Senin, 05 Desember 2016

HEADSHOT (2016) REVIEW : Kolaborasi Dua Genre Yang Memikat


Kebrutalan dalam film Martial Arts adalah sebuah indikator baru dari kualitas sebuah film milik perfilman nasional. Di poin inilah, ada sebuah titik balik yang muncul di dalam perfilman nasional. Diawali oleh film The Raid yang disutradarai oleh Gareth Evans, film ini menjadi sorotan banyak orang dan juga perfilman Internasional. Kedigdayaannya diakui oleh banyak pihak membuat perfilman nasional setidaknya mendapat citra baru baik domestik maupun mancanegara.

Dengan adanya poin itu, keragaman genre di perfilman nasional pun semakin bertambah. Film-film Indonesia berusaha mengekor keberhasilan The Raid dan film-film sadis menjadi sorotan banyak orang. Sebelum The Raid menjadi tersohor, ada The Mo Brothers yang terdiri dari Timo dan Kimo yang pernah membuat genre horor thriller yang tak kalah seru yaitu Rumah Dara. The Mo Brothers pun memiliki banyak penggemar karena setidaknya pada waktu itu berhasil membuat alternatif tontonan, apalagi dalam genre horor yang pada kala itu minim akan pembaruan.

Karya The Mo Brothers pun ditunggu-tunggu oleh penggemarnya dan setelah film keduanya, Killers, The Mo Brothers membuat sebuah proyek baru berjudul Headshot yang dirilis desember tahun ini. Penggemar The Mo Brothers menunggu proyek ini, apalagi film ini dibintangi oleh nama-nama seperti Iko Uwais, Chelsea Islan, Julie Estelle, dan masih banyak nama-nama besar lainnya. Yang terasa berbeda dari film Headshot adalah bahwa film ini dinaungi oleh rumah produksi Screenplay Infinite Films yang sebelumnya memiliki produksi film yang berlawanan genre dengan film ini. 


Penonton mungkin akan was-was dengan siapa yang menaungi Headshot ini, karena rekam jejak rumah produksinya yang sebelumnya hanya memproduksi film-film genre drama romantis. Tetapi, The Mo Brothers bisa berhasil melawan segala keminiman naskah yang menjadi sesuatu yang ditakutkan oleh penggemar atau penonton filmnya. Headshot dikemas unik, menggabungkan dua genre yang berlawanan, tetapi menjadi suatu harmoni.

Naskah dari Headshot mungkin terlihat lemah, apalagi Headshot mempunyai dua genre yang saling bersebrangan. Maka, yang bekerja dengan efektif adalah pengarahan dari duo sutradara yang melebur menjadi satu nama. The Mo Brothers berhasil menjadikan Headshot sebuah Romance-Action yang terasa sangat pas. Dengan durasi yang mencapai 117 menit, Headshot semakin lama akan semakin mencengkram penontonnya. Sehingga, tanpa sadar, penonton telah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mencari tahu siapa itu Ishmael, karakter di dalam film ini. 


Diceritakan bahwa Ishmael (Iko Uwais) adalah orang asing yang ditemukan di tengah lautan lepas di sebuah kota kecil. Ailin (Chelsea Islan) merawatnya di sebuah rumah sakit kecil dengan peralatan medis seadanya. Ishmael mengalami koma dengan waktu yang cukup lama dan Ailin selalu berharap agar Ishmael bisa bangun kembali. Hingga suatu ketika, Ishmael terbangun dan ingatannya benar-benar hilang, bahkan tentang siapa dia sesungguhnya.

Ailin berusaha untuk membuat Ishmael ingat akan siapa dirinya dengan membawanya ke tempat pertama kali dia temukan, tetapi hal itu tak membuahkan hasil. Sebelum akhirnya berhasil membuat ingatan Ishmael kembali, Ailin harus pindah tugas ke Jakarta. Di sana, Ailin akan berusaha mencari peralatan medis yang lebih baik agar bisa mengembalikan ingatan Ishmael. Tetapi, saat perjalanan menuju Jakarta, Bis yang ditumpanginya diserang oleh para pembunuh yang ingin menculik Ailin. Ternyata, pembunuh itu adalah salah satu bagian dari masa lalu Ishmael yang dia tidak ingat. 


Bila dalam Rumah Dara, The Mo Brothers berusaha untuk menampilkan sebuah sajian film thriller atau slasher yang menonjolkan kemasan secara visual. Di dalam Killers, The Mo Brothers berusaha untuk bercerita segala kompleksitas plotnya. Maka, di dalam film Headshot berusaha untuk menggabungkan kemampuan The Mo Brothers di dua film sebelumnya. The Mo Brothers bisa membangun dunia yang sengaja dibuat berbeda dengan realita yang ada. Dunia penuh kekacauan di dalam Headshot berhasil diceritakan dan berdampak pada keterikatan antara karakter dengan penontonnya.

Muncul sebuah relevansi yang timbul antara karakter fiktif milik The Mo Brothers dengan penontonnya. Dengan setting dunia yang dibuat jauh dari realita penontonnya, yang terjadi adalah apa yang ada di dalam film Headshot lantas dibuat begitu meyakinkan. Apa yang membuat film ini sengaja dibuat jauh dari realita adalah bagaimana warna di dalam film ini. Dibuat memiliki kekacauan lewat warna yang cenderung memiliki palette yang kuning lebih gelap. Waran inilah yang digunakan sebagai penanda atas tujuan dari The Mo Brothers agar tak terjadi pembiasan realita yang ada.

Perpaduan naskah yang bersebrangan mungkin terlihat lemah, penuh akan plot klise tetapi Headshot punya cara untuk mengemas hal itu menjadi tambang emas. Menjadikan drama romantis itu memiliki alternatif cara untuk dikemas dan dinikmati. Menggabungkannya dengan banyak koreografi aksi yang bisa memberikan tensi kepada penontonnya. Dalam aspek naratif, Headshot masih memiliki aspek-aspek yang dapat dikategorikan sebagai film aksi meski dengan tambahan bumbu romantisasi antar karakter. Masih ada villain, hero, dan princess yang menjadi aspek utama yang menandakan bahwa Headshot dapat dikategorikan ke dalam film-film aksi. 


Poin-poin itu mungkin tak ada bedanya bahkan cenderung terasa klise dengan film-film yang ada di dalam genre-nya. Struktur atau pola yang repetitif di dalam film yang berada di satu lingkup genre bisa jadi tak bisa menyenangkan penontonnya.  Tetapi, lagi-lagi kembali ke bagaimana The Mo Brothers mengemas Headshot ini. Keberhasilan sang sutradara untuk mengarahkannya sebagai sebuah film aksi yang tak sembarangan. Ada kesegaran di dalam filmnya sehingga penonton dapat mengikuti pencarian identitas Ishmael yang penuh rintangan.

Headshot mengangkat studi karakter Ishmael yang juga memiliki relevansi dengan isu sosial masyarakat tentang identitas. Banyak faktor yang dapat membentuk jati diri seseorang dan menganggap bahwa faktor itu yang dapat mewakili dirinya sebagai identitas mereka masing-masing. Identitas tak memiliki sifat statis, begitu pula yang berusaha disampaikan oleh The Mo Brothers lewat karakter Ishmael. Dengan keadaannya yang bisa jadi berubah ‘putih’ kembali, menimbulkan alegori tentang bagaimana karakter diri dibentuk dan siapa yang berpengaruh untuk membentuk karakter itu. 


Headshot bukanlah sebuah film yang menawarkan aspek cerita yang baru bila disandingkan dengan film-film belahan dunia lain, terutama Hollywood. Tetapi  di dalam perfilman nasional yang masih memiliki pakem dan cerita ‘seksi’nya sendiri, Headshot bisa dibilang punya sesuatu yang segar dengan  menggabungkan dua genre yang berbeda. Pun, hal itu tak bisa dijauhkan dari keberhasilan Timo dan Kimo dalam mengarahkan naskahnya yang mungkin dianggap cukup lemah. The Mo Brothers bisa membuat Headshot sebagai ladang emas lewat bagaimana cara dia bertutur dan membangun dunianya yang berhasil meyakinkan penontonnya. Dengan begitu, penonton dapat mengikuti perjalanan Ishmael yang sedang mencari identitas diri dari awal hingga akhir film. 

Senin, 28 November 2016

MOANA (2016) REVIEW : Film Animasi Penuh Misi yang Tak Termakan Ambisi


Disney di era yang baru ini memiliki misi di dalam film-film miliknya. Sehingga, filmnya tak sekedar menjadi film animasi pelipur lara biasa tetapi ada nilai-nilai yang berusaha disematkan lewat karakter-karakternya, terutama karakter-karakter putri yang biasa mereka buat. Disney berusaha merombak segala identitas Princess yang kadang kelewat putih dan terlihat sempurna. Mulai dari Princess and The Frog, Tangled, dan Frozen, Disney berusaha untuk mengontruksi ulang identitas dari sosok Princess.

Tak berhenti di ketiga film tersebut, Disney kembali berusaha mengonstruksi identitas karakter-karakter Princess-nya dalam film teranyarnya berjudul Moana. Film ini ditangani oleh orang-orang lama Disney yang pernah berkecimpung lewat Aladdin dan The Little Mermaid yaitu Ron Clements. Sehingga mungkin proyek Moana ini sudah berada di tangan yang tepat karena rekam jejak sang sutradaranya yang sudah terbiasa berkecimpung di karakter-karakter tuan puteri.

Di era sekarang di mana ilmu pengetahuan sudah semakin berkembang pesat, lantas juga ada pesan yang berubah di dalam film-film animasi Disney saat ini. Moana pun penuh akan misi untuk mengedukasi dengan baik tentang gender dan ras yang bermain di wilayah Disney seperti biasanya. Dengan misi yang terkesan serius itu, memperhalus cara penyampaian pesan itu sangat penting dan Moana memiliki itu sebagai kekuatan filmnya. 


Jared Bush selaku penulis naskah film ini berusaha untuk memberikan sebuah kampanye dengan dampak masif tentang perempuan masa kini yang perlu diberi tempat sejajar dengan laki-laki. Moana adalah perwakilan tentang suara-suara perempuan yang tak ingin dianggap remeh. Bahkan, ada konstruksi lain tentang kata ‘Princess’ atau ‘Tuan Puteri’ dalam bahasa Indonesia. Lewat Moana, konstruksi bahasa secara visual dan penampilan fisik dari seorang tuan puteri itu diperbarui. Bahwa semua orang bisa menjadi tuan puteri, tak melulu memiliki kulit putih atau badan kurus dengan berbagai gemilau perhiasan dan busana cantik.

Memperkenalkan hal-hal semacam ini mungkin akan susah, terlebih penonton telah mendapatkan terpaan tentang sosok tuan puteri yang ideal oleh media-media lain. Tetapi, Disney memiliki kecerdikan mengemas pesan serius itu lewat film Moana. Tanpa perlu mengumbar superioritas feminisme dengan kemasan visual yang terkesan ‘nyeleneh’, Moana memberikan sebuah pesan audio visual yang dapat diterima oleh segala kalangan dengan segala kerendahan hati atas berlimpahnya pengetahuan kesetaraan gender yang mereka miliki. 


Menceritakan tentang Moana (Auli'i Cravalho) yang hidup selalu serasi di tengah-tengah suku Polynesia yang dikepalai oleh ayahnya, Chief Tui (Temuera Morrison). Tetapi, Moana merasa bahwa dirinya ingin sekali berlayar di luar sana, tetapi sang ayah selalu melarangnya. Sebuah kabar buruk pun melanda pulau mereka yang sebelumnya serba berkecukupan. Ikan-ikan tak bisa lagi ditangkap dan hasil perkebunan mereka pun banyak tak jadi. Hal tersebut dikarenakan oleh “hati” berbentuk batu milik Te Fiti yang dicuri oleh sosok setengah dewa legendaris, Maui (Dwayne Johnson) belum dikembalikan ke asalnya.

Lautan yang merampas ‘hati’ milik Te Fiti dan Kail milik Maui memilih Moana untuk menyuruh Maui mengembalikan hati tersebut kepada Te Fiti. Moana pun memberanikan diri untuk mengarungi lautan, menempuh badai dan jarak yang jauh untuk bisa kembali mensejahterakan suku Polynesia dan mengemban misi yang diberikan Lautan kepadanya. Yang jelas, perjalanan itu tak akan mudah karena dia akan bertemu dengan banyak rintangan seperti suku Kakamora yang juga mengincar hati Te Fiti dan Te Ka sang monster yang siap menghabisi Moana. 


Moana memiliki banyak perbedaan dengan film-film Disney Princess sebelumnya, mulai dari penampilan Moana secara fisik maupun dari penyampaian dari naskah yang ditulis Jared Bush. Secara struktur plot, Moana memang tak memiliki sesuatu yang berbeda dengan film-film Disney lainnya. Perbedaannya adalah bagaimana penyampaian dari Ron Clements dan Don Hall kepada sosok Moana. Bagaimana Ron Clements dan Don Hall berusaha membuat sosok Moana memiliki kesempatan untuk menyelesaikan segala misinya sendiri. Memberikan kekuatan pada karakter Moana yang menjadi diferensiasi dari karakter Disney Princess lainnya.

Jika dalam film-film Disney Princess lainnya berisikan tentang mencari kebenaran, maka berbeda dengan Moana. Dalam film ini Moana diberikan sebuah misi dan segala aksi petualangan yang seru, hal ini seperti memperlihatkan bagaimana Moana adalah perumpamaan dari suara perempuan masa kini. Bagaimana perempuan bisa diberi tanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaannya, bukan sekedar membantu pekerjaan orang lain. Inilah yang menjadi kekuatan Moana secara naratif, bagaimana dia digambarkan sangat kuat dan bisa berperilaku setara dengan Maui sebagai laki-laki. 


Ron Clements dan Don Hall tetap tak melupakan bagaimana film ini tetap memiliki sisi sentimentil yang pas dengan sosok Moana sebagai perempuan. Sehingga, penuturan yang ada di dalam film ini terkesan sangat lembut dan tak terlalu padat seperti Zootopia. Ron Clements dan Don Hall berusaha untuk memberikan ruang kepada penontonnya untuk beristirahat, menikmati indahnya visual yang dimiliki oleh Moana. Selipan-selipan unsur komedi lewat berbagai karakter yang bisa mencuri penontonnya seperti HeiHei, si ayam dengan tingkah aneh, dan Pua, si babi yang menggemaskan.

Di dalam film Moana juga memiliki beberapa sekuens musikal yang diselipkan di dalam film Moana, sehingga penonton sesekali diberi relaksasi. Sekuens musikalnya pun tak terasa dipaksakan, penuh akan nuansa eksotis seperti Moana dan suku-sukunya sebagai orang yang hidup di pulau-pulau penuh lanskap pantai. Bukan hanya lagu-lagunya, tetapi juga musik-musik pendukung yang ada di dalam film ini. Ada unsur budaya yang berusaha dimasukkan ke dalam film Moana dan dapat divisualisasikan secara indah. Menjadikan film ini memiliki cita rasa klasik yang khas milik film-film Disney di era yang berbeda. 


Moana adalah sebuah film animasi dengan misi yang luar biasa banyak, mulai dari sebagai representasi akan gender dan ras, nilai-nilai sosial, dan tribut untuk menumbuhkan kembali cita rasa klasik seperti film-film Disney terdahulu. Dengan banyaknya poin itu, Moana berhasil memberikan tontonan yang mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut. Moana memiliki presentasi yang gemilang mulai dari penuh dengan visual-visual indah, juga petualangan seru dan menyenangkan. Ron Clements dan Don Hall berusaha menyampaikan Moana dengan berbeda dan berani. Moana adalah cara menikmati cita rasa klasik lewat visual yang moderen. 

Rabu, 12 Oktober 2016

A MONSTER CALLS (2016) REVIEW : Film Fantasi Penuh Emosi

 

Jika sudah pernah membaca A Monster Calls milik Patrick Ness, tentu kalian akan menantikan bagaimana film adaptasi dari buku yang menang penghargaan. Ya, A Monster Calls mendapatkan kesempatan untuk akhirnya menjadi sebuah perjalanan visual adaptasi. Jika sudah pernah membaca dan bermimpi akan diadaptasi menjadi film, mungkin akan terpikirkan nama Guilermo Del Toro yang mumpuni dalam menyampaikan pesan tersebut ke dalam sebuah gambar bergerak.

Sayangnya, Guilermo Del Toro tak menjadi sutradara dari A Monster Calls. Proyek ini ternyata berada di tangan J.A. Bayona yang sudah pernah menangani film-film serupa. Sebut saja The Orphanage dan The Impossible, rasanya dua karya miliknya sudah cukup menjadi referensi atas kapabilitas J.A. Bayona sebagai sutradara. Sehingga, A Monster Calls diarahkan oleh J.A. Bayona rasanya sudah cukup berpengaruh besar dalam gaya penuturan film adaptasinya.

Beruntungnya lagi, A Monster Calls masih menggunakan Patrick Ness sebagai penulis naskahnya. Harapan film A Monster Calls sebagai sebuah film adaptasi yang mencuri perhatian seakan-akan semakin besar. Bagi pembaca mau pun non pembaca, boleh saja berharap baik akan performa A Monster Calls  karena J.A. Bayona dan Patrick Ness mempunyai visi yang sama dalam mengarahkan proyek adaptasi ini. A Monster Calls bukan hanya sekedar sebuah film fantasi dengan nuansa gelap yang sekedar bersenang-senang. Ada pelajaran tentang arti kehidupan dan nilai-nilai lainnya yang bermain sangat kuat. 


A Monster Calls bisa dibilang adalah sebuah film tentang transisi fase usia yang dialami oleh anak-anak menuju remaja. Problematika yang dilematis saat mengalami transisi tersebut ini yang berusaha digali di dalam A Monster Calls, baik dalam buku maupun film adaptasinya. Faktor pembeda adalah pemilihan pendekatan yang dilakukan A Monster Calls yang lebih condong ke arah fantasi. Hal ini mungkin dipilih agar audiens sebagai komunikan mencari makna yang lebih dalam lagi terhadap pesan yang disampaikan di dalam A Monster Calls.

J.A. Bayona berhasil menangkap segala semangat yang sudah ditulis oleh Patrick Ness di dalam A Monster Calls. Sehingga, penonton akan mendapatkan dampak yang luar biasa kuat setelah menonton A Monster Calls. Meski dengan pemilihannya sebagai film Fantasi, A Monster Calls punya cara untuk menyampaikan pesannya dengan emosional. Tujuannya adalah A Monster Calls tak hanya sebuah film fantasi yang mewah tetapi juga hangat dan tak terasa air mata akan jatuh ke pipi saat adegan kunci di dalam film ini. 


Menceritakan bagaimana Conor (Lewis MacDougall) yang sehari-harinya berusaha hidup mandiri. Dia tinggal bersama dengan Sang Ibu (Felicity Jones) yang sedang mengidap penyakit. Conor memiliki kehidupan yang bahkan jauh dari kata menyenangkan, yang mana membuatnya lebih suka untuk membangun dunianya sendiri lewat gambar-gambar yang ia buat. Suatu hari, dia melihat pohon disudut lain rumahnya dan tepat pada jam tertentu pohon tersebut berubah menjadi Monster yang mendatangi Conor.

Sang monster (Liam Neeson) berusaha untuk menanyai Conor tentang banyak hal terutama dengan mimpinya belakangan yang sering membangunkannya. Namun, Conor enggan menceritakan detil cerita tentang mimpi yang dialaminya. Tetapi, Monster tersebut memaksa Conor untuk menceritakan segala hal tentang mimpinya setelah Monster tersebut selesai menceritakan tiga cerita kepadanya. Jika tidak, Conor akan mendapatkan balasan yang setimpal. 


Keanggunan J.A. Bayona dalam mempresentasikan adaptasi A Monster Calls inilah yang menjadi kekuatan. Pengarahan J.A. Bayona berhasil menumbuhkan simpati kepada penontonnya terhadap karakter-karakter rekaan A Monster Calls. Sehingga, A Monster Calls punya kemasan yang berbeda dengan pemilihan genre-nya. J.A. Bayona perlahan-lahan membangun relevansi dari karakter ke penonton, sehingga karakternya punya kesempatan untuk mengembangkan dirinya atau menjadi multidimensional.

A Monster Calls mengusung bagaimana dilema kehidupan Conor yang sedang mengalami transisi. Mengenalkan bagaimana problematika sosial tentang ruang opini pribadi seseorang yang berhak mendapatkan porsi yang sama. Conor yang menuju remaja, berusaha untuk mendapatkan atensi dari berbagai pihak, apalagi keluarganya. Bagaimana Conor sudah mendapatkan wewenang untuk memutuskan sendiri apa yang dia inginkan dalam hidupnya.

Juga, A Monster Calls menceritakan tentang bagaimana menyayangi orang yang benar-benar dekat dengan kita. Mencintai yang tak membebani, dan juga berusaha agar orang yang dekat tersebut juga bahagia dengan kita. J.A. Bayona menancapkan nilai-nilai kehidupan itu kepada kehidupan Conor dengan dramatisasi yang sangat pas. Sehingga, A Monster Calls mempunyai titik puncak yang benar-benar tak bisa ditahan oleh penontonnya untuk tergugah hatinya bahkan menitihkan air matanya dengan sukarela. 


Jangan lupakan juga bagaimana setiap aktor dan aktrisnya yang mampu bermain seirama dan semakin memperkuat semangat A Monster Calls sebagai sebuah film yang kuat. Lewis MacDougall sebagai pendatang baru berhasil membuat karakter Conor sangat hidup dan dekat dengan penontonnya. Ikatan emosinya juga begitu nyata dengan Felicity Jones yang berperan sebagai Ibu. Perannya dengan screen time yang minimalis berhasil mematahkan hati penontonnya.

Dengan segala alternatif dan pengemasan di dalamnya, A Monster Calls adalah sebuah film transisi fase kehidupan anak-anak ke remaja dengan kemasan fantasi bernuansa kelam. J.A. Bayona berhasil mengarahkan sebuah adaptasi dari buku Patrick Ness dengan bangunan emosi yang sangat kuat. Pun, A Monster Calls punya banyak nilai-nilai dan pesan-pesan sosial yang tertangkap di dalamnya. Karakter-karakternya yang multidimensional akan mempermudah penontonnya untuk menaruh simpati dan pada adegan kunci di dalam film A Monster Calls penontonnya akan sukarela menitihkan air mata. Dan sekali lagi, J.A. Bayona berhasil bermain dengan emosi penontonnya dengan dramtisasi yang pas. Bagus!

ATHIRAH (2016) REVIEW : Urgensi, Relevansi, dan Intimasi dalam Film Biografi


Urgensi, kata yang tepat dan selalu menjadi poin menarik di setiap film-film tentang seseorang atau biografi. Menilik tujuan seperti apa yang ingin diwujudkan lewat beberapa sineas setelah menyelesaikan proyek film biografi. Beberapa poin ini memang terkadang masih terkesan bias, karena masih ada kepentingan politik yang berusaha ingin disampaikan. Memang, film sejatinya bisa digunakan sebagai alternatif penyampaian pesan, film memiliki misi dari pembuatnya. Sehingga, metode ini kerap digunakan sebagai medium untuk membangun atau mengembalikan sebuah citra.

Juga ada Relevansi, kata yang tepat setelah menonton sebuah film biografi. Apa yang berusaha dibangun dan ingin disampaikan oleh menonton akan berdampak pada bagaimana seseorang memiliki paradigma dengan sosok tersebut. Dua poin itu juga yang membuat Riri Riza ingin mengabadikan secara visual tentang sosok Ibu Jusuf Kalla bernama Athirah. Memoir tentang Athirah telah pertama kali dituliskan ke dalam bentuk buku oleh Albethiene Endah. Sehingga, ‘Athirah’ versi film ini adalah adaptasi dari buku dengan judul sama.

Delusi adalah hal yang terkadang mewarnai sebuah film biografi yang sedang membangun citra kembali. Maka, alih-alih sebagai sebuah cerita dari orangnya asli, semuanya nampak seperti sebuah cerita fiksi. Sehingga, orang-orang terkadang mempertanyakan sebuah verifikasi dalam sebuah kisah dalam filmnya sebagai komunikator. Lantas, hal tersebut sepertinya membuat Riri Riza berhati-hati dalam menyampaikan pesan dalam film ‘Athirah’. Kekuatannya ada pada narasi dari naskah adaptasi yang ditulis secara kooperatif oleh Riri Riza dan Salman Aristo serta pengarahannya yang detil. 


Athirah (Cut Mini) dan Puang Haji Kalla (Arman Dewarti) membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia dan serba berkecukupan. Puang Haji Kalla menjadi sosok yang dihormati di berbagai kalangan orang Makassar. Tetapi, akan sesuatu hal, cengkrama antar Puang Haji Kalla dan Athirah mengendur tiba-tiba. Nyatanya, Puang Haji Kalla telah memikat hati wanita lain dan Athirah merasakan sebuah pengkhianatan pernikahan yang amat dahsyat.

Tak lama setelah itu, Athirah harus bangkit dan meninggalkan segala jenis sakit hatinya agar dapat terus bertahan hidup. Menghidupi anak-anaknya terutama Ucu (Christoffer Nelwan), yang selalu senantiasa mendampingi transisi kehidupan Ibundanya. Athirah sedikit demi sedikit menguatkan hatinya agar tak biasa bergantung dengan Puang Haji Kalla. Tetapi, problematika yang muncul di kehidupan Athirah semakin dilematis. Puang Haji Kalla kembali ke Athirah dan membuatnya mengingat akan puing-puing masa lalunya. 


Inspiratif tanpa perlu membuatnya seperti memberikan dakwah adalah tujuan Riri Riza dalam mengemas Athirah. Alih-alih menekankan Athirah sebagai sebuah film Inspiratif, nyatanya Riri Riza ingin membangun adanya relevansi di benak penonton. Muncul sebuah kesan, bahwa Athirah adalah sosok yang perlu diberi sorotan lebih, apalagi, sosoknya sebagai perempuan. Tak perlu sebuah peristiwa hidup yang megah sebagai titik balik, hanya sebagai seorang perempuan biasa yang dapat bertahan hidup sendiri menjadi kekuatan dari sosok Athirah ini.

Terlepas dari Athirah adalah sebuah film yang sedang menceritakan tentang seseorang di balik sosok mahsyur negeri ini, Riri Riza memanfaatkannya sebagai medium berbicara tentang perempuan. Riri Riza merangkum segala pesan tentang kesetaraan gender dengan penuh elegansi dalam bertutur, bukan sekedar menunjukkan superioritas ilmu tentang feminisme secara bar bar. Permainan narasi  dalam film Athirah adalah kunci utama dari film ini. Tanpa perlu bicara banyak dengan dialog yang menggurui, Athirah akan berdampak besar kepada penontonnya dengan visual kuat yang dimiliki.

Athirah adalah gambaran seseorang perempuan lintas zaman yang masih memiliki relevansi dengan problematika masa kini. Bagaimana Athirah sebagai seorang perempuan dapat menjadi tolak ukur dengan berbagai atribut yang tak jauh dari kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya. Terutama sosial masyarakat di Indonesia yang masih menganut segala pendekatan budaya timur dalam menjalin interaksi. Menunjukkan bahwa Athirah yang mewakili perempuan Indonesia juga masih memiliki keterbatasan dalam menyampaikan opini dan haknya sebagai perempuan dan manusia.


Di sinilah Riri Riza bermain dengan medium yang dia miliki. Film ‘Athirah’ bukan hanya sebagai film tentang seseorang, tetapi juga bermain dalam wilayah suara untuk perempuan Indonesia. Sehingga, tak ada eksklusivitas yang terjadi dalam sosok Athirah dan tak menimbulkan efek alienasi antara karakter dan penontonnya. Penonton yang minim ilmu feminisme dan gender pun masih bisa mengambil sebuah kesimpulan besar tentang kekuatan seorang wanita di dalam lingkungan sosial masyarakat.

Intimasi, poin yang ingin dibangun lagi oleh Riri Riza lewat bagaimana karakter-karakter menampakkan diri di kamera. Dilema Athirah sebagai seorang karakter di dalam film, --bahkan sosok penting di dunia nyata --ini berusaha membangun relasi dengan penontonnya. Cara Riri Riza dalam membangun intimasi itu adalah dengan memperlihatkan raut mukanya lewat pencahayaan dan pengambilan gambar yang tepat. Maka, penonton akan dapat mengidentifikasi tujuan dari Riri Riza di dalam film ‘Athirah’ mengenai sosok Athirah itu sendiri. Penonton berusaha berkoneksi dengan Athirah yang sedang berusaha membicarakan posisinya di bumi ini.


Riri Riza berusaha membangun pesan non verbal yang masih mempunyai sisi naratif yang luar biasa unik, berbeda dengan beberapa film yang berusaha penuh metafora lainnya. Athirah memang tak menyampaikan pesannya terlalu gamblang, tetapi masih punya cara dan Riri Riza tahu akan kewajibannya untuk menuntun penontonnya mendapatkan pesan tersebut. Masih ada sebuah plot linear yang ada di dalam Athirah sehingga penonton merasakan sebuah transisi yang terjadi di dalam para karakternya.

Tak perlu dialog yang berakumulasi, nyatanya film Athirah mampu memberikan sebuah permainan emosi yang Indah sebagai sebuah film biografi. Film Athirah bermain secara visual dengan transisi seperlunya yang dapat menimbulkan sebuah kontemplasi yang tak manipulatif. Penyampaian pesan yang dapat diterima secara luas adalah prinsip yang masih dipegang teguh oleh Riri Riza, sehingga film Athirah tak melupakan kewajibannya sebagai pembuat pesan dibalik idealisme miliknya saat mengemas pesan ini sendiri. 


Riri Riza tak perlu berusaha keras menjadikan filmnya sebuah film biografi inspiratif, tetapi tujuannya adalah untuk membangun ‘Athirah’ mendapat atensi secara visual. Tak perlu terlalu bar bar menunjukkan superioritas akan berbagai ilmu dan teori, ‘Athirah’ adalah sebuah pesan universal untuk mempertanyakan posisi perempuan Indonesia masa kini saat menyampaikan sebuah opini. Meski ‘Athirah’ minim akan  pesannya secara verbal, ini adalah kekuatan dari filnya sendiri. Masih ada kewajiban Riri Riza untuk menyampaikan pesan kepada penontonnya dengan caranya sendiri. Bukan hanya sekedar kontemplasi yang manipulatif atau terkesan seperti cerita fiksi, tetapi ada cara sendiri lewat personifikasi yang tampil penuh akan urgensi, relevansi, dan intimasi yang hadir memikat penontonnya.  
 

Senin, 03 Oktober 2016

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 1 (2016) REVIEW : Semangat Nostalgia Atas Nama Komersialisasi


Siapa yang tak kenal dengan trio komedian Dono, Kasino, dan Indro? Nama mereka menjadi salah satu sosok legendaris yang dikagumi oleh banyak orang yang pernah mengikuti zaman kejayaan mereka. Mereka menyebut diri mereka ‘Warkop DKI’ yang sudah memiliki banyak sekali film-film dan serial televisi. Dono dan Kasino yang telah wafat, membuat grup komedian ini sudah absen selama beberapa tahun. Beberapa pihak ingin sekali ‘menghidupkan kembali’ sebuah ikon komedi legendaris di Indonesia ini.
 
Maka, Falcon Pictures yang sudah sering bekerjasama dengan Indro Warkop akhirnya melahirkan kembali trio komedian ini dengan sosok baru. Bersama dengan Anggy Umbara, Falcon Pictures berinisiatif untuk membuat Warkop DKI Reborn yang tetap mengangkat nama Dono, Kasino, dan Indro tetapi dengan wajah yang berbeda. Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro dipercaya untuk melakonkan sosok legendaris ini ke dalam sebuah film berjudul Jangkrik Boss yang dibagi menjadi dua bagian.

Jelas, proyek ini mendapatkan sorotan yang sangat besar dari calon penonton karena rasa penasaran mereka terhadap kapabilitas ketiga aktornya. Word of Mouth dari film ini pun semakin besar dan mendapatkan antusiasme yang cukup tinggi. Bagusnya, Ketiga aktor tersebut, secara performa, sangat berhasil menangkap semangat dari Warkop DKI lama. Hanya saja, problematika muncul dari bagaimana Anggy Umbara mengarahkan filmnya dan naskah dengan treatment komersialisasi.


30 menit awal terlihat benar bagaimana tingkah laku Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian yang berusaha keras meyakinkan penonton bahwa mereka sangat kompeten untuk melahirkan kembali komedian legendaris tersebut. Muncul banyak sekali sketsa-sketsa komedi yang menggambarkan dan memiliki semangat Warkop DKI kala itu. Komedi-komedi slapstick yang dikemas ulang dengan isu-isu masa kini sehingga penonton akan terasa sedikit relevan.

Sehingga ketika sketsa-sketsa penuh tribute itu berhenti dan kewajiban Anggy Umbara untuk memberikan jalan cerita dari Jangkrik Boss Part 1 ini malah menjadi sebuah perjalanan tensi yang menurun. Plot cerita di dalam Jangkrik Boss Part 1 menjadi sebuah problematika utama yang seharusnya perlu ditinjau ulang agar Warkop DKI Reborn tetap menjaga excitement yang sudah terlanjur muncul di awal film. Sehingga, penonton mungkin akan merasa kecewa dengan perjalanan cerita yang belum tuntas tersebut.


Tingkah laku Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) sebagai CHIPS yang seharusnya membantu menertibkan keadaan ternyata malah membuat banyak sekali kekacauan. Sehingga, mereka perlu untuk membereskan banyak sekali hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka pun diberi hukuman untuk membayar denda sebanyak  8 Milyar. Atas ulahnya tersebut mereka mencari cara agar mendapatkan uang itu.

Mulai dari meminjam uang dari saudara Dono hingga menjual barang-barang yang dimilikinya. Hingga suatu ketika, mereka menemukan sebuah peta harta karun dari kantong milik seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Akhirnya, Dono, Kasino, dan Indro berusaha untuk menemukan harta karun tersebut yang ternyata membawa mereka ke negeri Jiran, Malaysia. Tetapi, ketika sampai, Peta tersebut terbawa oleh seorang wanita berbaju merah yang memiliki tas yang sama dengan mereka. 


Di sinilah problematika dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1. Keseluruhan film mungkin sudah dirangkum ke dalam sebuah sinopsis pendek di atas. Bagian kedua film Jangkrik Boss nanti, mungkin Anggy Umbara akan lebih berusaha untuk menyampaikan ceritanya. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa sejak kapan film-film Warkop DKI mementingkan plot di dalamnya, tetapi yang perlu ditekankan di sini  adalah bagaimana Anggy Umbara memberhentikan ceritanya yang baru jalan 30 menit.

Di dalam Jangkrik Boss Part 1, Anggy Umbara lebih memaksa penonton untuk menerima nostalgia akan segala bentuk sketsa komedi milik Warkop DKI lama di beberapa adegan awal. Segala sketsa komedi itu dengan sukses menyampaikan segala keinginan Anggy Umbara untuk menyelesaikan misi tersebut. Tetapi, keambisiusan dalam menyelesaikan misi itu ternyata berlangsung terlalu lama sehingga berdampak dalam bagaimana Anggy Umbara menyampaikan pesan lain dalam sebuah plot.

Plot dalam cerita menjadi bias di antara sketsa-sketsa komedi yang berada di dalam filmnya. Sudah ada i'tikad baik dari Anggy Umbara yang berusaha untuk memberikan briefing tentang konflik dalam Jangkrik Boss Part 1. Terdistraksi dalam menjalankan plot utama dikarenakan oleh subplot yang bertebaran mungkin akan wajar, tetapi Anggy Umbara terlalu lama bercengkrama dengan segala gangguan tersebut. Sehingga, Jangkrik Boss Part 1 tak menjalankan pion ceritanya secara utuh sehingga itu menjadi poin yang harus diperbaiki lagi.


Perjalanan dan pengenalan kembali karakter Dono, Kasino, dan Indro di dalam Jangkrik Boss Part 1 sudah terasa cukup. Butuhnya keefektifan dari Sutradara film inlah poin yang perlu diperhatikan, yang mana seharusnya sudah dapat diprediksikan sebelumnya tanpa memotong plot cerita --yang bahkan terasa kasar.  Jangkrik Boss Part 1 terasa sibuk menumpulkan pemikiran penontonnya dengan berbagai terpaan sketsa komedi di dalamnya sehingga membentuk sebuah realita baru yang melupakan hak penonton dalam mendapatkan sebuah pesan yang utuh.

Plot cerita yang belum tuntas bila diiringi dengan problematika penuh kompleksitas dalam penuturannya mungkin masih mendapat kewajaran dari penonton. Tetapi, plot dalam Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini pun tak memiliki kompleksitas yang rumit dan membaginya menjadi dua bagian akan menimbulkan respon setelah menonton yang membuat penontonnya berkubu. Ada yang menantikan film selanjutnya, atau mungkin jera untuk mengikuti film-film selanjutnya.

Atas nama komersialisasi, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss membagi diri menjadi dua bagian dengan jumlah penonton yang sudah mencapai 6 juta. Tetapi, sekali lagi, penonton pun perlu mendapatkan sebuah pesan yang utuh dalam sebuah film. Kontinuitas yang dibangun oleh sutradara atau pun rumah produksi dalam komersialisasi sebuah produk mereka mungkin sudah tak bisa dihindari lagi. Hanya saja, perlu treatment bagaimana mereka mengemas sebuah kontinuitas produk mereka tanpa melupakan hak penontonnya untuk mendapatkan sebuah pesan yang utuh. 


Maka dari itu, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini memiliki banyak sekali potensi untuk menjadi sebuah sajian universal  penonton Indonesia. Pun, aktor-aktornya berhasil mengembalikan semangat-semangat Warkop DKI lama sehingga akan menimbulkan efek nostalgia. Tetapi, bagaimana Anggy Umbara lupa melaksanakan kewajibannya untuk menyampaikan sebuah pesan atau cerita secara utuh ini perlu diperhatikan lagi. Membagi Jangkrik Boss ke dalam sebuah dua bagian mungkin tak salah atas nama komersialisasi, tetapi tambahkan saja beberapa poin yang pada akhirnya dapat membuat penonton mengerti bahwa memang Jangkrik Boss ini memiliki urgensi menggunakan template ini.

Jumat, 23 September 2016

PETE’S DRAGON (2016) REVIEW : Harapan dalam Film Keluarga Sederhana


Disney lagi-lagi berusaha mengenalkan lagi sebuah ‘charm’ cerita dongeng yang pernah dia miliki di film-film sebelumnya. Tujuannya adalah memberikan sebuah jalinan cerita tanpa pretensi yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Tahun ini ada The Jungle Book dan The BFG yang mengusung penuturan cerita formula lama yang ternyata masih bekerja dalam mengikat penontonnya. Maka, tak salah jika Disney mencobanya sekali lagi lewat sebuah rebootdari karya lama dan dikonversi menjadi lebih baru.
 
David Lowery lah yang dijadikan sebagai sutradara dari reboot Pete’s Dragon di tahun ini. Pintarnya, David Lowery tak mentah-mentah mengadegankan ulang apa yang ada di dalam film sebelumnya. Sang sutradara memberikan revisi dari Pete’s Dragon terdahulu untuk divisualkan kembali menjadi sebuah cerita dongeng yang pas untuk masa kini. Sehingga, David Lowery memberikan visi terbarunya dan menjadikan Pete’s Dragon adalah sebuah film keluarga yang berbeda.

Kesederhanaan adalah sebuah kata kunci untuk memunculkan keajaiban dari film Pete’s Dragon. Tak perlu superioritas teori berlebihan untuk berusaha memahami setiap adegan di film Pete’s Dragon secara mendalam. Film ini tak memiliki sebuah pretensi untuk menjadi sebuah tontonan yang berlebihan, sekedar sebagai sebuah film fantasi keluarga yang memberikan rasa hangat dan menyenangkan penontonnya. Hanya saja, sentuhan dari David Lowery ini akan membuat Pete’s Dragon sebuah tontonan keluarga yang berbeda. 


Penuturan Pete’s Dragon menjadi sangat indah dengan penuh romantisasi yang mungkin tak ada kesan paksaan. Pete’s Dragon bagaikan sebuah bait dari baris-baris puisi yang divisualisasikan lewat beberapa adegan tanpa ada kesan berlebihan. Tujuan Pete’s Dragon dalam sebuah film tentu untuk menumbuhkan kembali kesan-kesan magis yang ada di dalam sebuah film keluarga. Tanpa perlu konflik dengan problematika yang kompleks, tetapi masih dapat menimbulkan sebuah kesan bahwa Pete’s Dragon adalah sebuah film yang tak gampangan.

Alternatif yang ditawarkan dari Pete’s Dragon jelas dari bagaimana David Lowery memceritakan setiap detil cerita dari Pete’s Dragon. Memasukkan unsur-unsur emosi yang kental sehingga penonton akan dengan mudah memberikan simpati kepada karakter Pete atau pun kepada sang naga Elliot. Kisah dari Pete’s Dragon yang seharusnya memberikan sebuah kejadian yang memburukkan penontonnya tetapi David Lowery memberikan secercah cahaya dan harapan atas peristiwa buruk tersebut. 


Dibuka dengan bagaimana Pete kecil yang akan pergi bertamasya dengan keluarganya. Sayangnya, perjalanan tamasya itu pupus karena mobil yang ditumpanginya menabrak sesuatu dan terguling ke dalam sebuah hutan. Pete yang selamat berjalan menyusuri hutan dan bertemu dengan sosok naga besar bernama Elliot. Pete dan Elliot pun menjalin sebuah relasi pertemanan yang sangat erat hingga Pete tak sadar bahwa dia telah tinggal selama 5 tahun di dalam hutan.

Pete (Oakes Fegley) tak sengaja ditemukan oleh petugas hutan, Grace (Bryce Dallas Howard) dan diselamatkan agar mendapat perawatan yang lebih layak. Tetapi, Pete tetap bersikeras kembali ke hutan untuk menemui temannya yaitu Elliot. Tetapi, nyawa Elliot sedang dalam bahaya karena orang-orang berusaha untuk memburunya karena Elliot adalah seekor naga legendaris yang hanya digadang sebagai sebuah mitos.


Pertemanan dua makhluk berbeda, problematikanya mungkin akan sama saja di setiap film dengan tema serupa. Jadi, beberapa orang akan menganggap bahwa Pete’s Dragon akan penuh dengan unsur klise dan generik. Tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana David Lowery memberikan sebuah harapan di setiap kejadian dalam Pete’s Dragon. Bagaimana David Lowery juga mengajarkan tentang apa arti merelakan dalam setiap hal di mana orang-orang masih belum tahu benar cara mengatakan hal tersebut.

Arti tentang sebuah harapan pun sudah diperlihatkan di adegan pembuka, bagaimana adegan kecelakaan mobil dikemas dengan visual yang begitu puitis. Tak menyisakan sebuah kesan depresif melainkan menimbulkan kesan melankoli yang lebih pas. Membuka mata penontonnya dengan kata ‘adventure’ yang artinya berpetualang sebagai sebuah harapan bagi Pete. Karakter Pete mempunyai tempat lain untuk membangun referensi dan pengalamannya sendiri untuk berinteraksi. Hutan digunakan sebagai tempat memperkaya itu, yang meski terisolasi tetapi Hutan adalah sebuah harapan bagi manusia untuk tetap bertahan hidup. 


Permainan puisi visual ini tak semata-mata muncul begitu saja. Sebuah pengarahan sinematografi yang kuat dan dipermanis dengan lantunan musik pengantar tanpa ada kesan berlebihan dari Daniel Hart itu lah yang mengangkat gaya penuturan dari David Lowery. Dengan beberapa sokongan dalam hal teknis itu, David Lowery mengajarkan tentang sebuah arti merelakan seseorang. Bagaimana David Lowery menggambarkan dengan adegan Pete sedang kabur dari rumah sakit, menuju ke hutan menemui Elliot.

Diiringi dengan lantunan lagu milik The Lumineers dengan lirik ‘nobody knows how to say goodbye / seems so easy to you try’ menggambarkan perasaan bagaimana Pete sedang mengalami resistensi akan arti sebuah kata ‘selamat tinggal’. Di sini, David Lowery memberikan penggambaran tentang apa itu merelakan dengan menyematkannya pada karakter Pete. Menjadikannya sebagai medium penyampaian pesan-pesan moralitas tanpa melulu harus diekspos dengan derai air mata berlebih. Yang ternyata, hal itu ternyata ampuh menjadi sebuah senjata bagi penontonnya untuk dengan suka rela memberikan sumbangsih air mata kepada kehidupan Pete. 


David Lowery berhasil merangkul segala teknis maupun ikatan emosi dari para pemain filmnya sehingga Pete’s Dragon menjadi sebuah film penuh akan kontemplasi kehidupan dengan sajian universal. Tak memiliki pretensi apapun menjadi sesuatu yang superior, tetapi berhasil membuat penontonnya terenyuh. Alternatif cerita yang minim itu diperkaya dengan bagaimana David Lowery menyampaikan cerita dengan visual-visual cantik yang terlihat seperti sebuah puisi penuh dengan bait-bait romantisasi atas kehidupan pahit milik Pete. Sehingga, tak heran apabila Pete’s Dragon akan dengan mudah merebut perhatian penontonnya yang rindu akan film keluarga yang juga memberikan pelajaran akan arti harapan dan merelakan dengan penyampaian yang lugu layaknya Pete.

Selasa, 06 September 2016

THE BFG (2016) REVIEW : Magic In Its Simplicity [With IMAX 3D Review]


Steven Spielberg sudah bukan lagi orang lama yang berkecimpung di industri perfilman Hollywood. Bahkan, karya-karyanya selalu menjadi sebuah karya klasik yang bisa digunakan sebagai kapsul waktu dan ditonton sepanjang abad. Setelah tahun lalu menggarap sebuah film serius tentang negosiasi amerika dan rusia, kali ini Steven kembali membuat sebuah film fantasi yang dapat ditonton bersama keluarga. Proyeknya kali ini, bekerjasama dengan Disney Studios.

Mengadaptasi karya penulis cerita anak-anak bernama Roald Dahl yaitu The BFG. Jelas, ini bukan ranah baru bagi Steven Spielberg dalam menggarap tema serupa. Proyek ini tentu dinanti-nantikan oleh penonton untuk mendapatkan sebuah film keluarga yang hangat dan menyenangkan untuk ditonton. Dengan tangan Steven Spielberg, proyek ini akan terlihat sangat menjanjikan apalagi dengan nama Disney studios sebagai supervisi dari film ini.

The BFG arahan Steven Spielberg ini layaknya sebuah mimpi di siang bolong bagi pecinta film-film keluarga klasik. Memberikan sebuah efek nostalgia dengan atmosfir film-film fantasi zaman dulu yang hanya memerlukan komposisi film yang penuh kemagisan dan emosi di dalamnya. Dan juga, dipenuhi dengan konflik-konflik yang sederhana. The BFG mencakup semua poin tersebut yang membuatnya menjadi sebuah sajian klasik yang sudah lama idam-idamkan oleh penonton genre ini. Yang meskipun, beberapa kendala di The BFGjuga masih menghiasai filmnya. 


Beberapa penonton mungkin akan menganggap plot cerita dari The BFG ini terlalu sederhana dan tak memiliki alasan. Ya, kelemahan dari The BFG adalah minimnya konflik-konflik besar yang seharusnya dapat semakin mengikat dan memperkaya filmnya. Dengan durasi yang cukup panjang yaitu 115 menit, film ini memang masih kurang memberikan kedalaman di dalam konfliknya dengan pengenalan yang begitu terasa tergesa-gesa.

Ketika penonton berusaha untuk memahami dunia yang dibangun oleh Steven Spielberg di dalam The BFG, ternyata penonton sudah langsung dibawa ke dalam konflik di 15 menit awalnya. Sehingga, ada keterbatasan ruang dalam menyampaikan pesan tentang karakternya. Yang meski begitu, Steven Spielberg akan memperkaya dan menggali lebih dalam lagi karakter-karakter utamanya dengan berjalannya durasi yang juga ikut bertambah nantinya. 


Begitulah problematika Steven Spielberg mengenalkan Sophie (Ruby Barnhill), karakter utama dalam film The BFG yang tinggal di sebuah panti asuhan. Dia suka sekali berjalan-jalan di area panti asuhan di tengah malam. Hingga pada akhirnya, secara tak sengaja dia melihat sosok raksasa besar di sudut jalan yang membuatnya penasaran. Sang raksasa mengetahui bahwa Sophie sedang melihatnya sehingga raksasa tersebut menangkap Sophie ke dunianya.

Sophie dibawa oleh sang raksasa untuk menyembunyikan dunia miliknya kepada umat manusia. Hanya saja, hal tersebut menambah masalahnya sendiri di dunia miliknya. Ada raksasa lain yang berusaha menangkap Sophie untuk dijadikan santapan. Sophie yang sudah lama bersama dengan sang raksasa akhirnya memanggilnya BFG (Mark Rylance) yang diambil dari singkatan Big Friendly Giant dan mengatur rencana agar raksasa lain yang ingin memakan Sophie mendapatkan balasan. 


Penonton mungkin tak berusaha diberitahu siapa itu Sophie dan BFG secara personal. Tetapi, pintarnya Steven Spielberg berusaha untuk menjadikan karakternya menjadi satu kesatuan yang utuh. Spielberg memperlihatkan bagaimana proses interaksi mereka satu sama lain sehingga tumbuh suatu ikatan di antara kedua karakternya yang kuat. Penonton yang pada awalnya kesusahan untuk berkoneksi dengan karakternya, menjadi sangat mudah untuk ikut dalam petualangan karakter Sophie dan BFG melawan para raksasa yang lain.

Kepiawaian Steven Spielberg tak hanya berhenti di situ, bagaimana Spielberg mempunyai visi yang luar biasa berpengaruh di dalam film arahannya. Problematika yang sangat sederhana dan dengan durasi yang panjang, Steven Spielberg memberikan petualangan yang penuh dengan kemagisan. Sehingga, penonton sama sekali tak merasakan rasa bosan saat mengikuti petualangan Sophie dan BFG. Memberikan cita rasa klasik yang mungkin sudah lama sekali absen di film-film dengan genre sejenis. Dan itulah yang menjadi keunggulan dari The BFG sebagai sebuah film keluarga.

Banyak adegan-adegan yang dibuat begitu spektakuler dengan visualisasi yang cantik. Dan tak lupa sentuhan-sentuhan emosi yang dapat membuat penontonnya terenyuh, merasakan betapa hangatnya cerita yang ditampilkan oleh Steven Spielberg di dalam The BFG. Sehingga, plot yang terasa begitu sederhana itu dapat dikemas dan didaur ulang dengan kemasan yang lebih menarik. Meski sekali lagi, Spielberg mengalami kebingungan dalam mengakhiri plot utama film ini yang mungkin terkesan tak terlalu muncul ke permukaan. 


Penawaran penyelesaian konflik yang ada di dalam The BFG mungkin terasa sangat ringan dan memberikan penekanan bahwa film ini diperuntukkan bagi keluarga yang sedang ingin melakukan vakansi instan. Dan juga menjadi poin minus lagi untuk The BFG bagi penonton yang menginginkan penyelesaian yang lebih fantastis lagi. Tetapi, kekurangan itu juga lagi-lagi ditutup dengan epilog yang benar-benar menghangatkan hati penontonnya.

Akan terasa sangat disayangkan bagi penonton yang melewatkan The BFG arahan Steven Spielberg ini untuk disaksikan di layar lebar. Karena The BFG menawarkan sebuah vakansi instan bagi penontonnya ke dunia raksasa yang indah lewat visualisasi yang megah. Pun, dengan cerita-cerita keluarga sederhana yang mungkin akan bermain dengan fantasi penontonnya. Meski perjalanan The BFG dalam menceritakan beberapa karakternya juga masih terlihat buru-buru, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa The BFG masih menyisakan kesan hangat dan penuh petualangan menyenangkan saat film ini telah berakhir.

 

Film ini dirilis dalam format IMAX 3D. Berikut rekapan format IMAX 3D untuk film The BFG arahan Steven Spielberg.
DEPTH



The BFG memiliki kedalaman yang cukup bagus dengan visualisasi dunia raksasa yang setidaknya dapat menambah poin jika disaksikan dalam format IMAX 3D
POP OUT 
 
The BFG tak memiliki efek Pop Out yang mencolok mata penontonnya. Sehingga, mungkin format 3D atau IMAX 3D ini akan mengecewakan penontonnya yang menantikan format ini. 
Mungkin, The BFG akan terasa wajib untuk ditonton dalam format IMAX 3D, karena format ini memaksimalkan visualisasi dunia yang diarahkan oleh Steven Spielberg. Hanya saja, ketika menantikan efek Pop Out, tentu format ini akan mengecewakan penontonnya. Sehingga, menontonnya dalam format ini mungkin akan menjadi pilihan tergantung selera.

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...