saat itu, cadangan makanan keluarga Arlo tiba-tiba habis dimakan makhluk lain dan Arlo ditugaskan Poppa untuk menangkap dan membunuh makhluk tersebut. Tetapi, ketika makhluk tersebut tertangkap, Arlo tak langsung membunuhnya. Poppa menyuruh Arlo untuk mengejar makhluk tersebut. Di tengah-tengah pengejarannya, badai datang dan menghanyutkan Poppa. Arlo sedih dan berusaha kerasa untuk menangkap makhluk tersebut untuk membalaskan dendam. 



Ketika Pixar telah mematok sebuah nilai yang tinggi untuk Inside Out, keberadaan proyek selanjutnya terlebih ketika dirilis di tahun yang sama dapat menimbulkan rasa pesimis bagi penontonnya. Penonton tak dapat berekspektasi muluk-muluk dengan proyek The Good Dinosaur setelah melihat bagaimana luar biasa Pete Docterdalam mengarahkan Inside Out. Tetapi, Pixar tetap bisa menarik penontonnya untuk menyaksikan The Good Dinosaur lewat berbagai gimmick yang menarik.

Kemasan luar The Good Dinosaurdibungkus sedemikian rupa agar dapat menimbulkan hype yang tak kalah besar dengan Inside Out. Lewat traileryang menggugah, desain poster yang menarik, hingga audio film yang di-dubbing ke bahasa Indonesia, The Good Dinosaurmemanfaatkan benar strategi itu. Sehingga, The Good Dinosaur dengan mudah mencuri perhatian penontonnya meski dengan plot cerita yang tak memiliki terobosan baru.

Plot yang ditawarkan oleh The Good Dinosaur memang tak ada yang baru, tetapi dikemas ulang menjadi sebuah perjalanan film animasi yang mewah dan berbeda dengan animasi lainnya. Plot cerita yang dikembangkan dengan berbagai macam subplot ini memang terkesan ditambahkan. Arahan Peter Sohn tak terlalu mulus sehingga The Good Dinosaur memang tak bisa tampil sangat prima dalam membawakan plot yang usang.




Perjalanan The Good Dinosaurmemang begitu tertatih, apalagi ketika awal film di mana The Good Dinosaur tak tahu bagaimana caranya menyatukan kepingan cerita sebelum dengan kepingan selanjutnya. Bob Peterson selaku penulis naskah pun terkesan hanya menyelipkan sedikit latar belakang cerita yang dapat digunakan sebagai konflik selanjutnya. Sehingga, ada sedikit cita rasa yang hilang di dalam The Good Dinosauruntuk menjalankan segala bentuk plot dan subplot-nya secara utuh dalam 100 menit.

Tetapi, The Good Dinosaurmemiliki sesuatu yang lebih dan selalu menjadi keunggulan di setiap film-film Pixar. The Good Dinosaur memiliki momen emosional yang kuat meski tak bisa sekuat Inside Out. Dan juga permainan simbol dari Pixar yang selalu memiliki makna yang jauh lebih dalam meski di dalam film animasi. Persahabatan antara manusia dan hewan yang diusung memiliki garis yang bias antara kedua makhluk tersebut.



Juga, The Good Dinosaurmemiliki problematika keluarga yang hangat sehingga mungkin akan pas untuk disaksikan bersama keluarga. Tak hanya itu, The Good Dinosaur juga menyinggung akan isu kepercayaan diri yang selalu menyerang orang yang menganggap dirinya tak mampu. Meski begitu, The Good Dinosaur pun terasa terlalu kasar untuk anak-anak lewat adegan-adegan kekerasan yang cukup banyak. Sehingga, anak-anak sebagai segmentasinya perlu didampingi orang yang lebih tua saat menyaksikan film ini.

Tak lupa lagi, bagaimana The Good Dinosaur memiliki animasi indah yang sangat detil. Sehingga, penonton akan dengan mudah takjub akan panorama-panorama yang disajikan oleh Peter Sohn lewat The Good Dinosaur. Pun dengan permainan-permainan warna yang lebih elegan sehingga The Good Dinosaur tetap menjadi salah satu karya Pixar yang berbeda dibandingkan dengan studio animasi lainnya. The Good Dinosaur mempunyai keunggulan teknologi yang patut untuk dibanggakan.



Meski kurang akan inovasi dalam segi plot dan juga pengarahan dari Peter Sohn yang belum maksimal, tetapi The Good Dinosaur masih memiliki performa yang setidaknya masih berada di atas rata-rata. Permainan simbol dan pemikiran yang lebih dalam yang ditampilkan lewat subplot-nya, The Good Dinosaurberhasil menjadi salah satu film animasi Pixar yang berhasil meski tak maksimal. The Good Dinosaur adalah sebuah film animasi yang sangat layak ditonton bersama keluarga terlebih untuk memberikan pengarahan kepada anak-anak yang mungkin akan traumatik karena adegan kekerasan yang cukup kasar di dalam film ini.
 

Selasa, 01 Desember 2015

THE HUNGER GAMES : MOCKINGJAY PART 2 (2015) REVIEW : The Satisfying Finale [With IMAX 3D Review]


Perjuangan Katniss Everdeen, sang Gadis Api menuju pada babak terakhir. Setelah mendapatkan cerita yang menjembatani perjalanan terakhir dari Katniss Everdeen ini lewat Mockingjay Part 1 pada tahun 2014, jelas The Hunger Games : Mockingjay Part 2 adalah salah satu film yang sangat dinantikan di tahun ini. Penonton ingin mencari tahu bagaimana kelanjutan dari cerita Katniss Everdeen yang  ditutup dengan penuh pertanyaan di bagian pertama.
 
The Hunger Games : Mockingjay Part 2 kembali disutradarai oleh Francis Lawrence yang mulai dipercayai menangani seri ini lewat The Hunger Games : Catching Fire. Jennifer Lawrence pun tetap menjadi sosok Katniss Everdeen dan mentransfrormasi dirinya menjadi simbol aktris blockbuster yang memiliki efek besar. Jelas, sosok Katniss akan menjadi salah satu karakter yang berarti dalam rekam jejak pamor dari Jennifer Lawrence.

Di bagian pertama, Mockingjayberubah menjadi sebuah drama penuh intrik politik yang membuat sebagian orang kurang menyukai film ini. Mockingjay Part 1 hanyalah sebuah cerita pengenalan atas konflik-konflik yang akan dihadapi oleh Katniss Everdeen di bagian kedua. Di bagian kedua ini, segala konflik yang sudah dilontarkan di bagian kedua diberi sebuah konklusi yang juga mengakhiri seri ini. Dan The Hunger Games : Mockingjay Part 2 menjadi sebuah seri penutup yang masih memuaskan dan menyenangkan untuk diikuti. 


Setelah Peeta (Josh Hutcherson) berhasil diselamatkan, dia menyerang Katniss (Jennifer Lawrence) dan membuat hubungan mereka merenggang. Peeta dicuci otak oleh Presiden Snow (Donald Sutherland) agar memusuhi Katniss. Hal itu jelas membuat Katniss terpukul dan semakin menguatkan misinya untuk membunuh presiden Snow dengan tangannya sendiri. Presiden Alma Coin (Julianne Moore) tetap tak mau untuk mengirim Katniss langsung untuk menyerang Snow.

Tetapi, Katniss tetap tak mau tahu dan dia pun berusaha agar dia bisa pergi ke Capitol untuk menyerang Snow. Naas, ketika Snow tahu akan rencana Katniss beserta teman-temannya untuk menyerang Capitol untuk membunuhnya. Dia sudah menyiapkan berbagai perangkap di sekitar kota Capitol agar dapat membunuh Katniss dan timnya. Hal itu pun semakin membuat perjuangan Katniss untuk membunuh Snow semakin mendapatkan tantangan. 


Menjadikan satu buku menjadi dua bagian film memang menjadi sebuah tren yang diawali oleh Harry Potter and The Deathly Hallows. Memang, dengan formula itu akan dirasa efektif oleh rumah produksi untuk mendatangkan banyak keuntungan bagi mereka. Mockingjay adalah salah satu yang menggunakan formula itu. Buku ketiga dari Suzanne Collins ini pun dibagi menjadi dua bagian film yang sebenarnya akan menjadi sangat riskan untuk performa filmnya.

Nyatanya adalah Mockingjay hanya memiliki satu konflik besar yang sebenarnya tak begitu rumit. Maka, keputusan untuk dipecah menjadi dua bagian hanyalah gimmickdari sang rumah produksi untuk mendatangkan keuntungan. Dengan adanya dua bagian itu, jelas problematika yang besar adalah bagaimana menyamaratakan performa di dalam filmnya. Isu plot itu jelas jurang besar bagi pamor seri The Hunger Games yang menjadi salah satu seri adaptasi novel young-adult yang kuat.

Di bagian kedua, The Hunger Games : Mockingjay Part 2 tidak lagi memiliki konflik yang signifikan. Segala konflik yang ada di dalamnya hanyalah jawaban dari konflik yang sudah ditawarkan di bagian pertama. Jelas, ini adalah tantangan yang besar bagi sang sutradara untuk mengemas Mockingjay Part 2agar tetap menjadi sebuah film yang tak terasa sia-sia untuk dipecah menjadi dua bagian. Francis Lawrence benar-benar berusaha keras untuk menyingkirkan paradigma itu. 


Kata ‘Aji Mumpung’ memang tak bisa terelakkan ketika Mockingjaydibagi menjadi dua bagian. Tetapi, Francis Lawrence membuktikan bahwa Mockingjay Part 2 tetap menjadi sajian yang sangat menggugah minat penontonnya untuk mengikuti filmnya hingga akhir. Mockingjay Part 2  mengubah warna cerita menjadi cenderung lebih gelap dan murung. Sang sutradara berusaha kuat untuk menghadirkan nuansa cerita penuh intrik politik yang lebih kental.

Jelas, berubahnya warna cerita itu adalah kekuatan dan potensi besar dari Mockingjay Part 2. Sehingga, seri-seri The Hunger Games bukan hanya sebuah film fantasi petualangan remaja yang hanya lalu. Tetapi, memberikan pendalaman lebih tentang propaganda politik yang dapat dikaji lebih lagi. Representasi kediktatoran pemimpin yang mempermainkan bawahannya yang terlihat secara implisit lewat karakter-karakter seperti Snow ataupun Alma Coin.

Mockingjay Part 2 memberikan sebuah final battle yang berhasil membangun suasana mencekam. Dan sang sutradara berhasil benar untuk menghadirkan hal-hal itu sehingga bagian kedua dari Mockingjay ini tak terasa monoton bagi sebagian penonton.Banyak beberapa bagian dari Mockingjay Part 2yang berhasil membuat penontonnya keasyikan menonton petualangan dari Katniss Everdeen dalam perjalanannya menuju kota Capitol. Anggap saja, di bagian kedua adegan pertarungan itu adalah penebusan dosa dari bagian pertama yang sangat minim akan hal itu. 


Francis Lawrence tak terlihat terlalu asyik untuk memberikan pendalaman lebih kepada karakter-karakter yang ada di seri The Hunger Games yang semakin lama terlihat semakin manusiawi. Pun, lewat naskahnya, The Hunger Games : Mockingjay Part 2 memiliki dialog-dialog sarkastik terhadap otoritas pemimpin dan permainan propaganda politik yang tampil secara implisit dan dibutuhkan interpretasi yang kuat dari penontonnya agar pesan yang dimaksudkan dapat tersampaikan. Dan hal itu lah yang menjadi poin plus lagi dari seri Mockingjay Part 2.

The Hunger Games : Mockingjay Part 2 jelas mengajak penontonnya berpikir tentang kebenaran yang kita bela. Adanya pro dan kontra di dalam memilih kebenaran jelas sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Sehingga, perlu adanya tanggung jawab atas apa yang kita pilih tentang sesuatu yang kita anggap benar. Dan representasinya lewat karakter Alma Coin dan Snow, polemik pemilihan pemimpin yang bersih adalah salah satu isu yang diangkat oleh The Hunger Games : Mockingjay Part 2 yang dirasa akan relevan di berbagai belahan dunia.

Tak dipungkiri lagi, The Hunger Games : Mockingjay Part 2 memiliki nilai-nilai produksi dengan estetika berkelas. Lewat tata kostum, artistik, dan teknik pengambilan gambar yang menarik menjadi kelebihan lain dari seri ini semenjak Catching Fire. Juga, performa luar biasa tetap dihadirkan oleh Jennifer Lawrence sebagai karakter Katniss. Dia jelas sosok aktris aset Hollywood yang berhasil menjadi ikon film blockbuster. Jennifer Lawrence dapat menghadirkan segala bentuk emosi di dalam setiap adegan sehingga The Hunger Games : Mockingjay Part 2 tak hanya sebuah franchise kosong. 


Dengan pembelahan dua bagian dalam adaptasi buku terakhirnya, jelas tak dapat dipungkiri bahwa The Hunger Games : Mockingjay Part 2 memiliki permasalahan lewat pengembangan plot yang sangat minimalis. Tetapi, Francis Lawrence berusaha keras untuk mengarahkan seri terakhirnya ini tetap menjadi sebuah film penutup yang memiliki presentasi yang kuat. The Hunger Games : Mockingjay Part 2 tetap menghadirkan sebuah petualangan Katniss untuk berhadapan dengan presiden Snow yang penuh akan intrik politik yang menarik dengan warna cerita yang murung. Tetapi, itulah potensi dari Mockingjay Part 2 sehingga dapat menjadi seri penutup yang memuaskan.


Di wilayah asia, film ini dirilis dalam format IMAX 3D dan berikut adalah review dari format tiga dimensi lewat layar IMAX

DEPTH

Hasil konversi format IMAX 3D tak berhasil memberikan kedalaman film yang menarik. Sehingga, rasanya kedalaman The Hunger Games : Mockingjay Part 2hanya terasa seperti film dua dimensi.

POP OUT
Tak ada sama sekali efek Pop-Out yang mewarnai The Hunger Games : Mockingjay Part 2. Sehingga jelas akan terasa pointless untuk disaksikan dalam format tiga dimensi.


The Hunger Games : Mockingjay Part 2 dikonversi menjadi sebuah film tiga dimensi berformat IMAX yang tak memiliki pengaruh signifikan di dalam filmnya. Sehingga, menyaksikan The Hunger Games : Mockingjay Part 2 dalam format ini hanyalah sebuah gimmick lagi dari rumah produksi untuk mengeruk keuntungan. Sehingga, sangat berharap film ini hanya dirilis dalam format IMAX dua dimensi.

Senin, 23 November 2015

NAY (2015) REVIEW : Monolog Tentang Perempuan


Road movie menjadi salah satu pendekatan baru dari para sineas baik lokal maupun luar untuk mengantarkan ceritanya. Biasanya, ada beberapa idealisme yang disampaikan oleh beberapa sineas lewat medium audio visual. Setelah itu, lewat road movie karakter-karakter yang ada di dalam filmnya mengalami kontemplasi terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya lewat beberapa konflik yang mereka temukan di sepanjang perjalanan.

Dengan pendekatan genre ini, dianggap cukup efektif untuk memberikan renungan kepada penontonnya dengan apa yang terjadi di sekitar. Dan di tahun ini, Road Movie diangkat oleh Djenar Maesa Ayu dalam film terbarunya berjudul Nay. Film ini hanya mengambil satu tempat setting dan menjadikan satu orang sebagai karakter utama filmnya. Hal ini jelas menjadi salah satu hal yang baru di perfilman Indonesia karena memiliki kesulitan yang cukup besar untuk mengolahnya menjadi presentasi yang kuat.

Melalui Sha Ine Febriyanti sebagai pemeran utama, Djenar Maesa Ayu mencoba untuk memberikan sebuah pertunjukan teater monolog ke dalam sebuah layar lebar. Dengan presentasi yang sederhana, Djenar Maesa Ayu berusaha untuk melayangkan sebuah problematika posisi perempuan dalam kehidupan sehari-hari terlebih di negara Indonesia. Hanya berbekal satu plot yang sangat dekat dengan sosok perempuan, tetapi berusaha diulik lebih dalam lagi oleh Djenar Maesa Ayu. Sehingga, film Nay memiliki dampak yang besar dan efektif untuk menyinggung dinamika sosial yang ada.


Seorang model yang sedang naik daun bernama Nay (Sha Ine Febriyanti) tengah dirundung masalah yang bisa membuat beberapa poin penting dalam hidupnya hancur. Nay mengetahui bahwa dia sedang mengandung seorang janin di dalam perutnya. Masa kandungan di dalam perut Naysudah berumur 11 minggu dan ini adalah hasil hubungan intim dengan pacarnya bernama Ben (Paul Agusta). Setelah mengetahui hal tersebut, Nay memutuskan untuk pergi menemui Ben.

Di tengah perjalanannya menuju rumah Ben, Nay mengalami banyak masalah. Ben menunjukkan sikap yang tak enak ketika mereka sedang berbicara lewat telepon. Dengan adanya hal ini, dia pun mencoba untuk berdiskusi dengan temannya, Ajeng (Cinta Ramlan) dengan maksud akan menemukan solusi akan masalah yang dia hadapi. Sayangnya, Nay pun tak sepenuhnya menemukan solusi yang tepat dan semakin dilema. Selama diperjalanan pun dia merenung dan mencoba intropeksi diri akan masa lalu yang Nayalami. 


Film Nay memang tak bisa dipungkiri akan dibanding-bandingkan dengan film yang dibintangi oleh Tom Hardy yaitu Locke. Secara konsep besar, film Naymemang memiliki kemiripan yang lumayan besar. Hanya saja, apa yang diusung sebagai konflik di dalam filmnya jelas memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Nay mengulik sisi yang lebih dalam terhadap konflik utama di dalam filmnya. Tak hanya memberikan pengaruh besar dalam menonton, tetapi juga menjadi bahan kontemplasi yang kuat bagi penontonnya.

Berbekal problematika yang masih menjadi tabu di dalam budaya milik Indonesia, film yang diarahkan oleh Djenar Maesa Ayu ini berhasil berkembang menjadi sebuah film yang tak biasa. Lewat film ini, Djenar Maesa Ayu ingin sekali lagi memberikan nasihat lewat medium audio visual untuk perempuan yang masih merasa dirinya termarjinalkan oleh beberapa pihak. Sehingga, film Nayadalah sebuah surat terbuka berisi opini yang dilayangkan kepada publik tentang keberadaan wanita yang masih tak juga dianggap sejajar. 


Berbekal satu karakter utama yang juga hanya satu-satunya yang ada di depan layar, jelas bukan sesuatu yang mudah untuk membuat film Nay memiliki presentasi yang kuat. Karakter-karakter yang lain hanya tampil lewat voice over yang tak tampak fisik, tetapi Djenar Maesa Ayu mampu menghadirkan karakter pendukung itu terasa nyata. Penuh dengan dialog yang jakarta-sentris tetapi Djenar Maesa Ayu masih bisa mencari kesamaan atribut yang dia tempelkan di dalam filmnya agar bisa relevan dengan kehidupan penontonnya.

Djenar Maesa Ayu mendobrak paradigma tentang perempuan yang masih terbayang tentang dogma-dogma budaya yang sangat kaku diberlakukan kepadanya. Terlebih, di negara Indonesia yang masih memuja dan menjunjung tinggi akan idealisme patriarki. Bagaimana perempuan harus berperilaku, bagaimana keperawanan masih dianggap sebagai patokan penilaian akan kepribadian seorang perempuan secara keseluruhan. Dan anggapan-anggapan kolot tentang ketangguhan wanita yang bisa mengambil keputusan akan hidupnya yang masih dianggap tabu.

Juga, bagaimana film Naymengangkat tentang isu standar ganda yang sering digunakan oleh orang-orang dalam menilai sesuatu. Bagaimana seseorang tak lagi kembali introspeksi terhadap dirinya kembali dan langsung menganggap perilaku seseorang itu tidak baik. Hal ini, juga digambarkan pada karakter Nay yang memiliki masalah psikis dan rekam jejak yang tak baik terhadap masa lalunya dengan ibunya. Jelas, Naymemiliki banyak sekali isu sosial relevan yang perlu dikritik. 


Tak hanya berkekuatan dalam isu-isu sosial yang mendapat kritik tajam dari Djenar Maesa Ayu sebagai konten yang dijual olehnya. Tetapi, Djenar Maesa Ayu juga memberikan pengarahan yang baik di dalam filmnya sehingga dengan presentasi dan dasar konflik yang sederhana pun bisa memberikan dampak yang luar biasa bagi penontonnya. Sehingga, film Nay ini berhasil menjadi sebuah medium untuk berkaca pada diri sendiri tentang keberadaan perempuan yang kadang masih dianggap tertinggal.

Meski mengambil banyak resiko di dalam genre-nya dan menjadikan film Naymenjadi karya yang memiliki pasar sendiri yang menikmatinya, Djenar Maesa Ayu patut diacungi jempol dalam mengarahkan karya terbarunya. Penuh dengan kritik terhadap isu sosial, ajaran budaya yang masih kaku, dan bagaimana kaum perempuan masih dianggap sebagai kaum marjinal. Sehingga, dengan film Nay, semua poin-poin itu dapat disampaikan layaknya sebuah surat terbuka kepada masyarakat secara luas. Terlebih, kepada masyarakat di negara yang menjunjung tinggi patriarki dan menganggap perempuan masih tak berdaya. 

 

Sabtu, 21 November 2015

BADOET (2015) REVIEW : Pembuktian Kembalinya Film Horor Indonesia


Mengembalikan kepercayaan penonton film Indonesia kepada genre horor bukanlah sesuatu yang mudah. Histori dari genre ini memang tak terlalu memiliki citra yang bagus, karena sineas Indonesia terlalu bermain eksperimental dengan terlalu sering mengumbar sensualitas di dalam filmnya. Penonton pun mulai memicingkan mata untuk mencicipi film horor Indonesia yang dirilis di bioskop. Tak semua sineas Indonesia menggunakan formula itu, akan tetapi mereka tetap terkena dampak yang sama dari penonton Indonesia.

Mulai dibangkitkan lagi dan dibersihkan kembali citra film horor Indonesia yang sudah mulai buruk. Beberapa sutradara Indonesia mencoba menggarap sebuah film horor yang reputasinya jauh dari kesan sensualitas. Salah satunya adalah Awi Suryadi yang berusaha membuat film horor terbaru di tahun ini. Badoet, film horor yang dia buat, mulai gencar dibicarakan dan mendapat sorotan dari beberapa cuplikan foto yang terlihat menjanjikan.

Kehausan penikmat film Indonesia terlebih untuk film horor memang sudah berada di titik puncak. Beberapa kali film horor Indonesia mencoba untuk berbeda tetapi belum bisa ada yang berhasil. Badoet memang belum bisa mencapai tingkatan sempurna dalam satu presentasi film horor Indonesia. Tetapi, i’tikad baik dari Awi Suryadi untuk memberikan satu teror yang kuat berhasil dia sampaikan lewat film Badoet miliknya. 


Badoet ber-setting di lingkungan rumah susun yang padat penduduk. Lingkungan di rumah susun itu terkenal aman dan nyaman. Hingga suatu ketika seorang anak kecil menemukan sebuah kotak musik di daerah pasar malam dekat rumah susun itu. Satu persatu anak kecil di sana meninggal dengan cara yang mengenaskan dan tak terduga. Kejadian ini mengusik Donald (Daniel Topan), mahasiswa semester akhir yang juga mengenali anak-anak di lingkungan rumah susun itu.

Donald tinggal dengan Farel (Christoffer Nelwan) yang juga masih saudara sepupu dengannya. Kejadian yang janggal ini secara tak langsung juga mengusik kehidupan mereka. Bersama dengan Kayla (Aurelie Moeremans), mereka mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan sebuah kotak musik di sana. Dan menemui ketiga anak kecil tersebut menggambar sosok Badut dengan wajah yang sama sebelum mereka meninggal satu persatu. 


Lewat film Badoet, Awi Suryadi berusaha untuk membangun lagi reputasi dari film horor yang sudah jatuh di perfilman Indonesia. Film yang diarahkan olehnya memang tak memiliki cerita dengan terobosan paling mutakhir. Tetap menggunakan formula usang yang selalu ada di setiap film-film horor. Sekumpulan anak muda yang tak tahu apa-apa tetapi ikut terperangkap dan mencari tahu apa yang sedang terjadi, formula itu akan selalu ada dan muncul di setiap film horor, baik lokal maupun luar.

Tetapi, Awi Suryadi pintar dalam mengolah dan membangun setiap tensi yang ada di dalam film Badoet. Selama 90 menit, Awi Suryadi berhasil meneror penontonnya dan mengusik ketenangan penontonnya lewat film Badoet. Film ini memang tak mengumbar penampakan dari makhluk suprantural dan momen yang mengagetkan meski tetap ada satu atau dua adegan. Tetapi, Badoet tampil lewat suasana horor yang mencekam dan hal ini sangat efektif untuk memberikan dampak yang lebih kuat kepada penontonnya.

Meski tetap, film ini masih tak bisa jauh dari kekurangan-kekurangan dalam pengembangan plot dan dialog yang tampil masih seadanya meskipun tak dalam taraf yang berlebihan. Karakter-karakter yang ada di sini masih tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk hadir dan menyokong plotnya. Hanya saja, Awi Suryadi berusaha keras agar karakter-karakter yang ada di dalam filmnya bisa memberikan performa yang pas agar kekurangan dalam pengembangan cerita plot Badoet yang tak tampil kuat bisa tertutupi. 


Pun, tanpa terlalu fokus pada plot, Awi Suryadi mengalihkan kekuatannya pada penekanan atmosfir mencekam yang ada di dalamnya. Badoet sangat efektif memberikan mimpi buruk yang membekas cukup lama di dalam ingatan penontonnya. Meski tanpa penampakan yang berarti, Awi Suryadi berhasil menciptakan kengerian sendiri di dalam pikiran penontonnya. Sehingga, hal tersebut efektif untuk menciutkan nyali dan sesekali membuat penonton menutupi matanya saat menonton film ini.

Awi Suryadi berhasil mengangkat sebuah isu mimpi buruk dan fobia akan sosok badut yang dialami beberapa orang. Membangun sebuah alasan dari mimpi buruk seseorang yang takut akan sosok badut yang seharusnya memiliki tujuan untuk membuat tertawa bagi semua orang, bahkan anak kecil. Film ini layaknya sebuah antitesis yang dilayangkan kepada penontonnya untuk mematahkan kesepakatan penonton dalam menginterpretasi sosok badut.

Beberapa teknik pengambilan gambar yang dihadirkan di dalam film Badoet pun berhasil memperkuat atmosfir horornya yang mencekam. Sehingga, meski tetap menggunakan teknik pengambilan yang seperti umumnya film horor tetapi Awi Suryadi berhasil mengelabui penontonnya yang berusaha untuk menebak keberadaan sang makhluk suprantural itu. Dengan tata produksi jempolan, jelas Badoet bukanlah film horor yang dibuat asal-asalan. 


Meski tetap memiliki kekurangan di beberapa bagian, setidaknya Awi Suryadi masih memiliki i’tikad yang baik untuk membuat filmnya tak menjadi sebuah film horor yang murahan. Badoet memiliki kekuatan untuk mengusik ketenangan dan menganggu psikis penontonnya lewat atmosfir seram yang dihadirkan sangat kuat dan efektif di dalam 90 menit filmnya. Dengan alasan-alasan antitesis dan meng-inseminasi pemikiran lain tentang sosok badut, jelas Badoet bukan sembarang film horor. Awi Suryadi berhasil mengembalikan reputasi film horor dan menjadi salah satu film horor terbaik dalam beberapa dekade terakhir.

Rabu, 18 November 2015

SPECTRE (2015) REVIEW : Bond’s Back, The Charm Is Not.


Nama Bond memang sudah bukan lagi menjadi sebuah nama yang asing di berbagai belahan dunia. Bahkan nama James Bond sudah menjadi sebuah brand yang akan dinantikan oleh berbagai kalangan. Karakter yang dibuat oleh Ian Flemming ini pun sudah mendapatkan pasarnya yang besar ketika film-filmnya mulai dirilis secara luas dan Indonesia adalah salah satu target pasar besar dari film-film James Bond.
 
Pergantian pemain James Bond pun sudah sering terjadi di sepanjang filmnya hingga tahun 2015. Dan di 6 tahun terakhir, Daniel Craig dipilih menjadi pemeran James Bond dari film ke-20 hingga film yang terbaru di tahun 2015. Daniel Craig masih mendapat kepercayaan menjadi sosok agen rahasia bermata biru ternama di MI6 dalam film terbarunya berjudul Spectre. Film terbarunya ini tetap disutradarai oleh orang yang sama, Sam Mendes, yang pernah bertanggung jawab lewat Skyfall.

Berselang 3 tahun dari Skyfall, membuat Sam Mendes memiliki banyak waktu untuk merancang bagaimana Spectre akan berlangsung. Dengan mematok kualitas yang tinggi lewat Skyfall, jelas penonton akan menantikan benar Spectre sebagai proyek terbaru dari James Bond. Kekecewaan terlihat ketika poster-poster milik Spectre tak begitu mengundang minat penontonnya dan malah menurunkan ekspektasi sebagian orang. Dan ternyata benar, kualitas yang ditampilkan oleh Spectre adalah sebuah kekecewaan besar yang dirasakan saat menonton sebuah film mata-mata. 


Spectre melanjutkan lini waktu cerita dari Skyfall. Kali ini James Bond (Daniel Craig) memiliki misi baru untuk menangkap seorang bandar besar di meksiko. Tetapi, karena apa yang dilakukan James Bond kelewat batas malah membuat dirinya mendapat hukuman dari M (Ralph Fiennes). Ketika mendapat hukuman tersebut, keadaan MI6 ternyata sedang terancam. Ada seseorang yang ingin menghentikan operasi MI6 karena sudah dianggap terlalu konvensional dalam menjalankan misinya.

Hal tersebut membuat James Bond mencari tahu siapa yang merencanakan hal tersebut. James Bond menelusuri beberapa nama yang membuat dirinya terkoneksi dengan salah satu organisasi gelap bernama SPECTRE. Organisasi itu ternyata menggawangi musuh-musuh James Bond di misi-misi sebelumnya. Dia pun berusaha menemui Madeleine Swann (Lea Seydoux) yang disangka bisa membuat James Bond bisa mendekat ke organisasi SPECTRE itu. Ternyata, apa yang ditemukan oleh James Bond di dalam SPECTRE juga berhubungan dengan masa lalunya. 


Ketika Spectre sudah dirilis secara luas lewat berbagai pemutaran, respon dari berbagai kalangan memang tak terlalu bagus. Bahkan, Spectre cenderung memiliki respon yang buruk sebagai sebuah film James Bond. Melihat situasi itu, ada berbagai kesalahan yang dilakukan oleh Sam Mendes di film terbaru milik James Bond. Terlihat berbagai keambisiusan yang dilakukan oleh Sam Mendes untuk menyelipkan beberapa trivia tentang seluruh seri James Bond ke dalam film terbarunya, Spectre.

Bukan sesuatu yang salah untuk menyelipkan tribut terhadap film James Bond lawas ke dalam film terbarunya. Hanya saja, Sam Mendes terlihat terlalu asik untuk mengembalikan citra James Bond lawas di dalam film terbarunya sehingga melupakan bagaimana seharusnya dia mengarahkan sebuah film. Spectre benar-benar berjalan sangat tertatih untuk menyampaikan setiap plot cerita di dalam durasinya yang hingga 150 menit.

Dengan plot yang rumit dan sub plot yang bertebaran sangat banyak, durasi 150 menit sebenarnya bisa sangat efektif untuk menjalankan setiap ceritanya. Tetapi, Spectre terlihat begitu lelah dan malas untuk bertutur dengan subplot cerita yang banyak. Sehingga, tensi yang berusaha dibangun oleh Sam Mendes terlihat sangat susah untuk tampil dalam filmnya. Penonton pun tak dapat merasa terkoneksi dengan berbagai cerita yang hadir juga tak dapat bersimpati dengan karakter James Bond atau pun karakter yang lainnya. 


150 menit yang tampil di Spectre pun terkesan bertele-tele. Naskah yang ditulis ramai-ramai oleh John Logan, Neal Purvis, Robert Wade, dan Jez Butterworth seperti kebingungan untuk menjalankan pion-pion karakter ini akan dibawa ke mana. Berusaha untuk membuat James Bond memiliki development yang lebih di dalam filmnya, tetapi gagal ditampilkan di dalam filmnya. Sam Mendes terlihat berusaha keras untuk mengarahkan naskah yang ditulis oleh John Logan dan kawan-kawannya. Tetapi, tetap tak bisa menyelamatkan bagaimana presentasi akhir dari Spectre.

Satu jam pertama spectre benar-benar kehilangan arah dan tak tahu plot cerita mana yang akan diserang. Baru di paruh kedua, Spectre mulai setidaknya terfokus pada satu tujuan yang selama di satu jam pertama masih terkesan mengambang. Tetapi tetap saja, Spectre pun jatuh menjadi sebuah film drama melankolis dengan bumbu aksi sebagai sampingan. Setidaknya, Lea Seydoux mengangkat chemistry yang baik dengan Daniel Craig sehingga karakter James Bond tak terlihat malas untuk menjalankan misinya. 


Beruntung, Spectre masih dikaruniai penataan kamera yang cantik oleh Hoyte Van Hoytema. Penggunaan kamera 35 mm sebagai penguat setiap adegan dapat tampil sangat baik sehingga tak salah jika menggunakan format IMAX untuk film ini. Setidaknya dengan format itu, keindahan warna dan tata kamera dalam film Spectre dapat terlihat dengan sangat baik. Juga, adanya opening credit yang menampilkan lagu dari Sam Smith berjudul Writing On The Wall. Di mana, setidaknya opening credits itu menjadi poin tersendiri di dalam film Spectre.

Meski Sam Mendes masih bertanggung jawab atas Spectre setelah memberikan presentasi luar biasa dengan Skyfall, film terbaru James Bond ini malah mengalami penurunan kualitas secara drastis. Terlihat bagaimana Sam Mendes terlalu ambisius mengembalikan citra James Bond Lawas dan tribut terhadapnya. Sehingga, Sam Mendes melupakan bagaimana presentasi menyeluruh terhadap Spectre. Meskipun tak sepenuhnya Spectre tak bisa ditonton, hanya saja jelas ini akan mengecewakan penonton yang sudah antisipasi akan proyek James Bond terbaru.

Senin, 16 November 2015

THE LITTLE PRINCE (2015) REVIEW : Visionary De-Saint Exupery’s Adaptation By Osborne


Antoine De-Saint Exupery menjadi salah satu penulis perancis yang karyanya menjadi literatur klasik di berbagai belahan dunia. Karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa perancis diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. The Little Prince pun menjadi salah satu literatur sastra dengan cerita anak-anak yang memiliki pengertian dalam tentang menjadi dewasa yang dapat diinterpretasi secara luas oleh semua orang yang membaca karyanya.
 
Dengan keberhasilan De-Saint Exupery membuat The Little Prince menjadi sumber literatur yang legendaris, menjadi kehormatan dan sambutan hangat bagi The Little Prince untuk dijadikan sebuah film. Tetapi, akan menjadi sebuah beban bagi yang mendapat kepercayaan itu ketika harus mengadaptasi karya legendaris dari De-Saint Exupery. Mark Osborne menjadi orang kepercayaan untuk mengarahkan bagaimana karya klasik milik De-Saint Exupery ini menjadi sebuah film bergerak.

Pendekatan yang dilakukan Mark Osborne dalam mengadaptasi The Little Prince milik Antoine De-Saint Exupery adalah membuat filmnya menjadi film animasi. Mungkin dengan tujuan bahwa The Little Prince kembali menjadi karya yang dapat dinikmati oleh lintas usia. Dengan menggunakan pendekatan animasi, Mark Osborne berhasil memiliki tujuan yang sama dengan konten dari literatur klasik milik Antoine De-Saint Exupery. Sehingga, kekhawatiran setiap orang ketika filmnya tak dapat menyamai tujuan dari karya klasiknya dapat ditampiskan. 


Seorang gadis kecil (Mackenzie Foy) yang terobsesi masuk ke sebuah akademi yang diidamkan oleh sang Ibu (Rachel McAdams). Ketika sang gadis kecil gagal, sang Ibu sudah menyiapkan rencana baru agar sang gadis kecil bisa masuk menjadi peserta didik baru dalam akademi tersebut. Sang Ibu memutuskan untuk pindah ke kompleks yang dekat dengan akademi tersebut. Mereka menjalani kehidupan baru di tempatnya yang baru.

Sang Ibu sudah menata jadwal dari sang gadis kecil dalam melakukan kegiatan sehari-harinya di papan rencana hidup. Sang gadis kecil dengan semangat mengikuti rencana yang disiapkan oleh sang Ibu. Di saat sang gadis kecil menjalankan rencana hidupnya, lingkungan baru di sekitar rumahnya tak mendukung. Seorang kakek tua (Jeff Bridges) terobsesi dengan kehidupannya bertemu dengan seorang pangeran kecil dan menganggu ketenangan Sang Ibu dan Gadis Kecil. Dia memperkenalkan sang Pangeran Kecil (Riley Osborne) yang ternyata membuat Sang Gadis Kecil mempertanyakan apa yang dia lakukan selama ini. 


Konten yang dimiliki oleh The Little Prince ini sudah memiliki konten yang luar biasa dan memiliki kedalaman cerita yang penuh makna. Sehingga, jika memiliki kesalahan dalam mengarahkan sumber klasiknya, bisa jadi filmnya tak dapat mencerminkan apa yang ingin disampaikan oleh De-Saint Exupery dalam bukunya. Sehingga, Mark Osborne berusaha kuat agar The Little Prince kembali menjadi sebuah cerita lintas generasi yang juga dapat disukai oleh penonton lintas generasi.

Mark Osborne pun mencoba untuk bermain di dalam zona yang dia kuasai. The Little Prince diangkat menjadi sebuah film animasi yang bisa juga bisa menjadi sebuah cerita dongeng untuk anak-anak yang menjadi poin penting dari sumber klasiknya. Alih-alih mengadaptasi secara harfiah isi bukunya ke dalam filmnya, Mark Osborne menjadikan kisah bukunya menjadi sebuah cerita sampingan dari karakter utamanya. Dengan caranya mengadaptasi, Mark Osborne memiliki tujuan yang sama dengan tujuan dari De-Saint Exupery dengan karya legendarisnya.

The Little Prince penuh dengan pemaknaan tentang fase tumbuh dari anak-anak menjadi orang dewasa. Banyak sekali kritik yang disampaikan kepada orang dewasa lewat buku milik De-Saint Exupery, dan Mark Osborne tahu bagaimana untuk tetap menghadirkan sindiran itu lewat film yang dia buat. Metode mengadaptasi dari Mark Osborne memang bisa dibilang berbeda dari konten aslinya, tetapi hasilnya film animasi The Little Prince memiliki kekuatan yang luar biasa sama dengan sumber klasiknya. 


The Little Prince memiliki konten yang berat jika dijadikan sebagai film yang ditujukan sebagai kepada anak kecil. Penuh metafora-metafora yang perlu penjelasan lebih yang harus dituturkan lebih detil jika disampaikan kepada anak-anak. Filmnya akan memiliki interpretasi yang berbeda di setiap generasi usia. Bisa jadi, setiap generasi akan mengambil kesimpulan yang berbeda ketika film ini berakhir. Akan susah dicerna bagi penonton anak-anak, tetapi akan terasa sentimentil untuk penonton dewasa yang sedang menemani mereka.

Hal itulah yang menjadi tujuan ketika De-Saint Exupery yang ingin disampaikan di dalam bukunya. Rangkuman cerita, tujuan, dan semangat yang sama ada di dalam film animasi yang diarahkan oleh Mark Osborne. Bagaimana pesan-pesan itu disampaikan oleh Mark Osborne tanpa harus melukai konten aslinya. Juga, diinterpretasi lebih luas oleh Mark Osborne untuk memberikan konklusi yang lebih jelas untuk dijadikan di dalam sebuah film. Diperindah dengan pesan simbolik lewat karakter, bentuk, dan warna yang juga secara tak langsung menjadi medium penyampaian pesan.

Pemilihan warna hitam putih yang lebih dominan, bentuk-bentuk setting tempat yang sama satu sama lain, menyampaikan pesan tentang generalisasi pikiran yang sangat relevan dengan apa yang ada di sekitar. Juga, The Little Prince menghadirkan pesan-pesan itu dengan momen-momen sentimentil yang dapat menampar penontonnya, terutama penonton dewasa. Hadirnya momen itu diperkuat dengan bagaimana musik yang digarap oleh Hans Zimmer yang sudah tak disangsikan lagi. Musik dan momen itu saling memperindah satu sama lain. 


Sebagai literatur klasik dengan konten yang berat, bukanlah hal yang mudah untuk mengadaptasi The Little Prince menjadi sebuah film. Mark Osborne menggunakan zona yang dia kuasai untuk menjadikan pendekatannya efektif dalam mengadaptasi karya legendaris milik Antoine De-Saint Exupery. Film animasi berdurasi 100 menit ini tak hanya bervisual menarik, tetapi juga menyelipkan pemikiran-pemikiran baru dan lain tentang fase pertumbuhan menjadi dewasa. Mark Osborne memiliki semangat dan tujuan yang sama dengan buku milik De-Saint Exupery sehingga tak melukai konten klasik yang ada. The Little Prince adalah Film Animasi dengan pemikiran dan visual yang indah. 

Minggu, 01 November 2015

GOOSEBUMPS (2015) REVIEW : New Takes From R.L. Stine Books


Menjadi salah satu penulis termahsur di eranya, R.L. Stine menuliskan cerita misteri pengantar tidur untuk anak-anak, Goosebumps. Karya milik R.L. Stine ini memiliki beberapa seri yang berbeda di setiap bukunya. Pun, buku milik R.L. Stine ini pernah diangkat menjadi sebuah serial televisi di tahun 1995. Karyanya yang tak pernah lekang oleh waktu ini dimanfaatkan oleh Sony Pictures untuk diangkat menjadi sebuah film layar lebar di tahun 2015 ini. 

Goosebumps diangkat menjadi sebuah gambar bergerak dengan durasi 100 menit dan diarahkan oleh Rob Letterman. Dibintangi oleh Jack Black, film Goosebumpspun menjadi sebuah film adaptasi yang berbeda. Goosebumps tak didasari atas cerita dari salah satu buku yang ditulis oleh R.L. Stine. Rob Letterman memutuskan untuk membuat Goosebumps sebagai sebuah tribut untuk karya R.L. Stine yang sudah menemani generasi 90an dan diperkenalkan kembali kepada generasi millenium.

Membuat cerita sendiri di atas buku-buku R.L. Stine bukan berarti malah membuat Goosebumps kehilangan charm-nya menjadi sebuah film yang menarik. Tak perlu terlalu ambisius untuk mengadaptasi salah satu cerita dari bukunya, bersama Darren Lenke sebagai penulis naskah, Goosebumps berubah dari cerita misteri menjadi sebuah cerita fantasi. Film arahan Rob Letterman ini pun tak disangka menjadi sebuah film  yang sangat menyenangkan untuk diikuti. 


Zach (Dylan Minnette) dan ibunya, Gale (Amy Ryan) baru saja pindah dari New York ke sebuah kota kecil. Dia masih berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, apalagi ketika kepindahannya tersebut dikarenakan sang Ayah yang meninggal dan Ibunya harus terus menjalani kehidupan agar bisa bertahan hidup. Di lingkungan rumahnya, dia bertemu dengan gadis bernama Hannah (Odeya Rush). Seorang gadis menyenangkan yang hidup terkekang karena ayahnya yang protektif. Hingga pada suatu malam, Zach mendengar suara teriakan minta tolong dari Hannah.

Zach langsung menelepon polisi untuk mendatangi rumah tetangga barunya itu. Polisi tak menemukan apapun dari apa yang dilaporkan oleh Zach. Merasa tak puas, Zach menyelinap sendiri ke rumah Hannah. Di sana, dia bertemu dengan Hannah dan menemukan tumpukan buku yang terkunci. Tak sengaja, Zach menjatuhkan buku tersebut dan ternyata sesosok monster keluar dari buku tersebut. Ternyata, buku tersebut adalah buku tulisan milik R.L. Stine (Jack Black), ayah Hannah. 


Keputusan yang menarik dilakukan oleh Rob Letterman untuk tidak berusaha mengadaptasi salah satu cerita dari buku Goosebumps. Memiliki resiko besar dengan bagaimana mengolah cerita di dalam film Goosebumps ini agar bisa menghadirkan sesuatu yang tak asal dan sama menariknya dengan karya-karya legendaris dari R.L. Stine. Memutuskan untuk menjadikan film Goosebumps menjadi sebuah film penuh dengan tribut dan nostalgia ini memang bisa menjadi senjata ampuh atau malah menjadi bumerang dari filmnya.

Nyatanya, film Goosebumps menjadi sebuah film fantasi keluarga yang bisa merangkul segala jenis usia yang ingin mendapatkan sensasi menonton yang menyenangkan. Goosebumpsmenyajikan cerita-cerita misteri dan makhluk-makhluk menyeramkan yang dibuat oleh R.L. Stine dengan pendekatan yang lebih kid-friendly. Sehingga, makhluk-makhluk menyeramkan tersebut bisa dikenalkan kembali kepada anak-anak di era millenium agar Goosebumps bisa menjadi sebuah kapsul waktu di berbagai zaman. 


Rob Letterman kali ini berhasil berkolaborasi dengan Jack Black. Setelah sebelumnya sempat gagal lewat Gullivers Travels, Goosebumps ini berhasil menjadi titik balik dari rekam jejak Rob Letterman sebagai sutradara. Rob Letterman berhasil menyajikan sebuah film fantasi petualangan yang mengasyikkan. Meskipun belum dalam taraf luar biasa, setidaknya Goosebumpsberhasil menjadi sebuah karya yang menonjol dan bisa menghibur penontonnya.

Komedi dan suasana kekeluargaan yang diusung di dalam film Goosebumps ini memang bisa menjadi kekuatan di dalam filmnya. Komedi yang tak terlalu slapstick, membuat Goosebumps bisa menjadi sajian yang menghibur. Meski ada beberapa formula bahan tawa yang usang di dalam filmnya yang beberapa kali tak tampil menghibur, tetapi naskah Darren Lenke tak terlalu banyak memberikan sorotan. Dia menyelipkan beberapa referensi bahan guyonan lewat beberapa kultur pop dan referensi horor ke dalam film arahan Rob Letterman. Sehingga, banyak sekali poin yang mengundang tawa penontonnya. 


Pun, suasana film Goosebumps yang berhasil menghadirkan nuansa gaya lama ala serial televisinya. Nuansa misteri tetapi tetap dikemas secara menyenangkan yang tampil begitu kental di dalam filmnya. Juga, Rob Letterman tak melupakan bagaimana tujuan dari karya R.L. Stine sebagai karya yang legendaris dan hal tersebut mampu tampil di dalam film arahannya. Sehingga, penonton yang pernah ada di era itu bisa merasakan kembali apa yang mereka rindukan.

Jelas, Goosebumps adalah sebuah kuda hitam dari beberapa pihak yang merasa pernah menyudutkan bahkan memandang sebelah mata film adaptasi ini. Film arahan dari Rob Letterman ini berhasil menyajikan kembali suasana nostalgia dan tribut terhadap karya dari R.L. Stine yang legendaris ini. Meskipun tanpa mengadaptasi salah satu cerita dari bukunya sebagai sumber. Goosebumps adalah sebuah film fantasi petualangan keluarga yang menyenangkan dan dapat merangkul segala jenis usia. Baik yang pernah tumbuh dengan R.L. Stine, maupun yang tidak. 

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...