Jumat, 27 Januari 2017

CEK TOKO SEBELAH (2016) REVIEW : Komedi Dengan Misi Mulia yang Belum Maksimal


Kesuksesan Ngenest The Movie, membuat Ernest Prakasa dipercaya oleh Starvision untuk membuat karya. Kesuksesannya pun tak sekedar dalam meraih angka penonton, tetapi secara kualitas pun Ngenest The Movie bisa melampaui ekspektasi penontonnya. Tak hanya dipercaya oleh rumah produksi, karya-karya Ernest Prakasa akan dinantikan oleh penikmatnya. Di tahun 2016 lalu, Ernest Prakasa kembali menghadirkan sebuah film komedi dengan misi yang sangat besar untuk disajikan kepada penontonnya.
 
Lewat ‘Cek Toko Sebelah’, Ernest Prakasa berusaha untuk kembali membuktikan kemampuannya dalam mengarahkan sebuah film. Genre komedi ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ernest Prakasa tetapi ada keseriusan yang lebih diperhatikan di film keduanya. Adanya Dion Wiyoko, Adinia Wirasti, Chew Kin Wah, dan mengambil keputusan berani mendatangkan wajah baru seperti Gisela, menunjukkan bahwa Ernest Prakasa di film keduanya ini sudah tak main-main.

Cek Toko Sebelah lagi-lagi mengangkat tema ras Tionghoa yang memang dekat dengan pribadi Ernest Prakasa. Tetapi, poin utama dari film Cek Toko Sebelah bukan lah tentang Tionghoa sebagai minoritas di Indonesia. Poin utama dari Cek Toko Sebelah adalah tentang keluarga, pesan yang begitu universal bagi siapapun. Maka dari itu, Cek Toko Sebelah memiliki misi yang sangat besar sebagai sebuah film komedi karena misinya untuk menyampaikan pesan yang serius itu dengan kemasan ringan. 


Misinya mulia, pesannya pun hangat, tetapi Cek Toko Sebelah yang berusaha keras untuk meminimalisir filmnya agar tak terlalu berat ini menjadi bumerang di keseluruhan film. Sebagai sebuah film komedi, tak dapat dipungkiri bahwa Cek Toko Sebelah berhasil menghibur penontonnya. Tetapi, hal tersebut bukan berarti menjadi kabar baik. Cek Toko Sebelah memiliki kekurangan-kekurangan yang harusnya bisa diperbaiki di karya-karya Ernest Prakasa selanjutnya.

Problematika domestik yang dibawa oleh Ernest Prakasa ini memang berusaha agar dapat diterima oleh banyak orang, tak hanya dikhususkan kepada kaum Tionghoa yang direpresentasikan di film ini. Ernest tahu bahwa tujuan dari Cek Toko Sebelah ini adalah untuk menumbuhkan relevansi problematika kaum minoritas Indonesia. Menunjukkan bahwa problematika yang terlihat tersegmentasi ini sebenarnya adalah realita sosial yang ada di setiap orang. 


Gambaran realita sosial itu tergambar lewat dari plot Cek Toko Sebelah yang menceritakan tentang bisnis toko kelontong milik Koh Afuk (Chew Kin Wah). Dia merasa bahwa dirinya semakin tua untuk mengurus toko kelontongnya, apalagi setelah ditinggal oleh istrinya (Dayu Wijayanto). Koh Afuk pun memutuskan untuk mewariskan tokonya ke Erwin (Ernest Prakasa). Mendengarkan keputusan koh Afuk, Yohan (Dion Wiyoko) sebagai anak sulung pun tak terima bila toko tersebut diberikan kepada Erwin sebagai anak bungsu.

Erwin pun tak senang mengetahui bahwa dirinya akan mewarisi toko tersebut, karena karir Erwin sedang naik-naiknya. Tetapi, Koh Afuk berusaha untuk meyakinkan Erwin agar mau melanjutkan toko kelontong milik keluarga ini. Akhirnya, Erwin diberi masa percobaan untuk mengurus toko kelontong tersebut selama sebulan. Tetapi, masalah-masalah di toko kelontong ini tak hanya datang dari internal keluarga, tetapi juga oknum-oknum lain yang berusaha membeli toko kelontong koh Afuk untuk kepentingan yang lain. 

 
Menuliskan permasalahan dengan ranah domestik atau pribadi tetapi berusaha memberikan dampak secara luas dan untuk semua kalangan ini dibutuhkan ketelitian. Naskah yang ditulis oleh Ernest Prakasa dan juga mendapat pengembangan cerita dari sang Istri, Meira Anastasia, ini memiliki kehati-hatian itu. Problematika di dalam plot cerita ini memiliki banyak kekayaan bila dirasakan lewat naskahnya, tetapi hasilnya di layar tak dapat dirasakan sepenuhnya.

Dengan durasi mencapai 104 menit, Cek Toko Sebelah terlihat memiliki keterbatasan dalam memperlihatkan kekayaan naskahnya. Yang menyebabkan hal tersebut adalah bagaimana Ernest yang sibuk berusaha menumpulkan isu sosialnya yang berat dengan kemasan komedi yang terlalu banyak. Sekuens-sekuens komedi itu memang cara jitu untuk sesekali digunakan sebagai pelarian diri dari plot yang terlalu serius. Tetapi, sekuens komedi ini tak bisa membaur menjadi satu dengan penuturan plot utamanya dan jadinya informasi yang diterima akan terpisah-pisah.

Cek Toko Sebelah pun tak bisa menjadi sebuah film yang utuh, perkembangan karakternya pun tak bisa terasa maksimal. Ada rasa Ernest ingin mendekatkan penonton dengan setiap karakternya, apalagi problematika seperti ini memang dekat dengan kehidupan sosial yang ada. Hanya saja, penuturannya terbata-bata, sehingga tujuan Ernest untuk mendekatkan itu kurang bisa tersampaikan. Ketika penonton sudah berusaha ingin menyatu dengan setiap karakter dan konfliknya, sekuens komedinya malah mendistraksi intimasi dengan karakternya. 


Kekuatan dari Cek Toko Sebelah adalah nilai produksi yang dibuat dengan teliti. Parodi brand produk yang ada di dalam film ini adalah bentuk salah satu ketelitian Ernest saat mengarahkan film ini. Selain dalam hal teknis, poin penting yang patut mendapat apresiasi adalah penampilan Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti. Dion Wiyoko berhasil menerjemahkan kegelisahan Yohan yang merasa bahwa hirarkinya terganggu, diimbangi dengan permainan persona yang teduh dari Adinia Wirasti sebagai ayu. Sehingga, keduanya berhasil menjadi sorotan utama bagi film Cek Toko Sebelah ini.

Cek Toko Sebelah sebenarnya adalah sebuah film yang dibuat dengan teliti dan hati-hati. Hal itu terasa di dalam naskahnya yang ditulis begitu kaya. Hanya saja, dalam translasi menjadi sebuah film, Cek Toko Sebelah tak dapat menjadi sebuah film yang utuh. Hal itu dikarenakan distraksi sekuens komedi yang pada akhirnya menghambat perkembangan konfliknya, sehingga kekayaan naskahnya dalam menggambarkan isu-isu sosial itu tak dapat muncul dengan maksimal. Tetapi, detil nilai produksi dan performa Dion Wiyoko serta Adinia Wirasti ini menunjukkan bahwa Ernest Prakasa sebagai sutradara sebenarnya memiliki misi yang kuat dan mulia. Cek Toko Sebelah harusnya punya performa yang jauh lebih bagus dari ini. 

Selasa, 03 Januari 2017

HANGOUT (2016) REVIEW : Zona Baru Raditya Dika dengan Cara Lama


Nama Raditya Dika yang sudah menjadi sebuah brand tersendiri di Indonesia, lantas membuat para rumah produksi sudah mulai percaya dengan kinerjanya. Setelah proyek Koala Kumal bersama Starvision Plus, di tahun ini pula Raditya Dika bekerja sama dengan Rapi Films untuk merilis sebuah karya baru yang ditulis dan juga diarahkan oleh dirinya sendiri. Proyeknya kali ini berusaha berbeda dengan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya.

Raditya Dika berusaha keluar dari zona nyamannya yang sudah terbiasa mengarahkan sebuah drama komedi cinta patah hati di setiap filmnya. Raditya Dika tetap bermain di wilayah komedi yang sudah menjadi kebiasannya tetapi digabungkan dengan genre thrilleratau mungkin lebih kepada misteri. Rapi Films menaungi film eksperimen Raditya Dika ini dengan judul Hangout. Di sinilah sebenarnya Raditya Dika berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa diperhitungkan untuk menjadi sutradara yang lebih berbeda.

Setelah kematangan Raditya Dika lewat ‘Single’ ataupun ‘Koala Kumal’, tentu membuat adanya kepercayaan tersendiri lewat film Hangout. Meskipun, ada pula rasa khawatir yang tetap hadir karena apa yang dikerjakan ini masih baru di tangan Raditya Dika. Yang terjadi, sebenarnya ‘Hangout’ masih memiliki kematangan bertutur milik Raditya Dika. Hanya saja, beberapa poin di dalam film ‘Hangout’ ini membuat intensitas filmnya menurun dan masih terasa terburu-buru dalam pembuatannya. 


Kali ini, cerita dari Raditya Dika di dalam film Hangout mengisahkan tentang 9 artis yang memerankan dirinya sendiri. Mereka adalah Raditya Dika, Surya Saputra, Prilly Latuconsia, Mathias Muchus, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak, Gading Marten, Soleh Solihun, dan Titi Kamal. Mereka adalah artis-artis dengan sifat-sifatnya yang berbeda dan sedang diundang oleh Tonni P. Sacalu untuk acara off-air di sebuah pulau terpencil. Mereka mau datang ke acara tersebut karena mereka mendapatkan masing-masing 50 juta sebagai bayaran mereka.

Mereka masih tak tahu acara seperti apa yang akan mereka lakukan di pulau tersebut. Tetapi, hal tragis menimpa mereka ketika mereka tahu mereka sedang dijebak di pulau tersebut. Satu persatu dari mereka dibunuh dan tak tahu pelaku siapa. Mereka berusaha keluar dari pulau tersebut dan mereka menyadari bahwa salah satu dari mereka adalah pembunuhnya. Orang-orang yang tersisa di pulau itu berusaha mencari siapa pembunuhnya. 


Konsep yang dimiliki oleh Raditya Dika di dalam film Hangout ini sangat menarik. Poin pertama yang membuat film Hangout ini menarik adalah ketika 9 karakter ini memerankan diri mereka sendiri. Mengingatkan penontonnya dengan film-film meta seperti This Is The End. Poin kedua adalah bagaimana penonton akhirnya diberikan pilihan dari karya-karya Raditya Dika untuk mencoba hal baru. Di dalam film Hangout ini, Raditya Dika menawarkan unsur misteri yang belum pernah dia gunakan sebelumnya, apalagi ditambahi dengan unsur komedi yang notabene masih baru di perfilman Indonesia.

Bisa dikatakan, misteri-misteri yang berusaha disebarkan kepada penonton di dalam film Hangout ini masih enak untuk diikuti. Raditya Dika berusaha menuturkan setiap kejadian-kejadian di dalam film ini dengan baik. Di durasinya yang mencapai 100 menit, bisa dibilang Raditya Dika masih bertutur dengan tetap menyembunyikan misteri. Cukup mengagetkan pula, dengan jejak rekam Raditya Dika yang belum pernah menangani film seperti ini, film Hangout ini berhasil memiliki momen-momen yang berhasil membuat penontonnya ikut tegang.

Sehingga, ada potensi dari dalam diri Raditya Dika untuk menunjukkan sisi lain di dalam dirinya di karya-karya selanjutnya. Tetapi, film ini pun masih minim akan eksplorasi yang seharusnya bisa memiliki kemasan jauh lebih baik lagi. Bila dibandingkan dengan kematangan yang ada di dalam film-film Raditya Dika sebelumnya, Hangout bisa dibilang penurunan dibandingkan keduanya. Ada rasa sedikit terburu-buru ketika menggarap proyeknya ini. Raditya Dika seperti hanya menawarkan kematangan dalam pemilihan genre, bukan kedewasaan yang berusaha muncul seperti dua film sebelumnya. 


Masih ada rasa ketakutan Raditya Dika yang masih tercermin di dalam film Hangout karena ini adalah sesuatu yang baru darinya. Terlihat bagaimana Raditya Dika masih terlihat bermain aman dalam menjalankan setiap ceritanya. Sehingga di beberapa bagian, Raditya Dika masih juga berkutat dengan hal-hal itu saja. Meski harus diakui, Raditya Dika masih pintar menggunakan referensi-referensi kehidupan bisnis hiburan sebagai set up komedinya. Tetapi, sayangnya hal itu juga minim eksplorasi.

Jadilah bagaimana Hangout penuh akan toilet jokesyang terkadang lebih kepada menganggu daripada menghibur. Guyonannya tak jauh-jauh dari alat vital, toilet, dan organ-organ tubuh lain yang masih terasa menjijikkan untuk diekspos. Dengan kematangan yang sudah ditawarkan lewat Single dan Koala Kumal dari segi referensi komedi, rasanya Hangout adalah titik di mana Raditya Dika ternyata kembali menjadi film komedi yang terasa mentah dan kasar. Meskipun, harus diakui usaha keras Raditya Dika membangun banyak sekali punchlinekomedi di setiap menit agar tetap menjaga intensitas komedinya perlu mendapat apresiasi. 


Bagaimana Raditya Dika terlihat bermain aman terlihat ketika film ini sebagai sebuah misteri, ternyata hanya sekedar sampai menunjukkan bahwa misteri itu perlu dijawab. Tetapi, setelah itu penonton tak diberi berbagai macam alasan yang jauh lebih kuat dari itu untuk lebih yakin tentang motif yang dilakukan karakernya hingga harus melakukan hal seberani itu. Dan alih-alih menjawab, Raditya Dika malah memberikan sebuah nilai moral dari film misterinya dan memberikan turn over character yang juga sangat lemah.

Karena berusaha bermain aman itulah yang membuat daya tarik dan kekuatan dari film Hangout berhasil keluar secara utuh. Hangout akhirnya berakhir seperti itu-itu saja, padahal film ini sudah memiliki banyak sekali pemain-pemain bagus yang dapat mendukung film ini secara keseluruhan. Tetapi, patut diacungi jempol bahwa Dinda Kanya Dewi adalah poin utama yang membantu performa Hangout untuk bisa mendapatkan poin komedinya yang efektif.


Sebagai sebuah film yang berusaha keluar dari zona aman, Hangout sebenarnya masih kurang akan eksplorasi dari Raditya Dika dan malah membuat filmnya masih berada di zona aman miliknya. Tetapi, lewat film inilah terlihat bagaimana Raditya Dika sebenarnya memiliki banyak sekali konsep yang sangat pintar. Memberikan meta film yang berhasil membiaskan sesekali penontonnya bahwa ini adalah film fiksi, bukan realita yang terjadi di kehidupan bisnis hiburan Indonesia. Tetapi, setelah bagaimana kematangan dalam menulis skenario lewat Single dan Koala Kumal, film Hangout jelas terasa memiliki segi kematangan menulis yang menurun. Pemilihan komedi yang lebih kasar ketimbang satir, motif karakter yang lemah, dan penuturannya yang harusnya lebih rapat adalah konsekuensi dari ketidakmatangan itu. Hangout harusnya bisa jauh lebih baik lagi!

Senin, 05 Desember 2016

HEADSHOT (2016) REVIEW : Kolaborasi Dua Genre Yang Memikat


Kebrutalan dalam film Martial Arts adalah sebuah indikator baru dari kualitas sebuah film milik perfilman nasional. Di poin inilah, ada sebuah titik balik yang muncul di dalam perfilman nasional. Diawali oleh film The Raid yang disutradarai oleh Gareth Evans, film ini menjadi sorotan banyak orang dan juga perfilman Internasional. Kedigdayaannya diakui oleh banyak pihak membuat perfilman nasional setidaknya mendapat citra baru baik domestik maupun mancanegara.

Dengan adanya poin itu, keragaman genre di perfilman nasional pun semakin bertambah. Film-film Indonesia berusaha mengekor keberhasilan The Raid dan film-film sadis menjadi sorotan banyak orang. Sebelum The Raid menjadi tersohor, ada The Mo Brothers yang terdiri dari Timo dan Kimo yang pernah membuat genre horor thriller yang tak kalah seru yaitu Rumah Dara. The Mo Brothers pun memiliki banyak penggemar karena setidaknya pada waktu itu berhasil membuat alternatif tontonan, apalagi dalam genre horor yang pada kala itu minim akan pembaruan.

Karya The Mo Brothers pun ditunggu-tunggu oleh penggemarnya dan setelah film keduanya, Killers, The Mo Brothers membuat sebuah proyek baru berjudul Headshot yang dirilis desember tahun ini. Penggemar The Mo Brothers menunggu proyek ini, apalagi film ini dibintangi oleh nama-nama seperti Iko Uwais, Chelsea Islan, Julie Estelle, dan masih banyak nama-nama besar lainnya. Yang terasa berbeda dari film Headshot adalah bahwa film ini dinaungi oleh rumah produksi Screenplay Infinite Films yang sebelumnya memiliki produksi film yang berlawanan genre dengan film ini. 


Penonton mungkin akan was-was dengan siapa yang menaungi Headshot ini, karena rekam jejak rumah produksinya yang sebelumnya hanya memproduksi film-film genre drama romantis. Tetapi, The Mo Brothers bisa berhasil melawan segala keminiman naskah yang menjadi sesuatu yang ditakutkan oleh penggemar atau penonton filmnya. Headshot dikemas unik, menggabungkan dua genre yang berlawanan, tetapi menjadi suatu harmoni.

Naskah dari Headshot mungkin terlihat lemah, apalagi Headshot mempunyai dua genre yang saling bersebrangan. Maka, yang bekerja dengan efektif adalah pengarahan dari duo sutradara yang melebur menjadi satu nama. The Mo Brothers berhasil menjadikan Headshot sebuah Romance-Action yang terasa sangat pas. Dengan durasi yang mencapai 117 menit, Headshot semakin lama akan semakin mencengkram penontonnya. Sehingga, tanpa sadar, penonton telah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mencari tahu siapa itu Ishmael, karakter di dalam film ini. 


Diceritakan bahwa Ishmael (Iko Uwais) adalah orang asing yang ditemukan di tengah lautan lepas di sebuah kota kecil. Ailin (Chelsea Islan) merawatnya di sebuah rumah sakit kecil dengan peralatan medis seadanya. Ishmael mengalami koma dengan waktu yang cukup lama dan Ailin selalu berharap agar Ishmael bisa bangun kembali. Hingga suatu ketika, Ishmael terbangun dan ingatannya benar-benar hilang, bahkan tentang siapa dia sesungguhnya.

Ailin berusaha untuk membuat Ishmael ingat akan siapa dirinya dengan membawanya ke tempat pertama kali dia temukan, tetapi hal itu tak membuahkan hasil. Sebelum akhirnya berhasil membuat ingatan Ishmael kembali, Ailin harus pindah tugas ke Jakarta. Di sana, Ailin akan berusaha mencari peralatan medis yang lebih baik agar bisa mengembalikan ingatan Ishmael. Tetapi, saat perjalanan menuju Jakarta, Bis yang ditumpanginya diserang oleh para pembunuh yang ingin menculik Ailin. Ternyata, pembunuh itu adalah salah satu bagian dari masa lalu Ishmael yang dia tidak ingat. 


Bila dalam Rumah Dara, The Mo Brothers berusaha untuk menampilkan sebuah sajian film thriller atau slasher yang menonjolkan kemasan secara visual. Di dalam Killers, The Mo Brothers berusaha untuk bercerita segala kompleksitas plotnya. Maka, di dalam film Headshot berusaha untuk menggabungkan kemampuan The Mo Brothers di dua film sebelumnya. The Mo Brothers bisa membangun dunia yang sengaja dibuat berbeda dengan realita yang ada. Dunia penuh kekacauan di dalam Headshot berhasil diceritakan dan berdampak pada keterikatan antara karakter dengan penontonnya.

Muncul sebuah relevansi yang timbul antara karakter fiktif milik The Mo Brothers dengan penontonnya. Dengan setting dunia yang dibuat jauh dari realita penontonnya, yang terjadi adalah apa yang ada di dalam film Headshot lantas dibuat begitu meyakinkan. Apa yang membuat film ini sengaja dibuat jauh dari realita adalah bagaimana warna di dalam film ini. Dibuat memiliki kekacauan lewat warna yang cenderung memiliki palette yang kuning lebih gelap. Waran inilah yang digunakan sebagai penanda atas tujuan dari The Mo Brothers agar tak terjadi pembiasan realita yang ada.

Perpaduan naskah yang bersebrangan mungkin terlihat lemah, penuh akan plot klise tetapi Headshot punya cara untuk mengemas hal itu menjadi tambang emas. Menjadikan drama romantis itu memiliki alternatif cara untuk dikemas dan dinikmati. Menggabungkannya dengan banyak koreografi aksi yang bisa memberikan tensi kepada penontonnya. Dalam aspek naratif, Headshot masih memiliki aspek-aspek yang dapat dikategorikan sebagai film aksi meski dengan tambahan bumbu romantisasi antar karakter. Masih ada villain, hero, dan princess yang menjadi aspek utama yang menandakan bahwa Headshot dapat dikategorikan ke dalam film-film aksi. 


Poin-poin itu mungkin tak ada bedanya bahkan cenderung terasa klise dengan film-film yang ada di dalam genre-nya. Struktur atau pola yang repetitif di dalam film yang berada di satu lingkup genre bisa jadi tak bisa menyenangkan penontonnya.  Tetapi, lagi-lagi kembali ke bagaimana The Mo Brothers mengemas Headshot ini. Keberhasilan sang sutradara untuk mengarahkannya sebagai sebuah film aksi yang tak sembarangan. Ada kesegaran di dalam filmnya sehingga penonton dapat mengikuti pencarian identitas Ishmael yang penuh rintangan.

Headshot mengangkat studi karakter Ishmael yang juga memiliki relevansi dengan isu sosial masyarakat tentang identitas. Banyak faktor yang dapat membentuk jati diri seseorang dan menganggap bahwa faktor itu yang dapat mewakili dirinya sebagai identitas mereka masing-masing. Identitas tak memiliki sifat statis, begitu pula yang berusaha disampaikan oleh The Mo Brothers lewat karakter Ishmael. Dengan keadaannya yang bisa jadi berubah ‘putih’ kembali, menimbulkan alegori tentang bagaimana karakter diri dibentuk dan siapa yang berpengaruh untuk membentuk karakter itu. 


Headshot bukanlah sebuah film yang menawarkan aspek cerita yang baru bila disandingkan dengan film-film belahan dunia lain, terutama Hollywood. Tetapi  di dalam perfilman nasional yang masih memiliki pakem dan cerita ‘seksi’nya sendiri, Headshot bisa dibilang punya sesuatu yang segar dengan  menggabungkan dua genre yang berbeda. Pun, hal itu tak bisa dijauhkan dari keberhasilan Timo dan Kimo dalam mengarahkan naskahnya yang mungkin dianggap cukup lemah. The Mo Brothers bisa membuat Headshot sebagai ladang emas lewat bagaimana cara dia bertutur dan membangun dunianya yang berhasil meyakinkan penontonnya. Dengan begitu, penonton dapat mengikuti perjalanan Ishmael yang sedang mencari identitas diri dari awal hingga akhir film. 

Senin, 28 November 2016

MOANA (2016) REVIEW : Film Animasi Penuh Misi yang Tak Termakan Ambisi


Disney di era yang baru ini memiliki misi di dalam film-film miliknya. Sehingga, filmnya tak sekedar menjadi film animasi pelipur lara biasa tetapi ada nilai-nilai yang berusaha disematkan lewat karakter-karakternya, terutama karakter-karakter putri yang biasa mereka buat. Disney berusaha merombak segala identitas Princess yang kadang kelewat putih dan terlihat sempurna. Mulai dari Princess and The Frog, Tangled, dan Frozen, Disney berusaha untuk mengontruksi ulang identitas dari sosok Princess.

Tak berhenti di ketiga film tersebut, Disney kembali berusaha mengonstruksi identitas karakter-karakter Princess-nya dalam film teranyarnya berjudul Moana. Film ini ditangani oleh orang-orang lama Disney yang pernah berkecimpung lewat Aladdin dan The Little Mermaid yaitu Ron Clements. Sehingga mungkin proyek Moana ini sudah berada di tangan yang tepat karena rekam jejak sang sutradaranya yang sudah terbiasa berkecimpung di karakter-karakter tuan puteri.

Di era sekarang di mana ilmu pengetahuan sudah semakin berkembang pesat, lantas juga ada pesan yang berubah di dalam film-film animasi Disney saat ini. Moana pun penuh akan misi untuk mengedukasi dengan baik tentang gender dan ras yang bermain di wilayah Disney seperti biasanya. Dengan misi yang terkesan serius itu, memperhalus cara penyampaian pesan itu sangat penting dan Moana memiliki itu sebagai kekuatan filmnya. 


Jared Bush selaku penulis naskah film ini berusaha untuk memberikan sebuah kampanye dengan dampak masif tentang perempuan masa kini yang perlu diberi tempat sejajar dengan laki-laki. Moana adalah perwakilan tentang suara-suara perempuan yang tak ingin dianggap remeh. Bahkan, ada konstruksi lain tentang kata ‘Princess’ atau ‘Tuan Puteri’ dalam bahasa Indonesia. Lewat Moana, konstruksi bahasa secara visual dan penampilan fisik dari seorang tuan puteri itu diperbarui. Bahwa semua orang bisa menjadi tuan puteri, tak melulu memiliki kulit putih atau badan kurus dengan berbagai gemilau perhiasan dan busana cantik.

Memperkenalkan hal-hal semacam ini mungkin akan susah, terlebih penonton telah mendapatkan terpaan tentang sosok tuan puteri yang ideal oleh media-media lain. Tetapi, Disney memiliki kecerdikan mengemas pesan serius itu lewat film Moana. Tanpa perlu mengumbar superioritas feminisme dengan kemasan visual yang terkesan ‘nyeleneh’, Moana memberikan sebuah pesan audio visual yang dapat diterima oleh segala kalangan dengan segala kerendahan hati atas berlimpahnya pengetahuan kesetaraan gender yang mereka miliki. 


Menceritakan tentang Moana (Auli'i Cravalho) yang hidup selalu serasi di tengah-tengah suku Polynesia yang dikepalai oleh ayahnya, Chief Tui (Temuera Morrison). Tetapi, Moana merasa bahwa dirinya ingin sekali berlayar di luar sana, tetapi sang ayah selalu melarangnya. Sebuah kabar buruk pun melanda pulau mereka yang sebelumnya serba berkecukupan. Ikan-ikan tak bisa lagi ditangkap dan hasil perkebunan mereka pun banyak tak jadi. Hal tersebut dikarenakan oleh “hati” berbentuk batu milik Te Fiti yang dicuri oleh sosok setengah dewa legendaris, Maui (Dwayne Johnson) belum dikembalikan ke asalnya.

Lautan yang merampas ‘hati’ milik Te Fiti dan Kail milik Maui memilih Moana untuk menyuruh Maui mengembalikan hati tersebut kepada Te Fiti. Moana pun memberanikan diri untuk mengarungi lautan, menempuh badai dan jarak yang jauh untuk bisa kembali mensejahterakan suku Polynesia dan mengemban misi yang diberikan Lautan kepadanya. Yang jelas, perjalanan itu tak akan mudah karena dia akan bertemu dengan banyak rintangan seperti suku Kakamora yang juga mengincar hati Te Fiti dan Te Ka sang monster yang siap menghabisi Moana. 


Moana memiliki banyak perbedaan dengan film-film Disney Princess sebelumnya, mulai dari penampilan Moana secara fisik maupun dari penyampaian dari naskah yang ditulis Jared Bush. Secara struktur plot, Moana memang tak memiliki sesuatu yang berbeda dengan film-film Disney lainnya. Perbedaannya adalah bagaimana penyampaian dari Ron Clements dan Don Hall kepada sosok Moana. Bagaimana Ron Clements dan Don Hall berusaha membuat sosok Moana memiliki kesempatan untuk menyelesaikan segala misinya sendiri. Memberikan kekuatan pada karakter Moana yang menjadi diferensiasi dari karakter Disney Princess lainnya.

Jika dalam film-film Disney Princess lainnya berisikan tentang mencari kebenaran, maka berbeda dengan Moana. Dalam film ini Moana diberikan sebuah misi dan segala aksi petualangan yang seru, hal ini seperti memperlihatkan bagaimana Moana adalah perumpamaan dari suara perempuan masa kini. Bagaimana perempuan bisa diberi tanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaannya, bukan sekedar membantu pekerjaan orang lain. Inilah yang menjadi kekuatan Moana secara naratif, bagaimana dia digambarkan sangat kuat dan bisa berperilaku setara dengan Maui sebagai laki-laki. 


Ron Clements dan Don Hall tetap tak melupakan bagaimana film ini tetap memiliki sisi sentimentil yang pas dengan sosok Moana sebagai perempuan. Sehingga, penuturan yang ada di dalam film ini terkesan sangat lembut dan tak terlalu padat seperti Zootopia. Ron Clements dan Don Hall berusaha untuk memberikan ruang kepada penontonnya untuk beristirahat, menikmati indahnya visual yang dimiliki oleh Moana. Selipan-selipan unsur komedi lewat berbagai karakter yang bisa mencuri penontonnya seperti HeiHei, si ayam dengan tingkah aneh, dan Pua, si babi yang menggemaskan.

Di dalam film Moana juga memiliki beberapa sekuens musikal yang diselipkan di dalam film Moana, sehingga penonton sesekali diberi relaksasi. Sekuens musikalnya pun tak terasa dipaksakan, penuh akan nuansa eksotis seperti Moana dan suku-sukunya sebagai orang yang hidup di pulau-pulau penuh lanskap pantai. Bukan hanya lagu-lagunya, tetapi juga musik-musik pendukung yang ada di dalam film ini. Ada unsur budaya yang berusaha dimasukkan ke dalam film Moana dan dapat divisualisasikan secara indah. Menjadikan film ini memiliki cita rasa klasik yang khas milik film-film Disney di era yang berbeda. 


Moana adalah sebuah film animasi dengan misi yang luar biasa banyak, mulai dari sebagai representasi akan gender dan ras, nilai-nilai sosial, dan tribut untuk menumbuhkan kembali cita rasa klasik seperti film-film Disney terdahulu. Dengan banyaknya poin itu, Moana berhasil memberikan tontonan yang mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut. Moana memiliki presentasi yang gemilang mulai dari penuh dengan visual-visual indah, juga petualangan seru dan menyenangkan. Ron Clements dan Don Hall berusaha menyampaikan Moana dengan berbeda dan berani. Moana adalah cara menikmati cita rasa klasik lewat visual yang moderen. 

Rabu, 12 Oktober 2016

A MONSTER CALLS (2016) REVIEW : Film Fantasi Penuh Emosi

 

Jika sudah pernah membaca A Monster Calls milik Patrick Ness, tentu kalian akan menantikan bagaimana film adaptasi dari buku yang menang penghargaan. Ya, A Monster Calls mendapatkan kesempatan untuk akhirnya menjadi sebuah perjalanan visual adaptasi. Jika sudah pernah membaca dan bermimpi akan diadaptasi menjadi film, mungkin akan terpikirkan nama Guilermo Del Toro yang mumpuni dalam menyampaikan pesan tersebut ke dalam sebuah gambar bergerak.

Sayangnya, Guilermo Del Toro tak menjadi sutradara dari A Monster Calls. Proyek ini ternyata berada di tangan J.A. Bayona yang sudah pernah menangani film-film serupa. Sebut saja The Orphanage dan The Impossible, rasanya dua karya miliknya sudah cukup menjadi referensi atas kapabilitas J.A. Bayona sebagai sutradara. Sehingga, A Monster Calls diarahkan oleh J.A. Bayona rasanya sudah cukup berpengaruh besar dalam gaya penuturan film adaptasinya.

Beruntungnya lagi, A Monster Calls masih menggunakan Patrick Ness sebagai penulis naskahnya. Harapan film A Monster Calls sebagai sebuah film adaptasi yang mencuri perhatian seakan-akan semakin besar. Bagi pembaca mau pun non pembaca, boleh saja berharap baik akan performa A Monster Calls  karena J.A. Bayona dan Patrick Ness mempunyai visi yang sama dalam mengarahkan proyek adaptasi ini. A Monster Calls bukan hanya sekedar sebuah film fantasi dengan nuansa gelap yang sekedar bersenang-senang. Ada pelajaran tentang arti kehidupan dan nilai-nilai lainnya yang bermain sangat kuat. 


A Monster Calls bisa dibilang adalah sebuah film tentang transisi fase usia yang dialami oleh anak-anak menuju remaja. Problematika yang dilematis saat mengalami transisi tersebut ini yang berusaha digali di dalam A Monster Calls, baik dalam buku maupun film adaptasinya. Faktor pembeda adalah pemilihan pendekatan yang dilakukan A Monster Calls yang lebih condong ke arah fantasi. Hal ini mungkin dipilih agar audiens sebagai komunikan mencari makna yang lebih dalam lagi terhadap pesan yang disampaikan di dalam A Monster Calls.

J.A. Bayona berhasil menangkap segala semangat yang sudah ditulis oleh Patrick Ness di dalam A Monster Calls. Sehingga, penonton akan mendapatkan dampak yang luar biasa kuat setelah menonton A Monster Calls. Meski dengan pemilihannya sebagai film Fantasi, A Monster Calls punya cara untuk menyampaikan pesannya dengan emosional. Tujuannya adalah A Monster Calls tak hanya sebuah film fantasi yang mewah tetapi juga hangat dan tak terasa air mata akan jatuh ke pipi saat adegan kunci di dalam film ini. 


Menceritakan bagaimana Conor (Lewis MacDougall) yang sehari-harinya berusaha hidup mandiri. Dia tinggal bersama dengan Sang Ibu (Felicity Jones) yang sedang mengidap penyakit. Conor memiliki kehidupan yang bahkan jauh dari kata menyenangkan, yang mana membuatnya lebih suka untuk membangun dunianya sendiri lewat gambar-gambar yang ia buat. Suatu hari, dia melihat pohon disudut lain rumahnya dan tepat pada jam tertentu pohon tersebut berubah menjadi Monster yang mendatangi Conor.

Sang monster (Liam Neeson) berusaha untuk menanyai Conor tentang banyak hal terutama dengan mimpinya belakangan yang sering membangunkannya. Namun, Conor enggan menceritakan detil cerita tentang mimpi yang dialaminya. Tetapi, Monster tersebut memaksa Conor untuk menceritakan segala hal tentang mimpinya setelah Monster tersebut selesai menceritakan tiga cerita kepadanya. Jika tidak, Conor akan mendapatkan balasan yang setimpal. 


Keanggunan J.A. Bayona dalam mempresentasikan adaptasi A Monster Calls inilah yang menjadi kekuatan. Pengarahan J.A. Bayona berhasil menumbuhkan simpati kepada penontonnya terhadap karakter-karakter rekaan A Monster Calls. Sehingga, A Monster Calls punya kemasan yang berbeda dengan pemilihan genre-nya. J.A. Bayona perlahan-lahan membangun relevansi dari karakter ke penonton, sehingga karakternya punya kesempatan untuk mengembangkan dirinya atau menjadi multidimensional.

A Monster Calls mengusung bagaimana dilema kehidupan Conor yang sedang mengalami transisi. Mengenalkan bagaimana problematika sosial tentang ruang opini pribadi seseorang yang berhak mendapatkan porsi yang sama. Conor yang menuju remaja, berusaha untuk mendapatkan atensi dari berbagai pihak, apalagi keluarganya. Bagaimana Conor sudah mendapatkan wewenang untuk memutuskan sendiri apa yang dia inginkan dalam hidupnya.

Juga, A Monster Calls menceritakan tentang bagaimana menyayangi orang yang benar-benar dekat dengan kita. Mencintai yang tak membebani, dan juga berusaha agar orang yang dekat tersebut juga bahagia dengan kita. J.A. Bayona menancapkan nilai-nilai kehidupan itu kepada kehidupan Conor dengan dramatisasi yang sangat pas. Sehingga, A Monster Calls mempunyai titik puncak yang benar-benar tak bisa ditahan oleh penontonnya untuk tergugah hatinya bahkan menitihkan air matanya dengan sukarela. 


Jangan lupakan juga bagaimana setiap aktor dan aktrisnya yang mampu bermain seirama dan semakin memperkuat semangat A Monster Calls sebagai sebuah film yang kuat. Lewis MacDougall sebagai pendatang baru berhasil membuat karakter Conor sangat hidup dan dekat dengan penontonnya. Ikatan emosinya juga begitu nyata dengan Felicity Jones yang berperan sebagai Ibu. Perannya dengan screen time yang minimalis berhasil mematahkan hati penontonnya.

Dengan segala alternatif dan pengemasan di dalamnya, A Monster Calls adalah sebuah film transisi fase kehidupan anak-anak ke remaja dengan kemasan fantasi bernuansa kelam. J.A. Bayona berhasil mengarahkan sebuah adaptasi dari buku Patrick Ness dengan bangunan emosi yang sangat kuat. Pun, A Monster Calls punya banyak nilai-nilai dan pesan-pesan sosial yang tertangkap di dalamnya. Karakter-karakternya yang multidimensional akan mempermudah penontonnya untuk menaruh simpati dan pada adegan kunci di dalam film A Monster Calls penontonnya akan sukarela menitihkan air mata. Dan sekali lagi, J.A. Bayona berhasil bermain dengan emosi penontonnya dengan dramtisasi yang pas. Bagus!

ATHIRAH (2016) REVIEW : Urgensi, Relevansi, dan Intimasi dalam Film Biografi


Urgensi, kata yang tepat dan selalu menjadi poin menarik di setiap film-film tentang seseorang atau biografi. Menilik tujuan seperti apa yang ingin diwujudkan lewat beberapa sineas setelah menyelesaikan proyek film biografi. Beberapa poin ini memang terkadang masih terkesan bias, karena masih ada kepentingan politik yang berusaha ingin disampaikan. Memang, film sejatinya bisa digunakan sebagai alternatif penyampaian pesan, film memiliki misi dari pembuatnya. Sehingga, metode ini kerap digunakan sebagai medium untuk membangun atau mengembalikan sebuah citra.

Juga ada Relevansi, kata yang tepat setelah menonton sebuah film biografi. Apa yang berusaha dibangun dan ingin disampaikan oleh menonton akan berdampak pada bagaimana seseorang memiliki paradigma dengan sosok tersebut. Dua poin itu juga yang membuat Riri Riza ingin mengabadikan secara visual tentang sosok Ibu Jusuf Kalla bernama Athirah. Memoir tentang Athirah telah pertama kali dituliskan ke dalam bentuk buku oleh Albethiene Endah. Sehingga, ‘Athirah’ versi film ini adalah adaptasi dari buku dengan judul sama.

Delusi adalah hal yang terkadang mewarnai sebuah film biografi yang sedang membangun citra kembali. Maka, alih-alih sebagai sebuah cerita dari orangnya asli, semuanya nampak seperti sebuah cerita fiksi. Sehingga, orang-orang terkadang mempertanyakan sebuah verifikasi dalam sebuah kisah dalam filmnya sebagai komunikator. Lantas, hal tersebut sepertinya membuat Riri Riza berhati-hati dalam menyampaikan pesan dalam film ‘Athirah’. Kekuatannya ada pada narasi dari naskah adaptasi yang ditulis secara kooperatif oleh Riri Riza dan Salman Aristo serta pengarahannya yang detil. 


Athirah (Cut Mini) dan Puang Haji Kalla (Arman Dewarti) membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia dan serba berkecukupan. Puang Haji Kalla menjadi sosok yang dihormati di berbagai kalangan orang Makassar. Tetapi, akan sesuatu hal, cengkrama antar Puang Haji Kalla dan Athirah mengendur tiba-tiba. Nyatanya, Puang Haji Kalla telah memikat hati wanita lain dan Athirah merasakan sebuah pengkhianatan pernikahan yang amat dahsyat.

Tak lama setelah itu, Athirah harus bangkit dan meninggalkan segala jenis sakit hatinya agar dapat terus bertahan hidup. Menghidupi anak-anaknya terutama Ucu (Christoffer Nelwan), yang selalu senantiasa mendampingi transisi kehidupan Ibundanya. Athirah sedikit demi sedikit menguatkan hatinya agar tak biasa bergantung dengan Puang Haji Kalla. Tetapi, problematika yang muncul di kehidupan Athirah semakin dilematis. Puang Haji Kalla kembali ke Athirah dan membuatnya mengingat akan puing-puing masa lalunya. 


Inspiratif tanpa perlu membuatnya seperti memberikan dakwah adalah tujuan Riri Riza dalam mengemas Athirah. Alih-alih menekankan Athirah sebagai sebuah film Inspiratif, nyatanya Riri Riza ingin membangun adanya relevansi di benak penonton. Muncul sebuah kesan, bahwa Athirah adalah sosok yang perlu diberi sorotan lebih, apalagi, sosoknya sebagai perempuan. Tak perlu sebuah peristiwa hidup yang megah sebagai titik balik, hanya sebagai seorang perempuan biasa yang dapat bertahan hidup sendiri menjadi kekuatan dari sosok Athirah ini.

Terlepas dari Athirah adalah sebuah film yang sedang menceritakan tentang seseorang di balik sosok mahsyur negeri ini, Riri Riza memanfaatkannya sebagai medium berbicara tentang perempuan. Riri Riza merangkum segala pesan tentang kesetaraan gender dengan penuh elegansi dalam bertutur, bukan sekedar menunjukkan superioritas ilmu tentang feminisme secara bar bar. Permainan narasi  dalam film Athirah adalah kunci utama dari film ini. Tanpa perlu bicara banyak dengan dialog yang menggurui, Athirah akan berdampak besar kepada penontonnya dengan visual kuat yang dimiliki.

Athirah adalah gambaran seseorang perempuan lintas zaman yang masih memiliki relevansi dengan problematika masa kini. Bagaimana Athirah sebagai seorang perempuan dapat menjadi tolak ukur dengan berbagai atribut yang tak jauh dari kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya. Terutama sosial masyarakat di Indonesia yang masih menganut segala pendekatan budaya timur dalam menjalin interaksi. Menunjukkan bahwa Athirah yang mewakili perempuan Indonesia juga masih memiliki keterbatasan dalam menyampaikan opini dan haknya sebagai perempuan dan manusia.


Di sinilah Riri Riza bermain dengan medium yang dia miliki. Film ‘Athirah’ bukan hanya sebagai film tentang seseorang, tetapi juga bermain dalam wilayah suara untuk perempuan Indonesia. Sehingga, tak ada eksklusivitas yang terjadi dalam sosok Athirah dan tak menimbulkan efek alienasi antara karakter dan penontonnya. Penonton yang minim ilmu feminisme dan gender pun masih bisa mengambil sebuah kesimpulan besar tentang kekuatan seorang wanita di dalam lingkungan sosial masyarakat.

Intimasi, poin yang ingin dibangun lagi oleh Riri Riza lewat bagaimana karakter-karakter menampakkan diri di kamera. Dilema Athirah sebagai seorang karakter di dalam film, --bahkan sosok penting di dunia nyata --ini berusaha membangun relasi dengan penontonnya. Cara Riri Riza dalam membangun intimasi itu adalah dengan memperlihatkan raut mukanya lewat pencahayaan dan pengambilan gambar yang tepat. Maka, penonton akan dapat mengidentifikasi tujuan dari Riri Riza di dalam film ‘Athirah’ mengenai sosok Athirah itu sendiri. Penonton berusaha berkoneksi dengan Athirah yang sedang berusaha membicarakan posisinya di bumi ini.


Riri Riza berusaha membangun pesan non verbal yang masih mempunyai sisi naratif yang luar biasa unik, berbeda dengan beberapa film yang berusaha penuh metafora lainnya. Athirah memang tak menyampaikan pesannya terlalu gamblang, tetapi masih punya cara dan Riri Riza tahu akan kewajibannya untuk menuntun penontonnya mendapatkan pesan tersebut. Masih ada sebuah plot linear yang ada di dalam Athirah sehingga penonton merasakan sebuah transisi yang terjadi di dalam para karakternya.

Tak perlu dialog yang berakumulasi, nyatanya film Athirah mampu memberikan sebuah permainan emosi yang Indah sebagai sebuah film biografi. Film Athirah bermain secara visual dengan transisi seperlunya yang dapat menimbulkan sebuah kontemplasi yang tak manipulatif. Penyampaian pesan yang dapat diterima secara luas adalah prinsip yang masih dipegang teguh oleh Riri Riza, sehingga film Athirah tak melupakan kewajibannya sebagai pembuat pesan dibalik idealisme miliknya saat mengemas pesan ini sendiri. 


Riri Riza tak perlu berusaha keras menjadikan filmnya sebuah film biografi inspiratif, tetapi tujuannya adalah untuk membangun ‘Athirah’ mendapat atensi secara visual. Tak perlu terlalu bar bar menunjukkan superioritas akan berbagai ilmu dan teori, ‘Athirah’ adalah sebuah pesan universal untuk mempertanyakan posisi perempuan Indonesia masa kini saat menyampaikan sebuah opini. Meski ‘Athirah’ minim akan  pesannya secara verbal, ini adalah kekuatan dari filnya sendiri. Masih ada kewajiban Riri Riza untuk menyampaikan pesan kepada penontonnya dengan caranya sendiri. Bukan hanya sekedar kontemplasi yang manipulatif atau terkesan seperti cerita fiksi, tetapi ada cara sendiri lewat personifikasi yang tampil penuh akan urgensi, relevansi, dan intimasi yang hadir memikat penontonnya.  
 

Senin, 03 Oktober 2016

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 1 (2016) REVIEW : Semangat Nostalgia Atas Nama Komersialisasi


Siapa yang tak kenal dengan trio komedian Dono, Kasino, dan Indro? Nama mereka menjadi salah satu sosok legendaris yang dikagumi oleh banyak orang yang pernah mengikuti zaman kejayaan mereka. Mereka menyebut diri mereka ‘Warkop DKI’ yang sudah memiliki banyak sekali film-film dan serial televisi. Dono dan Kasino yang telah wafat, membuat grup komedian ini sudah absen selama beberapa tahun. Beberapa pihak ingin sekali ‘menghidupkan kembali’ sebuah ikon komedi legendaris di Indonesia ini.
 
Maka, Falcon Pictures yang sudah sering bekerjasama dengan Indro Warkop akhirnya melahirkan kembali trio komedian ini dengan sosok baru. Bersama dengan Anggy Umbara, Falcon Pictures berinisiatif untuk membuat Warkop DKI Reborn yang tetap mengangkat nama Dono, Kasino, dan Indro tetapi dengan wajah yang berbeda. Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro dipercaya untuk melakonkan sosok legendaris ini ke dalam sebuah film berjudul Jangkrik Boss yang dibagi menjadi dua bagian.

Jelas, proyek ini mendapatkan sorotan yang sangat besar dari calon penonton karena rasa penasaran mereka terhadap kapabilitas ketiga aktornya. Word of Mouth dari film ini pun semakin besar dan mendapatkan antusiasme yang cukup tinggi. Bagusnya, Ketiga aktor tersebut, secara performa, sangat berhasil menangkap semangat dari Warkop DKI lama. Hanya saja, problematika muncul dari bagaimana Anggy Umbara mengarahkan filmnya dan naskah dengan treatment komersialisasi.


30 menit awal terlihat benar bagaimana tingkah laku Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian yang berusaha keras meyakinkan penonton bahwa mereka sangat kompeten untuk melahirkan kembali komedian legendaris tersebut. Muncul banyak sekali sketsa-sketsa komedi yang menggambarkan dan memiliki semangat Warkop DKI kala itu. Komedi-komedi slapstick yang dikemas ulang dengan isu-isu masa kini sehingga penonton akan terasa sedikit relevan.

Sehingga ketika sketsa-sketsa penuh tribute itu berhenti dan kewajiban Anggy Umbara untuk memberikan jalan cerita dari Jangkrik Boss Part 1 ini malah menjadi sebuah perjalanan tensi yang menurun. Plot cerita di dalam Jangkrik Boss Part 1 menjadi sebuah problematika utama yang seharusnya perlu ditinjau ulang agar Warkop DKI Reborn tetap menjaga excitement yang sudah terlanjur muncul di awal film. Sehingga, penonton mungkin akan merasa kecewa dengan perjalanan cerita yang belum tuntas tersebut.


Tingkah laku Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) sebagai CHIPS yang seharusnya membantu menertibkan keadaan ternyata malah membuat banyak sekali kekacauan. Sehingga, mereka perlu untuk membereskan banyak sekali hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka pun diberi hukuman untuk membayar denda sebanyak  8 Milyar. Atas ulahnya tersebut mereka mencari cara agar mendapatkan uang itu.

Mulai dari meminjam uang dari saudara Dono hingga menjual barang-barang yang dimilikinya. Hingga suatu ketika, mereka menemukan sebuah peta harta karun dari kantong milik seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Akhirnya, Dono, Kasino, dan Indro berusaha untuk menemukan harta karun tersebut yang ternyata membawa mereka ke negeri Jiran, Malaysia. Tetapi, ketika sampai, Peta tersebut terbawa oleh seorang wanita berbaju merah yang memiliki tas yang sama dengan mereka. 


Di sinilah problematika dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1. Keseluruhan film mungkin sudah dirangkum ke dalam sebuah sinopsis pendek di atas. Bagian kedua film Jangkrik Boss nanti, mungkin Anggy Umbara akan lebih berusaha untuk menyampaikan ceritanya. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa sejak kapan film-film Warkop DKI mementingkan plot di dalamnya, tetapi yang perlu ditekankan di sini  adalah bagaimana Anggy Umbara memberhentikan ceritanya yang baru jalan 30 menit.

Di dalam Jangkrik Boss Part 1, Anggy Umbara lebih memaksa penonton untuk menerima nostalgia akan segala bentuk sketsa komedi milik Warkop DKI lama di beberapa adegan awal. Segala sketsa komedi itu dengan sukses menyampaikan segala keinginan Anggy Umbara untuk menyelesaikan misi tersebut. Tetapi, keambisiusan dalam menyelesaikan misi itu ternyata berlangsung terlalu lama sehingga berdampak dalam bagaimana Anggy Umbara menyampaikan pesan lain dalam sebuah plot.

Plot dalam cerita menjadi bias di antara sketsa-sketsa komedi yang berada di dalam filmnya. Sudah ada i'tikad baik dari Anggy Umbara yang berusaha untuk memberikan briefing tentang konflik dalam Jangkrik Boss Part 1. Terdistraksi dalam menjalankan plot utama dikarenakan oleh subplot yang bertebaran mungkin akan wajar, tetapi Anggy Umbara terlalu lama bercengkrama dengan segala gangguan tersebut. Sehingga, Jangkrik Boss Part 1 tak menjalankan pion ceritanya secara utuh sehingga itu menjadi poin yang harus diperbaiki lagi.


Perjalanan dan pengenalan kembali karakter Dono, Kasino, dan Indro di dalam Jangkrik Boss Part 1 sudah terasa cukup. Butuhnya keefektifan dari Sutradara film inlah poin yang perlu diperhatikan, yang mana seharusnya sudah dapat diprediksikan sebelumnya tanpa memotong plot cerita --yang bahkan terasa kasar.  Jangkrik Boss Part 1 terasa sibuk menumpulkan pemikiran penontonnya dengan berbagai terpaan sketsa komedi di dalamnya sehingga membentuk sebuah realita baru yang melupakan hak penonton dalam mendapatkan sebuah pesan yang utuh.

Plot cerita yang belum tuntas bila diiringi dengan problematika penuh kompleksitas dalam penuturannya mungkin masih mendapat kewajaran dari penonton. Tetapi, plot dalam Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini pun tak memiliki kompleksitas yang rumit dan membaginya menjadi dua bagian akan menimbulkan respon setelah menonton yang membuat penontonnya berkubu. Ada yang menantikan film selanjutnya, atau mungkin jera untuk mengikuti film-film selanjutnya.

Atas nama komersialisasi, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss membagi diri menjadi dua bagian dengan jumlah penonton yang sudah mencapai 6 juta. Tetapi, sekali lagi, penonton pun perlu mendapatkan sebuah pesan yang utuh dalam sebuah film. Kontinuitas yang dibangun oleh sutradara atau pun rumah produksi dalam komersialisasi sebuah produk mereka mungkin sudah tak bisa dihindari lagi. Hanya saja, perlu treatment bagaimana mereka mengemas sebuah kontinuitas produk mereka tanpa melupakan hak penontonnya untuk mendapatkan sebuah pesan yang utuh. 


Maka dari itu, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini memiliki banyak sekali potensi untuk menjadi sebuah sajian universal  penonton Indonesia. Pun, aktor-aktornya berhasil mengembalikan semangat-semangat Warkop DKI lama sehingga akan menimbulkan efek nostalgia. Tetapi, bagaimana Anggy Umbara lupa melaksanakan kewajibannya untuk menyampaikan sebuah pesan atau cerita secara utuh ini perlu diperhatikan lagi. Membagi Jangkrik Boss ke dalam sebuah dua bagian mungkin tak salah atas nama komersialisasi, tetapi tambahkan saja beberapa poin yang pada akhirnya dapat membuat penonton mengerti bahwa memang Jangkrik Boss ini memiliki urgensi menggunakan template ini.

ANANTA (2018) REVIEW : Kisah Manis Yang Tak Biasa

  Setelah terus-terusan menjadi ratu drama dari Screenplay Films, Michelle Ziudith akhirnya memiliki kesempatan untuk mengeksplor dirinya di...